Hidup Memang untuk Dijalani

November

Diawali dengan tampilan Gun and Roses.  Tepukan tangan yang meriah.  Meski diikuti dengan encok dan betis yang pegal bagi yang nonton.  Usia tak muda lagi.  Tetapi GnR tetap mewakili kemudaan.  Paling tidak kenangan saat muda.

Juga diawali dengan hujan.  Petrichor.  Bau yang khas dari tanah yang pertama basah usai kemarau panjang.

Dua ilmuwan Australia, Isabel Joy Bear dan R.G.Thomas, menciptakan istilah ini.  Petrichor berasal dari kata petra yang berarti batu dalam bahasa Yunani, dan ichor atau darah dewa dalam mitos kuno Yunani. Buat aku sih,  ini bau yang menyenangkan.  Seperti memanggil kenangan kebahagiaan.

Tanah basah juga pipi yang banjir.  Oleh air mata penggemar  Freddy Mercury, dari generasi ke generasi di bioskop juga mewarnai November ini.  Aku yakin,  ini juga tangis kebahagiaan,  karena berhasil memanggil kenangan muda mereka.

Buatku,  November saat ini istimewa.  Aku memperingatinya sebagai tahun berlari.  Satu tahun belajar berlari,  tepatnya. Mengumpulkan langkah demi langkah.  Jangan bicara kilo meter.  Bagiku melangkah dan berkeringat sudah patut  disyukuri.

Mulai race satu demi satu.  Ternyata berlari di antara ribuan orang menimbulkan  keasyikan tersendiri. Belum nyandu,  hanya gembira saja rasanya.

Saya ingat betul,  berapapun larinya,  setalah mandi,  saya akan tertidur lama.  Makan yang banyak.  Dan tidur lagi.  Rasanya lelah dan lapar.  Tetapi lama-lama ternyata mulai biasa. Witing tresno jalaran seko kulino.  Badan menyesuaikan.

Setiap race pasti banyak ceritanya dan selalu berbeda.  Benarkah kata pepatah,  hidup dimulai dari 40. Saya terlambat untuk menyukai  olah raga ini.  Tetapi satu hal yang saya yakini,  tidak pernah ada kata terlambat untuk jatuh cinta.  Termasuk untuk olah raga.

Hemmmm…….. Yuk coba berlari.  Jomblo aja kamu kuat,  mosok lari tidak.

Tips memulai lari:

1. Pastikan niat.  Ini adalah modal.  Bahkan di atas 80 persen segala usaha untuk memulai lari.
2. Jangan pikirkan jersi. Apa saja yang penting nyaman.
3. Sepatu jauh lebih utama dari pada gaya tampilan baju.  Sepatu yang nyaman,  pas dan  enak dipakai adalah koentji.  Sepatu yang nyaman juga menghindari cedera dan tak mudah lelah.
4. Pemanasan.  Lakukanlah.  Biarkan tubuh merasa hangat dan otot cukup lentur.
5. Ada banyak tehnik dan tutorial berlari.  Bisa pelajari di youtube
6. Mulailah lari dengan nyaman.  Tak perlu meniru gaya dan kecepatan orang lain berlari.  Ingat, kita bukan atlet dan bukan juga atlet wannabe. Cari ritme lari yang paling nyaman dengan tubuh kita.  Dipandu dengan smartwatch, memudahkan kita mengatur ritme tubuh,  jantung dan langkah.
7.jangan forsir diri kita.  Ngejar apa sih?  Bayangan juga takkan lari dikejar.
8. Sekilo dua kilo atau berapapun tak masalah.  Rutinkan.  Jarak akan menyesuaikan dengan sendirinya nanti.
9. Usai berlari,  lakukanlah pendinginan.  Ini sangat penting.  Membuat tubuh kita nyaman kembali usai latihan.  Pun menghindari cidera yang tak perlu.
10. Hadiahi dirimu dengan minuman yang menyegarkan.  Bukan bir dingin pastinya.  Meskipun itu sangat menggoda.

Yuk lari,  biar ada kesibukan saat weekend, mblo.  Toh ndak ada jadwal  pacaran juga.

  • #1tahunberlari

Johanes Koto, Penjaga Arboretum yang Setia

“Selamat pagi Bu. Ini saya Johannes Koto yang akan mendampingi tamu besok ke arboretum,” Sebuah pesan masuk,  pagi hari sebelum kami berangkat ke Pekanbaru,  dari Pak Johanes. Saya senang.  Sudah cukup lama tidak masuk ke  arboretum.  Terakhir mungkin 4 tahun lalu mengantarkan Profesor Miyawaki,  bapak pohon dari Jepang pada tahun 2014 lalu.

Miyawaki adalah akademisi sejati.  Di usianya yang 86 tahun,  ia semangat jumpa pohon di berbagai dunia.  Selama di perjalanan mungkin laiknya opa-opa senior,  tampak mengantuk.  Tetapi begitu ketemu anak-anak kecil,  dengan senang hati ia mengajari untuk menanam pohon.  Anak-anak di Perawang,  yang belum bisa bahasa Inggris atau Jepang.  Tetapi ini tak menyurutkan komunikasi diantara mereka.  Anak-anak menirukan yang diajarkan Miyawaki San.

Itu belum seberapa,  dalam perjalanan pulang kami melintas arboretum.  Profesor minta berhenti.  Lalu bergegas turun dari mobil dan masuk ke  kawasan tanaman yang lebih gelap. Tanah tertutup daun-daun, jadi kalau keinjak melesak ke bawah. Miyawaki mendadak muda. Pohon-pohon yang menghalangi wajah diusirnya.  Jalan yang tertutup daun kering dan licin dilaluinya begitu saja. Ia menghampiri tanaman satu persatu, layaknya ketemu teman lama. Mengamati dan bercerita panjang. Ia memperhatikan pohon dengan detailnya. Di dalam hutan edukasi  itu, ia tak peduli serangga mendekatinya. Aku takjub.  Miyawaki yang mendadak bukan lagi opa-opa.

Aku bukan ingin cerita Miyawaki.  Tetapi arboretum. Hutan mini tempat segala ada.  Tempat semua orang bisa datang mempelajari apa saja. Dari TK hingga mahasiswa banyak S nya.

Secara etimologi, Arboretum berasal dari bahasa Latin, arbor berarti pohon, dan retum berarti tempat. Kata Arboretum juga telah resmi diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Pengertian Arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan.j

Saya mengenal arboretum sekitar tahun 2007-2008,  10 tahun setelah arboretum di Dinar Mas Forestry (SMF) ini  tertata dan mulai merapikan koleksi tanaman langkanya.  Ratusan hektar kawasan yang diperuntukkan bagi tanaman-tanaman langka dan uji coba bibit-bibit baru. Salah satu upaya memenuhi  kelestarian fungsi ekologi tersebut, SMF menyediakan lahan seluas rarusan di Siak, Riau sebagai kawasan konservasi berupa hutan lindung.

Fungsi pokok hutan lindung adalah sebagai sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah. Dampaknya, keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya akan dapat terjaga.

Kemarin kesempatan saya kembali mendatangi arboretum dan diantar Pak Johanes,  pria Minang yang jago berhitung dan bahasa Inggris.  Tak langsung kami dibawa menjumpai tanaman langka.  Tetapi diajak becanda dengan Nando,  satu-satunya gajah jantan di kawasan ini.  Nando sedang main agak jauh saat kami datang.  Siulan mahotnya memanggil ia pulang.  10 menit kemudian Nando datang.  Ia menekuk dia kaki depan dan mengibas-ibaskan telinganya. ” Selamat datang.  Itu yang Nando ingin bilang,” ujar mahotnya.  Kami bersorak.

Usai membelai Belali Nando,  kami di ajak berjalanan kaki beberapa puluh meter ke tempat pembibitan tanaman-tanaman langka yang coba dibudidayakan.  Nyamuk belum terlalu ganas menyerang.

“Sini maju.  Saya ingin tunjukkan tanaman yang dilindungi,” teriak Pak Jo dari jarak 2-3 meter. Menyibak rantung-ranting menghalangi langkah,  kami mendekat. “Ini meranti,  salah satu jenis yang dilindungi,” ujar Pak Jo.  Dia menjelaskan beda alur di batang meranti dibandingkan pohon-pohon lain.

Masuk makin dalam ke arboretum,  makin gelap.  Matahari terhalang pohon-pohon yang mulai rindang. Langkah kami kami juga harus hati-hati,  timbunan pohon kering di bawah kaki kami makin tinggi.  Itu artinya kaki kami bisa melesak ke dalam.  Bebatuan juga makin licin berlumut.

Johanes Koto sibuk menerangkan berbagai jenis tanaman di arboretum.  Ia mengenal baik dari persatu,  layaknya tetangga satu kompleks yang ia akrabi.  Keringat kami mengucur. Dan tangan panas digigit nyamuk.

“I love this smell and also the air.  It’s really fresh,” Jennifer yang jalan bersama kami berkali-kali menghela nafas panjang menikmati udara hitam kecil ini. Bau daun dan tanah ia nikmati betul.

Kami keluar dari arboretum ke jalan setapak yang ada. “Look!  Giant ant!” teriak Ian. Sya yang berjalan di depannya berputar balik dan ingin memotret semut segera jari tangan tersebut.  Tapi saya cari-cari di tanah dan tidak ketemu.

“Itu trap untuk harimau,” ujar Pak Jo. Bertahun-tahun lalu.  Dan kini,  Putri,  harimau yang ditemukan itu sudah ada di Taman Safari.

Kami juga menemukan beberapa genangan air yang cukup besar. Mirip embung jadinya. “Gajah senang bermain dan mandi di situ,” ujar Pak Jo.

Ribuan langkah dan keringat yang deras mengucur diam-diam meledakkan bahagia kami. Hutan kecil ini ada memang untuk dikunjungi.  Kami saja belajar banyak,  apalagi anak-anak.  Saya yakin,  arboretum ini akan meliarkan imaji mereka tentang tanaman dan satwa. Dibangun sejak  tahun 1998 di wilayah Desa Mandi Angin, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau,  kini makin banyak yang bisa kita pelajari.

Ke arboretum pastikan jumpa Pak Jo.  Biar lengkap cerita masing-masing pohonnya.  Seminggu sekali,  pasti ia ke sini.

Mahot oh Mahot

Berjam-jam perjalanan daratan dari Pekanbaru ke Perawang kali ini istimewa. Mengunjungi mahot. Saya sempat salah sebut marbot. Tentu artinya lain sekali. Satu di masjid atau mushola dan satu lagi di hutan menjaga gajah.

“Mbak, bukan marbot. Kami ini mahot. Menjaga gajah-gajah di sini,” Tertawalah kami. Salah memang kadang hanya untuk ditertawakan saja. Dan menambah keakraban kami.

Istilah ini sebetulnya asing di telinga saya. Meski harusnya saya karib dengan pawang gajah. Baik gajah keraton Yogya yang sering diajak pawai atau gajah di Bonbin Gembira Loka, yang hanya 2 menit dari rumah ibu di Yogya.

Gajah ini selalu membuat ingatan lekat buat saya atu pun anak-anak kecil lainnya. Badan besarnya pasti terpatri jelas dalam memori kanak-kanak. Lebih-lebih ada lagunya, plus dengan gerakannya. Dalam bahasa Jawa pun ada juga. Binatang yang selalu menakjubkan bagi mata kecil kami dulu.

Katanya binatang ini peka. Dengan hati baik atau buruk seseorang. Apapun itu ini binatang lucu buat saya, yang memori masa kecilnya dipenuhi dengan warna pinky dari Bona, gajah kecil berbelalai panjang dari majalah Bobo dulu.

Pawang jagah disebut mahot di Pekanbaru, tepatnya di Perawang. Mahot atau mahout, adalah orang yang merawat atau mengemudi gajah. Kata mahout berasal dari bahasa Hindi, mahaut dan mahavapp.

Ada mahot untuk menjaga Nando (26 tahun), Ivo Duarte (29 tahun), Libowati (29 tahun), Malinna (26 tahun), Bonita (11 tahun dan Bubu yang sama usianya. Nama-nama indah ini nama gajah. Namamu kalah bagus dengan nama gajah-gajah ini? Gosah cemburu.

Nando diasuh oleh Rusli, Ivo bersama Tukari, Libowati manja dengan Adianto, Malinna kesayangannya Janet dan dua yang kecil diasuh Marahakim dan Marasagu.

Hanya Nando yang jadi pejantan tangguh di sini. Dikelilingi bidadari-bidadarinya.

Ini menyenangkan buat saya ketemu mereka lagi, mahot andalan di sini. Wajah-wajah yang saya akrabi. Masing-masing mahot punya panggilan khas buat gajah asuhannya. Bahasa yang hanya mereka mengerti berdua. Sejauh apapun gajahnya bermain, panggilan mahot akan membawanya pulang, sesuai dengan nama masing-masing.

Dari kejauhan aku lihat Bonita. Masih khas dengan kegenitannya. Bermain sendiri di padang luas, tak jauh dari arboretum, tempat penelitian dan edukasi tentang hutan. Dari jauh, Bonita tampak kecil saja. Tetapi aku yakin, badannya kini jauh lebih besar dan hitam dari terakhir kami bertemu, 3 tahun lalu. Anak kecil ini cuek saja dipanggil mahotnya. Mungkin waktu bermainnya belum habis. Nando yang jauh ke tempat pohon yang lebih tinggi, kurang dari 10 menit sudah di depan kami.

Kaki depan Nando ditekuk dua-duanya ke depan. Mirip gaya bersimpuh. Ahaiiiiii…. Aku tahu, dia mengucapkan selamat datang. Biasanya kami hadiahi dia dengan batang tebu pilihan. Tapi siang tadi kami lupa menyiapkan. Nando tetap ramah tanpa tebu. Ia menggerak2an telinganya. Dan belalainya menjulur-jukur ke arah kami, minta didekati. Ia senang belalainya dielus. Nando juga ramah. Kami asyik foto dan dia mengubah-ubah pose dan miliknya. Saat pamitan pun, Nando kembali bersimpuh. “arigatou… ” Kata pawangnya. Mungkin sangking banyaknya tamu Jepang yang mengunjungi keluarga Nando, jadi ia pun nurut ketika mahotnya bilang arigatou.

Pembuka pagi yang menyenangkan di Perawang sebelum masuk ke arboretum, hutan mini untuk belajar. Gelapnya arboretum, membuat kami berjibaku dengan nyamuk. Kami melihat berbagain koleksi langka di sini, pohon-pohon besar yang dilindungi.

Meski sejenak, rasanya seperti membaca berlembar-lembar buku yang berguna. Terima kasih Nando untuk kata-kata yang berlonjatan di udara dalam interaksi kita.

Konyal, Markisa Hutan yang Manis

Ini tentang konyal.  Kenalkah kamu apa itu konyal? Saya baru tahu namanya beberapa waktu lalu.  Meski mungkin dulu sudah pernah mencicipi rasanya.

Konyal disebut juga markisa hutan. Di Jawa Barat markisa hutan ini biasa disebut dengan konyal.  Tepatnya saya mengenal nama ini dari mbak Dewi,  begitu saya memanggilnya di WA.  Belum pernah sekalipun bertemu.  Mbak Dewi ini membantu pemasaran dan memfasilitasi pemesanan buah sayur organik dari  Sarongge.

Inilah hebatnya sosial media.  Dari Sarongge yang belum pernah saya datangi,  saya sudah merasakan buah sayur organik yang mereka kelola. Harganya murah.  Buah dan sayurnya segar.  Bisa membeli paket sayuran dengan ukuran kecil,  sedang dan besar.  Atau bisa membeli perkilo dari masing-masing jenisnya.  Brokoli,  ubi,  terong,  sawi putih,  buncis,  jagung,  tomat, daun bawang,  termasuk konyal. Tiap Senin,  Mbak Dewi akan menawarkan melalui WA jenis buah dan sayur yang tersedia. Dan kita bisa membeli sebanyak yang kita mau jika persediaan cukup banyak.

Tadinya saya ragu untuk membeli konyal,  karena asing dengan nama ini. “Masyarakat di sini biasa menyebutnya konyal.  Ini markisa hutan mbak.  Manis rasanya,” begitu ia menjelaskan. Saya membeli sekilo.  Dan habis sebelum sampai rumah.  Hahahahhahah……. Akhirnya ketagihan.  Saya selalu bertanya,  apakah ada konyal dalam pengiriman berikutnya.

Antara markisa dan delima kita sering rancu.  Sama berbentuk biji-bijian dan kadang menemukan rasa yang asam.  Ingatan rasa kita akan buah ini dipertegas dengan sirup markisa yang sering jadi oleh-oleh.  Rasanya……hemmmmmmm…….nyutttttt sampai kepala asamnya. Mengenal konyal memudahkan saya membedakan delima dan markisa.  Sederhana,  tapi entah kenapa berguna buat saya.

Mungkin di daerah lain,  konyal ini punya penyebutan berbeda. Di daerahmu disebut apa?

Nah…..ternyata  konyal juga saya temui di perjalanan menuju Toba kemarin.  Sebetulnya di daerah Berastagi ini yang terkenal adalah jeruknya.  sampai ada tugu jeruk di pertigaan jalan.  Jeruknya kuning menggoda selera.  Rasanya segar,  sedikit ada asamnya.  Buat banyak orang jeruk seperti ini yang banyak dicari.  Tetapi saya penggemar jeruk manis.  Makan jeruk yang tak pakai meringis karena asam.  Nah di tempat ini hanya dua yang dijual,  jeruk dan konyal. “Markisa saja ini disebut kak,”ujar penjualnya. Kami membeli dua kilo.  Dan markisa Sarongan dengan di Sumatra Utara sama rasanya.  Manis.

” Ini apanya yang dimakan?” Tanya Cynthia,  teman perjalanan kami.  “Bijinya dibuang,  kulitnya yang dimakan,” Jawab kami mencandai. Konyal tentu saja yang dimakan bijinya.  Bukan disesap lalu dibuang.  Tekan dengan dua tangan  sampai buahnya terbelah jadi dua. Lebih enak diambil dengan sendok,  daripada langsung disorongkan ke mulut.  Tapi di perjalanan mana ada kami bawa sendok.  Jadilah abis dibelah,  biji konyal masuk ke mulut begitu saja.

Buah ini nampak indah bila berwarna kuning cerah.  Tetapi jangan salah,  yang berwarna hijaukan sama rasanya. Sekali coba,  pasti suka. Harganyapun terjangkau.  Rp24. 000 di Sarongge dan sudah diantar sampai rumah.  Di perjalanan menuju Toba Rp25. 000 perkilonya.

Di balik rasa manisnya,  banyak manfaatnya ternyata.  Vitamin C jelas. Meredakan nyeri di persendian, mencegah peradangan, mencegah dehidrasi, mengatasi asam urat, meningkatkan ketajaman penglihatan, menjaga kesehatan jantung,  mengontrol kadar kolesterol dlm darah, menstabilkan tekanan darah, mencegah kanker,  meningkatkan imunitas, menyehatkan pencernaan dan mengontrol tekanan darah.

Ini cerita tentang konyal,  si buah lokal. Sudah banyak manfaat disebutkan.  Ingat dia mengandung vitamin C,  modal untuk menCintai.  Yekannnnnnn

Menikmati Danau Toba dari Desa Tongging

Jumat 2 November 2018 kesempatan saya yang kedua untuk melihat Toba. Pasti berbeda sensasinya karena berselang lebih dari 15 tahun. Bareng dengan teman-teman Journalist Mountain Bike (JMTB), mereka mencari turunan yang menantang dengan sepeda downhillnya. Ketika kita memegang rem dalam-dalam ketika melewati turunan, mereka melakukan yang sebaliknya. Beresiko pasti. Olah raga ini perlu kecerdasan tersendiri, gabungan tehnik dan nyali.

Berangkat dini hari karena harus loading belasan sepeda, sampai Kualanamu menikmati soto Medan dan kepala kambing untuk sarapan. Sarapan yang berat untuk kuat sampai Desa Tongging tujuan kami. Beberapa kali berhenti untuk ngopi, bercanda dengan monyet. Dan makan jagung rebus tentunya. Sampai di Desa Tongging sudah waktunya makan malam.

Namun sebelum gelap datang, mulut kami ternganga melihat pemandangan surga. Toba di bawah kami indah sekali. Bukit, danau, pohon yang hijau dan langit yang biru seperti menyampaikan sambutan selamat datang. Pak Rahmad, sopir kami harus menghentikan mobil beberapa kali untuk bisa mendapatkan spot foto terbaik. Ini jelas tempat paling indah yang akan menemani kami beberapa hari.

Kami nginap di Hotel Anugerah, baru 10 tahun lalu mungkin hotel ini berdiri. Saya bilang ke anak saya: ini surga. Matikan HP dan jangan nyalakan AC. Tidak perlu HP di sini kecuali untuk mengambil gambar. Tak perlu juga AC. Udaranya sangat sejuk. Dikelilingi bukit dan langsung menghadap danau.

Makan malam kami sederhana, ikan. Tapi rasanya juara. Tak perlu tambahan macam-macam. Usai makan, teman-teman biker tentu harus unloading sepeda mereka dan dipersiapkan untuk besok paginya. Saya dan Bhumi tak lagi mendengar suara, karena lelap kami lebih cepat datang.

Bangun pagi, dan sarapan termewahnya di pinggir danau. Kalau kau bilang di luar negeri lebih indah, menatap Toba dari Desa Tongging tak kalah indahnya. Teman-teman JMTB bersiap. Mereka berangkat mencari tanjakan dan kami mencari turunan untuk sampai ke air terjun Sipiso-piso, air terjun tertinggi keempat di Indonesia, setelah Sigura-gura, Madakaripura, dan Payakumbuh. Kurang lebih 1200 anak tangga. Kami hanya berhenti di spot terbaik untuk menikmati Sipiso-piso sambil ngopi. Dan foto tentunya. Saya memakai kebaya Humbang Shiori. Foto dari Sipiso-piso dan tangan menunjuk ke arah Humbang Hasundutan di ujung yang lain lagi. Tak sampai ke air terjunnya. Padahal baju ganti dan piranti basah-basahan sudah saya siapkan. Jangan lupa belanja di sini. Souvenirnya murah dan penjualnya ramah.

Lalu begerak ke arah Parapat. Lumayan berjam-jam untuk sampai sana. Oh ya, nyali saya belum cukup untuk nyetir di sini. Bukan perkara jalan sepi. Tetapi belokan tajam yang butuh keahlian sendiri. Belum lagi, kabut yang suka turun di malam hari. Jarak pandang paling hanya 3 meter dan tanpa lampu penerang jalan.

Di jalan menuju Parapat, menghibur diri dengan foro-foto seru di pinggir jalan. Sampai Parapat sudah jam 2. Nego kapal dan meluncurkan kami ke Samosir melalui pelabuhan Ajibata. Berhenti sebentar di batu gantung, dan Desa Tomok tujuan kami. Penjual sovenir menemani perjalanan kami. Mereka ramah dan tidak memaksa membeli. Kami melihat tarian Sigale-Gale dan rumah adatnya. Menikmati tarian dan foto tarifnya berbeda dengan menari beberapa tarian daerah dengan memakai ulos. Cukup terjangkau semuanya. Kami hanya foto-foto saja. Lalu melanjutkan jalan ke Makam Raja Sidabutar.

Saya suka orang Sumatera menghargai leluhurnya. Kematian bukan hal yang menakutkan. Bahkan kuburnya pun dibuat seindah mungkin, di tepi jalan raya atau di ujung tanah keluarga, menyatu dengan hasil kebun. Indah dan terawat.

Makam-makam ini bahkan beberapa diantaranya lebih indah dari rumah di sekitarnya. “Banyak yang lebih bagus dari rumah pribadi mereka juga,” Ujar Pak Rahmad yang di perjalanan.

Pun ketika kami ke Desa Tomok di Samosir. Singgah ke Makan Raja Sidabutar. Makam batu ini tidak ada kesan angker. Biasanya saya sensitif berada di tempat-tempat seperti ini. Ada rasa-rasa yang uhuiiiii. Tapi ini tidak. Kami memakai ulos sebelum masuk ke area makam. Dan mengucap Horas tiga kali. Makam yang indah. Kubur batu yang diukir sesuai dengan karakter raja yang dimakamkan di situ. Kami dijelaskan pula tentang cicak dan empat payudara yang ada di pilar makam, musium dan rumah adat di sana.

“Seperti cicak, bisa berada di mana saja. Merantau dan beradaptasi dengan daerah yang ia tempati. Begitulah orang Batak diharapkan.” Itu penjelasan yang kami tangkap. Dan empat payudara itu melambangkan penghormatan pada Ibu yang menghidupi, yang penuh dengan kasih sayang, kesucian dan kesuburan. Ibu yang selalu hidup dan menghidupi kita.

Dua cicak yang menghadap pada empat payudara bermakna, sejauh apapun merantau, akan pulang ke tanah kelahirannya, di mana ibunya berada.

Deretan makam yang indah juga kami lihat dalam perjalanan Berastagi Tongging. Ada yang jadi satu di kompleks pemakaman, tetapi lebih banyak yang menempati tanah-tanah pribadinya. Dan bunga-bunga segar diletakkan dengan indahnya di satu sisi makam. Saya hanya bisa membayangkan, tentulah anggota keluarga mereka usai berdoa di tempat itu. Bunga yang selalu segar.

Entah kenapa, saya menyukai relasi yang tak putus ini meski dengan yang sudah lebih dulu berpulang.

Perjalanan di Tomok kami akhiri dengan melihat musiumnya. Sebetulnya masih ada beberapa tempat lagi yang bisa disinggahi. Tetapi gelap keburu datang. Kami harus kembali ke Parapat dan melanjutkan perjalanan ke Tongging lagi. Makan malam sudah lewat beberapa jam ketika kami sampai di Silalahi, tepatnya di Pantai Anisa. Saya tidak mempunyai bayangan seperti apa pantai ini, karena depan kami hanya gelap saja. Saya juga harus mengusir jauh-jauh bayangan kabut yang turun di tengah jalan tadi. Jarak pandangan Pak Rahmad mungkin hanya 2-3 meter saja ke depannya. Saya menemani Pak Rahmad dalam diam.

Di tepi Pantai Anisa, kami menghabiskan durian Ucok. Yang dikirim langsung dari Medan. 4 karung besar. Durian ini jadi sarapan pagi kami, teman ngemil bikers di perhentian dan desert kami usai malam malam di Pantai Anisa. Berkarung-karung duriannya.  Entah ada yang mabuk durian atau tidak.  Karena hampir semuanya enak.

Perjalanan pulang ke Kualanamu, kami mampir ke Taman Alam Lumbini. Oh ya, jangan lupa cicipi markisa hutan yang banyak dijual di sepanjang jalan. Manissssss banget. Jeruknya juga segar. Tetapi juaranya buat saya adalah markisa.

Makam yang indah, jeruk yang segar, markisa yang manis. Masih ditambah dengan bunga-bunga yang mekar di banyak latar penduduk. Berada di dataran tinggi, bunga bersuka mekarnya. Taman-taman bunga juga banyak di sini. Taman Alam Lumbini ini lengkap dengan Pagodanya. Dibuka untuk umum kok. Jam 9 pagi. Antri dengan tertib, beri donasi suka rela dan kita bisa masuk ke dalamnya. Foto dan belanja sayur segarnya. Dan anak-anak monyetpun sesekali akan mendatangi kita saat berada di pelataran Lumbini.

Ini dua kalinya saya ke Toba. Dengan sensasi yang selalu berbeda. Dan saya jatuh cinta dengan tenangnya Tongging. Amat sangat tenang. Bila boleh memilih, Tongging jadi tempat pilihan saya setelah, Yogya, Malang, dan Bali. Desa Tongging, tempat yang eksotis untuk menikmati Toba. Tenang dan dingin. Bagi penyuka hening, di sinilah tempatnya.

Terima kasih ya teman-teman Journalist Mountain Bike. See u next trip.

Mengenal Tehnik Kain Tie Dye Humbang Shibori

Melihat peragawati melenggak-lenggok di catwalk pasti membius kita. Entah karena ilusi badannya yang “sempurna”, langkahnya yang indah dilihat, matanya tajam menatap ke depan. Melayang langkahnya, seringan pakaian yang dikenakannya. Saya selalu menyimpan kenangan indah ini dalam memori saya.

Yang indah akan selalu indah. Dan saya seringkali membeli sesuatu karena cerita di belakangnya. Entah selembar kain, sepotong lukisan, atau sebentuk kopi. Batik Imogiri yang jadi cinta saya karena sepanjang memilih dan melihat-lihat batik di sana mendengarkan tuturan pebatik tua. Jatuh cinta dengan dompet dan tas karena tahu usaha itu didedikasikan untuk komunitas tertentu. Saya suka memiliki barang dengan cerita. Karena di situlah ikatan emosinya.

Pun sejak beberapa tahun ini suka dengan kain Shibori dari Humbang Hasundutan, biasa disebut Humbang Shibori. Shibori mungkin bisa ditemukan di mana saja. Sama dengan jumputan yang ada di berbagai daerah di Nusantara ini.

Yang menarik dari Humbang Shibori ini adalah ceritanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana pedihnya hati Ibu Dumasi Samosir ketika melatih 20 perempuan di daerah tersebut dan hanya satu yang menekuninya. Pasti ada perasaan gagal. Tetapi entah, niatan seperti apa yang membuatnya tetap mendampingi satu orang tersebut, dari tertatih hingga terbang tinggi dengan karyanya.

Fitri namanya. Ia belajar membuat Shibori dari berbagai kembang, bunga, daun, akar atau buah dan bahan pewarna alam lainnya. Fitri menekuni tehnik ikat, lipat dan jelujur tersebut.

Konsep eco fashion diterapkan dalam tehnik tie dye (ikat celup) ini. Mulai dari pemilihan bahan hingga proses produksi bahkan ke pengolahan limbahnya. Kain yang digunakan berbahan dasar katun, chiffon dan sutera. Pewarna alam yang digunakan dari bahan-bahan yang tidak dimanfaatkan kembali. Dan limbah dari pewarna alam ini digunakan sebagai pupuk.

Dari awalnya selembar kain lalu berkembang bentuk menjadi kalung, baju, jas, dress, kipas tas dan asesoris. Kegiatan CSR dari Asuransi Sinar Mas (ASM) ini bekerja sama dengan banyak pihak. Dari pemerintah daerah setempat, perancang busana terkenal, OJK dan Kementrian Pariwisata untuk turut mengembangkan Kawasan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 besar destinasi wisata di Indonesia.

Serving with heart, begitulah komitmen ASM. Dan itu pula yang terus dilakukan untuk mendampingi Fitri dan perempuan lain yang kini semakin banyak jumlahnya.

Terakhir saya melihat kain Humbang Shibori ini di Jakarta Fashion Week. Melenggang dengan cantiknya. Bahkan sudah bekerja sama dengan Batik Alleira dan melahirkan Humbang Batiq. Kain yang indah. dengan batikan-batikan motif kuno di dalamnya.

Cerita dan sentuhan seperti ini yang membuat jatuh cinta. Menyentuh kain Humbang Shibori dalam berbagai wujudnya, seperti mendapatkan energi dari Fitri dan teman-temannya. Energi tak putus asa, energi mau bersusah payah. Yang utama saya mendapatkan energi kehidupan. Hidup yang menghidupi.

#Humbang
#HumbangShibori
#HumbangHasundutan
#sumut
#csr
#asuransijiwasinarmas
#servingwithheart
#kain
#ceritakain

Cara Menyelamatkan Diri dari Kecelakaan di Air

Uitemate

Tadinya tidak kenal dengan kata ini. Penasaran saja kenapa kenapa kata uitemate perlu disebarkan ke seluruh dunia. Bukan hanya kata tetapi juga praktiknya.

Ngambang, iya ngambang saja. Kaya status tak jelasmu itu lho, mblo. Uitemate memang bisa diterjemahkan ngambang saja. Di air tentunya. Baik air laut atau tawar bila terjadi kecelakaan di air. Ngambang hingga datang bantuan. Ngambang atau mengapung dengan tenang akan membantu kita survive.

Keliatannya mudah. Hanya tinggal mengapung. Tetapi kadang atau sebagian besar, kepanikan yang lebih besar membunuh kita.

Sebelum melakukan uitemate perlu pengetahuan dasar. Bila kita berada di air, jangan panik. Berada di air entah karena kecelakaan, di air yang dalam, terpeleset atau jatuh ke danau. Saat kita merasa tenggelam biasanya kita coba utk berada dalam posisi vertikal atau berdiri. Dengan tujuan agar kepala tetap di atas, kaki mengepak-ngepak. Dan seringkali kita melambaikan tangan untuk meminta tolong.

Ketika kita melambaikan tangan, tanpa kita sadari makin menekan kepala kita ke bawah. Dan akibatnya lebih fatal, tubuh kita terdorong masuk ke dalam air.

Dengan posisi tubuh vertikal dan terus mengepakkan kaki, sepandai apapun kita berenang, pasti akan lelah. Terlebih ketika bantuan tidak cepat datang. Tubuh pada posisi ini membutuhkan tenaga yang lebih besar.

Apa yang terjadi saat sepatu kets kita berada dalam air? Pasti akan mengapung. Ide sederhana ini yang melahirkan uitemate. Uite artinya mengambang atau mengapung dan mate diartikan dengan menunggu.

Apakah uitemate hanya untuk mereka yang bisa berenang? Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ketika bencana terjadi, ia memilih untuk menerpa mereka yang bisa berenang saja? Tentu tidak. Uitemate bisa diterapkan untuk siapa saja. Bisa berenang ataupun tidak. Usia anak-anak hingga senior. Bahkan di Jepang, diajarkan sejak usia dini dengan latihan rutin.

Dan uitemate terbukti menekan angka korban meninggal dunia karena kecelakaan di air, termasuk tsunami.

Dalam keadaan bahaya seperti ini, menghemat energi sangat penting. Setelah memastikan air cukup aman tanpa rintangan yang membahayakan kita, berikut yang perlu dilakukan.

Telentanglah. Pastikan bisa bernapas dengan tenang dan supaya tidak kemasukan air, angkat dagu. Arahkan pandangan lurus ke atas, ke langit.

Kedua, rentangkan tangan hingga keduanya sejajar secara horizontal.

Ketiga, rentangkan kaki secukupnya. Tetap pakai sepatu, karena itu berfungsi seperti bandul.

Mengapunglah dengan tenang. Punggung lurus. Punggung yg tidak lurus hanya akan membuat saya apung kita tak sempurna. Bahkan cenderung masuk ke dalam air. Serileks mungkin. Karena kita tidak tahu berapa lama bantuan akan datang.

Cukup mengapung dengan badan kita dan pakaian yang kita pakai. Termasuk jaket, kalau kita sedang memakainya. Syukur kalau menemukan botol atau apapun yang bisa digunakan sebagai pelampung. Letakkan di perut atau di dalam baju. Peluk dengan tenang.

Tenang setenang-tenangnya. Siapapun bisa melakukan. Bahkan yang tak bisa berenang. Hilangkan panik dan ketakutan.

Bagaimana caranya biar tidak panik? Berlatihkan saat tak ada bahaya. Ini pentingnya mengenal dan berlatih uitemate: mengapung dan menunggu.

Senang Basarnas bekerja sama dengan The society of water rescue and survival research (SWRSRS) Japan yang dipimpin langsung Hidetoshi Saitoh penemu metode ini menyelenggarakan kegiatan ini. Ayo dong ke sekolah-sekolah juga.

Dan senangnya di akhir kegiatan dikasih sertifikat. Itu artinya kita punya kewajiban moral untuk mengajari orang lain tehnik ini.

Tips Agar Anak Gemar Menulis

Cerita kemiskinan kadang berulang. Berita atau informasi yang dulu kita dengar sekian belas atau sekian puluh tahun yang lalu, tiba-tiba terputar lagi.

“Saya belajar membaca dari sobekan koran, bekas bungkus  makanan yang dibeli ibu,” suara polos  Alfia yang lirih tapi menyambar telinga saya bagai halilintar. Alfia Kirana Maheswari, 10 tahun usianya,  pelajar SDN 1 Dapurno, Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah.

“Lho memang tidak ada buku buat belajar?” Tanya saya. Ia menggeleng lemah. Sobekan Koran yang mengubah jalan  hidup seseorang dulu sering kita dengar. Tetapi mendengar anak belajar membaca dari koran bekas bungkus nasi jagung di tahun 2018 ini sedih rasanya di hati.

Saya  bertemu Alfia di Jakarta. Ini pertama kalinya ia ke Jakarta. Naik pesawat terbang pula.

“Pertama kali naik pesawat terbang. Tidak tahu mesti ngapain. Tadi dibagiin makanan dan minuman, tapi kita balikin lagi, karena usai membagikan makanan ke seluruh pesawat, pramugarinya bilang  yang sudah…….yang sudah….. Ya kami balikin lagi, karena kami pikir diminta untuk dibalikin,” ujar Zainuri, om Alfia yang mendampingi ke Jakarta. Mereka berdua baru pertama kalinya terbang.  Jadilah sepanjang perjalanan Solo – Jakarta mereka tidak makan dan minum apapun.

Alfia seperti Bhumy anak saya, terlambat untuk bisa membaca bahkan ketika masuk ke sekolah dasar. Kalau Bhumy memang saya biarkan bermain-main saja  waktu di TK, dan saya pikir tidak masalah kalau baru belajar membaca saat SD nanti. Ternyata itu menyulitkannya. Ia tidak bisa menangkap  pelajaran dengan sempurna terutama ketika harus membaca. Bhumy punya banyak buku gambar atau buku berwarna untuk ia lihat-lihat berbeda dengan Alfia.

“Waktu kelas 1 dia sering nangis karena tidak bisa membaca. Merasa tertinggal dari teman-temannya. Jadilah ia belajar dari apa saja termasuk kertas  Koran bekas bungkus makanan. Itupun tak sering,”  papar omnya.

Cara  belajar Alfia unik. Ia menyalin semua yang tertulis di kertas koran. Belajar menulis sekaligus belajar membaca. Dan kebiasaan itu ia teruskan tidak hanya menyalin kertas Koran tetapi hampir semua buku pelajarannya.  Itu ia lakukan sampai larut malam.  Ia akan tetap menulis kalau materi yang disalinnya belum selesai. Dengan begitu ia tak perlu belajar  lagi kalau ada ulangan karena hampir semua materi yang pernah ia tulis sudah hafal seluruhnya.

Grobogan sebetulnya tak jauh dari Solo, tetapi cerita tentang kemampuan ekonomi, tentu tiap daearah punya kisahnya. Rata-rata penduduk di sana bertani. Orang  tua Alfia bercerai dan ia diasuh oleh emak, yang tak lain adalah neneknya.

Perkenalan dengan Alfia siang itu mengingatkan pada anak angkat saya Adetia yang sudah berpulang beberapa tahun lalu. Untuk anak umur 10 tahun, perawakannya kecil. Bicara dan senyumnya masih malu-malu. Kepolosan anak-anak adalah kepolosan Alfia. Dan itu tampak di wajah, senyum dan cara bicaranya.

Alfia  ke Jakarta karena menang lomba penulisan Festival Penulis Cilik SiDU (FPCS) 2018. Ini pertama kalinya ia ikut lomba. Info lomba ida dapatkan dari saudaranya yang sekolah di Yogya. Menjadi juara 2 dari lomba menulis yang diikuti dari 6.137 peserta dari seluruh Indonesia. FPCS 2018 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Ayo Menulis Bersama SiDU” yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan anak melalui kebiasaan menulis secara berkelanjutan. Tema lomba kali ini “Harapanku untuk Indonesia di Masa Mendatang.”  Lebih dari 20.000 anak dari berbagai sekolah di Jabodetabek dibekali dengan ketrampilan menulis dan melalui kebiasaan menulis selama 21 hari.

Melalui karya tulisnya, Alfia yang bernama lengkap Alfia Kirana Maheswari (10 tahun), menuangkan harapannya tentang “Indonesia Menjadi Negeri 1000 Pesawat Terbang”. Karya tulisnya tersebut juga tak lepas dari kekagumannya terhadap sosok BJ Habibie, Mantan Presiden Indonesia ketiga yang memiliki beberapa karya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satunya pesawat terbang.

Harapan anak-anak yang tertuang dalam tulisan ini sangat beragam. Dari ribuan karya tulis yang masuk,  ada tiga juara dengan karya tulis paling menarik. Mereka adalah Siti Juneeta Khairunnisa (Solo), Juara I FPCS 2018 dengan judul karya tulis “Indonesia Bebas Sampah Plastik”,  Alfia Kirana Maheswari (Grobogan), Juara II FPCS 2018 dengan judul karya tulis “Indonesia Menjadi Negeri 1000 Pesawat Terbang” dan Bianca Alexandria Situmorang (Jakarta), Juara III FPCS 2018 dengan karya tulis “Tiga Harapanku untuk Indonesia Terinspirasi dari Film Zootopia”.

“Kami sangat senang melihat antusiasme anak-anak dalam berpartisipasi di FPCS tahun ini. Jumlah karya tulis yang masuk tahun ini meningkat sekitar 151% dibanding tahun sebelumnya. Kami berharap FPCS bisa menjadi wadah untuk menumbuhkan minat menulis anak serta mengajarkan mereka untuk berpikir kritis terhadap isu di sekitarnya,” tutur Head of Domestic Cultural Business Unit APP Sinar Mas Santo Yuwana.

Alfia senang. Selain ke Jakarta, ia juga mendapat kesempatan untuk bertemu dan wawancara Andy Noya. “Deg-degan pastinya. Ndak tahu mesti tanya apa,” ujar Alfia.

Oh ya gegara sumpit, Alfia menahan lapar karena ketika disuguhi  makanan Jepang, ia dan om nya tidak tahu bagaimana menggunakan sumpit tersebut buat makan dan tidak memberitahu panitia.  Duh Alfia……..

Akway: Viagra dari Papua

Apa yang menarik dari stand kecil dari Papua diantara stand-stand mewah yang ada di Indonesia Trade Expo di ICE BSD yang lalu? Pasti selalu ada yang menarik. Terutama buat saya. Penjelasan penjaga stand yang sederhana justru menarik perhatian saya. Beberapa barang kerajinan dipajang. Tetapi yang menarik perhatian justru buah merah dan akway. Buah merah kita tahu banyak sekali fungsinya.

“Coba saja kak pakai sendok untuk mencicipi,” ujar penjaga stand yang  saya lupa bertanya namanya. Tadinya saya dan Denis, teman sekantor hanya mencium baunya saja. Tetapi saya tergelitik mencoba. Terlebih buah merah aslinya juga dipajang di sana. Mirip nangka atau cempedak. Saya potek bijinya dan mencicipi. Tawar saja.  Dan keras. Warnanya jelas merah menyala.

Saya cicipi satu sendok buah merah yang sudah diolah, mirip minyak yang berwarna merah.  Rasa minyaknya dominan, mirip dengan rasa dan aroma minyak kelapa yang kita minum begitu saja. Dari testimoni beberapa kawan, buah merah ini banyak fungsinya.

Perhatian saya sebetulnya bukan pada buah merah ini, tetapi kotak kecil yang berisi serbuk kayu akway. Jujur, ini pertama kalinya saya tahu kayu jenis ini. “Ini hanya tumbuh di Papua, di Manokwari saja,” jelas penjaga standnya.

“Biasanya orang-orang di Papua itu kuat jalanberhari-hari, naik turun bukit. Sambil berjalan mereka menggigit-gigit kayu akway ini,” paparnya.

Kalau orang di Papua kuat berjalan jauh, saya tahu sudah lama. Kontur wilayah dan juga minimnya transportasi, tentu membuat tak  banyak pilihan mobilitas yang bisa dilakukan. Berjalanlah salah satu alternatif yang memungkinkan. Tetapi ada unsur akway, nah ini yang baru saya tahu. Tak banyak sebetulnya penjelasan yang disampaikan oleh penjaganya.

Membeli satu botol akway dan dikasih bonus kayu akway yang masih utuh. “Nanti digerus saja sehingga membentuk serbuk,” ujarnya. Ia wanti-wanti saya agar serbuk akway tersebut dicampur dengan teh, kopi atau air  panas, lalu diminum.

“Ambil sejimpit kecil saja. Jangan terlalu banyak. Dan rasakan manfaatnya. Mudah-mudahan kuat berjalan jauh dan bahkan berlari juga,” ia menambahkan.  Itu semacam doa buat saya.

Saya dan Denis  berlalu dari stand Papua tersebut. Hal-hal kecil seperti ini yang kadang membuat saya penasaran. Sampai di kantor lalu saya mencoba menyeduhnya  dengan teh. Badan rasanya hangat dan entah kenapa saya jadi bersemangat.  Di rumah pun saya melakukannya. Efek bersemangat ini  membuat aktifitas jadi tidak terasa capek. Dan itu menyenangkan.

Mencoba hal-hal baru ini sudah saya lakukan sejak dulu sebetulnya. Saya makan daging ular yang dijadikan sate, tongseng atau menjadi abon. Bahkan empedu kobra yang ditelan dengan ciu.  Saya juga mencoba  paniki atau kelelawar yang dimasak ala Manado. Pernah juga dulu di masa kecil goreng ulat kayu yang banyak terdapat di pohon kelapa yang sudah membusuk batangnya. Enthung orang menyebutnya. Mirip sekali dengan ulat sagu. Rasanya gurih banget. Apalagi kalau digoreng. Saya belum pernah mencobanya mentah. Ini sumber protein yang tinggi. Mungkin ini  satu-satunya jenis  ulat yang saya tidak takut atau risi. Menggoreng laron juga pernah. Digoreng begitu saja atau dicampur telur. Bahkan walang Wonosari juga dimakan begitu saja usai digoreng dengan bumbu bawang dan garam. Sekarang? Hehhehehhehhe……nyali saya tak sebesar dulu lagi. Hampir semuanya tak tersentuh lagi. Pernah beli beberapa toples laron, dan dengan suka cita memberikan ke teman yang memang sangat menyukainya. Anak saya mencoba beberapa ekor walang, alhasil bentol di seluruh tubuhnya. Tapi paling tidak, DNA keberanian mencoba makanan ekstrim ada pada dirinya.

Viagra dari Papua

Setelah beberapa hari, mencoba minum teh dengan akway, saya baru browsing tentang kayu jenis ini. Telat memang. Hehhehehhe. Ternyata  akway termasuk tanaman langka yang  hanya tumbuh di  Cagar Alam Pergunungan Arfak, Manokwari pada ketinggian 2500 mdpl. Masyarakat di sana biasa menggunakan akway untuk menambah stamina.

Kalau yang saya beli jenisnya serbuk, ternyata di Papua biasa diminum dengan merebus dan meminum selagi hangat. Selain kayu, akar dan daunnya juga memiliki manfaat. Nama latinnya Drymis sp. Selain penambah stamina, katanya berguna juga untuk mengurangi nyeri haid. Bahkan kalau di Papua juga digunakan untuk mengobati nyeri sendi, obat kulit dan demam karena malaria. Karena mampu meningkatkan hormon testosterone pria, ternyata  akway juga disebut viagranya Papua. Hahhahaha…..maafkan saya yang baru tahu.

Jadi tetap saya konsumsi tidak akway ini?  Heheheheheheehehe

Kamu Masih Bergairah?

“Aku sedang tidak bergairah.”  Kalimat ini bagi yang sudah berpasangan dan menikah tentu bagai bom yang dijatuhkan tak jauh dari telinga. Mungkin suaranya hanya bisikan lemah, tapi efeknya bikin jantungan tentu saja. Lalu buru-buru olah-raga, mengirim bunga dan rayuan seperti zaman pacaran dulu kala. Atau buru-buru cari Viagra.

Bukan…bukan…..saya  tidak sedang bahas gairah yang itu. Gak usah sensi, mblo. Tapi gairah yang lain.

Gairah, passion dan cinta. Ini kata-kata sakti saya. Bekerja buat saya memerlukan gairah. Pasti bumbunya cinta. Jika kita bekerja karena cinta, maka feedback yang kita dapatkan pun akan mengikutinya.  Cinta itu bisa mewujud teman-teman kerja yang hangat, komunikatif dan sama-sama penuh gairahnya untuk membuat satu lompatan demi lompatan karya.

Energi positif inilah yang akan mengelilingi kita. Kekekalan energi ini yang akan melingkupi kita. Yakin kan kalau energi itu tidak bisa hilang, tidak akan habis  hanya akan berubah wujud. Kekayaan  energi baik ini pula yang akan membantu kita jatuh tujuh kali dan bangkit delapan kali. Dinamika  kerja yang kita nikmati sebagai perjalanan yang menyenangkan.

Oktober 2018 ini peringatan 11 tahun saya bekerja di Sinar Mas. Setelah sebelumnya 11 tahun bekerja sebagai wartawan.  Tahun-tahun saya sebagai pembelajar. “Kejamilah dirimu, sebelum kamu dikejami orang lain,” begitu dulu mentor saya bilang pada waktu saya masih menjadi wartawan.  Dan itu yang terus saya bawa ketika memutuskan berganti haluan. Mengejami diri dengan belajar. Dunia korporasi yang masih sangat baru buat saya, dan terus berkembang. Belajar mengatasi krisis, belajar bersosial media, belajar berjejaring, dan terus belajar untuk tulus berteman. Dan terus belajar hingga kini.

Wartawan adalah pekerjaan yang saya cintai dari hati. Mengenal setiap sudut negeri ini dan benar-benar mengolah untuk menajamkan mata dan telinga. Yang paling utama menajamkan hati, mata hati. Dan hingga sekarang terus menulis supaya tidak lupa mengetik 10 jari. Halahhhhhhh……. Di perusahaan saat ini pun saya belajar banyak sekali. Dan guru-guru hebat yang setiap hari bisa saya jumpai, bahkan bisa berdiskusi dan berkomunikasi dengan intens. Dari atasan yang memulai rapat jam 7 pagi, hingga tetap on dalam meeting yang sudah mendekati pergantian hari. Dari penerbangan yang berjam-jam dan berbeda waktu, lalu landing dan siap untuk bertemu wartawan atau memimpin rapat yang lebih pelik lagi. Selalu ada kata yang siap, wajah yang cerah dan juga gagasan-gagasan segar yang bisa terus dimunculkan. Dari mereka saya belajar banyak untuk tidak malas, mengatur waktu dan mempelajari hal-hal baru.

Di Sinar Mas ini, sekolah terbesar untuk saya. Ibaratnya lulus Paud, dan saya harus belajar lari sprint untuk bisa cepat tahu bagaimana berkomunikasi, mengelola kristis, mengelola SDM dan lain sebagainya. Dan standar pencapaian yang selalu naik dari waktu ke waktu.  Saya berpikir kapan saya lulusnya kalau pelajarannya selalu nambah. Tetapi itulah dinamika.

Stress? Lelah? Putus asa? Manusiawi sebetulnya rasa seperti ini muncul. Di pekerjaan apapun,  di profesi apapun.  Ingat saja Nella Kharisma: Kuat dilakoni, nek ra kuat ditinggal ngopi. Ya………..kadang kita harus melipir sedikit untuk bisa melihat apa yang kita kerjakan dari jauh. Kadang kita harus menghirup nafas lebih  panjang, agar bisa menghembuskan nafas dengan lebih pelan. Lalu jernih kembali.

Tahun makin berjalan, gairah dan cinta saya masih sama besarnya. Bahkan saya menantang diri saya sendiri  agar memiliki capain-capaian baru lagi. Tahun ini capaian saya adalah satu tahun menekuni lari. Dan saya akan terus berlari. Berlari dengan cinta, menebarkan kasing sayang dan energi baik, untuk diri sendiri dan dimulai dari lingkungan terkecil kita.

Iya, buat saya bekerja itu memerlukan gairah. Dan cinta.

#tumbuhbersama #smbeforeafter #80tahunsinarmas #sinarmas

 

Terima Kasih, Udin

Jalur irigasi yang nyaris tak berisi air. Jalan lintas yang berdebu. Dan warung-warung kecil yang seakan menyeruak begitu saja dari rumah yang hanya sepetak. Kaki anak-anak berbalut debu dan tanah, usai lelarian di siang yang panas.

Pemandangan ini tak beda jauh dari gambaran dua tahun lalu ketika menyusur jalan yang sama. Rasanya  Serang bergerak lambat dari kebaruan. Dua tahun lalu saya ikut menyusur jalur irigasi itu untuk sampai di sebuah sekolah di Kragilan.  Anak-anak yang gembira  mendapat  meja kursi baru untuk belajar sehari-harinya.  Meja kursi yang baru saja selesai dicat. Greshhhh…..anyar, masih wangi.  Seolah-olah  meja kursi itu barang yang begitu berharga di sekolah dasar tersebut.

Ketika saya jalan ke belakang sekolah, tampak tumpukan meja dan kursi dengan berbagai ukuran. Kamu masih ingat bangku kita di zaman SD?  Meja kayu solid dengan lubang di tengahnya. Zaman dulu untuk tempat tinta. Itu zaman duluuuuu sekali. Ketika saya SD tentu sudah tidak memakai tinta dan bulu sebagai pena. Tapi entah kenapa bolongan di tengah meja itu masih tetap ada. Dan meja dengan  lubang di tengah masih saya jumpai juga dari bangku-bangku yang sudah dikeluarkan dari kelas ini. Barang afkiran ini beragam ukurannya. Padahal ini berasal dari satu kelas yang sama.

“Begitulah bangku anak-anak itu dulunya. Mejanya ada panjang pendek dan tinggi rendah yang tidak sama,” ujar seorang guru, seolah membaca  pikiranku saat itu. Duh…ngenesnya. Bagaimana rasanya kalau bangkumu lebih pendek dari teman di sebelahmu?

Saya memang tidak menuju sekolah itu lagi. Hanya saja, jalan-jalan di  perkampungan di Kota Serang membuat memori dua tahun lalu muncul lagi. “Begitulah kondisi  di berbagai sekolah di Serang. Itu yang mendorong kita untuk membantu,” ujar Dani Kusumah, Koordinator CSR di PT Indah Kiat Serang.  Di perusahaan ini, banyak sekali jati belanda yang tidak lagi digunakan. Kayu dengan kualitas bagus bekas peti kemas ini menumpuk dan tidak digunakan.

Sejak tahun 2012, dimanfaatkanlah kayu bekas ini menjadi meubeler bangku dan kursi untuk sekolah dasar. Sekali proyek, 380 set meja dan kursi dibuat. Jumlah sebanyak ini bisa digunakan untuk belasan hingga puluhan kelas di  Serang.  Tiap sekolah bisa mendapatkan bangku baru untuk dua local kelas. Kualitas jati belanda ini bagus dan pastinya akan tahan lama digunakan.

“Kalau kita beli, satu set dihargai Rp 750.000-1.000.000. Tetapi kalau buat sendiri bisa menekan banyak biaya produksi. Satu set yang kita buat sendiri menghabiskan dana Rp250.000,” papar Dani. Dari 2012 hingga sekarang sudah lebih dari 2000 meja kursi dibuat. Tepatnya 2.280. Permintaan sendiri sangat banyak sebenarnya. Bahkan sekarang sekolah harus antri untuk mendapatkan bantuan meja kursi baru ini.

Bertemu dengan Zainuddin (25) di bengkel tempat pembuatan meja kursi. Saya mungkin menjumpainya juga dua tahun lalu di sini. Ingatan saya tak begitu jelas, atau mungkin kami berbincang dengan wajah tertutup masker saat itu, sehingga ingatan saya tentang dia buram. Udin cerita, ia kini sudah punya motor. “Bisa buat boncengin calon istri nantinya,” ujar Udin. Motor ini ia cicil dari pendapatannya di workshop ini. Ia senang, penghasilannya pasti sekarang, meski belum setinggi UMR di daerah ini. Dibandingkan dulu saat masih menjadi panglong, pembuat kusen rumah. Kadang ada pendapatan, kadang tidak. Ia bilang senang kerja di sini. “Bisa beli motor, bisa nabung, meski masih takut untuk punya istri,” ujarnya.

Zainuddin diajak abangnya, Jasrip (35) yang sudah lebih dulu bekerja di tempat ini.  3 pekerja lainnya juga masih saudara atau tetangga. Rerata mereka mendapatkan uang Rp 2,4 – 3,4 juta setiap bulannya. Ada senyum bangga di wajah Udin. Dari tangan Udin ini  senyum anak-anak di sekolah dasar di Serang bisa terkembang lebar. Anak-anak di Desa Kragilan, Pontang, Tirtayasa, Lebak Wangi dan desa-desa lainnya. Terima kasih Udin, dari tanganmu akan terukir kenangan indah tentang bangku sekolah.

Suherman: Selalu ada Waktu untuk Berkarya

Serang Banten yang terik siang itu, menjadi lebih teduh dengan senyuman Herman, Suherman nama lengkapnya. Lelaki 35 tahun itu senang kalau ada tamu berkunjung ke rumah yang sekaligus jadi bengkel kerjanya. Halaman rumah yang cukup luas ia jadikan bengkel kerja untuk membuat cinderamata khas Banten. Kami duduk di kursi kayu yang ia buat. Tembok yang jadi latar belakang di cat hitam dengan tulisan putih “ Masih ada Waktu untuk Berkarya.”

Setiap tamu yang datang berarti rezeki baginya. Entah memesan cinderamata atau ingin tahu lebih jauh tentang Cipta Handycraf yang dikelolanya. Baru dua tahun ia jalani membuat berbagai kerajinan dari kayu ini. Tadinya dia dan saudara-saudaranya bekerja sebagai panglong, membuat kusen rumah. Sekali order tak luput 5-15 juta ia dapatkan. Tetapi tak pasti, setahun hanya berapa kali order. Itu artinya, ia harus menata benar-benar uang yang didapat. Dengan pendapatan segitu, harus dibagi dengan beberapa tenaga yang membantunya. Biasanya nilainya jadi jauh di bawah UMR Serang.

“Awalnya saya diminta untuk ikut tender di Indah Kiat Serang untuk membuat meubeler. Saya sempat mengerjakan meubeler di sana sebelumnya. Tapi saya ingin agar meubeler bisa dikerjakan di workshop saya. Material harus diantar ke rumah,” ujar Herman. Perintaan ini tidak bisa dipenuhi karena pembuatan meja kursi untuk sekolah dasar itu harus dikerjakan di workshop Indah Kiat.

Indah Kiat sejak 2012 membuat meja kursi untuk sekolah dasar di sekitar pabriknya. Meubeler ini dibuat dari jati belanda yang dibongkar dari peti kemas bekas pengiriman berbagai barang keperluan pabrik. Satu tahunnya tak kurang dari 380 set meja kursi dibuat dan itu bisa memenuhi kebutuhan hampir 20 an sekolah. Satu sekolah rata-rata 2 lokal kelasnya mendapatkan meja kursi baru.

Meski tidak bisa memenangkan tender, Herman tak putus asa. Ia melihat banyak tumpukan kayu yang selama ini menjadi limbah dari sisa pengerjaan meubeler tersebut. “Saya seperti melihat emas. Orang lain barangkali menganggapnya limbah, tetapi ini berharga sekali buat saya,” ujarnya berbinar. Ia mengambil satu balok sisa potongan kursi. Diameternya barangkali hanya 10 x 20 cm. “Dari limbah sekecil ini, saya bisa membuat berbagai kerajinan dengan nilai ratusan ribu rupiah,” tambahnya. Nahkan sisa-sisa potongan kayu paling kecil ia buat ornament menarik untuk tembok atau hiasan.

Dari panglong tak langsung ia menjadi pengrajin handycraf. Ia membuat kotak sauna dari kayu. Kotak sauna 2 x 3 meter dengan tinggai 2 meter itu dikerjakan dalam 15 hari. Pengerjaannya bagus dan rapi. Meski begitu, Herman tidak mengusai harga pasaran kotak sauna. Dilepasnya kotak sauna buatannya seharga 6 juta. Betapa menyesalnya ia, karena di tangan pembeli, kotak sauna buatannya dijual lagi senilai 20-30 juta. Bila dilengkapi dengan alat-alat sauna harganya di atas 80 juta. Kotak sauna buatannya tahan hingga lebih dari 15 tahun. “Kualitasnya bagus, karena materinya juga kayu bagus. Satu kubik saja saya beli seharga 6 juta,” ujarnya.

Insting bisnisnya tak begitu saja jalan dan berkembang dengan materi berlimpah ini. Koordinator CSR Indah Kiat Serang , Dani Kusumah yang mendorongnya. “Awalnya saya memang nawari untuk ikut tender pembuatan meja kursi lagi. Tapi tentu saja kami tidak bisa mengirim materi keluar dari pabrik. Saya tawari ia untuk membuat kerajinan tangan dari kayu. Saya yakin dia bisa membuat karena waktu saya ke rumahnya, saya melihat sangkar burung dari kayu yang ia buat. Halus dan bagus detailnya. Dari situlah saya yakin Herman pasti bisa membuat kerajinan yang khas Banten,” ujar Dani. Limbah kayu yang kecil-kecil tersebut tidak bisa digunakan lagi untuk pembuatan meja kursi, seringkali malah dibuang dan jadi bahan bakar untuk keperluan rumah tangga masyarakat di belakang pabrik.

Dari dikerjakan sendiri, kini Herman sudah memiliki 12 tenaga kerja. Hampir semuanya saudara atau tetangga dekatnya. Jam kerjanya bebas, bisa dari pagi sampai malam. Ia serahkan pengaturan jam kerja tersebut kepada karyawannya. Honornya dihitung dari banyaknya item yang mereka hasilnya. Makin rajin ya makin banyak tentu rupiah yang mereka kumpulkan. Herman sendiri akan memulai kerja jam 7 pagi hingga larut malam. Bahkan kalau pesanan sedang tinggi, ia akan kerja hingga dini hari. Istrinya, menjadi kepala produksi. Keponakannya menangani penjualan dan promosi di sosial media. Tengok saja instagram dan facebook Murody Achmad. Penjualan melalui sosial media ini dilakukan sejak 2018 lalu. Pesanan banyak dari dari pemasaran digital ini, hamper 80 persen. Sisanya dari lokal, terutama pemerintah daerah setempat.

Di pertengahan bulan Oktober ini, kerajinan buatan Herman akan menghiasai Anyer Krakatau Cultural Festival. Sementara di akhir Oktober nanti 200 wajah delegasi The Fourth Intergovernmental Review on Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-based Activities (IGR-4 GPA). Acara lima tahunan negara-negara maritim yang tergabung ke dalam United Nations Environment Programme (UNEP) tersebut akan diselenggarakan di Nusa Dua Bali pada tanggal 31 Oktober sampai dengan 1 November 2018. Cetakan foto wajah di atas media kayu menarik perhatian pejabat penyelenggarakan kegiatan tersebut.

Pameran menjadi ajang buat Herman untuk mengenalkan produknya dan melakukan demo langsung pembuatan kerajinan kayu tersebut. Pada pameran di JCC beberapa waktu, pesanan untuk event di Bali tersebut ia dapatkan. “Padahal dulu saya tidak pede di pameran besar seperti ini. Siapa sih saya, hanya orang kecil dari desa. Tapi saya belajar daripertemuan dengan banyak orang di pameran. Saya belajar berkomunikasi, menjelaskan pada pengunjung dan melayani pertanyaan mereka,” ujarnya. Wajar kalau di awal pameran ia grogi. Karena baru 2-3 bulan ia mencoba kreasi dari kayu dan diminta untuk pameran di kota besar.

“Mengubah mindset dari panglong menjadi pengusaha kerajinan harus dipupuk terus. Tidak boleh jatuh mentalnya hanya karena dikritik dan diberi masukan oleh pengunjung,” tegas Dani. Ia pun menyemangati Herman untuk selalu naik level. Dari pengrajin lalu menjadi mentor komunitas yang lain, sekaligus konsultan untuk calon pembeli atau pemesan kerajinannya.

Kini, beberapa komunitas di Pandeglang, Lebak, Tangerang dan Cilegon sudah menjadi binaan Herman. Ia pun mengajari warga binaan di lembaga pemasyarakatan Cilegon untuk membuat karya serupa dan hasilnya dijual.

Kalau mencari cinderamata khas Serang datanglah ke Herman. Benteng Kaibon, Badak Ujungkulon, Kapal Karangantu dan berbagai miniatur situs-situs di Serang ia produksi. Yang terkecil ia membuat gantungan kunci. Kerajinan yang ia buat beragam harganya. Dari Rp 5000 hingga Rp1.500.000. kini penghasilan Herman dari Cipta Handycraf sudah mencapai 50-100 juta perbulannya. Karyawannya pun digaji di atas UMR dari tersebut.

Entah tulisan di halaman rumahnya itu yang terus memupuk semangatnya atau Herman dan kawan-kawan justru makin giat bekerja untuk terus membuat karya. Mereka punya mimpi, kerajinan kayu buatannya akan jadi raujukan untuk membuat cinderamata khas daerahnya. (Emmy Kuswandari)

Guru Hebat di Para Games 2018

 

 

Anak yang hebat, pasti orang tuanya lebih hebat lagi. Saya lupa kenalan dengannya. Perebutan emas Iran dan Jepang di wheelchair basketball seru sekali. Selisih satu dua angka saja. Ramai sejak babak kedua. Di 10 menit ketiga malah seri dengan 58. Hampir habis rasanya nafas. Teriak dan deg-degan. Begitu juga di babak penghabisan. 68-66. Pakai drama di empat detik terakhir. Padahal, pemain cadangan Iran sudah menyerbu lapangan untuk memberi selamat. Coach Iran juga sudah sujud syukur.

Ketika lapangan sudah steril kembali, detik-detik terakhir dilanjutkan. Tetap Iran juaranya. Siappun yang juara kami gembira sebetulnya. Permainan keras. Partai keras sejak awal hingga akhir. Berkali-kali pemain jatuh dari kursinya. Meski tak ada yang terlontar dari kursi rodanya seperti kemarin ketika Malaysia lawan Indonesia. Pengunci di paha terlepas.

Para pemain Iran dan Jepang ini bagai penari balet yang bergerak dengan speed tinggi membentuk formasi. Mereka memacu kursi rodanya bak Lewis Hamilton atau Kimi Raikkonen di landas pacunya. Sehebat Dani Pedrosa atau Valentino Rossi di musim ini. Selincah dan sekencang itu rasanya dalam putaran kecepatan kursi rodanya.

Ada resikonya pasti. Meski memacu kencang, rem mereka pakem juga. Sesekali tabrakan dan tersungkur. Gaprakan, kalau bahasa Inggrisnya. Gaprakan ini yang barangkali membuat roda mereka tak nyaman lagi. Nahhhhh……kayak balapan formula one, mereka juga mengganti roda dalam hitungan detik saja. Satu dua detik untuk satu roda. Abis itu melaju kencang lagi di lapangan basket. Ini baru sekali saya lihat. Ganti roda dalam hitungan detik. Dan mereka bisa melakukan sendiri tanpa mekanik.

Stadion basket yang gemuruh membuat saya lupa kenalan dengan anak kecil berbaju biru muda di atas kursi rodanya. Terlebih rasa haus dan ingin keluar ruangan mengalahkan penasaran kami untuk nonton seremoni pemenang.

Sejak dia datang, saya sudah memperhatikan. Rodanya dibalut gambar keren. Kemeja biru muda dipadu celana warna khaki. Ganteng pisan.

Dia mengambil tempat tepat di pinggir lapangan. Pasti dia mengagumi pemain-pemain basket di lapangan itu. Bola datang menggelinding dekat kursinya. Bergegas ia ambil dan lemparkan ke pemain China. Mereka bersalaman. Pemain China memberikan jempolnya. Anak kecil itu tersenyum bangga. Kami nonton sejak China lawan Korea hingga Jepang ditantang Iran.

Supel sepertinya ia. Mendekati meja panitia. Ada satu yang berkursi roda seperti dirinya. Ia bertukar sapa. Bisa jadi dalam bahasa Inggris, meski aku tak mendengarnya. Teman bicaranya bukan orang lokal. Mereka berbincang dengan karibnya. Tak lama ia bergeser sebarisan dengan pemain Malaysia yang juga menonton dari pinggir lapangan. Ngobrol dan tertawa.

Ini pemandangan indah. Anak ini hebat. Dengan keterbatasannya, jiwanya merdeka. Dua jam lebih di tepi lapangan, sudah beberapa teman baru ia dapatkan. Teman-teman hebat yang akan mengisi mimpi besarnya nanti.

Selama itu pula tak sekalipun ia memanggil pendampingnya yang duduk di kursi penonton. Begitu mandirinya dia di usia belia, mungkin 8-9 tahun.

Anak yang hebat pasti orang tuanya luar biasa. Tak menutupi kelemahan fisiknya. Tak mengebiri angannya. Kesupelannya buah dari penerimaan orang tuanya. Hanya mereka yang berbesar hati menerima kekurangan buah hatinya yang akan memberikan kasih sayang penuh dalam pengasuhannya.

Banyak sekali pelajaran hebat di depan mata saya dan Benaeng Taruwara. Di depan bangku kami, ada anak cantik sekali. 4 tahun umurnya. Wajahnya lembut. Matanya bersinar. Bibirnya mungil. Pipinya penuh berisi. Sehat sekali. Sinar matanya menutupi semua kekurangan dia. Telinga yang tak sempurna saking kecilnya. Tangan yang hanya seukuran jari kami saja. Menjepit keripik tempe. Lalu memasukkan ke mulutnya. “Dia cantik sekali ya,” ujar saya ke Bhumy. Mata Bhumy menelisik wajah dan anak cantik itu. Alat bantu dengar bagai bandana di kepalanya.

“Kamu makin semangat basket?” Tanya saya. Bhumy mengangguk. Berada di antara pemberi inspirasi ini, keluhan kami bukan apa-apanya. Hanya keluhan manja saja.

Eh sudah ya. Closing ceremony akan segera dimulai. Lima lelaki wangi di depan saya sedikit mengganggu iman saya sebetulnya. Berjambang tipis dengan tubuh atletis. Baju kasual yang keren. Potongan ramput yang rapi. Bibirnya cemipok. Nggemesin pokoknya. Duhhh….kenapa juga duduknya depan aku persis sih. Ihhhhhhhh…..mana upacara penutupan ini kan akan berjalan berjam-jam lamanya.

Jelas aku tergoda. Sebelum mereka ribut meletakkan pantatnya. “Kotor kursinya,” ujar seorang di antara mereka. Ia mencoba menghapus telapak kaki di kursi putih itu dengan kipasnya. “Jelas ra iso tho yo cah bagus,” gumam saya. Seorang menyodorkan tisu kering. Lalu membersihkannya berulang. Pantatnya belum diletakkan. Ia mengeluarkan tisu basah, mengelapnya hingga bersih berulang-ulang. Lalu disekanya dengan tisu kering. Pantat lalu diletakkan. Candaan mesra di antara mereka, lalu gerak tubuh begitu deh dan saling memperlihatkan foto yang kok ya laki-laki semua, membuat radar saya menyala. Bukan bermaksud ngintip, lha wong di depan mata.

Ah sudahlah, saya natap ke panggung saja. Biar mas-mas wangi itu tetap bahagia dengan dunianya.

Mbrambangi di Para Games 2018

Sejak pagi sudah di GBK. Antri beberapa tiket yang sudah habis di online. Baru memasang gelang, seorang gadis tiba-tiba memeluk. Aku cuma senyum. Dua langkah berjalan, ada anak yang minta gelang tiketku untuk pasang di tangannya. Disangkanya aku ibunya, yang memang hanya berdiri 20 senti dari tempatku. Berlari beberapa anak berkebutuhan khusus dengan gembiranya. Gembira karena hari ini mereka sekolah di luar ruang.

Semua adegan tadi hanya dalam hitungan menit, di depan gerbang 5 GBK. Tahan…tahan….tahan………jangan sampai air matamu tumpah pada langkah-langkah pertama. Saya menasihati diriku sendiri. Berhasil…..meski mbrambangi.

Hari ini sengaja banget ke #paragames2018 setelah weekend lalu kehabisan tiket dan Sabtu nanti sangat sedikit pertandingan yang masih berlangsung. Harus banget pergi.

Saya off dari kantor dan Benaeng Taruwara cuti sehari dari sekolah. Kami sempat berdebat apa alasan ke gurunya nanti. Dan disepakati bilang aja kita senang-senang di GBK. Bhumy mengiyakan, meski cemberut.

Wheelchair basketball yang pertama kami tuju. Indonesia versus Malaysia. Sejak Indonesia Raya bergema hingga bola pertama dilemparkan, mata sudah basah. Satu persatu mengamati tubuh mereka. “Eh, pemain Indonesia yang itu kalau kakinya lengkap, pasti tinggi ya dia,” ujarku ke Bhumy. Satu pemain jatuh dari kursinya, kami yang was-was. Lalu bangkit sendiri dia. Bola-bola masuk ke jaring Indonesia. Tertinggal jauh angkanya. Buatku, masa bodo dengan angka.

Melihat mereka memacu kursinya, menyalip satu dengan yang lain, menghadang dan ngeblok pemain lawan, bagai lihat barisan penari. Penari yang melaju dengan kursi rodanya. Kadang melesat bagai terbang, lalu berhenti menghadang lawang.

Kursi roda mereka kadang bergesekan. Sesekali pemain terjatuh dari kursi rodanya. Kalau masih bisa bangkit sendiri, dia akan segera melakukannya. Kalau tidak, dia akan terdiam sampai ada pemain lain yang menyorongkan kursi roda untuk tumpuan bangkit lagi. Mereka tak peduli pemain kawan atau lawan, akan melakukan hal yang sama, menyorongkan kursi roda dan tangannya agar yang terjatuh bisa duduk kembali di kursinya. Kami riuh bertepuk tangan menyemangati dan menghormati moment ini. Ini entah tisu keberapa yang basah. Ini yang buat saya pribadi, angka tak jadi masalah. Ada pelajaran besar di sini, siapapun yang jatuh jangan dibiarkan sendiri. Apalagi diinjak dan dicibir.

Para inspirasi ini guru saya dan Bhumy siang ini. Kalah menang hanya soal angka. Tetapi karakter dan pekerti yang mereka tunjukkan sangat nyata. Ada persaingan, ada kompetisi, ada fairness, tetapi ada rasa setia kawan.

Bhumy memang izin untuk mbolos hari ini, tetapi saya yakin dia belajar banyak soal rasa juga ability. Dan ini akan menjadi kekayaannya nanti.

Life at Sinar Mas

Namanya Yan Partawidjaja. Yan kependekatan dari Agustian tepatnya. Sejak saya SD (kira-kira sekian kali ganti presiden yang lalu), pembaca berita ini selalu menarik perhatian saya. Suaranya mencuri telinga saya. Khas. Bahkan hingga saat ini. Tidak berubah. Suara emas yang selalu diburu teman-teman kreatif dan produksi untuk mengisi suara video yang digarap oleh Ferdian Harry Setiono. Lebih sering diminta menjadi MC dan moderator. Dan sekarang bertambah: pembaca doa. Entah kenapa kami suka sekali mendengarkan Pak Yan membaca doa. Tidak lebay, tidak berlebihan, tetapi menyentuh hati.

Usianya sudah diangka 60 an saat ini. Tapi bila foto dari muda sampai saat ini dijejer, tak banyak perubahannya. Kecuali kacamata segede gaban di saat muda dan baca berita dulu sudah berganti model dan stylis.

Tanpa melihat wajah, mendengar suara Pak Yan, memori kita akan terpanggil ke masa lalu, zaman TVRI. Setelah melihat wajah, kita diingatkan, tak banyak yang berubah dari penampilan beliau.

Oh ya, Pak Yan suka dengan warna baju menyala. Kuning terang, merah, biru, hijau, apapunlah, koleksinya selalu ngejreng. Penampilannya selalu mahal. Baju apapun yang dipakai, rasanya orang akan mengatakan keluaran butik terkenal. Padahal, tidak pasti selalu begitu.

Masuk ke Sinar Mas di periode 2006-2007, sama sekali saya tak menyentuh kegiatan yang berhubungan dengan wartawan. Good Coorporate Governance (GCG) yang pertama kali ditugaskan ke saya. Padahal sumpah, saya tidak tahu mahluk apa ini. Belajar kiri kanan hingga koprol untuk tahu GCG. Bahkan sampai belajar ke Ibu Khomsiyah Ghozali. Beliau mengajarkan dari yang sederhana hingga advance. Keliling pabrik lalu sosialisasi. Hingga ada program ethic call centre.

Mungkin empat tahunan saya support Pak Yan. Membuat kegiatan, menyiapkan segala sesuatunya hingga siap tampil. Pernah dimarahi? Rasanya tidak. Paling banter hanya akan keluar kata-kata….hheeemmmmm….kok bisa gitu ya Em. Ujarnya dengan mata tak bercahaya. Buat saya, mendengar kata ini, artinya beliau sedang marah. Entah saking sensitifnya saya atau karena saking tidak pernah marahnya Pak Yan.

Pak Yan juga dengan suka hati mendengarkan curhatan kami. Terutama curhatan Bu Anie Indrawati. Suara khasnya juga sering kami dengar saat menyanyi. Tak hanya di acara, bahkan kadang mampir ke rumah makan yang ada organ tunggal dan mike pun, akan urun suara.

Awet mudanya mungkin juga didapat dari tari chacha dan line dance yang digemarinya. Atau mungkin pula dari puasa rutinnya. Senin kamis dan puasa sunnah lainnya. Tak pernah putus sepanjang 12-13 tahun saya di Sinar Mas. Di sepanjang usianya juga tak ada pantang makanan. Meski sekarang harus lebih dijaga.

Ah satu lagi, diantara riwehnya mengatur jadwal dengan belasan jabatan yang ada, masalah yang silih datang berganti, Pak Yan selalu tertawa. Bukan sekedar senyum. Tetapi tertawa lebar dan terbahak-bahak. Entah kenapa, ini ampuh menyelesaikan masalah yang ada. Entah selesai, entah terhibur dengan tawa meledaknya. Dia adalah pencipta segarnya suasana. Dalam kesempatan apapun.

Dari keluarga ningrat Sunda, berjodoh dengan putri Solo. Putri kraton, Ibu Uma panggilannya. Ibu Uma putri dari Gusti Nurul yang kecantikannya sangat terkenal. Gusti Nurul ini bak Marilyn Monroenya Indonesia. Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngarasati Koesoemawardani, nama lengkapnya. Menggetarkan hati Soekarno, Syahrir bahkan HB IX pada masanya. Kembang mangkunegaran ini berpulang pada tahun 2015 . Kecantikan Gusti Nurul juga terlihat di wajah Ibu Uma.

Senang mengenal Pak Yan. Dari idola menjadi atasan hingga teman diskusi yang menyenangkan. Kalau ada idola-idolaan tahun 80 an, nama Pak Yan pasti akan masuk di dalamnya.

Pada senior seperti Pak Yan saya belajar, tertawa kadang menyelesaikan masalah, tanpa perlu perang kata-kata.

#lifeatsinarmas.
#80ThnSinarMas
#TumbuhBersama

Dirgahayu 80 Tahun Sinar Mas

Bagaimana rasanya 53 tahun bekerja, masih aktif hingga saat ini dan tidak pernah pindah tempat kerja sekalipun? Rata-rata milenial hanya akan betah itungan bulan dan tahun. 2 tahun maksimalnya. Bu Elly Romsiah adalah guru saya siang ini. Jangan tanya usianya kalau kerja saja sudah 53 tahun.

Tapiiiiiiiii……badan masih tegap berdiri. Jalan tanpa bantuan tongkat. Rambut tersisir rapi dan lipstik selalu menemani. Untuk seusia beliau, ini luar biasa. Yang lebih luar biasa, masih tetap bekerja. Ya….setiap harinya. Kenapa tidak santai saja? Bekerja membuatnya selalu sehat.

Siapa sih Bu Elly? Sekretaris Bapak Eka Tjipta Widjaja yang pertama. Nomor induk karyawannya masih 01. Pindah-pindah dari ruko hingga Plaza Sinar Mas Land. Susah senang, bocor, banjir, pasti sudah dijalani. Sesusah-susahnya dan sesenang-senangnya.

Aku yakin dulu Bu Elly belum mengenal six values Sinar Mas. Boro-boro. Kerja kerja kerja pasti motivasi utamanya. Dalam diri Bu Elly saya mengamini bahwa nilai-nilai itu nyata:
Integritas
Sikap Positif
Komitmen
Perbaikan Berkelanjutan
Inovatif
Loyal

Nilai ini ada semuanya dalam pribadi beliau. Hari ini, 80 tahun Sinar Mas, apresiasi diberikan, untuk menandai semua nilai yang terpatri dalam pribadi Bu Elly. Pasti tidak ada tandingannya, menjadi sekretaris selama.53 tahun.

Bu Elly yang sederhana tadi menyampaikan ucapan syukurnya. Membaca teks tulisannya tanpa kacamata. Bersyukur sudah berjalan bersama Sinar Mas selama ini. Tidak ada puja dan puji yang berlebihan. Justru mendoakan. Ini nilai lain yang aku pelajari: menghitung syukur.

Kami memulai kegiatan tadi dengan Indonesia Raya. Lalu Hymne Sinar Mas dan mengucapkan nilai-nilai Sinar Mas. Ini ritual kami setiap menyelenggarakan kegiatan. Ada haru tadi. Setiap hari mendengarkan Hymne Sinar Mas, saya tidak tahu pasti, apakah sudah mendarah daging kami meneladani nilai-nilai tersebut. Haru karena ini tahun ke 12 atau 13 buat saya di sini. Dan dikelilingi rekan kerja yang sudah 30, 26, puluhan dan belasan tahun #TumbuhBersama. Ada hal baru yang selalu kami pelajari dalam berinteraksi.

Ini sekolah terbesar saya. Belajar berorganisasi, mengelola kegiatan, bekerja sama, membangun jejaring, mempelajari hal-hal baru, dengan tetap menjadi Ibu. Bekerja penuh waktu dan menjadi ibu 100 persen.#TumbuhBersama belajar handle event yg dihadiri presiden RI atau kepala negara lain. Tanpa EO. Menjalani 40-60 event dalam satu bulan, tanpa EO.

Teman-teman silih berganti. Tetapi kami selalu punya kenangan manis di setiap pertemanan kami. Sedih mereka sedih kami juga. Dari godain mereka yang jomblo sampai beranak pinak. Senang datang ke pernikahan teman-teman dan menciwel pipi montok generasi baru yang lahir ketika kami bekerja di sini.

12 tahun lebih ibaratnya lulus wajib belajar. Tentu masih banyak pelajaran baru lainnya yang harus kami kejar lagi.

Dirgahayu! Izinkan saya, kami menjadi pembelajar dan #TumbuhBersama di Pertiwi ini.

Terima kasih Bu Elly!
#80thnSinarMas

Mati Aku!

Banyak orang lebih takut berbicara di depan umum daripada mati. Tidak percaya? Saat teman atau kolega tiba-tiba dipanggil ke depan untuk berbicara, kalimat yang seringkali kita dengar adalah “mati aku”. Grogi, demam panggung, merasa kecil dan tak sanggup bicara langsung saja menerpa.

Sama seperti anak-anak yang tidak suka pelajaran matematika, berbicara di depan umum juga menjadi momok bagi banyak orang. Padahal ketrampilan berbicara di depan umum ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tidak saja untuk presentasi, pidato, menjadi pembawa acara, bahkan dalam rapat pun, ketrampilan ini kita perlukan. Berbicara di antara teman-teman atau pun berorganisasi juga memerlukan ketrampilan ini.

Masalah mendasarnya, ketrampilan untuk berbicara ini tidak diajarkan secara formal di sekolah kita. Kita hanya diajarkan menulis, membaca, menghitung dan berbahasa. Tetapi tidak ada atau sangat jarang yang mengajarkan berbicara. Berbicara di depan umum tentu bukan sekedar berdiri di depan, memegang pengeras suara tetapi bagaimana membuat orang mampu mendengar dan memercayai apa yang kita sampaikan.

Kelemahan sekolah di Indonesia (dalam berbagai level) adalah tidak memberikan porsi yang cukup tentang narasi. Jangankan berbicara, kelas biasanya akan hening kalau guru mengatakan: ada pertanyaan? Padahal ketrampilan untuk berbicara dengan runut, intonasi jelas dan kronologis pesan yang akan disampaikan merupakan ketrampilan seumur hidup yang perlu kita miliki.

Jadi apa yang perlu kita lakukan agar ketrampilan ini terus berkembang dalam diri kita? Yang utama, tertariklah untuk selalu belajar. Buang jauh-jauh rasa grogi. Katakan pada diri kita, ya…saya memang grogi. Menyangkal bahwa kita grogi barangkali tidak menolong keadaan. Setelah nyaman menerima kenyataan ini, buatlah diri kita senyaman mungkin. Dengan rasa nyaman, oksigenpun akan mengalir lebih baik. Saat grogi, nafas kita akan pendek-pendek seperti kehabisan oksigen. Akibatnya suara pun jadi tidak jelas dan hanya akan membuat kita bicara lebih cepat. Pendengar kita pun tentu akan terganggu. Bernafaslah pelan. Bicara perlahan dan jelas. Ini akan membantu kita mengurangi grogi.

Mulailah dengan kejujuran. Saat kita memulai dengan pernyataan yang tidak jelas karena tidak kita kuasai dengan baik, ini hanya akan menghilangkan kepercayaan audience. Tidak apa-apa memulai dengan kalimat yang sederhana untuk menyampaikan maksud kita. Hal ini jauh lebih mudah dipahami orang.

Kata-kata mungkin bisa berbunga-bunga, yang membuat orang terpesona. Tetapi jangan lupa, kata bisa berbohong. Bahasa tubuh kita akan mengantarkan pesan yang sebenarnya. Jadi bersikaplah yang benar dan tulus. Dan untuk membuat ketrampilan hidup ini makin berkembang, jangan alergi dengan kritikan. Terbukalah untuk belajar dan mendengarkan masukan orang lain.

Jadi, pastikan tidak ada lagi kata: mati aku, saat diminta untuk maju dan berbicara. Ini saatnya menunjukkan gagasan-gagasan kita.

Hidup yang Tertawa

 

Kursi merah. Tembok hijau. Dan lampu neon yang menyala terang. Tadinya ruangan itu sangat terang buat saya. Tapi rasanya lalu meredup saat seorang kawan, iya kawanku, dan kawan kamu juga, yang sudah beberapa hari terbaring di kasur rumah sakit itu ingin bilang sesuatu.

Suaranya yang tak terlalu jelas membuat aku harus menarik kursi merah lebih dekat ke tempat tidurnya. “Sini nduk,” ujarnya. Ya, dia memanggil saya nduk. Panggilan anak perempuan di Jawa. Kami sudah sangat lama berteman. Jadi saya cuek saja dengan panggilan nduk itu. Pertemanan kami sudah mendarah hingga jadi saudara.

“Jadi gini nduk, kata dokter aku kena kanker,” wajahnya lempeng saja saat bilang begitu. Lempeng, santai dan tanpa beban. “Tapi tenang saja. Ndak apa-apa. Aku akan jalani semua prosesnya. Semua proses pengobatan sampai selesai,” lanjutnya.

Sekian detik saya harus mencerna informasi yang dia sampaikan. Menata emosi. Merakit kata pertama apa yang harus saya ucapkan. Dan pada saat bersamaan, hati saya hancur. Air mata saya ingin tumpah. Saya harus menahan itu semua karena melihat wajah santainya, ekspresi sumelehnya. Dia yang sakit saja ringan menjalani, kenapa saya harus menambahi rusuh hatinya.

Saya tahu, hatinya pasti porak poranda. Monyet dalam kepalanya berloncatan ke sana ke mari tanpa letih berlari. Saya dan dia, adalah bagian dari sedikit orang yang sombong. Ya kami berdua. Sebisa mungkin tak akan mengatakan duka, beban atau apapun yang hanya akan memberatkan hati orang lain. Karena kami percaya, masing-masing dari kita, hidup sudah dengan salibnya sendiri-sendiri. Kuat ya dijalani, ndak kuat ya ditinggal ngopi.

Dari perjalanan pertemanan kami belasan atau bahkan puluhan tahun, barangkali hanya sekali ya sekali saja bercerita hal yang tak menyenangkan. Biasanya kami akan saling menjauh saat salib terasa berat untuk ditanggung. Supaya satu dengan yang lain tak melihat peluh atau bahkan air mata yang jatuh. Begitulah cara kami merawat pertemanan. Hanya berbagi kesenangan. Urip kie mung mampir ngguyu. Ojo digawe abot.

Jadi saya percaya, dari semua ekspresi tenangnya, ia sedang mengendalikan sedemikian rupa arus emosinya. Saya tahu itu dari sorot matanya. “Ibu sudah tahu?” Tanya saya. Ibu, simbok, apapun panggilannya, entah kenapa sepertinya jadi benteng kami. Benteng dari apapun. Keinginan untuk membuat bahagia. Keinginan untuk tetap menjadi anak. Sosok yang menjadi alasan untuk apapun yang kami lakukan saat ini. Kami tahu itu, tanpa pernah membahasnya panjang lebar. “Nanti saya, kalau aku sudah sembuh, baru dikabari,” jawabnya. Lalu hening. Monyet dalam kepala saya makin riuh dengan berbagai tanya.

Usia berapapun dan bagaimanapun kondisi ibu saat ini, saat mendengar anak sakit pasti jadi orang yang paling khawatir dan sibuk. Itu yang coba aku hindari. Dan dia juga. Ah aku jadi ketawa mengingat cara sederhana bagaimana ia membahagiakan ibunya. Setiap pulang jam berapapun ke tempat tinggal ibunya, tanpa mandi dan pulang ke rumah terlebih dahulu, ia selalu menuju ke pasar. Pasar tradisional. Menjumpai perempuan senja dengan dagangan sederhana. Kebutuhan sehari-hari. Sebetulnya tak perlu lagi ibu harus berjualan di pasar. Pergi ketika matahari masih malas beranjak dan pulang saat terik seperti memanggang. Anak-anaknya pasti dengan senang hati mencukupi kebutuhan hidup ibu.

“Itu yang membuat ibu bahagia. Ndak mikir untung rugi. Jualan ya jalan saja. Bahkan kadang juga dikasih ke pelanggannya. Ibu senang ketemu orang dan itu membuatnya tetap sehat,” ujarnya. Tuno satak bathi sanak, merugi dikit tak apalah, asal mendapat saudara. Prinsip pedagang tradisional yang tak bakal ada di pasar modern. Hidup tak bergantung pada belas kasih orang lain, meski itu dari anak, mungkin itu juga prinsip orang tua kita.

Ia akan membantu orang tuanya berjualan sehari itu, menata dagangannya. Lalu saat kantuk datang, ia akan pulang duluan. “Biasanya aku pesan soto, buat teman-teman dagang ibu, bude-bude di pasar itu, lalu aku tinggal pulang. Mereka tidak tahu kalau itu aku yang pesan,” ujarnya. Berulang kali seperti itu. Dan itu sudah membuat ibu dan bude-bude di pasar pasti bahagia. Dan biarlah bahagia itu awet, tanpa harus dibebani dengan informasi sakitnya. Pasti itu yang dipikirkannya.

Air mata saya memang tak tumpah dan raut wajah saya pasti sama lempengnya dengan wajahnya. Dua orang yang sombong untuk tak berbagi duka. Matahari, angin dan luar ruang biasanya menghapuskan segala luka dan duka saya. Tapi tidak malam itu. Duduk di belakang boncengan abang ojek, ditemani angin malam, saya sesenggukan. Saya merasakan luka, pemberontakan dan ketakutan anak manusia. “Kita ini cuma teman, tetapi entah kenapa saya sedih sekali ya,” lempar pesan saya pada karib yang lain. Sakit teman yang satu entah kenapa rasanya menjadi sakit kami juga.

Ahh…… tapi tenang saja. Sedih saya hanya sehari. Besoknya kami sudah bercanda lagi. Dia sudah membuat rencana pertemuan lagi. Minta oleh-oleh pada kawan lain yang sedang pergi keluar kota. Godaian kami di WAG Genk Every Day is Saturday. Kemarin kami lupa bahwa hidup kan memang hanya mampir ketawa.

Dan hari ini saya ketawa lagi membaca tagar #RaisaMeetSutopo. Iya Sutopo Purwo Nugroho. Yang pasti sibuknya berkali-kali lipat saat bencana datang. Cieeee…..yang bisa video call sama Raisa. Pada Sutopo lah saya belajar ketawa lagi. Mengabaikan informasi sakit yang tiga minggu lalu diinformasikan teman tadi. Sakit yang sama di tempat yang berbeda.

“Meski kanker paru stadium 4B, saya tetap berusaha melayani media dan masyarakat dengan baik. Untuk rekan penyintas kanker, jangan patah semangat. Tetap sabar, kerja, dan berdoa. Hidup itu bukan panjang-pendeknya usia. Tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain,” tulis Sutopo di Twitter, Selasa (2/10/2018) sambil mention ke Raisa.

Dan di sela kesibukanya memberikan informasi bencana Palu Donggala ia pun sempat ngetweet begini: Masya Allah, saya tidak tahu kalau #RaisaMeetSutopo di medsos sampai trending topic. Raisa adalah inspiratif. Jika bertemu nanti saya malah bisa “Terjebak Nostalgia”. Bisa “Serba Salah”. Malah sampai “Jatuh Hati” & akhirnya menganggap sebagai “Mantan Terindah” haha.. @raisa6690

Tuhkan….. hidup memang bukan panjang pendeknya usia. Tapi bagaimana kita memaknainya dengan sambil tetap bisa tertawa.

Secangkir Pagi

Hari ini saya tidak bisa menikmati lezatnya kopi yang biasanya menyemangati hari. Beberapa hari ini sebetulnya.

Tak bisa menikmati kopi, membuat saya gelisah. Saya jadi memikirkan apa yang salah. Berganti-ganti kopi, roasting dan grinder yang baru. Mencoba jenis ini dan itu tetap saja yang terasa hanya pait, tanpa sensasi bahagia.

Lalu jumpalah saya dengan Pak Prawoto, pakar kopi sekaligus teh. Dari sini, kenangan ngeteh di masa lalu seperti dipanggil kembali.

Amat sangat jarang saya menikmati teh secara khusus tempat yang khusus. Tempat ngeteh. Bukan tempat kopi yang ada teh. Atau tempat apa saja ada termasuk teh. Ini tempat ngeteh sungguhan. Ngeteh serius dengan suasana santai.

Ah ya, betapa sebetulnya ngeteh itu dekat dengan keseharian kita. Dulu, sarapan pagi, pasti ada tehnya. Teh manis hangat. Bahkan teh dikenalkan lebih dulu sejak kanak-kanak. “Jangan kasih kopi untuk anak-anak. Nanti kecanduan.” Begitu dulu sering digumamkan.

“Hampir setiap keluarga mengawalinya harinya dengan segelas teh,” ujar Prawoto. Di luar pulau Jawa, teh hitam mendominasi hari-hari masyarakatnya. Dan di Jawa dengan teh hijau. Hampir seperti itu pembagiannya.

Keluarga saya pun tak beda. Teh menemani bapak mengaduk bubur dan menanak nasi, dagangan uti. Tiap menjelang subuh datang.

Bangun tidur, uti akan menjerang air. Lalu ndekok teh atau membuat seduhan teh. Campuran teh yang wangi dan yang berasa berat. Takarannya 1:1. Hanya bapak ibu yang tahu. Mereka antiteh celup. Tak ada rasa, katanya. Hanya saya yang menghabiskan persediaan teh celup di rumah.

Buat uti, minum teh yang panas legi dan kenthel itu sebagai obat ngelu obat pusing. Entah karena kurang tidur, kecapekan, sakit, kepanasan atau sebab lain. Minum teh yang nasgithel, ngelu atau pusing pun hilang. Begitulah uti menaklukkan rasa tidak nyamannya.

Teh di Jawa atau paling tidak di rumahku begitulah ramuan dan penampakannya. Panas legi dan kenthrl,. Nasgithel.

Ohya, ada periode waktu betapa aku tak suka teh tawar di warung sunda. Teh tanpa rasa. Lebih mirip air putih dengan sedikit warna coklat terang. Tanpa ada rasa teh sama sekali. Ini teh tanpa sensasi buatku. Teh kok tawar. Hidup saja harus manis bukan.

Pelajaran menikmati yang tawar ini aku dapat dari upacara minum teh ala Jepang. Mulai dari mencuci perabotnya, sampai menyiapkan batin untuk menyeduhnya. Membuat putaran di cangkir agar letaknya benar untuk menghormat orang yang akan meminumnya. Seduhan dari daun atau dari bubuknya. Perkenalan rasa pertama di lidahku saat itu seperti langu. Aku tidak tahu bagaimana menerjemahkan rasa tak enak ini. Rasa yang kemudian hilang hanya karena aku menghormati betapa agungnya upacara ini.

Lain lagi dengah teh China. Diminum dengan gelas kecil, dan cepat-cepat di saat panas. Nambah lagi dan lagi. Tawar tentu saja rasanya. Tapi entaj kenapa, setiap minum teh tawar sekarang, ada rasa manis di cecapan terakhir. Mungkin karena sudah biasa.

Teh cina atau jepang ini yang sekarang jadi suguhan utama di kantor. Tak lagi teh manis. Entah dari cina atau jepang, yang jelas teh hijau. Dulunya aku pikir ini penghematan. Kantor tak perlu mengeluarkan banyak dana membeli gula. Dan ternyata saya salah. Ini minum yang lebih sehat. Kita bisa minum bercangkir-cangkir teh dalam pertemuan yang panjang tanpa takut menimpun gula. Resikonya paling bolak balik ke toilet saja. Tak mengapa. Anggap saja detox.

Secara resmi teh hijau ini aku nikmati setiap Senin pagi. Meetingnya panjang. Dua tiga jam. Begitulah Senin selalu aku mulai.

Jadi, apa yang salah ketika aku tak bisa menikmati kopi atau bahkan teh? “Nikmati saja. Mungkin begitulah tuntutan tubuh,” ujar temenku. Bukan indra perasa kita yang berubah. Tapi sensasi bahagia, tenang atau apapun yang kita jumpai dalam secangkir kopi atau teh tenggelam dalam rusuhnya suasana hati.

Jadi, apa rasa secangkir kopi dan tehmu hari ini?

JOG……….YA

Sebelum warung-warung di Yogya dijajah oleh instanisasi teh dan kopi, warungnya wong cilik ini bukan sekedar melepas lapar dan dahaga. Namun juga untuk mampir nglaras, melepas penat, sambi lesehan dan menikmati nasgithel, minuman panas, legi dan kenthel teh tubruk dengan manis dan kepekatan yang ekstrim sehingga perlu dijog (ditambah air) sebagai pelengkap proses relaksasi.

Inilah panggung teater masyarakat Jogya yang mulai kehilangan substansi ke Jawaannya karena mengalami pergeseran nilai ke arah instanisasi, kapitalisasi dan uniformisasi

Benarkan kota ini mulai kehilangan makna “Jog…..ya?”

Pembuka Buku Java, Dance in the Tea karya Prawoto Indarto sangat menarik. Bagi saya, nama Prawoto, jaminan nama untuk sejarah kopi dan teh Indonesia.

Kami kenalan pertama di bawah pohon trembesi, dekat arca gompal di Bentara Budaya Jakarta. Sambil mencecap kopi typica dari Jampit, hasil PTPN 12. Kopi dengan skore 93 tersebut makin nikmat rasanya dengan penjelasan sejarahnya.

Dan ketika jumpa kedua, beliau mengenalkan teh Indonesian yang baru saja menjadi juara teh terbaik dunia versi AVPA Paris 2018, teh organik black tea Bankitwangi. Tersanjung saya tentu saja. Dan pengetahuan saya tentang teh Indonesia ternyata nol besar. Saya benar-benar bawang kosong diantara ahli teh sore itu. Ada owner salah satu label teh terkenal, ada peracik teh yang jagoan, ada pengusaha, asosiasi dan mereka yang bergulat dengan teh selama ini.

Brewing dan cupping sore itu menjadi pelajaran pertama lidah saya tentang rasa dan aroma teh terbaik di Indonesia.

………Tapi kalau kita tidak perbaiki pola konsumsi tata niaga kita, bisa dipastikan kita akan jadi pengimpor teh terbesar di dunia. Ujar mereka bergantian. Sedihnya lagi, kalau di rerata, konsumsi teh kita hanya setengah cangkir perharinya. Setengah cangkir!

Lho kok bisa? Seduhan teh yg harusnya 2 gram utk sekali seduh, seringkali kita jog ulang. Bahkan satu tea bag bisa utk ngeteh seharian. Atau tak jarang sekantong teh di cafe, diseduh untuk 600 ml air panas dan diminum berdua atau bertiga.

Harus kita perbaiki pola ngeteh kita. Ngeteh ini dekat dengan keseharian kita sebetulnya. Dulu. Dulu sekali.

Jadi ingat, dulu kalau ada kondangan atau bertamu ke rumah orang selalu didekokkan teh tubruk yang baru dijerang. Disajikan dengan gelas belimbing. Panasnya bikin kemepyar. Sekarang, pertemuan keluarga, arisan atau reriungan, kita sajikan teh atau mineral water gelasan plastik. Alasannya praktis dan tidak usah cuci gelas. Memang sih. Tapi ini ternyata, mengubah pola konsumsi teh Indonesia. Padahal, teh Indonesia itu, antioksidannya paling bagus diantara teh dari negara lain. Eh aku kok jadi ingat koleksi gelas ibuku yang berdus-dus dan amat sangat jarang dibuka.

Kenapa teh kita tidak bisa seperti Srilanka atau China? Padahal Jawa Barat adalah produsen teh terbesar untuk Indonesia. 78 persen dari sana. Ini mimpi kami, agar Jabar terkenal karena produksi tehnya. Dengan beragam festival teh dan variannya. Dengan anak muda sebagai ujung tombak keriangan membesarkan industri ini. Timpalan uneg-uneg mereka sore itu.

Kopi Indonesia saja booming luar biasa, kenapa teh tidak?

Ah seujung kuku pengetahuan saya tentang teh ternyata mengandung mimpi besar kawan-kawan pecinta teh tadi.

Jadi kapan kamu ajak aku ngeteh bareng? Berdua saja. Biar hangat. Seperti seduhan teh Indonesia.