Skill

Terlibas Waktu

 

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan seorang pengelana dari Jepang. Pengelana? Ya saya menyebutnya begitu. Karena dia mendedikasikan hidupnya untuk berkelana dari satu Negara ke Negara lain. Namanya Shunichiro Hori. Kami lancar bercakap, karena Hori tak seperti orang Jepang pada umumnya yang pendiam. Hori sangat suka bercerita. Bahasa Indonesianya sangat bagus untuk orang yang belajar asing secara otodidak. Bahasa-bahasa slank pun dia kuasai. Rumpies, baper dan banyak lagi kata yang biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Yang menarik dari Hori selain cerita perjalanannya, ia menarget dalam 7-8 ke depan bisa menguasai keahlian sebagai copy writer. Copy Writer di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia. Sangat khusus. Bukan pekerjaannya yang menarik perhatian saya. Tetapi alasan Hori menargetkan diri untuk mengejar pekerjaan tersebut. “Saya ingin melakukan pekerjaan itu sebelum semuanya dikuasai oleh robot atau mesin,” ujarnya ringkas tetapi justru membuat saya termangu.

Ya, dengan keahlian kita masing-masing saat ini kadang kita lengah atau bahkan yakin kalau keahlian yang kita miliki tak bisa dikerjakan orang lain bahkan dilakukan oleh robot. Kita terlena.

Cobalah tengok terminal 4 Bandara Changi yang baru. Bisa dikatakan bandara senyap karena tak ada pengumuman dengan pengeras suara. Begitu masuk bandara kita akan berhadapan dengan komputer, robot dan mesin. Untuk check in, scan passport, memasukkan barang ke bagasi, hingga gate mana yang harus kita tuju untuk masuk ke depan pesawat. Kalau pun ada petugas, paling hanya satu dua, untuk memastikan semua mesin ini berjalan dengan sempurna. Ketinggalan pesawat karena terlena belanja dan kongkow di bandara yang mewah ini, jadi resiko kita sendiri.

Changi adalah salah satu contoh. Mungkin kita masih ragu bahwa analisa hanya dilakukan oleh manusia dan tak mungkin dilakukan oleh mesin. Saya mencermati Beritagar.id. Pemanfaatan teknologi robot yang merambah pada dunia jurnalisme. Situs ini memanfaatkan teknologi computer assisted reporting (pelaporan dengan bantuan komputer) yang berbasis Machine Learning dan Natural Language Processing. Mesin ini bisa belajar sendiri dengan menggunakan kecerdasan buatan yang bekerja berdasarkan kata kunci dan mencari data di internet dari media di Indonesia atau pun di luar negeri. Ia pun dengan canggih akan menggabungkan unsur-unsur kelengkapan berita 5W + 1 H.

Tugas manusianya di mana? Hanya memoles berita yang dihasilkan oleh mesin. Dan tak tanggung-tanggung, dalam sehari bukan hanya puluhan berita dibuat. Seribu berita pun ia sanggup.

Lalu pada bagian manakah dari pekerjaan kita sebagai praktisi humas yang tidak bisa tergantikan oleh mesin? Sentuhan-sentuhan humanis dari setiap komunikasi kita mungkin bisa menjadi pembeda. Tetapi apakah hal ini cukup? Mari berpikir lompatan waktu 5-15 tahun ke depan. Masih eksiskah definisi humas sebagai sebuah profesi?

Network, Skill

Kopi Persahabatan

Secangkir kopi pahit tadi sore ditemani tempe kriuk. Satu bungkus kopi diberikan Pak Lukas Christian untuk Mbak Fransisca Ria Susanti. Juria Flores tertulis di bungkusnya. Melirik tulisan Flores, aku yakin ini pasti kopi enak. Lidahku baru mengenal Yellow Caturra, Bajawa dan Manggarai. Dan itu semua juara rasanya.

Karena Juria Flores masih asing bagiku, justru inilah yang membuka obrolan kami tadi. “Saya sudah membagikan kopi persahabatan kepada 4700 orang. 3000 diantaranya saya punya tanda terimanya,” ujar Pak Lukas. Bungkus kecil kopi beragam jenis itulah yang jadi kartu namanya selama dua tahun terakhir ini.

Bagi Lukas, dari kopi ia belajar bagaimana orang menerima kabar. “Reaksi orang beragam ketika saya tawari seduhan kopi murni. Tanpa gula dan susu. Kita tidak pernah bisa memaksakan orang untuk menyukai kopi pahit,” jelasnya. Karena reaksi yang beragamlah obrolan akan mengalir. Ketika kata sapa terucap, ia yakin persahabatan baru pasti dimulai.

Diplomasi kopi menurutnya pembuka pertemanan yang demokratis. Orang bisa tidak suka, mempercayai mitos kopi, ataupun menikmati kopi hitam tanpa pemanis, tetapi tetap bisa terus berbicara. Barangkali benar, Tuhan menciptakan kopi supaya kita semua bisa berteman.

Membuat bungkus kopi sebagai kartu nama, ia punya misi mengenalkan kopi negeri ini kepada banyak orang. Kopi Indonesia itu juara dan ia ingin masyarakat memberikan apresiasinya. Kepada petani utamanya.

Dengan menikmati kopi, kita belajar tentang berbagai rasa, dan saya ingin makin banyak kopi petani yang terbeli karenanya. Ujar Lukas. Saya jadi ingat yang disampaikan Pak Budiman Tanuredjo pada waktu Festival Kopi Flores di Bentara Budaya Jakarta beberapa waktu lalu. Kopi, menurut Pemimpin Redaksi Harian KOMPAS ini merupakan salah satu cara untuk mengenal nusantara. Dan hari ini saya mengenal Juria.

Ada yang menarik dalam bungkus Kopi Persahabatan. Tertulis begini – Kabar baik nomor dua: ada kopi gratis di Gerakan kopi Persahabatan. Beritakan ke seluruh dunia, kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. “Pasti orang akan bertanya lalu apa kabar baik pertamanya? Dari situ saja sudah terjadi komunikasi,” ujar Lukas.

Menurut saya, Gerakan Kopi Persahabatan saja sudah ide cerdas. Dan Lukas menambahkan kata-kata yang pasti membuat orang membuka tanya. Bertanya seakan hal sederhana. Tetapi ini adalah ketrampilan menghadirkan narasi. Karena tidak setiap kita fasih untuk bertanya.

Kopi Persahabatan ini cara menarik untuk mewartakan #IndonesiaBicaraBaik. Kampanye kebaikan yang diusung Pak Agung Laksamana. Yuk pak Agung, kita jadwalkan ngopi dengan Pak Lukas.

Masih dari sampul bungkus kopi, Lukas juga menambahkan tujuan gerakannya. Ia ingin memperkenalkan kopi Indonesia, meningkatkan konsumsi perkapita kopi Indonesia, membantu pemasaran produk petani kopi, meningkatkan kualitas kopi petani dan ajang silaturahmi. Saya jadi teringat kopi Humbang Hasundutan. Teringat Ibu Dumasi M M Samosir. Kopi Persahabatan ini sangat menarik Bu, untuk mengenalkan kopi Humbang lebih luas lagi.

Sore tadi Pak Lukas tidak hanya mengajarkan tentang diplomasi kopi, tapi saya juga belajar banyak tentang branding diri sendiri, tentang kePRan, tentang marketing dan banyak lagi. Secangkir kopi sore tadi bisa tak terbeli saat hangatnya menyuguhkan persahabatan dan persaudaraan. Dan saya merasakan itu.

Kenapa sih kasih kopi gratis? Menurutnya, gratis itu tergantung yang memberi dan bukan yang meminta. Dan kita tidak pernah bisa memaksa orang untuk memberi kepada kita kalau yang bersangkutan tidak ingin memberikannya.

Kedua, bungkus kopinya mungkin murah harganya. Tetapi ia yakin tidak murahan. “Oksigen itu bisa gratis dan banyak tersedia. Murah dan bahkan gratis. Tetapi di RS, ia menjadi mahal,” jelasnya.

Ketiga, ada pengorbanan dari setiap pemberian. Ia percaya dengan ungkapan there is no free lunch. Mungkin free untuk kita yang ditraktir makan. Tetapi yang menraktir kita tentu akan membayar bagian kita. Ada pengorbanan di sana,” ujar Lukas memberikan analoginya.

Apakah ia diuntungkan dengan membagikan ribuan kopi gratis ini? Yang diuntungkan adalah petani. Dengan doa mudah-mudahan makin banyak kopi petani yang terbeli.

Dan benarlah kata-kata ini: kopi tak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya. Karna dihadapan kopi kita semua sama.

Sore bersama secangkir kopi dan tempe kriuk tadi rasanya pas seperti hidup ini. Sederhana. Tetapi tetap harus kriuk. Dan secangkir kopi menggenapi.

 

Skill

Dan Tetaplah Menulis

 

Ini sekolah saya. Yang membentuk segala kenakalan, kreaktivitas, solidaritas, belajar menulis, memegang komputer, belajar layout, belajar memotret. Belajar integritas. Ini sekolah wartawan saya yang pertama.

1991, wartawan senior dari Kompas Mas Trias Kuncahyono dan Kang Yusran Pare datang ke sekolah. Menjelaskan gagasan untuk mengajak anak-anak beberapa SMA di Yogyakarta belajar menjadi wartawan. SMA Santa Maria, Stella Duce, Dr Britto, SMA 1 dan SMA Bopkri kalau tidak salah. Satu sekolah diwakili beberapa orang.

Gagasan gila. Buat apa mereka membuang halaman yang laku untuk dijual, menjadi iklan, hanya untuk anak-anak yang belum jelas mau ngapain. Nulis saja belum bisa.

Mulailah kami kenalan dengan apa itu berita. Menulis kalimat. Cara bertanya. Merangkai cerita. Menjadikan tulisan layak baca. “Kalau kalian tidak menulis, besok foto kopi sandal jepit kalian yang ada di koran ini,” ujar mentor kami Mas AWD, inisial untuk Mas Agoes.

Kejam? Nanti dulu. “Kalian harus mengejami diri kalian dengan bacaan, diskusi, belajar dari ahli. Apapun. Kalian harus mengejami diri kalian, sebelum dikejami pembaca,” jelasnya. Yang baca tulisan kalian itu profesor, dokter, ibu rumah tangga, anak-anak. Banyak yang jauh lebih pintar dari pada kalian. Ujar Mas Agoes, Kang Yusran bergantian.

Lalu kami nurut? Lebih banyak nakalnya aku rasa. Ego masing-masing yang mulai menonjol. Kegirangan disuruh meliput ini itu. Tapi hasil tulisannya penuh dengan coretan spidol merah dari para mentor. Tapi, wejangan itu tertanam dalam hati dan pikiran kami. Buat saya pribadi, ini spirit yang saya bawa kemanapun saya berada.

Dari mengenal satu dua wartawan, kami mengenal lebih banyak lagi. Mas Eddy Hasby, Pak Ahmad Roso Mbak Wineng Endah Winarni Mas Dodi Sarjana mas Ignatius Sawabi Chen. Dan buanyakkkkk lagi.

Saya, Kristupa Saragih, David Rinetyo Adhi Fransisca Ria Susanti Luki Aulia Mohtar Vierna Suryaningsih Kak Si Flo lalu ada Alb Agung Kunto Anggoro Diah Restu Marini Fika Ungu Rosita Y. Suwardi Wibawa Femi Adi Soempeno Esti Rahayu Dimas Novriandi Eko Susanto B Nursanti Retno R Retno Hemawati datang silih berganti.

Lalu apa keuntungannya? Hemmmmmmm…….kami memang lebih sering pulang sore atau malam. Padahal hanya berkumpul di sudut ruangan kecil Jalan Sudirman. Berlumut pula. Satu dua komputer. Tapi entah kenapa kami betah. Belajar lay out yang masih dengan penggaris, pemotong dan lain sebagainya.

Pelan-pelan kami bisa menulis. Lalu bangga ketika tulisan muncul di koran. Bangganya pakai kuadrat. Beberapa teman dapat keistimewaan dari guru Bahasa Indonesia. Nama kami ada di box, seperti wartawan beneran.

Beberapa kami menjadi wartawan. Saya sendiri 11 tahun jadi wartawan. Beberapa jadi fotografer. Jadi dokter. Buat saya pribadi, menjadi wartawan, profesi yang saya cintai. Dari hati.

Berita duka Harian Bernas hari ini adalah berita sedih yang kedua untuk saya. Setelah sebelumnya Harian Sinar Harapan tiada.

Dan saya berjanji untuk tetap menulis, sebagai penghargaan pada sekolah pertama. Kemampuan yang tak boleh hilang. Karena lama-kelamaan ia akan menyatu dalam darah saya.

Dari pelajar sekolah yang tak saling mengenal, kini kami menjadi saudara.

Sekolah yang kemarin dan membentuk saya menjadi seperti hari ini.

Terima kasih #Bernas

 

Network

Rumah Baru

 

Bagaimana perasaanmu ketika punya rumah baru? Pasti senang dan punya rencana ini itu untuk menatanya. Tidak hanya rumah, apapun yang baru, pasti membuat kita semangat.

Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang rumah baru yang saya miliki. Sabtu, 24 Februari lalu, Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS Indonesia) mengukuhkan Badan Pengurus Pusat (BPP). Di bawah ketua umumnya Bapak Agung Laksamana. Periode kepengurusan 2017-2020 ini memiliki komposisi wajah-wajah lama dikombinasi dan wajah baru. Dengan komposisi ini, diharapkan semangat kerja dan kampanye #IndonesiaBicaraBaik akan menyebar dengan cepat bagai virus.

Bagi saya yang baru pertama kali masuk dalam kepengurusan ini tentu deg-deg plassss. Mempertanyakan pada diri sendiri apa yang mungkin untuk dikontribusikan secara maksimal.

Berkontribusi menjadi konsern saya yang utama. Saya memegang teguh falsafah, urip migunani tumpraming liyan. Hidup yang berguna untuk sesama. Di mana pun keberadaan kita, berguna untuk sesama tentu membawa faedah.

Oh ya, di organisasi ini saya support untuk Bidang Keanggotaan dan Pelatihan. Sangat menarik pastinya.

*****

PERHUMAS masih mencanangkan tiga tema besar yang akan menjadi fondasi dalam menjalankan program-program-programnya yaitu: yaitu Educate, Engage, dan Inspire.

Ketiga tema besar yang juga merupakan fondasi visi dan misi dalam badan kepengurusan BPP PERHUMAS periode 2017-2020 ini diharapkan dapat memberikan peningkatan dalam segi kompetensi dan profesionalisme kehumasan secara internal dengan konsolidasi ke semua Badan Pengurus Cabang (BPC) yang ada di 30 Kota di Indonesia maupun eksternal organisasi terkait lainnya.

Pengurus BPP PERHUMAS periode 2017-2020 memiliki tiga Dewan Utama, yaitu: Dewan Kehormatan yang terdiri dari Muslim Basya, MBA, Miranty Abidin, Elizabeth G. Ananto, Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, dan Dr. Fuad Afdhal.

Dewan Penasehat salah satunya Ibu Rosarita Niken Widyastuti (Dirjen IKP), Dr. Dino Patti Djalal (Chairman fo Indonesia Diaspora) dan Dewan Pakar salah satunya Dr. Agusman (Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia), Shinta Dhanuwardhoyo (CEO bubu.com).

Bersama dengan Agung Laksamana, M.Sc, IAPR jajaran pengurus BPP PERHUMAS yang akan ikut menjalankan program-program kehumasan ke depan, diantaranya: Heri Rakhmadi – Wakil Ketua Umum 1, Pamungkas Trishadiatmoko – Wakil Ketua Umum 2, Boy Kelana Soebroto – Wakil Ketua Umum 3, Ita Kusmawati – Sekretaris Umum & serta Hery Kurniawan – Bendahara Umum.

Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia – PERHUMAS adalah organisasi profesi para praktisi Humas dan Komunikasi Indonesia yang didirikan pada tanggal 15 Desember 1972. PERHUMAS secara resmi telah tercatat di KEMENDAGRI sebagai organisasi nasional kehumasan di Indonesia dan pada International Public Relation Association IPRA yang berkedudukan di London.

PERHUMAS bertujuan meningkatkan keterampilan professional, memperluas dan memperdalam pengetahuan, meningkatkan kontak dan pertukaran pengalaman antara anggota serta berhubungan dengan organisasi serumpun di dalam dan luar negeri.

Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi anggota, seperti penerbitan bulletin, buku dan jurnal, Badan Pengurus Pusat berkedudukan di Jakarta dengan cabang-cabang yang tersebar hampir di 30 BPC diseluruh Indonesia.

Yukkkkkk…….berorganisasi. Karena di sini kesempatan untuk belajar sangat terbuka lebar. Dan yang utama, meningkatkan jejaring kita dengan lebih baik lagi. DI mana pun rumah baru kita, di situ kesempatan kita untuk berkembang lebih baik lagi. Rumah yang sehat, tempat tumbuhnya pribadi-pribadi berkembang alami.

Network

Suwe Ora Jamu

 

Ada dua alasan klasik saya datang ke Bentara Budaya Jakarta. Satu, datang awal supaya tidak kehabisan mie jawa. Kedua, demi sebotol jamu. Sebotol kecil saja. Minuman tradisional yang sudah naik kelas. Bergaya. Sebotol 25 ribu. Kalau di kampung tentu akan dapat berbotol-botol beras kencur atau kunyit asem. Berbotol-botol dan berhari-hari.

Edisi khusus jamu ini dibuat dalam botol yang lumayan gendut. Kira-kira isinya 500 ml. Harganya 85 ribu, khusus untuk hingga Februari saja. Bekas botolnya untuk tempat jus atau tanaman air di meja.

Hanya dua alasan ini? Khususnya memang iya sih. Dua alasan ini lahir karena ada alasan yang lain lagi. Perjalanan Thamrin – BBJ sudah pasti didera macet dan lapar. Jadi kebayangkan, sudah macet, lapar lalu mie jawanya habis. Dan itu sering aku alami. Itu menyedihkan.

Anyway, itu hanya alasan sih sebetulnya. Yang tercipta karena terbawa suasana. BBJ tempat yang menyenangkan untuk melewatkan terik siang yang merambat ke senja dan berubah menjadi malam. Bukan semata-mata makanan dan minumannya. Meski tempe mendoan, tape bakar, singkong dan jajan lainnya ok banget juga.

Selalu ada diskusi yang hidup di sini. Tentang apapun. Perjumpaan dengan wartawan, fotografer, peneliti atau siapapun selalu menyenangkan. Kadang hanya berbincang yang tak penting. Tetapi maknanya jadi lebih utama karena bertatap muka.

Meski WA Grup (WAG) ramai dengan lalu lintas komunikasi antaranggotanya, tetapi perjumpaan fisik memang tak tergantikan.

Kadang malah kami larut dalam cerita di bawah Pohon Trembesi sambil menikmati kopi. Lupa dengan agenda budaya yang sedang berjalan di sana.

Hanya satu yang mampu menghentikan cakap kami, saya terutama, bila ada musik berdendang dan ajakan untuk menari diteriakkan.

Menari, menjejakkan energi ke bumi. Lalu menjadi fresh lagi.

Jadi sering-sering yuk ngobrol di bawah Pohon Trembesi di BBJ. Siapa tahu melihat aku menari.

Network

Sepucuk Angpau Merah

 

Ada tradisi menarik di kantor. Kami berkumpul antarpilar usaha. Setahun 3 kali. Merayakan Natal dan Tahun Baru, Imlek dan Lebaran. Ruangan paling besar di Thamrin bisa menampung 200-300 orang. Di acara inilah bisa bertemu dan kenalan dengan pic dari bisnis lain yang selama ini mgk hanya lewat telpon atau email.

Acaranya selalu menarik. Kadang diisi dengan perkiraan situasi bisnis ke depan, makna toleransi dan berbagi dan kalau pas Imlek diisi salah satunya diisi dengan fengsui. Tak selalu, tetapi tema-temanya selalu menarik.

Baru bulan lalu merayakan Natal dan Tahun Baru, hari ini dekor sudah berganti dengan suasana Imlek. Jangan bayangkan kami hanya datang dan duduk manis. Dekor, catering, nara sumber, tamu, dan printilan kegiatan dikerjakan sendiri. Jadi, bisalah nyambi jadi EO. Saya hanya bantu yang remeh temeh. Tetapi teman-teman lainnya akan mengerjakan sejak sore hingga larut malam.

Bisa tanpa EO mengerjakan itu semua?
Jangan khawatir. Bahkan membuat foto copy bolak balik hingga binding pun kami mahir. Dan hampir semua kegiatan besar dikerjakan tanpa EO. (Pesan terselubungnya mblo, kalau merit undang kami aja, beres acaramu.)

Kenapa sih capek kok senang? Padahal salah pasti kena omel. Berpikir positif saja. Beginilah sekolah. Banyak hal baru, belajar, mengerjakan sendiri dan tahu salah atau kurang tepatnya dimana. Dengan mengerjakan sendiri, diam-diam itu memperkaya skill kami. Dan dampaknya di lapangan memudahkan utk saling back up pekerjaan. Ini proses panjang. Anak-anak magang bisa tersenyum kecut kalau pas dapat banyak event, tetapi di akhir masa magang mereka akan tersenyum lebar karena punya ilmu baru yang bisa diterapkan di dunia kerjanya nanti.

Pressure membuat kami harus banyak berimprovisasi. Kenakalan, kejahilan dan kecerdasan saling menimpali. Tak ada rotan, akar pun jadi. Siapa yang bisa bekerja dan bersama-sama kerja akan terseleksi oleh waktu.

Kami menikmati proses ini. Proses #TumbuhBersama.

Acara diakhiri dengan sebutir jeruk manis. Agar manis pula hidup kami di tahun ini. Semua mendapat satu-satu tak mengenal apa jabatannya. Dan sepucuk angpau merah. Dengan isi yang sama.

Februari segera berlari menuju Maret. Lalu tiba-tiba masuk Ramadhan lagi. Dekor akan segera berganti.

Dan kami tak lelah mengejar Matahari.

Oh ya, apapun shio kamu, kalau ngopi ajaklah shio kelinci. Makin meriah soremu. Dan itu aku.

 

 

Skill

Main dan Berorganisasilah

Saya selalu senang keluar kantor. Selalu ada semangat baru setiap bertemu orang di luar kantor. Pekerjaan PR memang harus lebih banyak di luar kantor bukan?

Jawabnya bisa ya dan tidak. Menurut saya, koordinasi internal juga membutuhkan perhatian khusus. Kusut di dalam komunikasi internal, juga menyulitkan kita untuk menyampaikan suara ke luar.

Kenapa sih bertemu banyak orang itu membahagiakan? Paling tidak buat saya pribadi, seperti pengingat untuk selalu open mind.

Berpikiran terbuka membuat keinginan untuk selalu belajar tumbuh dan tumbuh terus. Dan di dunia PR inilah salah satu nyawa yang harus kita pertahankan. Dunia berubah sangat cepat. Begitu juga cara komunikasi. Internet yang semakin maha dasyat, mengantarkan informasi tidak lagi terkotak lokal dan regional tetapi sudah borderless.

Di mana kita bisa mencari teman? Salah satunya dengan berorganisasi. Organisasi mendorong kita untuk bisa melihat program kita bisa dimaksimalkan atau tidak dengan belajar dari perusahaan lain.

Di organisasi kita juga bisa berjejaring dengan mudah. Lalu apa untungnya? Buat saya buanyakkkkkkkk banget. Ilmu, kebiasaan, cara pengambilan keputusan, kerja sama tim, mengatasi krisis adalah bagian-bagian yang bisa selalu bisa kita bagikan kepada orang lain. Mahasiswa yang sedang belajar PR, mereka membutuhkan banyak sekali studi kasus. Dan di perusahaan kita kasus-kasus yang kita tangani banyak sekali.

Banyak organisasi profesi. Di tingkat nasional ada Perhumas. Di tataran internasional ada IPRA.

Luangkan waktumu. Bergeraklah mencari teman dan mulai kehidupan berorganisasi.

Skill

Bos yang Tak Mudah

Bos yang Tak Mudah

Seorang teman datang berkesah. Saya tahu, dia bukan orang yang mudah menyerah. Tetapi beberapa upaya yang ditempuh untuk berkomunikasi nyaman dengan atasannya membuat hidupnya hari-hari ini terasa tidak mudah.

“Saya menyerah,” ujarnya. “Arahannya sudah saya jalankan. Tetapi selalu salah atau yang terjadi selalu minta diganti dan diganti. Jadi perintah A, akan berubah sekejap menjadi B atau C,” tambahnya.

Saya membiarkannya terus bercerita. Tanpa menyela. Buat saya ini justru seni di setiap tempat kerja. Suka duka itu selalu menyertai, diminta atau tidak.

Lama, kemudian dia lalu bilang: “Ngapain ya mengeluh seperti ini? Toh keluhanku tidak akan mengubah dia,” lanjutnya.

Pernyataan dia menarik perhatian saya. Mengungkapkan perasaan kesalnya membuat ia menemukan sendiri solusi menghadapi atasan yang tak mudah. Dan saya yakin, solusi yang ditemukannya sendiri akan jauh lebih powerfull dibandingkan bila jalan keluar datang dari orang lain.

Jadi, bos kamu mengesalkan?
Ubah cara pandangmu. Persepsikan ia dalam bentuk yang membuatmu tersenyum.

Tak berhasil? Buatlah masalahmu mengecil dan jauh lebih kecil. Supaya kita bisa melihat jalan keluar yang lebih besar.

Membesarkan masalah hanya akan mengerdilkan jalan keluar atau pemecah solusi yang sebetulnya dengan mudah kita temukan.

Skill

Personal Branding

Saya sebetulnya lebih suka menggunakan bahasa yang mudah. Nanti saya coba cari padanannya. Di dunia media sosial, ada beberapa akun yang suka saya amati. Yang mengeluh tak berkesudahan. Yang membuat pencitraan  dirinya lebih besar dari bayangannya. Yang pintar tetapi menyamar pekok. Semuanya ada. Dunia maya, kadang menjadi dunia suka-suka. Terserah loe mau jadi apa saja.

Tetapi tak jarang, banyak yang memanfaatkan media sosial ini untuk berkicau dengan tetap menjadi dirinya. Tampil manis, tetapi tak manja. Cerdas dan kadang ada minusnya dalam tempo yang tak terlalu lama bedanya. Tak menggerutu kalau tak perlu.

Jadi bagaimana sebaiknya menampilkan diri di media sosial kita? Apapun gayamu, jujur adalah yang utama. Syukur cuitanmu membuat mereka yang baca tersenyum gembira. Atau pembaca buah-buah pikirmu merasakan ada manfaatnya.

Kamu bisanya melucu? Mungkin itu adalah kekuatanmu. Tampilkanlah kelebihan, kekuatan dan keahlianmu. Atau kamu justru merasa berbeda? Itu juga point bagus untuk tampil sebetulnya. Berani tampil beda karena kita tahu kelemahan, kekurangan dan kelebihan kita sendiri. Berani tampil beda juga pernyataan percaya diri.

Yang perlu diingat. Selaraskan antara dunia nyata dan mayamu. Apa yang disebar di dunia maya sebaiknya cermin kepribadian kita di dunia nyata. Selaras dan konsisten, maka hal ini memungkinkan personal branding akan berhasil. Kalau tak sesuai, orang akan melihatnya sebagai sesuatu yang ganjil.

Jadi, jangan jadi manusia ganjil. Karena Tuhan menciptakan kita untuk saling menggenapi.

Skill

Mengejami Diri Sendiri

 

Sebelas tahun menjadi wartawan, sebelas tahun sebagai PR profesional, tentu banyak pengalaman. Bagaimana sih bertahan dan tetap dalam stage jatuh cinta dengan profesi ini?

Dulu ketika masih menjadi wartawan, satu pelajaran yang saya ingat betul dan tetap  saya terapkan hingga saat ini. “Pembaca kamu beragam, dari tukang becak sampai profesor. Dari ibu rumah tangga hingga doktor. Ketika tulisanmu buruk, mereka akan menghujat kamu.” Ujar mentor saya ketika itu.

“Kejamilah diri kamu sendiri dengan membaca, banyak bertanya dan belajar dari mereka yang paham terlebih dahulu. Lebih baik kamu mengejami dirimu sendiri daripada kamu dikejami oleh pembacamu,” lanjutnya.

Pelajaran ini saya resapi betul. Ketika saya meninggalkan profesi sebagai wartawan dan pindah ke korporasi, pelajaran ini saya terapkan kembali. Mengejami diri sendiri  dengan belajar hal-hal baru dengan segera. Dan saya yakin, pelajaran hidup ini bisa diterapkan oleh semua orang, apapun latar belakang dan pekerjaannya.

Yuk belajar dan belajar lagi. Profesi sebagai PR itu bagai ilmu hidup yang terus berkembang sesuai zaman. Belajarlah, agar tak terlena.

Skill

Belajar Mencintai

Terpikirlah kita bahwa pada umur tertentu kita ingin menjadi ini dan itu? Apakah waktu itu bekerja sebagai PR masuk dalam pekerjaan impian kita? Apapun profesi saat ini, belajar mencintai wajib hukumnya.

Profesi sebagai humas dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi pilihan favorit para milenial. Tengoklah di kampus-kampus yang menyediakan jurusan PR. Penuh dengan peminat.

Bekerja sebagai PR memang menjadi daya tarik  tersendiri. Pekerjaan ini tidak mudah. Cita-cita besarnya adalah membangun dan meningkatkan reputasi perusahaan.

Berbahagiah milenial yang saat ini relatif karib dengan gadget. Dunia mereka lebih lebar dan luas terkoneksi dengan banyak simpul. Paling tidak, mereka menguasai bagaimana media sosial bekerja.

Lalu modal dasar apa yang harus kita miliki? Kita dituntut memiliki kemampuan paripurna. Menulis, berbicara, berjejaring, membuat rancangan kerja dan masih banyak lagi.

Tetapi yang paling utama, apapun pekerjaan kita termasuk sebagai PR, open mind adalah hal dasar yang mutlak kita miliki.  Dengan berpikiran terbuka, kita akan mudah menyerap ide-ide baru dari sekeliling dan partner kerja kita.

Kedua, berpikirlah out of the box. Meskipun kita memiliki banyak ide, tim yang keren, tetapi eksekusi normatif, hasilnya pasti tidak akan maksimal. Mencari terobosan adalah kunci.

Jadi sudah siap untuk makin jatuh cinta dengan profesi ini? Open mind dan out of the box adalah koentji.

Skill

WAG, Ruang Meeting yang Efektif

Aku terbangun karena silau matahari. Mengeliat lalu beranjak  membuka jendela.  Rasa-rasanya kalimat itu kita dengar puluhan atau belasan tahun yang lalu. Yang terjadi sekarang,  buka mata dan meraba dimana handphone berada. Pagi kita diriuhkan dengan pesan yang bertubi di WA Group. Beberapa urgent untuk segera ditanggapi. Dan jadilah ini ritual pagi kita.

Bekerja di kota besar seperti Jakarta misalnya, bekerja secara efektif dengan sesuai dengan kemajuan zaman menjadi tuntutan. Untuk berpindah dari tempat satu ke lokasi lain  yang membutuhkan waktu berjam-jam (saya sendiri perlu 3-4 jam hanya untuk pulang pergi kantor rumah), remote working menjadi solusi. Dan WAG menjadi tempat yang efektif untuk melakukan rapat.

Bekerja dengan gawai, laptop dan piranti lain sejauh terkoneksi dengan internet rasanya memudahkan hidup kita. Eh  balik lagi ke WAG, perlu aturan yang tegas agar komunikasi di WAG berjalan efektif. Masing-masing WAG sebisa mungkin tidak melakukan copy paste, tidak membicarakan hal-hal yang terkait keagamaan atau politik kecuali WAG nya memang khusus untuk hal tersebut. Aturan ini bila diikuti  semua membernya akan menghasilkan komunikasi dan kerja yang efektif.

Teknologi hendaknya memungkinkan kita untuk bekerja secara fleksibel. Ini menjadi tuntutan pekerja dan dari sisi perusahaan juga menghemat banyak biaya ebetulnya. Kita menghilangkan banyak kerumitan. Ini membuat semua lebih bahagia.

Network

Berteman dengan Wartawan

 

Tidak semua dikaruniai kemampuan untuk berteman dengan wartawan. Berteman dengan wartawan memang gampang-gampang susah untuk tidak mengatakan tak mudah lho berteman dengan wartawan.

Kenapa harus berteman dengan wartawan? Satu hal yang harus dipahami, wartawan adalah stakeholder dari pekerjaan kita sebagai humas. Apa yang dilakukan oleh perusahaan perlu untuk diketahui juga oleh masyarakat. Salah satunya melalui saluran media. Melalui wartawanlah perkembangan kinerja, update situasi terkini atau pun penjelasan terhadap suatu krisis bisa kita lakukan.

Dengan beberapa alasan tersebut, mutlak bagi kita untuk memiliki relasi yang baik dengan wartawan.  Yuk kita mulai belajar berjejaring dari awal dengan wartawan.

Awalilah pertemanan dengan jujur.  Ini sangat penting. Tidak hanya dengan wartawan, tetapi dengan siapapun.

Kedua, tahu  kebutuhan wartawan. Data dan akses merupakan kebutuhan yang utama bagi wartawan. Dengan dua hal tersebut, memudahkan wartawan melakukan tugasnya dalam keseharian.

Tulus. Ini bukan nama penyanyi. Tetapi sikap yang perlu kita bangun. Seperti ketika kita berteman dengan A,B,C,D. Tidak ada udang di balik batu. Yang utama jangan memanfaatkan pertemanan agar kita mendapat keuntungan. Sekali dua mungkin  kita bisa diuntungkan, tetapi percayalah, pertemananmu tidak akan langgeng.

Komunikasi intensif memang perlu. Jangan hanya menyapa saat membutuhkan. Berteman dengan wartawan sangat menguntungkan. Selain karena akses  utama untuk mendapatkan informasi, kita pun juga bisa dapat informasi-informasi awal tentang suatu isu. Atau bahkan latar belakang suatu isu yang sedang berkembang.

Bergaullah di luar pekerjaanmu. Berbincanglah tentang aja saja dan barangkali tidak harus selalu tentang pekerjaan. Yuk mulai mengenal wartawan.

Skill

Sang Pencerita

Kita berada di dunia dengan wabah informasi yang beragam. Hoax, fake news adalah diantaranya. Adakah penangkal ampuh untuk hal ini?

Masyarakat seringkali tidak mencari kebenaran atas sebuah fakta. Tetapi konfirmasi atas keyakinan mereka, lalu membenarkannya. Hoak mudah dibangun karena mengusung kekuatan cerita.

Sebagai praktisi humas, apa yang harus dilakukan? Jadilah pencerita. Pencerita? Yup. Storytelling.  Dengan jalan inilah kekuatan kampanye dibangun.

Bagaimana membangun cerita di era digital?  Digital storytelling adalah kunci. Kedua, social listening.  Meski berbagai penelitian mengatakan lemahnya minat baca masyarakat, tetapi Indonesialah yang paling riuh berkicau di media sosial.  Dengarkan percakapan di dunia digital ini. Terakhir,  big data. Dengan kekuatan inilah,  komunikasi bisa dibangun.

Ingat, setiap kita adalah pencerita. Tinggal bagaimana mengasahnya.

Skill

Ide, Semudah Memencet Odol

 

Niatan saya menuliskan hal-hal sederhana berangkat dari keinginan berbagi saja. Tidak ada yang lebih. Makin berbagi, saya makin kaya. Kaya teman, kaya doa, kaya ide.

Lalu ada satu dua yang bilang: “Mbak, saya suka tulisannya.” Saya pun manggut-manggut saja. Toh kalau ada rona malu, partner bicara saya tak akan tahu perubahan di muka saya. Biasanya saya akan menawarkan balik agar siapapun yang memberi apresiasi terhadap tulisan itu berbagi hal yang sama. Menuliskan cerita-cerita sederhana di kehidupan mereka.

Jawabnya?
Saya pengen, tapi…
Mau sih, cuma….
Tidak bisa nulis
Tidak ada waktu
Suka bacanya aja
Tidak ada yang bisa dibagi,
Mau share apa ya?
Blank.
Tidak ada ide!

Kalau diurutkan, bisa lebih panjang lagi alasannya. Yang paling sering adalah tidak ada ide. Padahal, ide itu seperti udara. Ada di mana-mana. Tapi seringkali kita mengabaikannya. Kalau kejepit suasana, baru teriak-teriak: siapa yang jual ide? Dibeli: sebuah ide dengan harga mahal.

Alam raya ini luar biasa. Ide yang tak pernah habis digali. Keindahan yang tak pernah kering dinikmati. Rumah yang tak pernah sepi ditinggali. Sahabat yang setia memberi energi. Anda pasti setuju.

Kalau nunggu ide datang persiapannya: kopi, musik, suasana tenang, punggung yang tak mau tegak, gelisah yang tak mau pergi, rambut yang diacak, mulut yang seperti terkunci. Yang ada: seandainya…seandainya…seandainya. Ah, kayak menunggu godot saja.

Benarkah ide itu jauh dan tersembunyi? Tidak bisa dijangkau dan tak mungkin direngkuh? Tidak bisa hadir, kini dan saat ini?
Aku tidak pernah pelit. Saya yakin kamu juga. Lebih-lebih alam. Alam tidak pelit. Ada cahaya, ada suara, ada tangis, ada buncah tawa, ada aku, kamu dan kita.

Benarkah kita tanpa ide? Buka laptop, ide sudah dipanen. Keluar rumah, ide sudah bermunculan. Ketemu orang, benih-benih ide bersemai. Gendong anak, lahir ide. Sambil masak, ide pun matang.

Tapi seringkali kita sibuk dengan alasan. Dan lupa bahwa otak kita canggih dan sangat pintar. Jadi percaya saja pada kemampuan kita. Ini tidak hanya untuk menulis. Aplikasinya bisa ke: ide masak, ide marketing, ide kerjaan, ide olah raga, ide perkawanan, ide jejaring.

Kata temanku, ide itu gratis. Orang cerdas memetiknya secara gratis. Sekaligus menanam, supaya orang lain kebagian pula. Alam raya menyediakannya secara melimpah. Ide melimpah, tapi kreator sedikit.

Jadi, apakah ide itu muncul secepat kita memencet odol (pasta gigi)? Anda tahu jawabnya. Mari panen ide, berkarya dan nyatakan.

Selamat menuai ide.

Skill

Sedekah Ilmu

Tahu goreng pagi ini berbeda rasa. Meski dari penjual yang sama, di belakang kantor. Padahal, demi Tuhan, ngantor pertama saya ingin mulai makan yang sehat.  Diet canggih seperti orang-orang. Resolusi awal tahun. Dan hancur di hari pertama.
Ada kriuk renyah dari setiap potongan tahu pagi ini. “Buku apa yang paling akhir dibaca?” Tanya Luthfi Assyaukanie. Pertanyaan yang garing sebetulnya. Karena kita lebih banyak membaca  status orang di sosial media. Sejujurnya itu yang terjadi dalam keseharian kita saat ini.
Dan, ternyata  benar dugaku. Sebagian kami kesulitan untuk mengingat kembali buku terakhir yang kami baca.  Justru ingatan yang membeku tentang  buku yang kami baca ini, menjadi pintu pembuka pelajaran kami  pagi ini.
Kami tengah belajar menulis. Sederhana.  Setiap hari kami berkutat dengan sekian puluh abjad. Entah untuk say halo, atau menulis sedikit lebih serius. Smartphone  memudahkan kita berekspresi.
“Jangan membuat pembaca atau bos kita perih duluan membaca tulisan kita. Apa dosanya, sehingga pagi-pagi harus membaca tulisan yang buruk,” ujar  Lutfie. Kami hanya tertawa. Mesti mengiyakan dalam hati. Tulisan yang buruk memang sangat mengesalkan. Kita dengan mudah akan menghakimi penulisnya bodoh.
Menghindari tulisan yang buruk, penting bagi kita memiliki pengetahuan menulis.  Assyaukani mengingatkan  hal ini.  Ada empat  alasan kenapa kita menulis. Pertama, untuk mengeskpresikan diri seperti Anne Frank dan Soe Hok Gie. Atau, untuk membangun nama atau reputasi, seperti Andre Hirata atau penulis Harry Potter, J. K. Rowling.
“Bisa juga karena kita ingin mengubah dunia. Jangan berpikir dunia yang luas. Dunia sekitar kita saja,” ujar Luthfie. Ia mencontohkan Stephen Hawking yang menulis A Brief History of Time. Atau Rachel Carson dengan Silent Spring yang gelisah ketika dia tak lagi mendengar kicau burung di daerah yang dulu riuh dengan cuitannya. Karya yang terbit pada 1962 itu fokus pada efek pestisida DDT (dichloro-diphenil-trichloro-ethane) terhadap kehidupan liar dan pengaruh jangka panjang pada rantai makanan. Bacalah, sudah ada edisi Indonesianya.
Atau keempat, kita menulis karena tuntutan pekerjaan.  Membuat laporan misalnya. “Tapi ingat, jangan membuat bosmu perih dulu ya,” ujarnya lagi.
Di layar depan lalu  muncul gambar Pramoedya Ananta Toer. Kalau aku boleh memilih, hanya ada dua lelaki seksi sepanjang hidupku. Pram dan Sindhunata. Nambah lagi satu, EKa Kurniawan, dengan Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau. Belum nambah lagi  deretan lelaki dalam imajiku ini. Pram pernah bilang: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Siapa coba yang tidak akan klepek-klepek dengan ungkapan ini? “Menulis itu seksi,” lanjut Luthfie. Mungkin juga pacarnya banyak. Lalu kenapa kau tak mulai menulis?
Kamu tak  tanya kenapa aku menulis? Aku hanya ingin menghidupkan abjad. Lalu apakah pacarku banyak?
Ah sudah dulu ya. Sudah siang. Makan siang menanti. Aku lanjut lagi nanti sedekah ilmu dari Mas Luthfie.
Skill

Signature

Menulis bagi banyak orang kadang menakutkan. Terlebih dengan ketrampilan yang sangat minim.  Bagi praktisi public relation bisa jadi inilah bencana.  Ini adalah salah satu ketrampilan dasar yang wajib kita miliki.

Kenapa sih menulis menakutkan? Percaya dirilah. Jangan takut. Ketakutan itu barangkali karena kurang membaca.  Tak mungkin ada tulisan bagus tanpa membaca. Lalu kalau tak ada ide atau mampet? Membaca tetap jadi solusinya.

Biasakan membuat outline untuk tulisan yang seserhana sekalipun.  Outline inilah yang akan jadi penuntun kita.  Dari outline ini akan terlihat bagaimana bentuk tulisan kita nanti.

Awalilah tulisanmu dengan jujur.  Tulisan yang jujur memudahkan membuat cerita yang mengalir. Kebohongan atau menyembunyikan data atau fakta merupakan jebakan untuk diri kita sendiri.

Hasil tulisan masih belum memuaskan? Baca dan bacalah banyak referensi. Meniru gaya pilihan diksi penulis favorit bukanlah dosa. Lama-lama akan muncul gaya kita sendiri.

Semakin pendek kita menulis – rilis – misalnya, biasanya makin tidak mudah. Tetapi inilah tantangannya. Sederhana atau kesederhanaan itulah yang indah.

Tahapan lain yang harus kita taati yaitu mengedit.  Jadilah editor yang baik untuk diri sendiri.  Ini sedikit memuakkan prosesnya, terlebih ketika kita sudah  berkutat lama  dengan tulisan kita. Tetapi laluilah. Tegalah untuk mengedit tulisan kita sendiri.  Posisikan diri sebagai pembaca. Editor yang baik akan menyempurnakan tulisan yang sederhana sekalipun. Kuncinya menulislah dengan semenarik  mungkin. Tulisan yang buruk atau membingungkan hanya menunjukkan cara berpikir  kita yang tak lurus mengurai tema-tema menjadi sederhana sederhana.

Tulisan kita adalah signature kita. Buatlah semenyenangkan mungkin bagi pembaca kita untuk menikmatinya.

Masih beranggapan tak bisa menulis?  Buang mimpi burukmu.

Skill

Mencintai Airmin

Mungkin kamu satu dari penggemar akun twitter TNI Angkatan Udara. Lembaga militer yang biasanya terkenal kaku, sesuai komando dan hanya memberikan informasi garing menjadi berbeda di tangan Airmin, sebutan untuk admin twitter TNI AU yang mendapat mandat untuk berinteraksi di dunia maya.  Setiap cuitan Airmin rasanya membuat banyak orang penasaran. Kehidupan militer yang kaku seakan lebur dalam jawaban-jawaban Airmin yang  mengena di hati milenial.

Perhari ini sudah ada 246 ribu follower di akun @_TNIAU, dan hanya ada  27 akun yang diikuti oeh akun tersebut, kebanyakan adalah akun dari kesatuan lain dan lembaga pemerintah. Akun @_TNI AU yang dikelola oleh Dinas Penerangan TNI AU tersebut memang menjadi trendsetter bagi admin-admin atau yang biasa dipanggil mimin bagi banyak pengelola media sosial milik institusi.

Gaya Airmin yang santai, santun tetapi sesekali tegas ini banyak disukai netizen. Mungkin harusnya seperti itu gaya berkomunikasi di media sosial. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya pernah menjelaskan, meski  bergaya santai, tetapi mereka yang di belakang akun resmi tersebut bukan orang-orang sembarangan. Mereka dipastikan perwira muda yang memiliki kualifikasi cerdas, berdedikasi, integritas baik, kreatif dan inovatif. “Jelas bukan orang sembarangan,” ujarnya.

Bergaya milenials, bukannya tanpa alasan. Ingin dekat dengan generasi muda, itu yang menjadi alasan utama. Awalnya media komunikasi ini dibuat dengan misi utama untuk menyebarkan informasi mengenai pendaftaran masuk TNI AU. “Kami tidak mungkin menyiarkan informasi pembukaan TNI AU begitu saja. Siapa generasi muda yang tertarik? Kalau kami jawab buka saja web dan jawaban-jawaban standar lainnya, sudah pasti banyak calon pendaftar yang akan mundur teratur,” ujar Kapten Ahmad Irvan, Cyber Team Dinas Penerangan (Dispen) TNI AU, dalam satu kesempatan diskusi.

Apakah tidak ada tantangan dari internal TNI AU sendiri? Pasti ada. Integritas dan tujuan jelas diperlukan di sini sebagai alasan yang utama. Pesan yang sampai pada audiens adalah yang utama. Generasi zaman oldtentu harus berbesar hati mengalah pada kepentingan yang lebih besar.

Lihatlah cuitan Airmin Jumat 5 Januari 2018. Saat Airmin infokan event di Yogya Urban Obstacle Run Maret nanti di Lanud Adisucipto, ada saja pertanyaan netizen yang  dijawab Airmin dan bikin ngakak. “Di Halim kapan, Min?”

Airmin pun menjawab “Kenapa harus di Halim ketika di Yogya ada. Kenapa harus Hani, ketika Rika ada. Begitu kata Bang Rhoma.”

Jawaban-jawaban jenaka Airmin ini membuat penasaran banyak orang. Namun, untuk beberapa kasus, Airmin akan berkata tegas bahkan melakukan tindakan yang membuat jera. Gaya komunikasi Airmin yang luwes ini seakan menegaskan, Anda Sopan Kami Segan, yang banyak tertempel pada stiker zaman dulu.

Lalu apakah tertebak siapakah Airmin saat ini? “Biarlah Airmin menjadi teka-teka dan misteri di dunia maya untuk para netizen,” Jemi pernah menjelaskan.

Menjadi pertanyaan kini, apakah lembaga resmi atau korporasi siap berubah gaya sesuai dengan tuntutan milenial untuk menyampaikan produk atau pesannya?  Masih menjadi debat panjang.  Sementara milenial merupakan pasar besar yang potensial.

Terima kasih Airmin. Karena kamu, kami jadi banyak tahu tentang TNI AU. Ndak salah kan kalau jatuh cinta dengan Airmin?

https://twitter.com/_TNIAU/status/949231204494028801

https://twitter.com/_TNIAU/status/949072688630280193

https://www.qureta.com/post/mencintai-airmin