Networking, Skill

Bunda, Telpon dari Bos

“Bunda, ada telpon dari Bos,” ujar Benaeng, sambil menyorongkan HP.

Telpon dari bos, dan itu artinya pekerjaan. Hampir saja kami terlelap. Karena sudah masuk jam malam. Biasanya mata terpejam maksimal jam 10 malam.  Dan ini sudah lebih.

“Besok pagi ada event jam 10. Ada menteri dan duta besar hadir. Event sudah disiapkan, tetapi belum ada media yang diundang untuk meliput. Tolong bantu ya,” begitu pesan singkat diwartakan. Lagi-lagi saya tak punya kesempatan untuk bertanya detail acara dan bagaimana hubungan kita dengan kegiatan bisnis tersebut.  Saya hanya memikirkan ‘jam terjaga’ teman-teman di media yang paling tidak hingga jam 12 malam.  Lagi-lagi akrobat harus dilakukan. Saya siapkan draf undangan dan siap didistribusian melalui WA. Ke semua kontak yang saya punya. Setelah itu, hanya bisa berdoa, apa yang terjadi terjadilah. It will be will be. Lalu berusaha terpejam. Toh saya sudah memasrahkan pada alam miracle untuk besok pagi.

Tapi tak mudah untuk bisa lelap ternyata. Tak ting tung balasan WA saya terima. Selain menyatakan kesediaan untuk datang, paling banyak justru memberikan respon tak terduga. “Mbak sudah pindah kantor ya.” Atau “Apa hubungan kantor mbak dengan projek ini?” Haaaa……..saya  harus jawab apa? Saya hanya bisa bilang, besok pagi ya kita ketemu di lokasi dan saya jelaskan semuanya, jawab saya, mesti pasti tak menjawab pertanyaan mereka.

Impossible we do, miracle we try.  Kalimat ini rasanya melekat dan jadi nama tengah saya.  Banyak hal yang rasanya mustahil, tapi  terjadi dengan begitu ajaibnya. Dari rumah, saya langsung ke lokasi. Dan takjub sendiri dengan persiapan evennya. Satu dua wartawan datang. Lalu belasan. Lalu puluhan. Wahhhhhhhhh….syukurlah.  Total 98 wartawan dari berbagai media, cetak, tv online dan radio. Saya tidpak tahu  harus bilang apa. Dengan waktu dua jam semalam untuk mengirimkan undangan ringkas dan menjawab konfirmasi. Rasanya  tidak percaya wartawan akan hadir sebanyak itu. Its really miracle. Dan ini hanya dikerjakan sendiri, tanpa bantuan PR agency atau konsultan komunikasi atau apapunlah sebutannya.

Dan  di sela acara, pertanyaan saya pindah kerja masih jadi perbincangan. “Saya hanya bantu kegiatan ini kok. Masih di kantor lama,” jawab saya. Lalu kami tertawa. Iya, pekerjaan saya  memang membantu. Membantu bagaimana suatu kegiatan terpublikasi dengan baik di media. Entah apapun itu kegiatannya. Di akhir acara, yang punya hajat bangga luar biasa. Dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. The end.

Iya, saya pikir sudah selesai acaranya. Karena toh sudah sesuai dengan yang diminta. Eh, ada buntutnya lho. Nanti saya cerita lagi ya. Bukankah roller coaster tidak boleh hanya sekali naik dan turun saja? Gak asyik dong jadinya. Tunggu cerita  roller coaster berikutnya ya.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *