Skill

Just Speak Up Your Mind

Ada satu malam dalam seminggu yang kami tunggu-tunggu. Kami sejumlah perempuan dari berbagai kota berdiskusi efektif tentang relasi dengan pasangan.

Benarkah memendam perasaan itu jadi bibit penyakit?

Kebanyakan kita akan mengatakan iya. Meski kita tak sepenuhnya menyadari bahwa dalam kesehariaan kita lebih banyak memendam perasaan karena merasa tidak enak, pekewuh, takut menyinggung, takut menimbulkan kemarahan kalau kita menyampaikan pendapat kita.

“Teman saya dijodohkan orang tuanya. Seumur hidup dia belum pernah merasakan dipegang tangannya dan dipeluk oleh suaminya,” ujar seorang anggota. “Tapi anaknya tiga,” lanjutnya. Kami terhenyak. Bagaimana mungkin untuk perhatian kecil itu saja dia tidak mendapatkan, tetapi bisa beranak 3? Tidakkah terbersit untuk bilang: ”Mas, peluk aku dong,” dengan intonasi manja dan mata sayu? Dan saya yakin, ini tidak hanya terjadi dengan satu dua perempuan.

Teman lain menyampaikan kisahnya,”Saya capek jadi istri karena tidak pernah dihargai. Padahal  kita sudah berkorban banyak.” Pernyataan-pernyataan ini menguatkan asumsi kami, bahwa banyak perempuan memilih diam, demi kelihatan mesra. Demi menjaga  harmoni. Demi nama baik. Demi apapunlah. Asal kelihatan seperti keluarga bahagia.

Dan demi yang beranak pinak tadi, langsung atau tidak pasti ada ruang hampa dalam diri kita. Letto bilang, lubang di hati.

 

Ku buka mata dan ku lihat dunia

Tlah kuterima anugerah cintanya

Tak pernah aku menyesali yang kupunya

Tak pernagh kusadari ada lubang di dalam hati

 

Kucari sesuatu yang mampu untuk mengisi lubang ini

Ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati.

 

Apakah itu kamu apakah itu dia

Selama ini kucari tanpa henti

Apakah itu cinta apakah itu cita

Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati.

 

Dan kita, tak pernah sadar, ketika lobang di hati sudah dimulai, ia akan membesar seiring dengan diam yang kita pendam. Dan tak sadar, bahwa ini melemahkan kita.

Kenapa tidak  berani mengungkapkan apapun kepada pasangan? Mungkin ada cara berpikir yang beda antara laki-laki dengan perempuan. Laki-laki dengan logikanya dan kita dengan perasaan. “Kadang kita pikir, tanpa harus mengungkapkan dia bisa tahu dan mengerti apa yang kita mau. Karena saya selalu berpikir dia bisa seperti saya. Tanpa harus  dia katakan apa maunya saya bisa tahu.  Tapi ternyata saya salah,” ujar seorang peserta diskusi. Dan mungkin ada banyak yang tetap diam meski  dalam keseharian tak pernah sekalipun dikasih uang bulanan oleh suami.

Mengungkapkan gagasan atau perasaan sangat perlu.  Supaya orang lain tahu jelas apa yang kita inginkan dan bagaimana kita ingin diperlakukan oleh pasangan. Kita bisa memulainya dengan cara apapun. Meredakan marah dulu, cooling down dan baru memulai cakap dengan WA. Atau obrolan ringan sebelum tidur. Percayalah, pernyataan kita akan dihargai pasangan. Meski awalnya reaksinya hanya diam. Tetapi paling tidak, ia tahu uneg-uneg kita. Lama-kelamaan pasti ada  reaksi positif.

So ladies, just speak up your mind. Dan jangan biarkan penyakit mendatangimu karena ada lubang di hatimu. Dan ini salah satu seni berkomunikasi.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *