Skill

Kopi Persahabatan

Secangkir kopi pahit tadi sore ditemani tempe kriuk. Satu bungkus kopi diberikan Pak Lukas Christian untuk Mbak Fransisca Ria Susanti. Juria Flores tertulis di bungkusnya. Melirik tulisan Flores, aku yakin ini pasti kopi enak. Lidahku baru mengenal Yellow Caturra, Bajawa dan Manggarai. Dan itu semua juara rasanya.

Karena Juria Flores masih asing bagiku, justru inilah yang membuka obrolan kami tadi. “Saya sudah membagikan kopi persahabatan kepada 4700 orang. 3000 diantaranya saya punya tanda terimanya,” ujar Pak Lukas. Bungkus kecil kopi beragam jenis itulah yang jadi kartu namanya selama dua tahun terakhir ini.

Bagi Lukas, dari kopi ia belajar bagaimana orang menerima kabar. “Reaksi orang beragam ketika saya tawari seduhan kopi murni. Tanpa gula dan susu. Kita tidak pernah bisa memaksakan orang untuk menyukai kopi pahit,” jelasnya. Karena reaksi yang beragamlah obrolan akan mengalir. Ketika kata sapa terucap, ia yakin persahabatan baru pasti dimulai.

Diplomasi kopi menurutnya pembuka pertemanan yang demokratis. Orang bisa tidak suka, mempercayai mitos kopi, ataupun menikmati kopi hitam tanpa pemanis, tetapi tetap bisa terus berbicara. Barangkali benar, Tuhan menciptakan kopi supaya kita semua bisa berteman.

Membuat bungkus kopi sebagai kartu nama, ia punya misi mengenalkan kopi negeri ini kepada banyak orang. Kopi Indonesia itu juara dan ia ingin masyarakat memberikan apresiasinya. Kepada petani utamanya.

Dengan menikmati kopi, kita belajar tentang berbagai rasa, dan saya ingin makin banyak kopi petani yang terbeli karenanya. Ujar Lukas. Saya jadi ingat yang disampaikan Pak Budiman Tanuredjo pada waktu Festival Kopi Flores di Bentara Budaya Jakarta beberapa waktu lalu. Kopi, menurut Pemimpin Redaksi Harian KOMPAS ini merupakan salah satu cara untuk mengenal nusantara. Dan hari ini saya mengenal Juria.

Ada yang menarik dalam bungkus Kopi Persahabatan. Tertulis begini – Kabar baik nomor dua: ada kopi gratis di Gerakan kopi Persahabatan. Beritakan ke seluruh dunia, kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. “Pasti orang akan bertanya lalu apa kabar baik pertamanya? Dari situ saja sudah terjadi komunikasi,” ujar Lukas.

Menurut saya, Gerakan Kopi Persahabatan saja sudah ide cerdas. Dan Lukas menambahkan kata-kata yang pasti membuat orang membuka tanya. Bertanya seakan hal sederhana. Tetapi ini adalah ketrampilan menghadirkan narasi. Karena tidak setiap kita fasih untuk bertanya.

Kopi Persahabatan ini cara menarik untuk mewartakan #IndonesiaBicaraBaik. Kampanye kebaikan yang diusung Pak Agung Laksamana. Yuk pak Agung, kita jadwalkan ngopi dengan Pak Lukas.

Masih dari sampul bungkus kopi, Lukas juga menambahkan tujuan gerakannya. Ia ingin memperkenalkan kopi Indonesia, meningkatkan konsumsi perkapita kopi Indonesia, membantu pemasaran produk petani kopi, meningkatkan kualitas kopi petani dan ajang silaturahmi. Saya jadi teringat kopi Humbang Hasundutan. Teringat Ibu Dumasi M M Samosir. Kopi Persahabatan ini sangat menarik Bu, untuk mengenalkan kopi Humbang lebih luas lagi.

Sore tadi Pak Lukas tidak hanya mengajarkan tentang diplomasi kopi, tapi saya juga belajar banyak tentang branding diri sendiri, tentang kePRan, tentang marketing dan banyak lagi. Secangkir kopi sore tadi bisa tak terbeli saat hangatnya menyuguhkan persahabatan dan persaudaraan. Dan saya merasakan itu.

Kenapa sih kasih kopi gratis? Menurutnya, gratis itu tergantung yang memberi dan bukan yang meminta. Dan kita tidak pernah bisa memaksa orang untuk memberi kepada kita kalau yang bersangkutan tidak ingin memberikannya.

Kedua, bungkus kopinya mungkin murah harganya. Tetapi ia yakin tidak murahan. “Oksigen itu bisa gratis dan banyak tersedia. Murah dan bahkan gratis. Tetapi di RS, ia menjadi mahal,” jelasnya.

Ketiga, ada pengorbanan dari setiap pemberian. Ia percaya dengan ungkapan there is no free lunch. Mungkin free untuk kita yang ditraktir makan. Tetapi yang menraktir kita tentu akan membayar bagian kita. Ada pengorbanan di sana,” ujar Lukas memberikan analoginya.

Apakah ia diuntungkan dengan membagikan ribuan kopi gratis ini? Yang diuntungkan adalah petani. Dengan doa mudah-mudahan makin banyak kopi petani yang terbeli.

Dan benarlah kata-kata ini: kopi tak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya. Karna dihadapan kopi kita semua sama.

Sore bersama secangkir kopi dan tempe kriuk tadi rasanya pas seperti hidup ini. Sederhana. Tetapi tetap harus kriuk. Dan secangkir kopi menggenapi.

 

Facebook Comments

1 thought on “Kopi Persahabatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *