General, Networking, Skill

Menikmati Danau Toba dari Desa Tongging

Jumat 2 November 2018 kesempatan saya yang kedua untuk melihat Toba. Pasti berbeda sensasinya karena berselang lebih dari 15 tahun. Bareng dengan teman-teman Journalist Mountain Bike (JMTB), mereka mencari turunan yang menantang dengan sepeda downhillnya. Ketika kita memegang rem dalam-dalam ketika melewati turunan, mereka melakukan yang sebaliknya. Beresiko pasti. Olah raga ini perlu kecerdasan tersendiri, gabungan tehnik dan nyali.

Berangkat dini hari karena harus loading belasan sepeda, sampai Kualanamu menikmati soto Medan dan kepala kambing untuk sarapan. Sarapan yang berat untuk kuat sampai Desa Tongging tujuan kami. Beberapa kali berhenti untuk ngopi, bercanda dengan monyet. Dan makan jagung rebus tentunya. Sampai di Desa Tongging sudah waktunya makan malam.

Namun sebelum gelap datang, mulut kami ternganga melihat pemandangan surga. Toba di bawah kami indah sekali. Bukit, danau, pohon yang hijau dan langit yang biru seperti menyampaikan sambutan selamat datang. Pak Rahmad, sopir kami harus menghentikan mobil beberapa kali untuk bisa mendapatkan spot foto terbaik. Ini jelas tempat paling indah yang akan menemani kami beberapa hari.

Kami nginap di Hotel Anugerah, baru 10 tahun lalu mungkin hotel ini berdiri. Saya bilang ke anak saya: ini surga. Matikan HP dan jangan nyalakan AC. Tidak perlu HP di sini kecuali untuk mengambil gambar. Tak perlu juga AC. Udaranya sangat sejuk. Dikelilingi bukit dan langsung menghadap danau.

Makan malam kami sederhana, ikan. Tapi rasanya juara. Tak perlu tambahan macam-macam. Usai makan, teman-teman biker tentu harus unloading sepeda mereka dan dipersiapkan untuk besok paginya. Saya dan Bhumi tak lagi mendengar suara, karena lelap kami lebih cepat datang.

Bangun pagi, dan sarapan termewahnya di pinggir danau. Kalau kau bilang di luar negeri lebih indah, menatap Toba dari Desa Tongging tak kalah indahnya. Teman-teman JMTB bersiap. Mereka berangkat mencari tanjakan dan kami mencari turunan untuk sampai ke air terjun Sipiso-piso, air terjun tertinggi keempat di Indonesia, setelah Sigura-gura, Madakaripura, dan Payakumbuh. Kurang lebih 1200 anak tangga. Kami hanya berhenti di spot terbaik untuk menikmati Sipiso-piso sambil ngopi. Dan foto tentunya. Saya memakai kebaya Humbang Shiori. Foto dari Sipiso-piso dan tangan menunjuk ke arah Humbang Hasundutan di ujung yang lain lagi. Tak sampai ke air terjunnya. Padahal baju ganti dan piranti basah-basahan sudah saya siapkan. Jangan lupa belanja di sini. Souvenirnya murah dan penjualnya ramah.

Lalu begerak ke arah Parapat. Lumayan berjam-jam untuk sampai sana. Oh ya, nyali saya belum cukup untuk nyetir di sini. Bukan perkara jalan sepi. Tetapi belokan tajam yang butuh keahlian sendiri. Belum lagi, kabut yang suka turun di malam hari. Jarak pandang paling hanya 3 meter dan tanpa lampu penerang jalan.

Di jalan menuju Parapat, menghibur diri dengan foro-foto seru di pinggir jalan. Sampai Parapat sudah jam 2. Nego kapal dan meluncurkan kami ke Samosir melalui pelabuhan Ajibata. Berhenti sebentar di batu gantung, dan Desa Tomok tujuan kami. Penjual sovenir menemani perjalanan kami. Mereka ramah dan tidak memaksa membeli. Kami melihat tarian Sigale-Gale dan rumah adatnya. Menikmati tarian dan foto tarifnya berbeda dengan menari beberapa tarian daerah dengan memakai ulos. Cukup terjangkau semuanya. Kami hanya foto-foto saja. Lalu melanjutkan jalan ke Makam Raja Sidabutar.

Saya suka orang Sumatera menghargai leluhurnya. Kematian bukan hal yang menakutkan. Bahkan kuburnya pun dibuat seindah mungkin, di tepi jalan raya atau di ujung tanah keluarga, menyatu dengan hasil kebun. Indah dan terawat.

Makam-makam ini bahkan beberapa diantaranya lebih indah dari rumah di sekitarnya. “Banyak yang lebih bagus dari rumah pribadi mereka juga,” Ujar Pak Rahmad yang di perjalanan.

Pun ketika kami ke Desa Tomok di Samosir. Singgah ke Makan Raja Sidabutar. Makam batu ini tidak ada kesan angker. Biasanya saya sensitif berada di tempat-tempat seperti ini. Ada rasa-rasa yang uhuiiiii. Tapi ini tidak. Kami memakai ulos sebelum masuk ke area makam. Dan mengucap Horas tiga kali. Makam yang indah. Kubur batu yang diukir sesuai dengan karakter raja yang dimakamkan di situ. Kami dijelaskan pula tentang cicak dan empat payudara yang ada di pilar makam, musium dan rumah adat di sana.

“Seperti cicak, bisa berada di mana saja. Merantau dan beradaptasi dengan daerah yang ia tempati. Begitulah orang Batak diharapkan.” Itu penjelasan yang kami tangkap. Dan empat payudara itu melambangkan penghormatan pada Ibu yang menghidupi, yang penuh dengan kasih sayang, kesucian dan kesuburan. Ibu yang selalu hidup dan menghidupi kita.

Dua cicak yang menghadap pada empat payudara bermakna, sejauh apapun merantau, akan pulang ke tanah kelahirannya, di mana ibunya berada.

Deretan makam yang indah juga kami lihat dalam perjalanan Berastagi Tongging. Ada yang jadi satu di kompleks pemakaman, tetapi lebih banyak yang menempati tanah-tanah pribadinya. Dan bunga-bunga segar diletakkan dengan indahnya di satu sisi makam. Saya hanya bisa membayangkan, tentulah anggota keluarga mereka usai berdoa di tempat itu. Bunga yang selalu segar.

Entah kenapa, saya menyukai relasi yang tak putus ini meski dengan yang sudah lebih dulu berpulang.

Perjalanan di Tomok kami akhiri dengan melihat musiumnya. Sebetulnya masih ada beberapa tempat lagi yang bisa disinggahi. Tetapi gelap keburu datang. Kami harus kembali ke Parapat dan melanjutkan perjalanan ke Tongging lagi. Makan malam sudah lewat beberapa jam ketika kami sampai di Silalahi, tepatnya di Pantai Anisa. Saya tidak mempunyai bayangan seperti apa pantai ini, karena depan kami hanya gelap saja. Saya juga harus mengusir jauh-jauh bayangan kabut yang turun di tengah jalan tadi. Jarak pandangan Pak Rahmad mungkin hanya 2-3 meter saja ke depannya. Saya menemani Pak Rahmad dalam diam.

Di tepi Pantai Anisa, kami menghabiskan durian Ucok. Yang dikirim langsung dari Medan. 4 karung besar. Durian ini jadi sarapan pagi kami, teman ngemil bikers di perhentian dan desert kami usai malam malam di Pantai Anisa. Berkarung-karung duriannya.  Entah ada yang mabuk durian atau tidak.  Karena hampir semuanya enak.

Perjalanan pulang ke Kualanamu, kami mampir ke Taman Alam Lumbini. Oh ya, jangan lupa cicipi markisa hutan yang banyak dijual di sepanjang jalan. Manissssss banget. Jeruknya juga segar. Tetapi juaranya buat saya adalah markisa.

Makam yang indah, jeruk yang segar, markisa yang manis. Masih ditambah dengan bunga-bunga yang mekar di banyak latar penduduk. Berada di dataran tinggi, bunga bersuka mekarnya. Taman-taman bunga juga banyak di sini. Taman Alam Lumbini ini lengkap dengan Pagodanya. Dibuka untuk umum kok. Jam 9 pagi. Antri dengan tertib, beri donasi suka rela dan kita bisa masuk ke dalamnya. Foto dan belanja sayur segarnya. Dan anak-anak monyetpun sesekali akan mendatangi kita saat berada di pelataran Lumbini.

Ini dua kalinya saya ke Toba. Dengan sensasi yang selalu berbeda. Dan saya jatuh cinta dengan tenangnya Tongging. Amat sangat tenang. Bila boleh memilih, Tongging jadi tempat pilihan saya setelah, Yogya, Malang, dan Bali. Desa Tongging, tempat yang eksotis untuk menikmati Toba. Tenang dan dingin. Bagi penyuka hening, di sinilah tempatnya.

Terima kasih ya teman-teman Journalist Mountain Bike. See u next trip.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *