General

ANAK

Merawat pertemanan kadang memang perlu dipaksakan. Memaksakan langkah untuk ketemu. Menggiring waktu. Hanya untuk bisa bertukar kabar.

Kalau dipikir, kami tentu malas menembus macetnya Yogya saat libur panjang. Terlebih Alb Agung Kunto Anggoro harus turun Merapi dan melintas Jalan Kaliurang dan Yogya Solo yang ampun-ampunan macetnya.

Kami harus bertemu, sebelum tenggelam dalam kesibukan awal tahun. Sejujurnya, pertemuan kami juga hanya setahun atau dua tahun sekali. Tahun lalu, kami melewatkan malam yang panjang hingga subuh datang. Di ruang pemulasaraan jenazah RS Sanglah. Kunto  dan teman-teman De Britto memandikan dan ndandani Kristupa hingga jadi ganteng. “Saiki kowe wes ngganteng Bro. Sugeng tindak,” ujar Kunto sambil merapikan tangan Kristupa. Candanya memecah ruang paling sunyi di sudut rumah sakit itu. Juga sudut hati kami yang tiba-tiba sepi. Pertemanan yang menguat menjadi persaudaraan. Menghantarkan Kristupa dalam istirahat panjangnya. Kami berteman sejak 90 an.

Saya dan Kunto, melewati jalan panjang kehidupan. Tapi tak pernah sekalipun menanyakan hidup pribadi masing-masing. Membiarkan ruang dan waktu merawatnya secara alami.

Satu hal yang membuat saya merasa perlu ketemu Kunto. Selalu ada hal baru yang bisa tertanam di hati. Hal lama mungkin, tetapi dengan menceritakan kembali, menjadi baru untuk salah satu diantara kami.

Di pertemuan penghujung tahun kemarin, ia mengingatkan aku tentang menjadi anak. “Anak tetaplah anak bagi orang tuanya. Sampai kapanpun. Sekaya dan semampu apapun kita. Berlakulah tetap sebagai anak terhadap orang tua kita,” ujarnya.

Ia mencontohkan, kadang ia justru merengek pada orang tuanya untuk ditraktir makan di luar rumah.

“Ada kebanggan buat orang tua, saat membayar makanan untuk kita. Bercerita pada kasir, dan mengeluarkan uang dari dompet atau saku celananya. Orang tua pasti akan menceritakan dengan bangga tentang anaknya,” ujar Kunto saat cahaya di sawah belakang rumah perlahan mulai temaram.

Cerita yang sangat sederhana. Yang ia ceritakan kembali dari sebuah tulisan entah di mana.

Dan cerita ini yang mengoyak kesadaranku, bahwa di umur-umur seperti saat ini kita selalu menanamkan diri untuk balas budi membahagiakan orang tua. Membelikan mereka ini itu, membuatnya nyaman, mengajaknya ke sana dan kemari. Dan banyak lagi. Lalu kita kadang lupa, untuk tetap menjadi anak bagi orang tua kita.

Saat datang berkunjung, melihat ibu repot memasak sesuatu, kita melarangnya. Mbok sudah duduk saja, nanti kita beli makanannya. Atau berpesan, ibu jangan capek-capek.

Kita lupa, menyiapkan makan, membuatkan minum, merapikan tempat tidur ternyata panggilan kenangan yang menyenangkan bagi orang tua kita. Mengingatkannya pada zaman kita masih di bawah pengasuhan penuh orang tua. Orang tua yang ingin selalu memastikan kenyamanan buat kita.

Teringat aku pada teh panas yang sudah disiapkan uti saat aku baru menginjak ruang tengah. Atau jahe panas bikinan Pak Mardi, angkringan sebelah rumah. Kadang dilengkapi dengan dua tiga bungkus sego kucing, mendoan bakar, ceker atau swiwi yang menguar aroma gosong bekas dibakar.

“Udah makan belum, mau makan apa?” Itu selalu yang menjadi pertanyaan utama. Meski sudah cemepak, seringkali aku bilang sudah kenyang. Atau kadang tak menyentuhnya seketika. Teringat ujaran Kunto, menyesal rasanya menolak. Apapun yang tersaji, itu cara orang tua memanggil kembali memori bahagianya.

Sudah bertahun-tahun terjadi, setiap kembali ke Jakarta, Uti selalu membawakan sebungkus nasi, lengkap dengan lauknya. Untuk Benaeng Taruwara. “Pasti lapar turun dari pesawat nanti. Buat dimakan di taksi,” pesannya.  Pernah, Uti nyusul ke bandara, khusus hanya untuk mengantarkan nasi bungkus yang tertinggal di meja.  Dulu, saya sering enggan. Karena toh beli makanan bisa dimana saja. Lebih praktis.  Sekarang saya pasrah saja. Dan benar, Bhumy selalu terpanggil lapar begitu pantat menyentuh kursi taksi.

Kakung lebih heboh lagi. Krupuknya dibawa. Mangganya juga. Yang di meja masukin ke tas semua. Itu ada roti di kulkas, bawa aja. Perintahnya. Terlebih kalau Lebaran atau Natal, biasanya ada banyak makanan bertoples-toples di meja. Sudah pasti aku menolak. Karena semua dibelikan justru untuk rumah di Yogya. Persediaan kalau ada yang datang. Atau teman ngemil nonton TV.

Kemarin, ketika semua barang sudah masuk mobil, Kakung bilang, mangga madunya dibawa. Untuk cemilan di jalan. Jadilah aku kupas, potong-potong dan masuk dalam dua tupparware. Ada satu lagi. Sambel. Setiap pulang, saya selalu minta dibuatkan ibu  sambel untuk bekal kembali ke Jakarta. Saya paling malas buat sambel di apartemen. Bisa bau seluruh koridor dan membuat orang bersin-bersin.  Sampai Jakarta aku tambah dengan kecombrang atau sere. Jadilah setoples sambel beranak jadi dua toples.

Mudah-mudahan, potongan mangga dan sambel ini membuat eyang kakung dan uti bahagia menjalankan perannya sebagai orang tua.

Ada baiknya, stop mengeluh, ketika di kendaraan atau tas kita dijejalkan beragam makanan. Atau bahkan beras hasil panen. Sayur dari kebun. Buah-buahan dari pekarangan. Bukan kita tak mampu beli, tetapi menerima dengan ringan hati siapa tahu kita mampu menggenapi bahagia orang tua kita. Menghapus khawatirkan. Hanya untuk memastikan kita baik-baik saja. Nyaman dan tercukupi.

Mungkin kita pun suatu saat akan menjalankan peran ini. Dengan lebih drama barangkali.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *