General

Life at Sinar Mas

Namanya Yan Partawidjaja. Yan kependekatan dari Agustian tepatnya. Sejak saya SD (kira-kira sekian kali ganti presiden yang lalu), pembaca berita ini selalu menarik perhatian saya. Suaranya mencuri telinga saya. Khas. Bahkan hingga saat ini. Tidak berubah. Suara emas yang selalu diburu teman-teman kreatif dan produksi untuk mengisi suara video yang digarap oleh Ferdian Harry Setiono. Lebih sering diminta menjadi MC dan moderator. Dan sekarang bertambah: pembaca doa. Entah kenapa kami suka sekali mendengarkan Pak Yan membaca doa. Tidak lebay, tidak berlebihan, tetapi menyentuh hati.

Usianya sudah diangka 60 an saat ini. Tapi bila foto dari muda sampai saat ini dijejer, tak banyak perubahannya. Kecuali kacamata segede gaban di saat muda dan baca berita dulu sudah berganti model dan stylis.

Tanpa melihat wajah, mendengar suara Pak Yan, memori kita akan terpanggil ke masa lalu, zaman TVRI. Setelah melihat wajah, kita diingatkan, tak banyak yang berubah dari penampilan beliau.

Oh ya, Pak Yan suka dengan warna baju menyala. Kuning terang, merah, biru, hijau, apapunlah, koleksinya selalu ngejreng. Penampilannya selalu mahal. Baju apapun yang dipakai, rasanya orang akan mengatakan keluaran butik terkenal. Padahal, tidak pasti selalu begitu.

Masuk ke Sinar Mas di periode 2006-2007, sama sekali saya tak menyentuh kegiatan yang berhubungan dengan wartawan. Good Coorporate Governance (GCG) yang pertama kali ditugaskan ke saya. Padahal sumpah, saya tidak tahu mahluk apa ini. Belajar kiri kanan hingga koprol untuk tahu GCG. Bahkan sampai belajar ke Ibu Khomsiyah Ghozali. Beliau mengajarkan dari yang sederhana hingga advance. Keliling pabrik lalu sosialisasi. Hingga ada program ethic call centre.

Mungkin empat tahunan saya support Pak Yan. Membuat kegiatan, menyiapkan segala sesuatunya hingga siap tampil. Pernah dimarahi? Rasanya tidak. Paling banter hanya akan keluar kata-kata….hheeemmmmm….kok bisa gitu ya Em. Ujarnya dengan mata tak bercahaya. Buat saya, mendengar kata ini, artinya beliau sedang marah. Entah saking sensitifnya saya atau karena saking tidak pernah marahnya Pak Yan.

Pak Yan juga dengan suka hati mendengarkan curhatan kami. Terutama curhatan Bu Anie Indrawati. Suara khasnya juga sering kami dengar saat menyanyi. Tak hanya di acara, bahkan kadang mampir ke rumah makan yang ada organ tunggal dan mike pun, akan urun suara.

Awet mudanya mungkin juga didapat dari tari chacha dan line dance yang digemarinya. Atau mungkin pula dari puasa rutinnya. Senin kamis dan puasa sunnah lainnya. Tak pernah putus sepanjang 12-13 tahun saya di Sinar Mas. Di sepanjang usianya juga tak ada pantang makanan. Meski sekarang harus lebih dijaga.

Ah satu lagi, diantara riwehnya mengatur jadwal dengan belasan jabatan yang ada, masalah yang silih datang berganti, Pak Yan selalu tertawa. Bukan sekedar senyum. Tetapi tertawa lebar dan terbahak-bahak. Entah kenapa, ini ampuh menyelesaikan masalah yang ada. Entah selesai, entah terhibur dengan tawa meledaknya. Dia adalah pencipta segarnya suasana. Dalam kesempatan apapun.

Dari keluarga ningrat Sunda, berjodoh dengan putri Solo. Putri kraton, Ibu Uma panggilannya. Ibu Uma putri dari Gusti Nurul yang kecantikannya sangat terkenal. Gusti Nurul ini bak Marilyn Monroenya Indonesia. Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngarasati Koesoemawardani, nama lengkapnya. Menggetarkan hati Soekarno, Syahrir bahkan HB IX pada masanya. Kembang mangkunegaran ini berpulang pada tahun 2015 . Kecantikan Gusti Nurul juga terlihat di wajah Ibu Uma.

Senang mengenal Pak Yan. Dari idola menjadi atasan hingga teman diskusi yang menyenangkan. Kalau ada idola-idolaan tahun 80 an, nama Pak Yan pasti akan masuk di dalamnya.

Pada senior seperti Pak Yan saya belajar, tertawa kadang menyelesaikan masalah, tanpa perlu perang kata-kata.

#lifeatsinarmas.
#80ThnSinarMas
#TumbuhBersama

Facebook Comments

1 thought on “Life at Sinar Mas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *