General

Mbrambangi di Para Games 2018

Sejak pagi sudah di GBK. Antri beberapa tiket yang sudah habis di online. Baru memasang gelang, seorang gadis tiba-tiba memeluk. Aku cuma senyum. Dua langkah berjalan, ada anak yang minta gelang tiketku untuk pasang di tangannya. Disangkanya aku ibunya, yang memang hanya berdiri 20 senti dari tempatku. Berlari beberapa anak berkebutuhan khusus dengan gembiranya. Gembira karena hari ini mereka sekolah di luar ruang.

Semua adegan tadi hanya dalam hitungan menit, di depan gerbang 5 GBK. Tahan…tahan….tahan………jangan sampai air matamu tumpah pada langkah-langkah pertama. Saya menasihati diriku sendiri. Berhasil…..meski mbrambangi.

Hari ini sengaja banget ke #paragames2018 setelah weekend lalu kehabisan tiket dan Sabtu nanti sangat sedikit pertandingan yang masih berlangsung. Harus banget pergi.

Saya off dari kantor dan Benaeng Taruwara cuti sehari dari sekolah. Kami sempat berdebat apa alasan ke gurunya nanti. Dan disepakati bilang aja kita senang-senang di GBK. Bhumy mengiyakan, meski cemberut.

Wheelchair basketball yang pertama kami tuju. Indonesia versus Malaysia. Sejak Indonesia Raya bergema hingga bola pertama dilemparkan, mata sudah basah. Satu persatu mengamati tubuh mereka. “Eh, pemain Indonesia yang itu kalau kakinya lengkap, pasti tinggi ya dia,” ujarku ke Bhumy. Satu pemain jatuh dari kursinya, kami yang was-was. Lalu bangkit sendiri dia. Bola-bola masuk ke jaring Indonesia. Tertinggal jauh angkanya. Buatku, masa bodo dengan angka.

Melihat mereka memacu kursinya, menyalip satu dengan yang lain, menghadang dan ngeblok pemain lawan, bagai lihat barisan penari. Penari yang melaju dengan kursi rodanya. Kadang melesat bagai terbang, lalu berhenti menghadang lawang.

Kursi roda mereka kadang bergesekan. Sesekali pemain terjatuh dari kursi rodanya. Kalau masih bisa bangkit sendiri, dia akan segera melakukannya. Kalau tidak, dia akan terdiam sampai ada pemain lain yang menyorongkan kursi roda untuk tumpuan bangkit lagi. Mereka tak peduli pemain kawan atau lawan, akan melakukan hal yang sama, menyorongkan kursi roda dan tangannya agar yang terjatuh bisa duduk kembali di kursinya. Kami riuh bertepuk tangan menyemangati dan menghormati moment ini. Ini entah tisu keberapa yang basah. Ini yang buat saya pribadi, angka tak jadi masalah. Ada pelajaran besar di sini, siapapun yang jatuh jangan dibiarkan sendiri. Apalagi diinjak dan dicibir.

Para inspirasi ini guru saya dan Bhumy siang ini. Kalah menang hanya soal angka. Tetapi karakter dan pekerti yang mereka tunjukkan sangat nyata. Ada persaingan, ada kompetisi, ada fairness, tetapi ada rasa setia kawan.

Bhumy memang izin untuk mbolos hari ini, tetapi saya yakin dia belajar banyak soal rasa juga ability. Dan ini akan menjadi kekayaannya nanti.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *