General

Akway: Viagra dari Papua

Apa yang menarik dari stand kecil dari Papua diantara stand-stand mewah yang ada di Indonesia Trade Expo di ICE BSD yang lalu? Pasti selalu ada yang menarik. Terutama buat saya. Penjelasan penjaga stand yang sederhana justru menarik perhatian saya. Beberapa barang kerajinan dipajang. Tetapi yang menarik perhatian justru buah merah dan akway. Buah merah kita tahu banyak sekali fungsinya.

“Coba saja kak pakai sendok untuk mencicipi,” ujar penjaga stand yang  saya lupa bertanya namanya. Tadinya saya dan Denis, teman sekantor hanya mencium baunya saja. Tetapi saya tergelitik mencoba. Terlebih buah merah aslinya juga dipajang di sana. Mirip nangka atau cempedak. Saya potek bijinya dan mencicipi. Tawar saja.  Dan keras. Warnanya jelas merah menyala.

Saya cicipi satu sendok buah merah yang sudah diolah, mirip minyak yang berwarna merah.  Rasa minyaknya dominan, mirip dengan rasa dan aroma minyak kelapa yang kita minum begitu saja. Dari testimoni beberapa kawan, buah merah ini banyak fungsinya.

Perhatian saya sebetulnya bukan pada buah merah ini, tetapi kotak kecil yang berisi serbuk kayu akway. Jujur, ini pertama kalinya saya tahu kayu jenis ini. “Ini hanya tumbuh di Papua, di Manokwari saja,” jelas penjaga standnya.

“Biasanya orang-orang di Papua itu kuat jalanberhari-hari, naik turun bukit. Sambil berjalan mereka menggigit-gigit kayu akway ini,” paparnya.

Kalau orang di Papua kuat berjalan jauh, saya tahu sudah lama. Kontur wilayah dan juga minimnya transportasi, tentu membuat tak  banyak pilihan mobilitas yang bisa dilakukan. Berjalanlah salah satu alternatif yang memungkinkan. Tetapi ada unsur akway, nah ini yang baru saya tahu. Tak banyak sebetulnya penjelasan yang disampaikan oleh penjaganya.

Membeli satu botol akway dan dikasih bonus kayu akway yang masih utuh. “Nanti digerus saja sehingga membentuk serbuk,” ujarnya. Ia wanti-wanti saya agar serbuk akway tersebut dicampur dengan teh, kopi atau air  panas, lalu diminum.

“Ambil sejimpit kecil saja. Jangan terlalu banyak. Dan rasakan manfaatnya. Mudah-mudahan kuat berjalan jauh dan bahkan berlari juga,” ia menambahkan.  Itu semacam doa buat saya.

Saya dan Denis  berlalu dari stand Papua tersebut. Hal-hal kecil seperti ini yang kadang membuat saya penasaran. Sampai di kantor lalu saya mencoba menyeduhnya  dengan teh. Badan rasanya hangat dan entah kenapa saya jadi bersemangat.  Di rumah pun saya melakukannya. Efek bersemangat ini  membuat aktifitas jadi tidak terasa capek. Dan itu menyenangkan.

Mencoba hal-hal baru ini sudah saya lakukan sejak dulu sebetulnya. Saya makan daging ular yang dijadikan sate, tongseng atau menjadi abon. Bahkan empedu kobra yang ditelan dengan ciu.  Saya juga mencoba  paniki atau kelelawar yang dimasak ala Manado. Pernah juga dulu di masa kecil goreng ulat kayu yang banyak terdapat di pohon kelapa yang sudah membusuk batangnya. Enthung orang menyebutnya. Mirip sekali dengan ulat sagu. Rasanya gurih banget. Apalagi kalau digoreng. Saya belum pernah mencobanya mentah. Ini sumber protein yang tinggi. Mungkin ini  satu-satunya jenis  ulat yang saya tidak takut atau risi. Menggoreng laron juga pernah. Digoreng begitu saja atau dicampur telur. Bahkan walang Wonosari juga dimakan begitu saja usai digoreng dengan bumbu bawang dan garam. Sekarang? Hehhehehhehhe……nyali saya tak sebesar dulu lagi. Hampir semuanya tak tersentuh lagi. Pernah beli beberapa toples laron, dan dengan suka cita memberikan ke teman yang memang sangat menyukainya. Anak saya mencoba beberapa ekor walang, alhasil bentol di seluruh tubuhnya. Tapi paling tidak, DNA keberanian mencoba makanan ekstrim ada pada dirinya.

Viagra dari Papua

Setelah beberapa hari, mencoba minum teh dengan akway, saya baru browsing tentang kayu jenis ini. Telat memang. Hehhehehhe. Ternyata  akway termasuk tanaman langka yang  hanya tumbuh di  Cagar Alam Pergunungan Arfak, Manokwari pada ketinggian 2500 mdpl. Masyarakat di sana biasa menggunakan akway untuk menambah stamina.

Kalau yang saya beli jenisnya serbuk, ternyata di Papua biasa diminum dengan merebus dan meminum selagi hangat. Selain kayu, akar dan daunnya juga memiliki manfaat. Nama latinnya Drymis sp. Selain penambah stamina, katanya berguna juga untuk mengurangi nyeri haid. Bahkan kalau di Papua juga digunakan untuk mengobati nyeri sendi, obat kulit dan demam karena malaria. Karena mampu meningkatkan hormon testosterone pria, ternyata  akway juga disebut viagranya Papua. Hahhahaha…..maafkan saya yang baru tahu.

Jadi tetap saya konsumsi tidak akway ini?  Heheheheheheehehe

Facebook Comments

1 thought on “Akway: Viagra dari Papua”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *