General

Mahot oh Mahot

Berjam-jam perjalanan daratan dari Pekanbaru ke Perawang kali ini istimewa. Mengunjungi mahot. Saya sempat salah sebut marbot. Tentu artinya lain sekali. Satu di masjid atau mushola dan satu lagi di hutan menjaga gajah.

“Mbak, bukan marbot. Kami ini mahot. Menjaga gajah-gajah di sini,” Tertawalah kami. Salah memang kadang hanya untuk ditertawakan saja. Dan menambah keakraban kami.

Istilah ini sebetulnya asing di telinga saya. Meski harusnya saya karib dengan pawang gajah. Baik gajah keraton Yogya yang sering diajak pawai atau gajah di Bonbin Gembira Loka, yang hanya 2 menit dari rumah ibu di Yogya.

Gajah ini selalu membuat ingatan lekat buat saya atu pun anak-anak kecil lainnya. Badan besarnya pasti terpatri jelas dalam memori kanak-kanak. Lebih-lebih ada lagunya, plus dengan gerakannya. Dalam bahasa Jawa pun ada juga. Binatang yang selalu menakjubkan bagi mata kecil kami dulu.

Katanya binatang ini peka. Dengan hati baik atau buruk seseorang. Apapun itu ini binatang lucu buat saya, yang memori masa kecilnya dipenuhi dengan warna pinky dari Bona, gajah kecil berbelalai panjang dari majalah Bobo dulu.

Pawang jagah disebut mahot di Pekanbaru, tepatnya di Perawang. Mahot atau mahout, adalah orang yang merawat atau mengemudi gajah. Kata mahout berasal dari bahasa Hindi, mahaut dan mahavapp.

Ada mahot untuk menjaga Nando (26 tahun), Ivo Duarte (29 tahun), Libowati (29 tahun), Malinna (26 tahun), Bonita (11 tahun dan Bubu yang sama usianya. Nama-nama indah ini nama gajah. Namamu kalah bagus dengan nama gajah-gajah ini? Gosah cemburu.

Nando diasuh oleh Rusli, Ivo bersama Tukari, Libowati manja dengan Adianto, Malinna kesayangannya Janet dan dua yang kecil diasuh Marahakim dan Marasagu.

Hanya Nando yang jadi pejantan tangguh di sini. Dikelilingi bidadari-bidadarinya.

Ini menyenangkan buat saya ketemu mereka lagi, mahot andalan di sini. Wajah-wajah yang saya akrabi. Masing-masing mahot punya panggilan khas buat gajah asuhannya. Bahasa yang hanya mereka mengerti berdua. Sejauh apapun gajahnya bermain, panggilan mahot akan membawanya pulang, sesuai dengan nama masing-masing.

Dari kejauhan aku lihat Bonita. Masih khas dengan kegenitannya. Bermain sendiri di padang luas, tak jauh dari arboretum, tempat penelitian dan edukasi tentang hutan. Dari jauh, Bonita tampak kecil saja. Tetapi aku yakin, badannya kini jauh lebih besar dan hitam dari terakhir kami bertemu, 3 tahun lalu. Anak kecil ini cuek saja dipanggil mahotnya. Mungkin waktu bermainnya belum habis. Nando yang jauh ke tempat pohon yang lebih tinggi, kurang dari 10 menit sudah di depan kami.

Kaki depan Nando ditekuk dua-duanya ke depan. Mirip gaya bersimpuh. Ahaiiiiii…. Aku tahu, dia mengucapkan selamat datang. Biasanya kami hadiahi dia dengan batang tebu pilihan. Tapi siang tadi kami lupa menyiapkan. Nando tetap ramah tanpa tebu. Ia menggerak2an telinganya. Dan belalainya menjulur-jukur ke arah kami, minta didekati. Ia senang belalainya dielus. Nando juga ramah. Kami asyik foto dan dia mengubah-ubah pose dan miliknya. Saat pamitan pun, Nando kembali bersimpuh. “arigatou… ” Kata pawangnya. Mungkin sangking banyaknya tamu Jepang yang mengunjungi keluarga Nando, jadi ia pun nurut ketika mahotnya bilang arigatou.

Pembuka pagi yang menyenangkan di Perawang sebelum masuk ke arboretum, hutan mini untuk belajar. Gelapnya arboretum, membuat kami berjibaku dengan nyamuk. Kami melihat berbagain koleksi langka di sini, pohon-pohon besar yang dilindungi.

Meski sejenak, rasanya seperti membaca berlembar-lembar buku yang berguna. Terima kasih Nando untuk kata-kata yang berlonjatan di udara dalam interaksi kita.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *