Hidup Bahagia itu pilihan


Enaknya jadi orang terkenal. Entah karena suami yang ngetop, karena jabatan, atau ngetop karena kejatuhan duren runtuh. Yang terakhir ini saya memilih tidak mau. Pasti sakit boooo…………..

Orang ngetop yang ingin saya kutip yaitu mantan Ibu Negara Amerika, Barbara Bush. Begini Barbara bilang: “Ketika Anda berbicara tentang pendidikan, karir, atau jasa, Anda
sedang berbicara tentang kehidupan. Dan kehidupan harus dinikmati. Kehidupan mestinya menyenangkan.”

Enak ya Mrs Barbara ini bilang begitu. Terbang tinggal terbang, makan enak tinggal bilang. Baju bagus pun tinggal pesan. Siapa juga yang menyuruh Anda atau saya tidak jadi orang terkenal. Hehhehhe. Salah nasib barangkali.

Hidup memang harus dinikmati. Masalah pasti ada. Namanya juga manusia. Tidak lagi hidup di dunia fana kalau masalah tidak ada. Kalau happy terus, nanti tidak tahu bagaimana rasa derita. Kalau gambar hanya merah saja pulasnya, kita tak tahu cantiknya pelangi yang warna-warni. Jadi….?

Ada masalah ya dinikmati saja. Kalau selama ini kita sibuk cerita kanan kiri menceritakan masalah kita, seolah-olah kita orang yang paling menderita di dunia, ambilah keputusan untuk berhenti menceritakannya. Semakin kita cerita, makin besar rasanya masalah. Artinya, kita makin memperbesar masalah kita sendiri.

Gambarannya sama, kalau kita menggelembungkan balon sangat besar di depan muka kita, jalan depan kita tak akan terlihat bukan? Masalah juga seperti itu. Makin kita memperbesar masalah, makin tak keliatan jalan keluar di depan yang harusnya dengan gampang kita lalui.

Jadi, stop fokus pada masalah, fokuslah pada jalan keluarnya. Ngutip orang ngetop lainnya lagi ah. Stephen Covery, pengarang Seven Habit bilang, “Bukan berat beban yang membuat kita stres, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut.” Jadi, selesaikan masalah dan pilihlah untuk menjalani hidup dengan bahagia.

Eh, saya sudah termasuk orang ngetop belum ya, takut dikutip nantinya. Hehhehhehhe, becanda.

Emmy Kuswandari, Malang 2009

Tidak ada Kebetulan dalam Penciptaan


“Mengapa nasib begitu kejam dan berubah semena-mena? Mengapa orang benar menderita dan orang salah berkuasa? Mengapa begitu banyak orang jahat yang menghancurkan orang-orang tak bersalah? Mengapa dia menyakiti kita?

Begitu banyak tanya yang meledak-ledak dalam pikiran kita terutama ketika ketidaknyamanan, ketidakbahagiaan datang menghampiri. Kita berpikir, kita lah yang paling menderita di dunia ini.

Itu pula yang terjadi ketika menyadari aku harus menjadi orang tua tunggal untuk anakku. Rasanya itulah kiamat bagiku. Bukan lagi pertanyaan siap atau tidak siap. Semua berputar dalam benakku, tentang karir dan pekerjaanku, reaksi lingkungan sosialku dan yang paling mendasar, bagaimana aku harus membesarkan anakku seorang diri.

Belum lagi, kalau dia beranjak besar nanti, bagaimana pula harus mengomunikasikan ketidaklengkapan ayah ibunya ini. Aku tahu jalanku tidak akan mudah. Ketakutan dan rasa marah ini pula yang menggelapkan kejernihan berpikirku, ketika itu.

Tapi, aku memilih kehidupan, dan itulah yang membuatku bertahan. Aku yakin, rasa malu hanya sesaat dan ketakutan dapat dilenyapkan. Tapi aku menyadari betul, saat itulah, segalanya dalam hidupku tidak lagi sama. Aku merasa, saat itu sangat tidak adil untukku, dan lebih-lebih untuk anakku.

Tetapi betulkah nasib berubah semena-mena dan bergerak tak menentu? Sudiarja, SJ melalui bukunya Bayang-bayang (Galang Press, 2003) mengajakku bercakap. ”Benarkah segala kejadian di dunia ini tidak mempunyai arah dan tujuan? Atau alam semesta ini bergerak tak menentu?” tanyanya.

Aku, kamu dan kita pasti akan menggeleng. ”Tuhan sumber segala sesuatu, dan tentu pula ia tujuan dari segala sesuatu,” ia menjawab tanyanya sendiri.

Ia mengajakku untuk tidak membuang waktu dan menyalahkan sang nasib seperti orang dungu yang hanya berterima kasih saat beruntung dan mengumpat ketika dianugerahi kemalangan.

”Semua orang merindukan kebahagiaan. Semua orang mencari kebahagiaan dengan berbagai cara, entah dalam kemasyuran atau melalui kekuasaan. Tetapi adakah ketenangan hati di sana? Kugelengkan kepala. Belum tentu.

Menurutnya, tak cukup kuat kaitan kekayaan, kekuasaan dengan kebahagiaan. Kekayaan tak akan mampu memuaskan ketamakan, kekuasaan tak juga membuat orang mampu menguasai dirinya sendiri.

”Kebahagiaan tidak terletak pada popularitas atau kekayaan, tetapi pada ketulusan hatinya,” ujar Sudiarja menenangkan.

Aku berhenti mengutuki. Terlebih ketika teman-teman dekatku menyemangati. ”Memaafkan dia yang menyakitimu, sama saja dengan memaafkan dirimu sendiri. Membuka jalan lapang ke masa depan. Jalan lapang yang akan meringankan langkahmu,” begitu kira-kira semangat teman-temanku.

Meski begitu, butuh waktu bagiku untuk berdamai dengan diriku sendiri. Di dada ini menggemuruh dengan kemarahan yang kadang masih meledak datang.

Kata-kata Sudiarja kembali mengingatkanku. Aku sudah memilih kehidupan, pro life dan bukan pro choice. Aku memilih dengan akal dan kebebasanku. Dan itulah adalah anugerah tertinggi sebagai manusia.

”Dengan akalmu kamu mengerti semua ini dan dengan kebebasanmu itu kamu bisa mengarahkan atau pun menjauhkan diri dari Sang Kebaikan, menerima atau menolak penyelenggaraan ilahi,” ujarnya.

”Apa itu penyelenggaraan ilahi?”

”Penyelenggaraan merupakan pengetahuan ilahi yang mendahului perbuatanmu. Tidak ada tindakanmu yang tidak diketahui sebelumnya. Tetapi penyelenggaran ini tidak merebut kebebasanmu,” tambahnya.

”Jadi tidak ada yang kebetulan di alam ciptaan, karena semua sudah diatur. Juga tidak ada kesemena-menaan di dalam nasib,” pungkasnya.

Meski indah kata-kata Sudiarja, selalu butuh waktu untuk mencerna dalam pengalaman pribadi kita. Kebahagiaan atau pun kemalangan, bergaris tipis, tergantung bagaimana kita melihatnya. Kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi membantu menyelaraskan pilihan bebas itu tadi.

Kini, aku bisa melihat masa lalu dengan tersenyum. Dulu yang sepertinya bencana besar, kini terlihat kecil untukku. Tidak ada lagi ketakutan sebagai orang tua tunggal. Kami, aku dan anakku menjadi tim yang hebat untuk saling mendukung dan menyemangati. Kami memang berhak untuk bahagia, menghiasai dua hati ini dengan cinta. Dan saya yakin Anda pun setuju, tidak ada yang kebetulan dalam penciptaan.

Emmy Kuswandari, Jakarta

Kalau si Dia Melamar


Sudah hampir subuh saat ini. Mata belum juga terpejam. Kantuk mungkin lupa singgah. Heran saya, kata-kata ternyata mempunyai pengaruh juga terhadap kenikmatan saya memejamkan mata.

Gara-garanya sih sederhana. Minggu lalu, saya “dilamar” kawan kuliah dulu, yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Dan kata-katanya masih terus terngiang di benak saya. “Aku mencari calon istri, tidak ingin senang-senang dan sendiri terus,” ujarnya. Singkat, tapi dalam maknanya buat saya.

Kalau cari calon istri (lagi) – teman saya sudah bercerai – kenapa harus lapor ke saya? Jangan-jangan yang dimaksud calon istri itu saya. Wajar tho, karena dia bicara dengan saya.

Untung saya usil. ”Jadi maumu, menikah dengan saya?” Dia hanya melihat di kedalaman mata saya. Dan pasti tidak akan menemukan apa-apa. Lha, mau menemukan apa? Kami sudah belasan tahun berpisah. Saya tidak tahu dia sudah menikah punya anak dan bercerai selama hampir lima tahun terakhir ini. Kalau tiba-tiba kami dipertemukan oleh Fesbuk, dan beberapa kali makan malam, tidak harus diakhiri dengan menerima ”lamaran” bukan?

Kalau mau jujur, ada sih dilema. Terima ndak ya ”lamaran” itu. Atau tetap keukeuh happy being single mom. Porsinya kayak timbangan jungkat ungkit itu, antara ya dan tidak.

Pap and mam, pasti masalah-masalah seperti ini bukan monopoli saya sendiri. Kalau nikah lagi, bagaimana dengan anak-anak nanti. Kalau tidak nikah, bagaimana pula dengan anak-anak. Buat diri sendiri saja ribet, harus mikir untuk anak-anak pula ya.

Katanya sih, wanita yang ditinggal meninggal dunia duluan oleh suaminya, cenderung tidak akan menikah lagi karena pertimbangan anak-anak dan sejuta kenangan indah yang sudah dilalui bersama. Juga dalam benak selalu hadir was-was jangan-jangan kalau menikah lagi khawatir tak dapat suami sebaik yang dulu.

Tapi kalau perpisahan terjadi karena cerai, lebih banyak yang akan segera mengikatkan diri dalam perkawinan berikutnya. Alasannya, menutup sejuta kenangan buruk yang pernah ada. Selain karena alasan finansial dan biologis. Atau khawatir kesepian di masa tua. Yang paling menjengkelkan yaitu menjauhkan iri dengki dan perasaan tak nyaman dengan status janda dari para tetangga.

Tapi di saat ini, kalau makin banyak single mam yang tetap ingin menyendiri mungkin karena pertimbangan tidak lagi tergantung dari faktor ekonomi, cukup percaya diri dan tak hirau dengan selentingan kanan kiri. Anda termasuk yang mana?

Buat saya, menerima lamaran untuk menikah lagi atau tidak, harus menyiapkan mental. Perkawinan tetap merupakan misteri, meski kita selalu meniatkan yang indah dan terbaik. Jadi, saya terima tidak ya lamarannya? Hehehhehehhehe, jawabannya tidak tergantung banyaknya SMS yang masuk lho.

Salam Minggu pagi

Emmy Kuswandari, Jakarta

Happy being a Single Parent


Tidak mudah menjadi orang tua tunggal. Terlebih kalau penyebab perpisahan sesuatu yang tidak kita duga atau tidak kita inginkan. Tatkala hati dan pikiran masih dirundung kemarahan, kesedihan dan kekalutan, di saat yang sama juga harus menyiapkan diri untuk tetap tegak berdiri dan melanjutkan kehidupan.

Saya tahu, dilema ini tidak mudah dilalui siapa pun yang menjadi orang tua tunggal, entah dia laki-laki atau perempuan. Tak sedikit yang terpuruk dan enggan untuk bangkit lagi. Tapi mentari harus terbit lagi bukan untuk menggantikan pekat malam?

Saya sadar, pasti ada ketakutan menghadapi masalah finansial, kebutuhan komunikasi, siapa yang akan membantu mengasuh anak, bagaimana mengatur waktu dan bertumpuk ketakutan lain terhadap peran baru ini. Persoalan akan sedikit lain, bila memang sejak awal seseorang berniat untuk menjadi orang tua tunggal.

Ada waktu memang untuk berkutat dengan ketakutan ini. Tetapi bukan tidak bisa diatasi. Meski ketakutan ini bukan sekedar imaji, tetapi membangun paradigma baru cara berpikir kita akan sangat membantu. Kita taruh ketakutan ini dalam keranjang kelemahan dan kita tutup di atasnya. Tak perlu keranjang ini dibuka lagi, karena hanya akan membuat kita larut di dalamnya atau mengutuki mengapa harus kita yang mendapat peran ini.

Ada kecenderungan, keluarga dengan orang tua tunggal biasanya akan terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi. Padahal sebenarnya, sebuah keluarga dengan orang tua tunggal tetap bisa menjadi keluarga yang efektif. Syaratnya hanya satu, tidak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya.

Dalam diri setiap orang, selalu ada kemampuan minimal untuk bertahan. Dari sinilah titik tolak itu dibangun. Menjadi orang tua tunggal bukan akhir dari dunia. Prinsipnya sederhana saja, hidup itu akan njimet kalau kita melihatnya dari kacamata yang ribet. Tetapi hidup itu indah dan mudah kalau kita melihatnya dari sudut ini. Sekarang tinggal pilihan kita, mau hidup yang mudah atau yang njimet?

Pertama yang harus kita niatkan adalah membangun komunikasi yang baik dengan anak. Tentu ada perasaan kehilangan pada anak karena ketidaklengkapan orangtuanya ini. Tetapi komunikasi yang intim dan intensif akan membantu anak mengatasi masalahnya. Termasuk menyiapkan anak memiliki emosi yang terkendali, tidak merasa tertekan karena tidak bisa menjelaskan kenapa hanya ada ibu atau ayah saja di keluarganya.

Penting pula untuk diingat, agar tetap memerlakukan anak dalam usianya. Jangan karena peran kita sebagai orang tua tunggal lalu kita mengarbitnya menjadi cepat dewasa,

Kedua, kalau memungkinkan memilih pekerjaan yang fleksibel, sehingga komunikasi intensif akan terjembatani. Meskipun di zaman sulit ini tidak leluasa buat kita untuk menentukan pekerjaan yang kita maui.
Catatan penting, Anda dan anak dapat menjadi tim yang hebat bila menganggap single parent bukan beban. Dari sinilah kekuatan-kekuatan itu dibangun. Jadi, berhentilah mengutuki diri sendiri, bangkit dan bangunlah kekuatan-kekuatan itu. Saya tahu, Anda pasti bisa.

(Emmy Kuswandari, Jakarta)

Makan is Fun, Baby


Cahaya kecil itu meronta dalam pelukan mamanya. Tangannya sibuk menepis sendok, sambil menyembunyikan mulut di ketiak ibunya. Kakinya pun turut memberontak. Ibunya pun tak kalah akal. Dipegangnya tangan dan dijepit di paha kaki kecil Cahaya agar tidak memberontak saat bubur bayi itu dimasukkan ke mulutnya. Selalu begitu setiap suapan dilakukan. Pemberontakan dan “adu otot” antara mama dan Cahaya. Padahal kalau bubur sudah sampai di mulut, dia akan tenang menelan, dibantu beberapa sendok air putih. Cahaya harus “dipithing” (bahasa Indonesianya apa ya? ) agar mamanya bisa menyuapinya.

Sering kali pemandangan ini yang saya lihat setiap mampir ke rumah Cahaya, gadis kecil yang nyaris 3 tahun itu. Dulu waktu masih baby, saya sih biasa-biasa aja melihat pemandangan ini, karena mungkin Cahaya belum terlalu kuat memberontak. Tapi dua tahun ke atas, rupanya “latihan otot” itu membuat dia lebih bertenaga memberontaki mamanya.

Sampai lepas ulang tahun kedua, Cahaya hanya mau makan bubur, entah bubur bayi atau blenderan dari bermacam-macam sayur dan daging. “Pokoknya apa aja asal, Cahaya mau makan,” ujar mamanya. Sang mama sudah pening sebetulnya dengan acara makan yang sangat merepotkan ini. “Kadang malu juga kalau ada teman datang dan lihat Cahaya harus makan dengan cara begini. Kasian anaknya pula,” ujarnya. Ia pun tak leluasa membawa Cahaya keluar rumah untuk acara makan-makan. Bolak-balik ke dokter spesialis juga tak banyak membantu.

Cahaya gadis yang aktif dan sangat pandai menirukan banyak hal. Belasan lagu sudah bisa dia nyanyikan sejak kecil dan juga doa-doa. Tubuh mungilnya pun gemulai menari. Dia bergerak sepanjang waktu. Tapi tak pernah sekalipun mau minta makan meski dia sangat lapar. Akibatnya, berat tubuhnya pun tak jauh bergarak dari batas minimal berat badan di usianya, bahkan kadang di bawah garis.

Makan is Fun

Suasana makan yang tidak menyenangkan ini membebani ibu dan anak tersebut. Makan jadi saat-saat yang tidak menyenangkan. Mungkin Cahaya berpikir, kalau bisa, gak usah makan deh, biar gak tersiksa. Sang mama pun harus putar otak, agar ada asupan yang masuk ke tubuh anaknya.

Rasanya tidak percuma saya berkawan dengan master Neuro Lingustic Programming (NLP) seperti Dokter Achmad Fadly Noor. Ketika saya cerita masalah ini, singkat saja komentarnya: biarkan anak makan apa saja yang dia suka. Orang tuanya yang harus diterapi bukan anaknya.

Intinya, orang tua tak perlu ada kekhawatiran anaknya harus makan ini itu seperti yang dimaui orang tuanya. Biarkan makan, apa saja yang dia suka. ”Dulu memang aku khawatir banget dia tidak mau makan. Jadi harus aku paksa makan, meski itu hanya bubur,” ujar Mama Cahaya.

Mama Cahaya meyakinkan dirinya, memasukkan banyak kata-kata positif bahwa dia senang anaknya tumbuh sehat dan makan hebat. Dia pun sering mengajak Cahaya untuk ngobrol-ngobrol soal makan yang menyenangkan. Proses yang alami dan sangat sederhana.

Hari-hari awal ketika proses itu terjadi, sang mama pun menghentikan asupan bubur. Cahaya pun hanya makan nasi sedikit saja. Cahaya makan sendiri, mengambil butiran nasi sedikit demi sedikit. Mama pun harus sabar untuk tidak memaksa anaknya makan nasi lebih banyak lagi. Hari-hari berikutnya, dia sudah makan nasi lebih banyak, plus lauknya. Kalau papa mamanya makan, Cahaya pun nimbrung.

Sebulan kami tak bertemu. Sampai suatu saat Cahaya mampir ke rumah. Tahu kalimat pertama yang dia sampaikan? ”Tante, Cahaya sudah gede, sudah tidak makan bubur lagi. Makan nasi pakai sambel Cahaya berani,” ujar Cahaya dengan senyum lebar dan jingkrak-jingkrak. Wahhh…..hebat. Dia bangga tidak dianggap bayi kecil lagi yang harus makan bubur dengan suasana tidak menyenangkan. Pipinya jadi gembul. Mama pun tersenyum bahagia. Dan lucunya, Cahaya pernah menghabiskan nasi dan lele hampir satu porsi orang dewasa.

Ilmu sederhana dan berguna banget bukan?

Emmy Kuswandari , Jakarta

Tuhan, Buatkan Ayah untuk Aku ya


Benaeng tiba-tiba melipat tangan di depan dada. Dia berdoa. “Ya Tuhan, buatkan ayah untuk aku ya. Yang bisa antar aku ke sekolah. Yang ganteng ya Tuhan. Cepat buatkan ya Tuhan. Satu saja, untukku,” begitu pintanya. Raut mukanya serius. Tapi usai berdoa, dia tersenyum ke arah saya, lalu bertanya, “Bunda, kapan ya ayah selesai dibuat Tuhan?”

Kejadian itu dua bulan lalu, ketika kami habiskan liburan bersama. Dan hampir setiap hari dia menanyakan kapan ayahnya akan selesai dibuat Tuhan. Tidak mudah bagi saya untuk menjelaskan kenapa dia hanya memiliki bunda dan tidak memiliki ayah. Ayah, seperti dalam pintanya tentu bukan seperti adonan roti yang dibuat sekarang dan beberapa jam lagi akan mengembang.

Bukan sekali dua kali saya mendapatkan pertanyaan dari Benaeng yang sulit untuk saya jawab. Usia dua tahu dia sudah bertanya kenapa dia tidak punya ayah. Pertanyaan serupa diulang di tahun berikutnya. Pada umurnya yang keempat saat ini, dia membuat permohonan agar Tuhan membuatkan adonan ayah untuknya.

Kali lain dia minta dibuatkan adik bayi kecil. ”Kita ambil di rumah sakit saja Bunda, yang tidak diambil orang tuanya,” begitu ujarnya. “Nanti aku yang kasih susu dan suapin,” lanjutnya. Kalau Benaeng sekolah bagaimana? tanya saya. “Titip dulu ke pembantu, nanti pulang sama aku lagi,” lanjutnya.

Tidak mudah sebagai orang tua tunggal menghadapi keingintahuan anak, terlebih di saat-saat pembentukan kepribadian seperti saat ini. Tidak cukup saya diam atau menjawab dengan senyuman karena dia akan mengejar sampai dapat jawaban yang dia inginkan. Jawaban dalam bahasa sederhana yang dia pahami.

Tetapi satu hal, sejak perpisahan di awal pernikahan dulu, saya memang bertekad untuk mendidik dia dengan ketulusan, tanpa dendam dan memaafkan perpisahan itu. Tapi ternyata tiga kata itu tidak mudah saya jalankan. Butuh waktu untuk bergulat dengan kata maaf.

Kini, saya sadar, tiga kata itu seolah menjadi mantra bagi saya menjalani hari-hari yang menyenangkan dengan Benaeng. Dia menjadi anak yang sangat peduli, terlebih dengan bundanya. Tulus, tanpa dendam dan memaafkan justru menjauhkan saya dari energi negatif yang mungkin akan melingkupi saya dan akhirnya tak mampu berkomunikasi dengan baik bersama Benaeng.

Saya bergulat untuk mengolah energi negatif itu menjadi positif. Tak mudah memang. Dan perlu waktu. Tapi selalu ada keyakinan, berpikir positif akan memudahkan menyelesaikan berbagai masalah yang muncul.

(Emmy Kuswandari, Jakarta)

Temanku Bun……


Dear BuN,
Sapaan yang agak aneh di telinga. Tapi karib kedengarannya. Sekarib celoteh yang selalu keluar dari bibirmu, riang dan renyah. Pasti hangat ya BuN bila berada di dekatmu, karena itulah pancaran auramu.

BuN,
Saat aku menulis surat ini untukmu, aku sedang mendengarkan Still nya Commodores dan Three Times A Ladi nya Lionel Richie. Sambil senyum sendiri membayangkan mata yang tanpa dinding yang kau miliki. Yah, itulah mata kamu, yang akan meleleh menumpahkan limpahan air matamu, bila sedikit saja rasamu terusik. Sedemikian peka dirimu BuN. Tapi aku tahu, itulah kekuatanmu.

Pasti masih jelas terekam, saat kau jongkok di depan kelas itu. “Tidak bisa jongkok nih, perutnya gendut,” keluhmu. Tapi kau terus diam dalam posisi itu, sambil menutup mukamu dengan telapak tangan. Dan, bisa kutebak adegan yang berikutnya. Kau coba menutup tumpahan air mata itu. Tapi tak berhasil. Alirnya lebih kuat dari tapak jarimu.

Dan bola-bola mainan itupun kami lempar kearahmu. Hanya bola mainan, tetapi ia merajam rasamu. Mengusik gundahmu, memenuhimu dengan cemooh. Bola demi bola, kata demi kata. Dan kami masing-masing melakukan dengan kesungguhan mencelamu, sampai runtuh harga dirimu. Hanya semenit dua menit sebetulnya. Tapi aku tahu, saat itu sepertinya waktu berhenti berdetak. Membuatmu ingin meledak.

Dengan masih terisak, kau berdiri di kursi merah itu. Dan masih memainkan adegan yang sama. Dirajam dengan bola penghinaan, sesuatu yang selalu coba kau hindari seumur hidupmu. Ternyata beda ya, ketika kita dihina dalam kondisi terpuruk, dan ketika kita berada di posisi atas. Padahal sama-sama dihina. Bedanya hanya cara kita menyikapi ketidaknyamanan itu.

Ah permainan sederhana yang menyembuhkan luka ya BuN. Kita, kamu dan kami, belajar banyak. Terima kasih BuN, lukamu juga menyembuhkan kami.

BuN, kini bara semangat sudah menjala di hatimu kan? Untuk rumah besar yang bisa kau jadikan tempat berkarya. Aku yakin, baranya tidak pernah padam. Seperti nyala hangat yang selalu kau lihat di mata putri kecilmu. Itulah nyala kehidupan.

Terima kasih ya BuN, sepenggal waktu bersama di Pine Wood, yang membuat kita lebih mengenal kedalaman hati kita masing-masing. Ah, kali ini lagu yang aku dengar You Make My World So Colourful. Yukkkk warnai dunia ya BuN.

BuN, adalah salah seorang teman yang mengikuti kegiatan Quantum Trance Formation di Pine Wood, beberapa waktu lalu.

Salam

Emmy Kuswandari, Malang Juli 2009

Penjara Itu Bernama Sekolah


Bermula dari sekolah percobaan, kini sekolah yang memberikan kebebasan penuh pada anak tersebut menjadi sekolah pembuktian. Awalnya dari ide yang sangat sederhana, bagaimana membuat sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukannya anak-anak yang harus cocok dengan sekolah.

Sekolah yang didirikan Alexander Sutherland Neill di Inggris pada tahun 1921 pun membebaskan anak-anak untuk menentukan apa yang mereka mau. Mereka membuang jauh-jauh ketertiban, arahan, anjuran, pengajaran moral, dan pengajaran agama.

“Kami dianggap berani dengan ide ini, padahal tak dibutuhkan keberanian apa pun,” ujar Neill. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan penuh bahwa anak-anak adalah makluk yang baik dan bukan makhluk jahat. “Kami meyakini sepenuh hati,” tambah Neill. Keyakinan Neill tak pernah surut, sejak sekolah didirikan hingga saat ini.

Di sekolah ini, anak-anak bebas memilih pelajaran yang akan mereka ikuti. Bahkan bagi anak yang baru masuk ke sekolah “sesukamu” itu, mereka bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Neill sangat memahami, butuh waktu bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri setelah begitu tertekan dari sekolah “normal”. Panjang pendek masa penyembuhan ini tergantung pada seberapa besar kebencian yang ditanamkan oleh sekolah “normal” ke dalam diri mereka. Seorang anak TK yang pindah ke Summerhill akan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan baru di sekolah tersebut. Tetapi makin bertambahnya umur anak, semakin lama waktu penyembuhan yang mereka lakukan. Bisa jadi mereka bersumpah tidak akan pernah mau lagi mengikuti pelajaran “terkutuk” yang selama ini mereka dapatkan dari sekolah lamanya.

Bagi Neill, pelajaran bukanlah sesuatu yang penting. Aktivitas belajar tidaklah sepenting kepribadian dan karakter. Jack, salah satu siswanya, tidak lulus masuk ujian perguruan tinggi karena dia membenci buku. Tetapi ketidaktahuannya tentang pelajaran tidak menghalangi hidupnya. Jack tumbuh menjadi seorang yang sangat percaya diri.

Tes yang dilakukan di kelas pun sangat iseng. Pertanyaannya, di manakah Pulau Kamis, obeng, demokrasi dan kemarin? Tak butuh jawaban. Tetapi anak yang baru saja masuk tidak memberikan jawaban seperti jamaknya anak-anak yang sudah lama di Summerhill. Bukan mereka bodoh, tetapi karena sudah terbiasa dalam rimba keseriusan, padahal bagi anak-anak yang sudah lama di Summerhill, justru keisengan ini yang dinantikan.

Anak Bermasalah
Bagi Neill, memaksakan pelajaran pada anak, sama saja memaksakan pekerjaan yang tidak menyenangkan buat anak. Tak bisa disangkal, banyak anak bermasalah di Summerhill. Mereka yang berkali-kali dikeluarkan dari sekolah, pribadi yang penuh kebencian atau pemberontakan. Neill tidak menyangkal kalau seorang anak sebetulnya tumbuh dengan egonya. Tetapi ia yakin, ego yang dipelihara dengan baik, akan memiliki apa yang disebut dengan kebaikan. Tetapi ego yang dikekang hanya menghasilkan kejahatan.

Anak-anak yang dianggap jahat sejatinya ia sedang berusaha mencari kebahagiaan. Rumah dan sekolah seringkali menjadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap antisosial. Kebahagiaan yang tak mereka rasakan sejak kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagiaan palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, atau menghajar orang. Kejahatan dan hukuman tidak akan pernah mengatasi kejahatan dan kenakalan anak.

Ketika seorang muridnya mencuri, menurut Neill, yang dicuri anak itu adalah kebahagiaan. Sebetulnya ia ingin mendapatkan perhatian dan kebahagiaan. “Saya tidak menghukumnya,” ujar Neill. Ia justru memberinya hadiah, kadang uang atau apa pun. “Buat apa memarahi mereka, mereka akan sadar dengan sendirinya,” ujar Neill. Dan resep ini sangat manjur.

Anak-anak yang bermasalah menurutnya adalah anak yang tidak bahagia. Dia berperang dengan dirinya sendiri, konsekuensinya dia berperang dengan seluruh dunia.

Kebebasan pula yang menghilangkan rasa takut pada anak-anak. Anak-anak kecil di Summerhill tidak ada yang takut dengan petir atau gelap. Jadi kebebasan juga mengubah anak yang semula penakut menjadi pemberani dan teguh pendirian.

Jika ada anak yang ketahuan mencuri, ia hanya diminta mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Hukumannya pun ditentukan oleh anak-anak sendiri. Sekolah ini memang dikelola bersama, guru dan siswanya. Swakelola istilah mereka. Dari hukuman-hukuman ini, mereka sadar bahwa mencuri itu merugikan. “Mereka adalah para realis cilik. Mereka tidak akan mengatakan bahwa tuhan akan menghukum pencuri,” ujar Neill. Seminggu sekali mereka mengadakan rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis. Guru tidak campur tangan. Semuanya diselesaikan sendiri oleh anak-anak.

Sejak didirikan hingga saat ini, sudah banyak alumni Summerhill School yang berhasil, entah apa pun pekerjaan yang mereka lakukan.

Dalam konteks Indonesia, sekolah yang membebaskan ini tentu sangat diperlukan. Anak-anak yang sangat putus asa dan tertekan dengan sekolah, butuh “penyembuhan”. Sangat tidak masuk akal melihat anak-anak putus asa bahkan mengakhiri hidup mereka karena permasalahan sekolah. Terlebih ketika anak-anak sangat tertekan dengan Ujian Nasional dan ketentuan-ketentuan yang “menggantung” hidup dan masa depan mereka. Sekolah tanpa kita sadari sudah menjadi penjara. Dan orang tua pun berlomba-lomba memasukkan anak ke dalam penjara.

Judul : Summerhill School (Pendidikan Alternatif yang Membebaskan)
Pengarang : Alexander Sutherland Neill
Penerbit : Serambi

Emmy Kuswandari, Jakarta

Hikayat Pensil


Seorang cucu bertanya pada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi nulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang aku?” Si nenek stop menulis dan berkata pada cucunya, “sekarang nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yg lebih penting
dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”

“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti,” ujar si nenek lagi. Mendengar jawab ini, si cucu lalu melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

“Tapi nek, kayaknya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya,” kata si cucu. Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung dari kamu melihat pensil ini.” “Pensil ini punya lima kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalo kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.” Si nenek kemudian menjelaskan lima kualitas sebuah pensil.

“Pertama, pensil ingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya ” .

“Kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani terima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”

“Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk pakai penghapus untuk perbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

“Keempat, bagian yang paling penting sebuah pensil bukanlah luarnya, tapi karbon yang ada di dalam pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan sadari hal-hal di dalam dirimu.”

“Kelima, sebuah pensil selalu tinggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dlm hidup ini akan tinggalkan kesan. Karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakanmu.” (Paulo Coelho)

NB: Ini bukan tulisan saya, tetapi menarik belajar makna di dalamnya. Salam

Emmy Kuswandari, usai dari Bangkalan Madura 2009

Dunia sangat Adil


Makin banyak memberi, makin banyak yang kita dapatnya. Salah seorang mentor saya pernah mengatakan demikian. Pikiran usil saya selalu bertanya, ah masa? Bukannya makin banyak memberi, kita makin tidak punya apa-apa? Bener tidak sih? Boro-boro memberi, untuk diri sendiri saja masih seringkali kekurangan.

Iseng-iseng saya praktikkan. Eh tidak sengaja sih saya praktikkan. Suatu saat saya sedang tidak punya uang. Tapi saya ingin sekali membelikan makanan untuk tuna wisma yang ada di dekat gang rumah saya. Toh dengan uang 10 ribu, saya bisa membeli nasi rames sederhana untuk saya dan dia. Sama-sama kenyang, sama-sama happy. Eh lha kok malamnya ada yang ngajak dinner. Hehhehhehhe, asyik kan. Tapi tidak harus aple to aple gitu. Bisa saja kita berbagi tenaga, pikiran dan hati, menuainya dalam bentuk yang lain lagi, tak harus saat itu pula. Hitung-hitung tabungan positif atau deposito kebaikan.

Dari pelajaran kecil tersebut, semakin sering saya berbagi. Apa saja. Kalau punya uang ya uang, kalau punya pikiran ya sumbangan pemikiran, atau waktu. Jadi, di waktu saya yang sempit untuk berleha-leha saat weekend, saya mendedikasikan diri untuk membantu menyiapkan buku-buku untuk dibagikan kepada siapa saja yang ingin membuat perpustakaan untuk anak-anak di wilayahnya.

Atau saya membantu memfasilitasi sekolah informal di ujung Parung sana. Tak banyak sih yang saya berikan. Mungkin lebih banyak waktu untuk ke mall atau plesiran untuk kesenangan saya pribadi. Tetapi paling tidak saya mempunyai niatan untuk memperbesar tabungan dan deposito kebaikan ini, tidak semata-mata ingin mendapatkan hasil balik berlipat-lipat, tetapi saat ini karena saya memang nyaman melakukannya dari kedalaman hati saya.

Mentor saya bilang, kalau kita memikirkan hal positif, maka vibrasi yang kita dapatkan pun berkali-kali lipat nilai positifnya. Begitu juga kalau kita memikirkan hal negatif, maka vibrasi kita pun akan negatif.

Pernah kan kita memikirkan si Poltak yang sudah sekian belas tahun tidak bertemu, tiba-tiba siangnya secara kebetulan papasan di mall sebelah kantor. Atau tiba-tiba kepikiran untuk menghubungi si Ingrid dan sedetik kemudian di layar HP kita Ingrid pun sudah lebih dahulu menelpon kita.

Seperti itulah gambaran vibrasi kekuatan pikiran kita. Jadi yuk mulai nabung kebaikan, niatnya hanya tulus dan tanpa pamrih.

Emmy Kuswandari, Malang Juli 2009

1028 Kilometer



Aku tidak pernah melihat foto itu lagi. Sengaja kusimpan baris terbawah tumpukan foto-fotoku. Masih aku ingat jelas albumnya. Kubeli ketika di Boston, 2000. Dengan sampul malaikat biru menghias di sampul.

Aku memang tidak mau mengingatnya lagi, meski semakin kuhapus, semakin tebal tinta pengingat itu muncul di memoriku. Aku tahu, masa lalu memang tidak bisa kuusir pergi, aku hanya bisa memaknai masa lalu itu. Dan itulah yang terjadi.

Setiap aku berdua dengan Benaeng, anakku, selalu kutatap bening matanya. Sorot nakal, mbeling, ingin tahu, dan segudang pemberontakan yang bersinar di matanya. Kadang mata itu sendu, terutama kalau aku bilang “Bunda boleh bicara?” Benaeng akan jawab, ‘Iya, ada apa?”

“Kamu ingin punya ayah?” tanyaku.

Ia pun mengangguk sendu.

Dan jawaban itu yang membuatku terdiam.

Aku tahu, ia menginginkan ayah.

Tapi di mana mesti kucari. Tak dijual di mall, tak ada di gerobak sale, tak jua kutemui di acara-acara sosial.

Umurnya kini 4 tahun 6 bulan. Sekolah di TK kecil. Aku tahu, matanya sering kali menyorotkan iri ketika teman sebayanya diantar, ditunggui sekolah atau dijemput oleh ayah mereka.

Ketika kecil pun ia sekali dua bertanya, Mardan pergi sama ayahnya ya? Kemana? Ngapain kok sama Ayah? Yaya main bola sama bapaknya ya? Kok sama Bapaknya?

Dan aku pun mengajaknya main mainan yang serupa. Pertanyaan itu muncul ketika ia mulai kenal konsep ayah, ibu dan anak dalam satu keluarga. Ia punya bunda, tapi kok tidak punya ayah. Tapi ia punya eyang kakung dan banyak om yang kadang menghilangkan dukanya.

Ketika umur dua tahun, ia spontan teriak “Benaeng tidak punya ayah ya?”

Aku pun hanya bisa terhenyak. Pantas aku kaget. Itu pernyataannya yang pertama kali. Protesnya karena ia tidak punya ayah.

Sedih sih mendengarkan. Tapi itu justru menguatkanku untuk berbuat lebih baik menjadi ayah dan bunda sekaligus untuk Benaeng.

Aku mengajaknya berlibur ke Jakarta.

Oh ya, kami berpisah jarak. Benaeng di Yogya dan aku di Jakarta. Belum memungkinkan untuk tinggal bersama. Sebagai orang tua tunggal, aku harus ekstra untuk bekerja. Berangkat pagi-pagi dan pulang malam. Hampir 10 jam. Kasian, kalau selama itu, dia harus tinggal dengan pembantu dan dalam rumah sempitku.

Sementara, ketika aku titipkan dia di Yogya bersama orang tuaku, dia bebas berlari, main perang-perangan, main topeng, belajar badminton dan sepak bola di samping rumah orang tuaku. Dia pun bisa akrab dengan sapi yang dipelihara tetanggaku, ikut memberi makan dan kadang menungguinya dimandikan. Saat sore pun, dia bisa melihat berbagai bus dan sesekali melihat aktivitas pesawat terbang di bandara, yang tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Dia sangat menyukai segala moda transportasi, terutama kereta api, bis dan pesawat.

Di Jakarta, aku mengajaknya bicara dari hati ke hati. Tapi hanya pandangan gak mudeng saja yang aku dapat dari dia ketika aku usai menjelaskan kenapa Benaeng tidak punya ayah yang ada di dekat dia.

Kali kedua, ketika berumur 3 tahun, sambil loncat-loncat di sofa, dia kembali teriak “Benaeng gak punya ayah ya?” Eyang utinya yang melintas, terhenyak. Keinginan untuk belanja keluar rumah diurungkannya. “Ya, ndak gitu, kan ada eyang kakung dan om Sigit di sini,” kata utinya. Dia pun mengangguk. “Gitu ya Ti?”

Aku tidak kaget lagi. Karena pernah kudengar yang pertama. Kupikir, pertanyaan itu akan muncul ketika dia sudah bersosialisasi bersama teman-teman di sekolahnya. Ternyata aku salah. Jauh sebelum sekolah pun, ia sudah menanyakannya.

Kali lain, ketika aku menemaninya bermain di rumah teman kecilnya, aku lihat sendiri, teman kecilnya berbisik di telinga Benaeng, “Benaeng tidak punya ayah, Benaeng tidak punya ayah.” Dan Benaeng pun hanya terdiam. Sibuk dengan permainannya. Tapi kini aku jadi tahu benar, kenapa sering kali dia terdiam, dan sepertinya terbeban.

Aku pun jadi semakin aktif mendampingi dia. Jarak lebih dari 1000 km pun kutempuh di tiap akhir pekan. Jakarta – Yogya – Jakarta, tepatnya 1028 km dengan kereta api. Dulunya dengan kereta eksekutif. Tapi sayang, dengan kereta ini aku hanya mampu kunjungi dia sebulan sekali.

Padahal seumur-umur aku tidak pernah menggunakan kereta lain. Tapi keinginanku untuk mendampingi dia lebih besar daripada ketidaknyamananku berkereta. Dan drastis, naik kereta ekonomi untuk pulang pergi. Awalnya sih badanku sakit semua. Dan rasanya nelongso. Tapi, akhirnya aku cari-cari, apa saja yang membuatku nyaman menikmati perjalanan ini.

Hampir 2 tahun aku berkereta ekonomi. Teman-teman kantorku pun tidak akan ada yang percaya kalau aku cerita aku bepergian dengan kereta itu. Tapi hidup harus jalan terus, bukan? Aku lebih menikmati kebersamaanku dengan Benaeng. Seminggu sekali, lebih dari 1028 km kutempuh.

Sekarang aku sudah bisa lagi jenguk dia dengan moda transportasi yang lebih baik, dan lebih sering kunjungi dia. Kami memang masih berpisah jarak, tetapi tidak berpisah hati. Sehari 3-4 kali kutelpon dia, dari bangun tidur sampai kembali memeluk guling di peraduannya.

Hingga kini dia belum pernah melihat foto pernikahan kami yang kusimpan. Foto ayahnya. Aku yakin akan ada saat yang tepat untuk menjelaskan dalam bahasa kanak-kanaknya.

Saya hanya ingin berbagi, meski tidak mudah menjadi orang tua tunggal, tapi bahagia itu tetap ada. Aku dan dia justru kompak dalam rentang jarak. Meski ia selalu kolokan dan manja setiap aku datang. Jumat malam dari Jakarta, Sabtu pagi sampai. Dia jemput aku begitu bangun tidur. Sampai di rumah, aku mandikan dia dan pakai baju seragam sekolah. Makan pagi. Dan aku pun gantian mandi. Siap-siap temani dia di sekolah. Aktivitas yang menyenangkan. Lelah tapi bahagia.


Emmy Kuswandari, Jakarta