Skill

Berteman dengan Grogi

Pasti pernah merasakan jantung dag dig dug tak karuan. Keringat dingin keluar di sela jari tangan atau mengalir di punggung. Mau pingsan rasanya.  Perut tetiba mulas dan bolak balik ke toilet. Terlebih bila harus berbicara di depan umum, di depan atasan  atau  diperhatikan banyak orang.

Itu mungkin yang namanya grogi. Tak mengenal usia, jabatan atau jenis kelamin. Siapa saja pasti pernah mengalaminya, meski untuk alasan yang sederhana. Menghilangkan grogi bisa dilatih. Atau pakai saja jurus teman saya Monika dan Amel: hadapi. Agak nekat memang, tapi ternyata efektif mengusir grogi seiring perjalanan waktu.

Sedikit tips menghadapi grogi sudah saya share di postingan terdahulu. Tapi ternyata, dalam perjalanan waktu, meski sudah sering jadi MC, jadi pembicara atau memimpin rapat, grogi kadang masing suka menghampiri. Terlebih ketika di acara besar atau audience yang masih asing sama sekali. Mulailah gejala-gejala  nervous menyerang.

Sudah mengatur nafas, sudah berusaha relaks, tapi hanya sedikit menolong. Berulang-ulang membaca naskah, berusaha mengecilkan ukuran  panggung dan audience  ke dalam otak kita, grogi masih menyapa.

Eitsss….dibalik gampang-gampang susah mengendalikan grogi, ternyata grogi ada manfaatnya lho. Bolak-balik baca naskah membantu kita mengingat urutan dengan benar, termasuk nama dan jabatan VIP yang harus kita sebut. Grogi juga memaksa kita untuk membuat berbagai alternatif kata pembuka, penutup  dan kata-kata yang mengajak keterlibatan audience. Pernahkan begitu?

Ya….grogi memang kadang mengajak kita untuk mewaspadai berbagai kemungkinan. Dan melatih reflek kita mengatasi persoalan yang ada. Grogi juga mengajak kita untuk mewaspadai kesalahan. Itu makanya kita berulang melihat nama, run down, menyebut jabatan dengan tepat. Berulang kita lakukan, agar tak ada kesalahan. Nah, grogi ini juga memaksa kita menjaga emosi lho. Ujung-ujungnya memang agar penampilan kita berkesan.

Jadi jangan buang grogi begitu saja seperti sesuatu yang tidak ingin kita miliki. Lebih arif menjinakkan grogi atau mengajaknya untuk support aksi kita di panggung. Kita berharap saja, grogi yang menyerang tak merusak penampilan, tetapi pemanis hari kita.

Kadang cukup dengan hening sejenak, grogi juga bisa menghilang dengan sendirinya. Entahlah, saya kadang agak susah membedakan grogi dengan jatuh cinta atau telat makan. Deg-degannya sama.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *