General, Networking, Skill

Cara Menyelamatkan Diri dari Kecelakaan di Air

Uitemate

Tadinya tidak kenal dengan kata ini. Penasaran saja kenapa kenapa kata uitemate perlu disebarkan ke seluruh dunia. Bukan hanya kata tetapi juga praktiknya.

Ngambang, iya ngambang saja. Kaya status tak jelasmu itu lho, mblo. Uitemate memang bisa diterjemahkan ngambang saja. Di air tentunya. Baik air laut atau tawar bila terjadi kecelakaan di air. Ngambang hingga datang bantuan. Ngambang atau mengapung dengan tenang akan membantu kita survive.

Keliatannya mudah. Hanya tinggal mengapung. Tetapi kadang atau sebagian besar, kepanikan yang lebih besar membunuh kita.

Sebelum melakukan uitemate perlu pengetahuan dasar. Bila kita berada di air, jangan panik. Berada di air entah karena kecelakaan, di air yang dalam, terpeleset atau jatuh ke danau. Saat kita merasa tenggelam biasanya kita coba utk berada dalam posisi vertikal atau berdiri. Dengan tujuan agar kepala tetap di atas, kaki mengepak-ngepak. Dan seringkali kita melambaikan tangan untuk meminta tolong.

Ketika kita melambaikan tangan, tanpa kita sadari makin menekan kepala kita ke bawah. Dan akibatnya lebih fatal, tubuh kita terdorong masuk ke dalam air.

Dengan posisi tubuh vertikal dan terus mengepakkan kaki, sepandai apapun kita berenang, pasti akan lelah. Terlebih ketika bantuan tidak cepat datang. Tubuh pada posisi ini membutuhkan tenaga yang lebih besar.

Apa yang terjadi saat sepatu kets kita berada dalam air? Pasti akan mengapung. Ide sederhana ini yang melahirkan uitemate. Uite artinya mengambang atau mengapung dan mate diartikan dengan menunggu.

Apakah uitemate hanya untuk mereka yang bisa berenang? Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ketika bencana terjadi, ia memilih untuk menerpa mereka yang bisa berenang saja? Tentu tidak. Uitemate bisa diterapkan untuk siapa saja. Bisa berenang ataupun tidak. Usia anak-anak hingga senior. Bahkan di Jepang, diajarkan sejak usia dini dengan latihan rutin.

Dan uitemate terbukti menekan angka korban meninggal dunia karena kecelakaan di air, termasuk tsunami.

Dalam keadaan bahaya seperti ini, menghemat energi sangat penting. Setelah memastikan air cukup aman tanpa rintangan yang membahayakan kita, berikut yang perlu dilakukan.

Telentanglah. Pastikan bisa bernapas dengan tenang dan supaya tidak kemasukan air, angkat dagu. Arahkan pandangan lurus ke atas, ke langit.

Kedua, rentangkan tangan hingga keduanya sejajar secara horizontal.

Ketiga, rentangkan kaki secukupnya. Tetap pakai sepatu, karena itu berfungsi seperti bandul.

Mengapunglah dengan tenang. Punggung lurus. Punggung yg tidak lurus hanya akan membuat saya apung kita tak sempurna. Bahkan cenderung masuk ke dalam air. Serileks mungkin. Karena kita tidak tahu berapa lama bantuan akan datang.

Cukup mengapung dengan badan kita dan pakaian yang kita pakai. Termasuk jaket, kalau kita sedang memakainya. Syukur kalau menemukan botol atau apapun yang bisa digunakan sebagai pelampung. Letakkan di perut atau di dalam baju. Peluk dengan tenang.

Tenang setenang-tenangnya. Siapapun bisa melakukan. Bahkan yang tak bisa berenang. Hilangkan panik dan ketakutan.

Bagaimana caranya biar tidak panik? Berlatihkan saat tak ada bahaya. Ini pentingnya mengenal dan berlatih uitemate: mengapung dan menunggu.

Senang Basarnas bekerja sama dengan The society of water rescue and survival research (SWRSRS) Japan yang dipimpin langsung Hidetoshi Saitoh penemu metode ini menyelenggarakan kegiatan ini. Ayo dong ke sekolah-sekolah juga.

Dan senangnya di akhir kegiatan dikasih sertifikat. Itu artinya kita punya kewajiban moral untuk mengajari orang lain tehnik ini.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *