Skill

Kisah Juru Bicara

Kamera liputan wartawan sudah tegak di pojokkan. Seorang  berdiri siap mengoperasikan. Satu penanya  memainkan gawainya. Isinya  daftar pertanyaan. Tadinya kami mengabaikan saja  peralatan tersebut.  Mungkin hanya untuk membuat dokumentasi kegiatan. Keberadaannya pun tak mengganggu hilir mudik kami. Dia diam di pojokan. Ini kelas lain dari yang lain.

“Bagaimana tanggup jawab  perusahaan dengan kejadian ini?”  pertanyaan pertama dilontarkan.

“Hemmmm….. Kami menempatkan kepentingan dan keselamatan masyarakat  menjadi prioritas…..bla…..bla..bla….,” seorang menjawab. Pertanyaan kedua, ketika hingga selanjutnya, badan mulai gelisah.  Mata entah melihat kemana saja. Tangan tak berhenti bergerak. Badan kadang miring kiri dan kanan. Suara aaaa…..eee…..ehmmmmm…. mulai sering terdengar.  Berkeringat pastinya.

Kami  semua mendapat giliran untuk ditanya. Dan ekspresi kami berbeda-beda. Dari yang tadinya sangat percaya diri, lalu tiba-tiba suara melemah di akhir wawancara. Di sesi kedua, dengan posisi wawancara duduk di atas kursi, makin menjadi goyang badannya. Krengket bunyi kursi pun kadang mewarnai suasana. Fuuhhhhhffffff…..akhirnya selesai juga sesi tanya jawab ini. Bolehlah lap keringat dulu.

Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan  kepada  kami tadi adalah latihan. Tetapi evaluasinya sungguhan. Sebagai juru bicara, koreksi seperti  ini sangat diperlukan. Meski kita kadang sungkan mengadakan pelatihan untuk VIP atau VVIP di kantor kita. Padahal, apapun levelnya, ketika seseorang menjadi perantara pesan  kepada stakeholder, hal-hal seperti ini wajib dilakukan. Pesertanya VIP di tempat kerja dari berbagai bagian. Terutama mereka yang sering bertemu dengan wartawan dan harus memberikan jawaban.

Tidak mudah ternyata menjadi juru bicara. Bukan hanya penguasaan materi yang diperlukan. Ketegasan, intonasi, mata dan bahasa tubuh menyumbang peranan yang sangat penting agar pesan yang kita sampaikan tidak disalahartikan. “Wah….berkeringat juga ya. Meski kita sudah biasa menghadapi media,” ujar seorang VIP.

Usai break, diputarlah semua video wawancara tadi satu persatu. Diminta untuk menyampaikan perasaannya dan apa yang dipikirkan. Dievaluasi dari mata, bahu, tangan, kaki, bibir dan kata-kata kami. Dyarrrrrrrr……. Perlu kebesaran hati untuk menerima kritik dan masukan. Toh semuanya demi perbaikan. Orang lain mungkin lebih tepat menilai kekurangan kita yang tak kita sadari karena bahasa tubuh tadi sudah melekat pada kebiasaan kita sekian waktu.

Untunglah, suasana belajar menyenangkan. Kritik dan masukan kita terima dengan hati dan pikiran terbuka. Rasanya justru sesi seperti ini perlu diulang secara rutin, supaya kita tahu progresnya.

Kapan kamu mau latihan bareng aku? Iya……kamu…….

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *