General

Peta

Suatu hari Marcopolo – lelaki penjelajah itu – menangis. Air matanya tumpah di tanah. Lelaki perkasa itu menitikkan air mata karena tak ada lagi tempat yang bisa ia jelajahi. Tak ada lagi peta yang bisa direngkuhi.

”Kenapa kau menangis, Marcopolo?” tanya seseorang penduduk.
”Karena tak ada lagi tempat yang bisa aku jelajahi. Tidak ada lagi peta menantang untuk menginjakkan kaki,” ujarnya.
”Begitukah? Lihatlah ke bawah, tempat air matamu tumpah. Air mata itu adalah peta yang bisa kau jelajah. Air mata anak-anak, air mata perempuan, air mata lelaki. Air mata itulah kehidupan yang tidak pernah habis kita jelajahi,” ujar penduduk itu lagi.

Garin Nugroho mendongengkan itu untuk saya – dan kita, tadi malam. Ya Garin mendongeng.

Ia melanjutkan. Di Lamalera, ada tradisi bertukar hasil gunung dan hasil laut. Lurah menjadi wasitnya. Begitu peluit ditiup, orang gunung dan laut saling membertukarkan hasil mereka. Ini upacara tentang ekonomi orang gunung dan pantai. Pertukaran itu tanpa saling mematikan. Garam telah menghidupkan gunung, gunug telah memberikan sayuran bagi nelayan.

”Pertukaranlah! Jangan jadikan kematian dalam ekonomi, ” kata sang filsuf. Dibalik garam, dibalik padi: ada kehidupan, ada puisi ada harapan, ada keluarga. Itu yang kita lalui. Tapi kini kita tak jadi filsuf ekonomi. Kita jadi makelar, yang paling mengerti menukar kehidupan dengan kematian, dalam sistem ekonomi yang saling mematikan. Menukar apel Malang dengan apel Zwitzerland. Garam lokal dengan garam impor.

”Mata air dan sungai adalah kehidupan kita.”

Mata air itu adalah kehidupan kita, garam kita dan gula kita. Sepotong apel lokal, penuh dengan cita-cita dan harapan. Termasuk gabah. Gabah adalah baju terakhir para petani. Jangan buang baju terakhir kaum tani. Gabah mereka jual dengan harapan. Kalau gegabah menghargai gabah, maka sama artinya dengan membuang baju terakhir para petani.

Jadikan mata air kita punya sungai. Kalau tidak punya sungai maka air mata ini akan menjadi badai. Sungai harus kita bangun lagi.

Lalu Franky Sahilatua pun mendendangkan mata air tanpa sungai. Dan dongeng selesai.

Dongeng. Begitu dasyat tutur ini mempengaruhi imaji saya ketika kanak-kanak. Membuat saya mampu membayangkan putri kerajaan, pengemis, pemulung, kelaparan, badai dan hujan. Juga merasakan kasih sayang induk ayam kepada anak-anaknya.

Sampai kini pun, saya suka terkekeh sendiri ketika eyang Bhumy – anak saya – mendongeng kancil dan buaya, tentang robot atau pun pesawat. Lalu tawa eyangnya pun akan meledak, kalau ada tanya dari Bhumy di luar akal dewasa eyangnya.

Dongeng ayah menjelang tidur dulu, ternyata kini jadi pelita yang tak pernah padam di pikiran saya. Berimajinasi tentang apa saja. Dan ia tetap menyala.

Lalu, anak pun jadi dewasa, tanpa sempat kita mendongeng untuknya. Karena sibuk kerja.
Sudahkah ada dongeng malam ini untuk cinta kita?

Emmy Kuswandari, Agustus 2009

Dalam perjalanan Jakarta – Yogya

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *