Skill

Cerita Alis

Aku peringatkan, jangan sesekali kalian mengganggu perempuan yang sedang menggambar alisnya. Ini peringatan serius. Gambaran alis yang sekali jadi, tepat dan sesuai kemauan pemilik wajah akan mempengaruhi suasana hatinya seharian nanti. Aku bilang, jauhi dulu sementara waktu perempuan yang sedang menggambar alisnya.

Menggambar alis ini bukan perkara mudah. Sekali tarik garis salah, bisa berkali-kali gagalnya. Banyak perempuan bilang, menggambar alis dipengaruhi suasana hati. Hati yang riang, sekali tarik garis, aman sudah. Kalau berkali-kali gagal, bisa dipastikan sedang rusuh hatinya. Begitu katanya.

Itulah kenapa kalau kita googling akan banyak ditemukan ‘cetakan’ alis. Berbagai model. Ada yang kayak huruf T terbelah, ada yang satu cetakan satu alis. Sebegitu diperlukannya alat ini. Tutorial membuat alis pun buanyakkkkkk sekali contohnya. Dan mungkin laris dilihat berulang-ulang.

Paling mudah tato alis atau sulam. Serahkan pada ahlinya dan kita tidak akan repot setiap paginya. Tidak akan ada lagi pagi hari yang buruk. Momok menggambar alis yang salah lewat sudah. Masalahnya, tidak semua orang eh tidak semua perempuan ingin melakukannya. Menggambar alis, buat banyak perempuan adalah seni.

Alis juga memiliki trennya. Ada kalanya alis setipis lidi, tapi ada saatnya pula alis segendut ulet enthung disukai. Meski gendut, tinggal dimodel, depannya ditipiskan dibuat samar-samar dan di bagian belakang dilancipkan. Jadilah tren yang disuka perempuan. Cukup berhenti sampai di situ? Tidak. Kadang gambaran alis bisa dibuat seperti pohon cemara, burung, gunung, atau apapun yang disuka, tergantung acaranya. Sah-sah saja. Alis-alisnya sendiri kok. Apalagi untuk kepentingan panggung.

Tapi pernahkah kamu ketemu perempuan tanpa alis usai berenang? Nggagetin memang. Meski pasti tanpa kesengajaan. Semacam ketemu thuyul tapi kok asli. Disentuh tanpa izin pasti nggaplok. Dan kalau diingatkan malunya pasti rasanya pengen nguras kolam renang, biar orang pada pulang dan gak perhatiin alisnya yang mendadak lenyap. Nah, jalan bijaknya adalah, biarkan ia menemukan wajahnya kembali di kaca tempat ganti. Pasti ia akan terkejut dengan wajahnya sendiri. Sama seperti terkejutnya seperti kita ketemu thuyul tadi.

Pensil alis dan lipstick barangkali dua properti yang paling sering dibeli karena cepat habis. Dari produk lokal hingga Korea dan Jepang yang banyak diburu perempuan Indonesia. Harganya pun tak murah. Di atas 150-500 ribu. Meski ada yang 30 ribu dapat dua. Oh ya pastikan juga warnanya sesuai dengan kulit dan rambut kita. Terlalu gelap membuat wajah kita mendadak galak maksimal.

Kalau sudah terlanjur sulam atau tato alis, jangan lupa retouch rutin. Ini obat malas untuk nambahin hasil sulaman dengan pensil alis. Jangan telat. Karena alismu akan nampak bolong-bolong tak maksimal lagi kecenya. Runyam lagi nanti hidupmu.

Suka olah raga? Pastikan tetap kece alisnya. Buat aku, jadi juara itu kalau di akhir race, alis tetap sempurna dan lipstick di bibir tetap menjaga. Ini jauh lebih susah daripada mempertahankan pace dan heart rate. Mak bedunduk ketemu kamu saja, heart rate ku bisa melonjak-lonjak ndak karuan.

Begitulah cerita alis.

Facebook Comments

1 thought on “Cerita Alis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *