General, Networking, Skill

Mengenal Tehnik Kain Tie Dye Humbang Shibori

Melihat peragawati melenggak-lenggok di catwalk pasti membius kita. Entah karena ilusi badannya yang “sempurna”, langkahnya yang indah dilihat, matanya tajam menatap ke depan. Melayang langkahnya, seringan pakaian yang dikenakannya. Saya selalu menyimpan kenangan indah ini dalam memori saya.

Yang indah akan selalu indah. Dan saya seringkali membeli sesuatu karena cerita di belakangnya. Entah selembar kain, sepotong lukisan, atau sebentuk kopi. Batik Imogiri yang jadi cinta saya karena sepanjang memilih dan melihat-lihat batik di sana mendengarkan tuturan pebatik tua. Jatuh cinta dengan dompet dan tas karena tahu usaha itu didedikasikan untuk komunitas tertentu. Saya suka memiliki barang dengan cerita. Karena di situlah ikatan emosinya.

Pun sejak beberapa tahun ini suka dengan kain Shibori dari Humbang Hasundutan, biasa disebut Humbang Shibori. Shibori mungkin bisa ditemukan di mana saja. Sama dengan jumputan yang ada di berbagai daerah di Nusantara ini.

Yang menarik dari Humbang Shibori ini adalah ceritanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana pedihnya hati Ibu Dumasi Samosir ketika melatih 20 perempuan di daerah tersebut dan hanya satu yang menekuninya. Pasti ada perasaan gagal. Tetapi entah, niatan seperti apa yang membuatnya tetap mendampingi satu orang tersebut, dari tertatih hingga terbang tinggi dengan karyanya.

Fitri namanya. Ia belajar membuat Shibori dari berbagai kembang, bunga, daun, akar atau buah dan bahan pewarna alam lainnya. Fitri menekuni tehnik ikat, lipat dan jelujur tersebut.

Konsep eco fashion diterapkan dalam tehnik tie dye (ikat celup) ini. Mulai dari pemilihan bahan hingga proses produksi bahkan ke pengolahan limbahnya. Kain yang digunakan berbahan dasar katun, chiffon dan sutera. Pewarna alam yang digunakan dari bahan-bahan yang tidak dimanfaatkan kembali. Dan limbah dari pewarna alam ini digunakan sebagai pupuk.

Dari awalnya selembar kain lalu berkembang bentuk menjadi kalung, baju, jas, dress, kipas tas dan asesoris. Kegiatan CSR dari Asuransi Sinar Mas (ASM) ini bekerja sama dengan banyak pihak. Dari pemerintah daerah setempat, perancang busana terkenal, OJK dan Kementrian Pariwisata untuk turut mengembangkan Kawasan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 besar destinasi wisata di Indonesia.

Serving with heart, begitulah komitmen ASM. Dan itu pula yang terus dilakukan untuk mendampingi Fitri dan perempuan lain yang kini semakin banyak jumlahnya.

Terakhir saya melihat kain Humbang Shibori ini di Jakarta Fashion Week. Melenggang dengan cantiknya. Bahkan sudah bekerja sama dengan Batik Alleira dan melahirkan Humbang Batiq. Kain yang indah. dengan batikan-batikan motif kuno di dalamnya.

Cerita dan sentuhan seperti ini yang membuat jatuh cinta. Menyentuh kain Humbang Shibori dalam berbagai wujudnya, seperti mendapatkan energi dari Fitri dan teman-temannya. Energi tak putus asa, energi mau bersusah payah. Yang utama saya mendapatkan energi kehidupan. Hidup yang menghidupi.

#Humbang
#HumbangShibori
#HumbangHasundutan
#sumut
#csr
#asuransijiwasinarmas
#servingwithheart
#kain
#ceritakain

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *