Skill

Dan Tetaplah Menulis

 

Ini sekolah saya. Yang membentuk segala kenakalan, kreaktivitas, solidaritas, belajar menulis, memegang komputer, belajar layout, belajar memotret. Belajar integritas. Ini sekolah wartawan saya yang pertama.

1991, wartawan senior dari Kompas Mas Trias Kuncahyono dan Kang Yusran Pare datang ke sekolah. Menjelaskan gagasan untuk mengajak anak-anak beberapa SMA di Yogyakarta belajar menjadi wartawan. SMA Santa Maria, Stella Duce, Dr Britto, SMA 1 dan SMA Bopkri kalau tidak salah. Satu sekolah diwakili beberapa orang.

Gagasan gila. Buat apa mereka membuang halaman yang laku untuk dijual, menjadi iklan, hanya untuk anak-anak yang belum jelas mau ngapain. Nulis saja belum bisa.

Mulailah kami kenalan dengan apa itu berita. Menulis kalimat. Cara bertanya. Merangkai cerita. Menjadikan tulisan layak baca. “Kalau kalian tidak menulis, besok foto kopi sandal jepit kalian yang ada di koran ini,” ujar mentor kami Mas AWD, inisial untuk Mas Agoes.

Kejam? Nanti dulu. “Kalian harus mengejami diri kalian dengan bacaan, diskusi, belajar dari ahli. Apapun. Kalian harus mengejami diri kalian, sebelum dikejami pembaca,” jelasnya. Yang baca tulisan kalian itu profesor, dokter, ibu rumah tangga, anak-anak. Banyak yang jauh lebih pintar dari pada kalian. Ujar Mas Agoes, Kang Yusran bergantian.

Lalu kami nurut? Lebih banyak nakalnya aku rasa. Ego masing-masing yang mulai menonjol. Kegirangan disuruh meliput ini itu. Tapi hasil tulisannya penuh dengan coretan spidol merah dari para mentor. Tapi, wejangan itu tertanam dalam hati dan pikiran kami. Buat saya pribadi, ini spirit yang saya bawa kemanapun saya berada.

Dari mengenal satu dua wartawan, kami mengenal lebih banyak lagi. Mas Eddy Hasby, Pak Ahmad Roso Mbak Wineng Endah Winarni Mas Dodi Sarjana mas Ignatius Sawabi Chen. Dan buanyakkkkk lagi.

Saya, Kristupa Saragih, David Rinetyo Adhi Fransisca Ria Susanti Luki Aulia Mohtar Vierna Suryaningsih Kak Si Flo lalu ada Alb Agung Kunto Anggoro Diah Restu Marini Fika Ungu Rosita Y. Suwardi Wibawa Femi Adi Soempeno Esti Rahayu Dimas Novriandi Eko Susanto B Nursanti Retno R Retno Hemawati datang silih berganti.

Lalu apa keuntungannya? Hemmmmmmm…….kami memang lebih sering pulang sore atau malam. Padahal hanya berkumpul di sudut ruangan kecil Jalan Sudirman. Berlumut pula. Satu dua komputer. Tapi entah kenapa kami betah. Belajar lay out yang masih dengan penggaris, pemotong dan lain sebagainya.

Pelan-pelan kami bisa menulis. Lalu bangga ketika tulisan muncul di koran. Bangganya pakai kuadrat. Beberapa teman dapat keistimewaan dari guru Bahasa Indonesia. Nama kami ada di box, seperti wartawan beneran.

Beberapa kami menjadi wartawan. Saya sendiri 11 tahun jadi wartawan. Beberapa jadi fotografer. Jadi dokter. Buat saya pribadi, menjadi wartawan, profesi yang saya cintai. Dari hati.

Berita duka Harian Bernas hari ini adalah berita sedih yang kedua untuk saya. Setelah sebelumnya Harian Sinar Harapan tiada.

Dan saya berjanji untuk tetap menulis, sebagai penghargaan pada sekolah pertama. Kemampuan yang tak boleh hilang. Karena lama-kelamaan ia akan menyatu dalam darah saya.

Dari pelajar sekolah yang tak saling mengenal, kini kami menjadi saudara.

Sekolah yang kemarin dan membentuk saya menjadi seperti hari ini.

Terima kasih #Bernas

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *