General

Johanes Koto, Penjaga Arboretum yang Setia

“Selamat pagi Bu. Ini saya Johannes Koto yang akan mendampingi tamu besok ke arboretum,” Sebuah pesan masuk,  pagi hari sebelum kami berangkat ke Pekanbaru,  dari Pak Johanes. Saya senang.  Sudah cukup lama tidak masuk ke  arboretum.  Terakhir mungkin 4 tahun lalu mengantarkan Profesor Miyawaki,  bapak pohon dari Jepang pada tahun 2014 lalu.

Miyawaki adalah akademisi sejati.  Di usianya yang 86 tahun,  ia semangat jumpa pohon di berbagai dunia.  Selama di perjalanan mungkin laiknya opa-opa senior,  tampak mengantuk.  Tetapi begitu ketemu anak-anak kecil,  dengan senang hati ia mengajari untuk menanam pohon.  Anak-anak di Perawang,  yang belum bisa bahasa Inggris atau Jepang.  Tetapi ini tak menyurutkan komunikasi diantara mereka.  Anak-anak menirukan yang diajarkan Miyawaki San.

Itu belum seberapa,  dalam perjalanan pulang kami melintas arboretum.  Profesor minta berhenti.  Lalu bergegas turun dari mobil dan masuk ke  kawasan tanaman yang lebih gelap. Tanah tertutup daun-daun, jadi kalau keinjak melesak ke bawah. Miyawaki mendadak muda. Pohon-pohon yang menghalangi wajah diusirnya.  Jalan yang tertutup daun kering dan licin dilaluinya begitu saja. Ia menghampiri tanaman satu persatu, layaknya ketemu teman lama. Mengamati dan bercerita panjang. Ia memperhatikan pohon dengan detailnya. Di dalam hutan edukasi  itu, ia tak peduli serangga mendekatinya. Aku takjub.  Miyawaki yang mendadak bukan lagi opa-opa.

Aku bukan ingin cerita Miyawaki.  Tetapi arboretum. Hutan mini tempat segala ada.  Tempat semua orang bisa datang mempelajari apa saja. Dari TK hingga mahasiswa banyak S nya.

Secara etimologi, Arboretum berasal dari bahasa Latin, arbor berarti pohon, dan retum berarti tempat. Kata Arboretum juga telah resmi diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Pengertian Arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan.j

Saya mengenal arboretum sekitar tahun 2007-2008,  10 tahun setelah arboretum di Dinar Mas Forestry (SMF) ini  tertata dan mulai merapikan koleksi tanaman langkanya.  Ratusan hektar kawasan yang diperuntukkan bagi tanaman-tanaman langka dan uji coba bibit-bibit baru. Salah satu upaya memenuhi  kelestarian fungsi ekologi tersebut, SMF menyediakan lahan seluas rarusan di Siak, Riau sebagai kawasan konservasi berupa hutan lindung.

Fungsi pokok hutan lindung adalah sebagai sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah. Dampaknya, keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya akan dapat terjaga.

Kemarin kesempatan saya kembali mendatangi arboretum dan diantar Pak Johanes,  pria Minang yang jago berhitung dan bahasa Inggris.  Tak langsung kami dibawa menjumpai tanaman langka.  Tetapi diajak becanda dengan Nando,  satu-satunya gajah jantan di kawasan ini.  Nando sedang main agak jauh saat kami datang.  Siulan mahotnya memanggil ia pulang.  10 menit kemudian Nando datang.  Ia menekuk dia kaki depan dan mengibas-ibaskan telinganya. ” Selamat datang.  Itu yang Nando ingin bilang,” ujar mahotnya.  Kami bersorak.

Usai membelai Belali Nando,  kami di ajak berjalanan kaki beberapa puluh meter ke tempat pembibitan tanaman-tanaman langka yang coba dibudidayakan.  Nyamuk belum terlalu ganas menyerang.

“Sini maju.  Saya ingin tunjukkan tanaman yang dilindungi,” teriak Pak Jo dari jarak 2-3 meter. Menyibak rantung-ranting menghalangi langkah,  kami mendekat. “Ini meranti,  salah satu jenis yang dilindungi,” ujar Pak Jo.  Dia menjelaskan beda alur di batang meranti dibandingkan pohon-pohon lain.

Masuk makin dalam ke arboretum,  makin gelap.  Matahari terhalang pohon-pohon yang mulai rindang. Langkah kami kami juga harus hati-hati,  timbunan pohon kering di bawah kaki kami makin tinggi.  Itu artinya kaki kami bisa melesak ke dalam.  Bebatuan juga makin licin berlumut.

Johanes Koto sibuk menerangkan berbagai jenis tanaman di arboretum.  Ia mengenal baik dari persatu,  layaknya tetangga satu kompleks yang ia akrabi.  Keringat kami mengucur. Dan tangan panas digigit nyamuk.

“I love this smell and also the air.  It’s really fresh,” Jennifer yang jalan bersama kami berkali-kali menghela nafas panjang menikmati udara hitam kecil ini. Bau daun dan tanah ia nikmati betul.

Kami keluar dari arboretum ke jalan setapak yang ada. “Look!  Giant ant!” teriak Ian. Sya yang berjalan di depannya berputar balik dan ingin memotret semut segera jari tangan tersebut.  Tapi saya cari-cari di tanah dan tidak ketemu.

“Itu trap untuk harimau,” ujar Pak Jo. Bertahun-tahun lalu.  Dan kini,  Putri,  harimau yang ditemukan itu sudah ada di Taman Safari.

Kami juga menemukan beberapa genangan air yang cukup besar. Mirip embung jadinya. “Gajah senang bermain dan mandi di situ,” ujar Pak Jo.

Ribuan langkah dan keringat yang deras mengucur diam-diam meledakkan bahagia kami. Hutan kecil ini ada memang untuk dikunjungi.  Kami saja belajar banyak,  apalagi anak-anak.  Saya yakin,  arboretum ini akan meliarkan imaji mereka tentang tanaman dan satwa. Dibangun sejak  tahun 1998 di wilayah Desa Mandi Angin, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau,  kini makin banyak yang bisa kita pelajari.

Ke arboretum pastikan jumpa Pak Jo.  Biar lengkap cerita masing-masing pohonnya.  Seminggu sekali,  pasti ia ke sini.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *