General

Hidup yang Tertawa

 

Kursi merah. Tembok hijau. Dan lampu neon yang menyala terang. Tadinya ruangan itu sangat terang buat saya. Tapi rasanya lalu meredup saat seorang kawan, iya kawanku, dan kawan kamu juga, yang sudah beberapa hari terbaring di kasur rumah sakit itu ingin bilang sesuatu.

Suaranya yang tak terlalu jelas membuat aku harus menarik kursi merah lebih dekat ke tempat tidurnya. “Sini nduk,” ujarnya. Ya, dia memanggil saya nduk. Panggilan anak perempuan di Jawa. Kami sudah sangat lama berteman. Jadi saya cuek saja dengan panggilan nduk itu. Pertemanan kami sudah mendarah hingga jadi saudara.

“Jadi gini nduk, kata dokter aku kena kanker,” wajahnya lempeng saja saat bilang begitu. Lempeng, santai dan tanpa beban. “Tapi tenang saja. Ndak apa-apa. Aku akan jalani semua prosesnya. Semua proses pengobatan sampai selesai,” lanjutnya.

Sekian detik saya harus mencerna informasi yang dia sampaikan. Menata emosi. Merakit kata pertama apa yang harus saya ucapkan. Dan pada saat bersamaan, hati saya hancur. Air mata saya ingin tumpah. Saya harus menahan itu semua karena melihat wajah santainya, ekspresi sumelehnya. Dia yang sakit saja ringan menjalani, kenapa saya harus menambahi rusuh hatinya.

Saya tahu, hatinya pasti porak poranda. Monyet dalam kepalanya berloncatan ke sana ke mari tanpa letih berlari. Saya dan dia, adalah bagian dari sedikit orang yang sombong. Ya kami berdua. Sebisa mungkin tak akan mengatakan duka, beban atau apapun yang hanya akan memberatkan hati orang lain. Karena kami percaya, masing-masing dari kita, hidup sudah dengan salibnya sendiri-sendiri. Kuat ya dijalani, ndak kuat ya ditinggal ngopi.

Dari perjalanan pertemanan kami belasan atau bahkan puluhan tahun, barangkali hanya sekali ya sekali saja bercerita hal yang tak menyenangkan. Biasanya kami akan saling menjauh saat salib terasa berat untuk ditanggung. Supaya satu dengan yang lain tak melihat peluh atau bahkan air mata yang jatuh. Begitulah cara kami merawat pertemanan. Hanya berbagi kesenangan. Urip kie mung mampir ngguyu. Ojo digawe abot.

Jadi saya percaya, dari semua ekspresi tenangnya, ia sedang mengendalikan sedemikian rupa arus emosinya. Saya tahu itu dari sorot matanya. “Ibu sudah tahu?” Tanya saya. Ibu, simbok, apapun panggilannya, entah kenapa sepertinya jadi benteng kami. Benteng dari apapun. Keinginan untuk membuat bahagia. Keinginan untuk tetap menjadi anak. Sosok yang menjadi alasan untuk apapun yang kami lakukan saat ini. Kami tahu itu, tanpa pernah membahasnya panjang lebar. “Nanti saya, kalau aku sudah sembuh, baru dikabari,” jawabnya. Lalu hening. Monyet dalam kepala saya makin riuh dengan berbagai tanya.

Usia berapapun dan bagaimanapun kondisi ibu saat ini, saat mendengar anak sakit pasti jadi orang yang paling khawatir dan sibuk. Itu yang coba aku hindari. Dan dia juga. Ah aku jadi ketawa mengingat cara sederhana bagaimana ia membahagiakan ibunya. Setiap pulang jam berapapun ke tempat tinggal ibunya, tanpa mandi dan pulang ke rumah terlebih dahulu, ia selalu menuju ke pasar. Pasar tradisional. Menjumpai perempuan senja dengan dagangan sederhana. Kebutuhan sehari-hari. Sebetulnya tak perlu lagi ibu harus berjualan di pasar. Pergi ketika matahari masih malas beranjak dan pulang saat terik seperti memanggang. Anak-anaknya pasti dengan senang hati mencukupi kebutuhan hidup ibu.

“Itu yang membuat ibu bahagia. Ndak mikir untung rugi. Jualan ya jalan saja. Bahkan kadang juga dikasih ke pelanggannya. Ibu senang ketemu orang dan itu membuatnya tetap sehat,” ujarnya. Tuno satak bathi sanak, merugi dikit tak apalah, asal mendapat saudara. Prinsip pedagang tradisional yang tak bakal ada di pasar modern. Hidup tak bergantung pada belas kasih orang lain, meski itu dari anak, mungkin itu juga prinsip orang tua kita.

Ia akan membantu orang tuanya berjualan sehari itu, menata dagangannya. Lalu saat kantuk datang, ia akan pulang duluan. “Biasanya aku pesan soto, buat teman-teman dagang ibu, bude-bude di pasar itu, lalu aku tinggal pulang. Mereka tidak tahu kalau itu aku yang pesan,” ujarnya. Berulang kali seperti itu. Dan itu sudah membuat ibu dan bude-bude di pasar pasti bahagia. Dan biarlah bahagia itu awet, tanpa harus dibebani dengan informasi sakitnya. Pasti itu yang dipikirkannya.

Air mata saya memang tak tumpah dan raut wajah saya pasti sama lempengnya dengan wajahnya. Dua orang yang sombong untuk tak berbagi duka. Matahari, angin dan luar ruang biasanya menghapuskan segala luka dan duka saya. Tapi tidak malam itu. Duduk di belakang boncengan abang ojek, ditemani angin malam, saya sesenggukan. Saya merasakan luka, pemberontakan dan ketakutan anak manusia. “Kita ini cuma teman, tetapi entah kenapa saya sedih sekali ya,” lempar pesan saya pada karib yang lain. Sakit teman yang satu entah kenapa rasanya menjadi sakit kami juga.

Ahh…… tapi tenang saja. Sedih saya hanya sehari. Besoknya kami sudah bercanda lagi. Dia sudah membuat rencana pertemuan lagi. Minta oleh-oleh pada kawan lain yang sedang pergi keluar kota. Godaian kami di WAG Genk Every Day is Saturday. Kemarin kami lupa bahwa hidup kan memang hanya mampir ketawa.

Dan hari ini saya ketawa lagi membaca tagar #RaisaMeetSutopo. Iya Sutopo Purwo Nugroho. Yang pasti sibuknya berkali-kali lipat saat bencana datang. Cieeee…..yang bisa video call sama Raisa. Pada Sutopo lah saya belajar ketawa lagi. Mengabaikan informasi sakit yang tiga minggu lalu diinformasikan teman tadi. Sakit yang sama di tempat yang berbeda.

“Meski kanker paru stadium 4B, saya tetap berusaha melayani media dan masyarakat dengan baik. Untuk rekan penyintas kanker, jangan patah semangat. Tetap sabar, kerja, dan berdoa. Hidup itu bukan panjang-pendeknya usia. Tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain,” tulis Sutopo di Twitter, Selasa (2/10/2018) sambil mention ke Raisa.

Dan di sela kesibukanya memberikan informasi bencana Palu Donggala ia pun sempat ngetweet begini: Masya Allah, saya tidak tahu kalau #RaisaMeetSutopo di medsos sampai trending topic. Raisa adalah inspiratif. Jika bertemu nanti saya malah bisa “Terjebak Nostalgia”. Bisa “Serba Salah”. Malah sampai “Jatuh Hati” & akhirnya menganggap sebagai “Mantan Terindah” haha.. @raisa6690

Tuhkan….. hidup memang bukan panjang pendeknya usia. Tapi bagaimana kita memaknainya dengan sambil tetap bisa tertawa.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *