General

Aku Ngeblog, Maka Aku Ada

Kamu pernah terima email dari aku?

Di akhir email akan tercantum: Hidup adalah pesta. Harus dirayakan. Ya. Bagiku hidup ini adalah pesta. Yang harus kita rayakan dengan cara kita masing-masing.  Kata merayakan mungkin bisa diganti dengan bersyukur, nikmat,  atau kata apapun yang akan menguatkan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini. Pesta tak harus selalu dengan hura-hura dan huru-hara.

Hari ini saya merayakan kehidupan di usia 40 an.  Life begin at fourty.  Dan saya ingin menghayati betul untuk nikmat hingga hari ini. Kalau ada kenakalan, duka, lika-liku hidup, kesalahan, cukup saya simpan untuk mengambil hikmahnya. Tetapi setiap keceriaan, kebahagiaan, nikmat yang tak berkesudahan, ini yang ingin saya bagikan.

Siapa yang tak punya masalah dalam hidupnya? Kalau mau kita bukukan, mungkin bisa untuk latihan tanya jawab anak-anak di sekolah kita. Itu pun tak akan habis mereka urai dalam tinta dan kertasnya.  Jadi kenapa kita harus membagi masalah kita dengan orang lain, yang mungkin bebannya jauh lebih berat daripada kita.

Sebelas tahun menjadi wartawan. Profesi yang saya cintai dari hati. Di sini saya bisa belajar  tentang apa saja. Mengamati, mencermati dan menuliskannya. Menjadi saksi pertama dari sejarah-sejarah kecil   Indonesia. Menikmati previledge yang luar biasa. Mengunjungi pulau-pulau terpencil di Indonesia.  Sliweran  dengan kapal-kapal TNI membelah lautannya. Nongkrong berjam-jam dalam badan herluces yang terbang dari ujung ke ujung Indonesia. Dengan uang saya pribadi mungkin tak akan pernah terlaksana. Tetapi karena menjadi wartawan, semuanya jadi pengalaman nyata.

Sebelas  tahun di  perusahaan adalah sekolah yang lain lagi.  Belajar tentang korporasi dari nol kecil, nol besar dan perlahan naik dan naik. Meninggalkan dunia jurnalistik dan belajar hal yang baru sama sekali: Good Corporate Governance (GCG). Mengenal perusahaan satu dengan yang lain. Melihat pabrik dari dekat. Melihat pengelolaan industri itu bagai memastikan sebuah negara berjalan  sebagai mana mestinya. Mengagumi bagaimana cara berfikir dan mengelola emosi atasan-atasan saya. Dengan beban kerja yang aduhai, tetapi senyum tetap terpasang di wajah. Dingin mengatasi masalah dan runut wicaranya. Buanyaaaaakkkk sekali yang saya pelajari.

Satu yang melekat dalam beberapa dekade ini, saya masih bisa menulis. Yang ringan saja. Curhatan-curhatan hati ada di www.emmykuswandari.blogspot.co.id. Coretan kecil saat melaju di jalan sepi  ibukota provinsi hingga  pedalalaman  hutan tanaman industri. Jadilah ia buku: Tuhan Buatkan Ayah Buat Aku. Ada lucunya, ada sendu, ada kamu……iya kamu.

Bekerja buat aku bagai sekolah. Harus selalu menyenangkan. Lalu sebelas tahun pengalaman tidak dibagikan? Pagi minggu kedua Januari 2018, kami memulai sarapan pagi pilihan. Nasi uduk dengan porsi jumbo dan paket kumplit. Tentunya dengan semur jengkol. Entah bagaimana mulainya, tiba-tiba Chandra Iman, Victoria dan Eka Wijayanti membicarakan blog. Blog profesional katanya. Yang pakai  dotcom. Isinya? Ini bagus…itu juga bagus. Tetapi ini dan itu jangan digabung. Nanti gado-gado jadinya. Ujar Bung Chan waktu itu. Kecepatan diskusi kami secepat kami menyantap nasi uduk pagi itu. Begitu juga dengan pemesanan domain. Seketika jadi. Ngeblog sebetulnya dunia lama saya. Dari yang nyandu sekali sampai tak bisa buka blog karena lupa caranya. Dan saya ingin menikmati dunia ini lagi. Jadilah www.emmykuswandari.com tempat sharing penggalan pengalaman-pengalaman selama kerja di perusahaan. Kalau bisa dicontoh silakan. Bisa membuat senyum, alangkah senangnya saya.

Aku ngeblog, maka aku ada. Aku ada biar kamu tak sendirian. Itu saja.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *