General

Konyal, Markisa Hutan yang Manis

Ini tentang konyal.  Kenalkah kamu apa itu konyal? Saya baru tahu namanya beberapa waktu lalu.  Meski mungkin dulu sudah pernah mencicipi rasanya.

Konyal disebut juga markisa hutan. Di Jawa Barat markisa hutan ini biasa disebut dengan konyal.  Tepatnya saya mengenal nama ini dari mbak Dewi,  begitu saya memanggilnya di WA.  Belum pernah sekalipun bertemu.  Mbak Dewi ini membantu pemasaran dan memfasilitasi pemesanan buah sayur organik dari  Sarongge.

Inilah hebatnya sosial media.  Dari Sarongge yang belum pernah saya datangi,  saya sudah merasakan buah sayur organik yang mereka kelola. Harganya murah.  Buah dan sayurnya segar.  Bisa membeli paket sayuran dengan ukuran kecil,  sedang dan besar.  Atau bisa membeli perkilo dari masing-masing jenisnya.  Brokoli,  ubi,  terong,  sawi putih,  buncis,  jagung,  tomat, daun bawang,  termasuk konyal. Tiap Senin,  Mbak Dewi akan menawarkan melalui WA jenis buah dan sayur yang tersedia. Dan kita bisa membeli sebanyak yang kita mau jika persediaan cukup banyak.

Tadinya saya ragu untuk membeli konyal,  karena asing dengan nama ini. “Masyarakat di sini biasa menyebutnya konyal.  Ini markisa hutan mbak.  Manis rasanya,” begitu ia menjelaskan. Saya membeli sekilo.  Dan habis sebelum sampai rumah.  Hahahahhahah……. Akhirnya ketagihan.  Saya selalu bertanya,  apakah ada konyal dalam pengiriman berikutnya.

Antara markisa dan delima kita sering rancu.  Sama berbentuk biji-bijian dan kadang menemukan rasa yang asam.  Ingatan rasa kita akan buah ini dipertegas dengan sirup markisa yang sering jadi oleh-oleh.  Rasanya……hemmmmmmm…….nyutttttt sampai kepala asamnya. Mengenal konyal memudahkan saya membedakan delima dan markisa.  Sederhana,  tapi entah kenapa berguna buat saya.

Mungkin di daerah lain,  konyal ini punya penyebutan berbeda. Di daerahmu disebut apa?

Nah…..ternyata  konyal juga saya temui di perjalanan menuju Toba kemarin.  Sebetulnya di daerah Berastagi ini yang terkenal adalah jeruknya.  sampai ada tugu jeruk di pertigaan jalan.  Jeruknya kuning menggoda selera.  Rasanya segar,  sedikit ada asamnya.  Buat banyak orang jeruk seperti ini yang banyak dicari.  Tetapi saya penggemar jeruk manis.  Makan jeruk yang tak pakai meringis karena asam.  Nah di tempat ini hanya dua yang dijual,  jeruk dan konyal. “Markisa saja ini disebut kak,”ujar penjualnya. Kami membeli dua kilo.  Dan markisa Sarongan dengan di Sumatra Utara sama rasanya.  Manis.

” Ini apanya yang dimakan?” Tanya Cynthia,  teman perjalanan kami.  “Bijinya dibuang,  kulitnya yang dimakan,” Jawab kami mencandai. Konyal tentu saja yang dimakan bijinya.  Bukan disesap lalu dibuang.  Tekan dengan dua tangan  sampai buahnya terbelah jadi dua. Lebih enak diambil dengan sendok,  daripada langsung disorongkan ke mulut.  Tapi di perjalanan mana ada kami bawa sendok.  Jadilah abis dibelah,  biji konyal masuk ke mulut begitu saja.

Buah ini nampak indah bila berwarna kuning cerah.  Tetapi jangan salah,  yang berwarna hijaukan sama rasanya. Sekali coba,  pasti suka. Harganyapun terjangkau.  Rp24. 000 di Sarongge dan sudah diantar sampai rumah.  Di perjalanan menuju Toba Rp25. 000 perkilonya.

Di balik rasa manisnya,  banyak manfaatnya ternyata.  Vitamin C jelas. Meredakan nyeri di persendian, mencegah peradangan, mencegah dehidrasi, mengatasi asam urat, meningkatkan ketajaman penglihatan, menjaga kesehatan jantung,  mengontrol kadar kolesterol dlm darah, menstabilkan tekanan darah, mencegah kanker,  meningkatkan imunitas, menyehatkan pencernaan dan mengontrol tekanan darah.

Ini cerita tentang konyal,  si buah lokal. Sudah banyak manfaat disebutkan.  Ingat dia mengandung vitamin C,  modal untuk menCintai.  Yekannnnnnn

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *