General

JOG……….YA

Sebelum warung-warung di Yogya dijajah oleh instanisasi teh dan kopi, warungnya wong cilik ini bukan sekedar melepas lapar dan dahaga. Namun juga untuk mampir nglaras, melepas penat, sambi lesehan dan menikmati nasgithel, minuman panas, legi dan kenthel teh tubruk dengan manis dan kepekatan yang ekstrim sehingga perlu dijog (ditambah air) sebagai pelengkap proses relaksasi.

Inilah panggung teater masyarakat Jogya yang mulai kehilangan substansi ke Jawaannya karena mengalami pergeseran nilai ke arah instanisasi, kapitalisasi dan uniformisasi

Benarkan kota ini mulai kehilangan makna “Jog…..ya?”

Pembuka Buku Java, Dance in the Tea karya Prawoto Indarto sangat menarik. Bagi saya, nama Prawoto, jaminan nama untuk sejarah kopi dan teh Indonesia.

Kami kenalan pertama di bawah pohon trembesi, dekat arca gompal di Bentara Budaya Jakarta. Sambil mencecap kopi typica dari Jampit, hasil PTPN 12. Kopi dengan skore 93 tersebut makin nikmat rasanya dengan penjelasan sejarahnya.

Dan ketika jumpa kedua, beliau mengenalkan teh Indonesian yang baru saja menjadi juara teh terbaik dunia versi AVPA Paris 2018, teh organik black tea Bankitwangi. Tersanjung saya tentu saja. Dan pengetahuan saya tentang teh Indonesia ternyata nol besar. Saya benar-benar bawang kosong diantara ahli teh sore itu. Ada owner salah satu label teh terkenal, ada peracik teh yang jagoan, ada pengusaha, asosiasi dan mereka yang bergulat dengan teh selama ini.

Brewing dan cupping sore itu menjadi pelajaran pertama lidah saya tentang rasa dan aroma teh terbaik di Indonesia.

………Tapi kalau kita tidak perbaiki pola konsumsi tata niaga kita, bisa dipastikan kita akan jadi pengimpor teh terbesar di dunia. Ujar mereka bergantian. Sedihnya lagi, kalau di rerata, konsumsi teh kita hanya setengah cangkir perharinya. Setengah cangkir!

Lho kok bisa? Seduhan teh yg harusnya 2 gram utk sekali seduh, seringkali kita jog ulang. Bahkan satu tea bag bisa utk ngeteh seharian. Atau tak jarang sekantong teh di cafe, diseduh untuk 600 ml air panas dan diminum berdua atau bertiga.

Harus kita perbaiki pola ngeteh kita. Ngeteh ini dekat dengan keseharian kita sebetulnya. Dulu. Dulu sekali.

Jadi ingat, dulu kalau ada kondangan atau bertamu ke rumah orang selalu didekokkan teh tubruk yang baru dijerang. Disajikan dengan gelas belimbing. Panasnya bikin kemepyar. Sekarang, pertemuan keluarga, arisan atau reriungan, kita sajikan teh atau mineral water gelasan plastik. Alasannya praktis dan tidak usah cuci gelas. Memang sih. Tapi ini ternyata, mengubah pola konsumsi teh Indonesia. Padahal, teh Indonesia itu, antioksidannya paling bagus diantara teh dari negara lain. Eh aku kok jadi ingat koleksi gelas ibuku yang berdus-dus dan amat sangat jarang dibuka.

Kenapa teh kita tidak bisa seperti Srilanka atau China? Padahal Jawa Barat adalah produsen teh terbesar untuk Indonesia. 78 persen dari sana. Ini mimpi kami, agar Jabar terkenal karena produksi tehnya. Dengan beragam festival teh dan variannya. Dengan anak muda sebagai ujung tombak keriangan membesarkan industri ini. Timpalan uneg-uneg mereka sore itu.

Kopi Indonesia saja booming luar biasa, kenapa teh tidak?

Ah seujung kuku pengetahuan saya tentang teh ternyata mengandung mimpi besar kawan-kawan pecinta teh tadi.

Jadi kapan kamu ajak aku ngeteh bareng? Berdua saja. Biar hangat. Seperti seduhan teh Indonesia.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *