Networking, Skill

Petualangan di Negeri Panda

Masih ingat tulisanku tentang telpon dari Bos?

Nah ini dia kelanjutannya. Duta besar yang berbahagia, bos yang sumringah. Acaranya sukses. Wartawan banyak datang dan beritanya berlimpah. Lalu the end. Begitu biasanya. Tapi kali ini tidak biasa. Sukses yang satu diiringi dengan permintaan yang lain. Dan kok ya ndilalahnya lagi-lagi harus akrobat. Duta besar yang bersangkutan ingin mengundang sejumlah wartawan datang ke negaranya, melihat perkembangan yang terjadi dan menikmati wisata. Undangan yang sangat menarik.

Yang tidak menarik adalah tengat waktu yang diberikIan. Hanya ada dua atau tiga hari untuk mengundang wartawan, mendapatkan konfirmasi dan dokumen administratif penunjang. Disela pula dengan libur hari kemerdekaan. Komplit jumpalitannya.

“Maaf ya mas undangannya mendadak dan kami perlu paspor segera untuk mengurus administrasinya,” ujarku. Dan tradaa………..tidak setiap orang suka rela menyerahkan paspornya. Sama seperti keengganan orang untuk memberikan KTP nya. Identitas penting sebagai warna negara dan warga dunia. Saya sangat memaklumi ini. Dan untunglah, hanya hitungan hari, kami mendapatkan beberapa konfirmasi kesediaan wartawan untuk berangkat.

Singkat cerita, berangkatlah kami dengan suka ria. Jadwal kegiatan memang sudah diberikan. Tinggalah kami menikmati perjalanan. Dan ternyata…….puadatttt banget rangkaian acaranya. Pakai pindah-pindah dari dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Kami berkenalan dengan banyak pengelola kota dan bisnis yang berkembang di sana. Menikmati halal food, desa tua, panda dan banyak lagi lainnya.

Tertinggal di Stasiun

Bukan jalan dengan wartawan kalau tidak banyak cerita. Satu hal yang tidak diinfo dari awal perjalanan kami bakal pindah-pindah. Jadilah beragam koper yang dibawa. Mulai dari yang kecil hingga segede gaban. Tak ada yang membawa pas punggung besar. Itu tak mengapa sebetulnya. Yang jadi masalah adalah ketika kami harus berpindah tempat dan menggunakan moda transportasi kereta, karena itu berarti kami harus menggeret dan nggendong koper naik turun tangga untuk bisa menggunakan subway. Iya, naik turun tangga. Hahhahha. PR banget memang. Tapi tak mengapalah. Bersiap kami menuju kereta berikutnya.

“Tunggu mbak, ada yang tertinggal. Sepertinya tertinggal di stasiun sebelumnya,” ujar seorang peserta. Duh……..padahal kami sudah berdekatan di kereta dan selalu dalam formasi grup. Tertinggal di stasiun berikutnya adalah pekerjaan rumah tersendiri, terlebih komunikasi sangat minim untuk bisa mengakses internet.

Untunglah penyelenggara kegiatan sigap menjemput. Kami hanya berharap wartawan yang tertinggal di stasiun sebelumnya tidak panik dan tidak banyak bergerak dari lokasi awal tadi. Ini akan memudahkan pencarian. Sambil menunggu pakai deg-degan, pepotoan carai jitu menghilanghkan nervous. Untunglah, tak lama kemudian formasi kami lengkap kembali. Cuzz lah ke destinasi berikutnya.

Ketiduran di Kamar

Kegiatan selalu dimulai pagi hari dan berakhir usai makan malam. Kembali ke hotel sudah jam 10 malam. Pada hari ke sekian, kami bersiap lagi. Kendaraan penjemput sudah menanti. Formasi lengkap, karena sepagian kami sudah saling sapa di lobi hotel. Melajulah kendaraan penjemput. Ngobrol di kendaraan dan tiba-tiba seorang kawan mengingatkan, eh satu wartawan sepertinya masih di hotel. Upssss……. Terjadi lagi. Hahhahahhaha….. kendaraan sudah terlanjur jauh. Hotel ditelpon. Panitia setempat kembali ke hotel, cek lobi, telpon ke kamar, ke tempat ngopi, tapi hasilnya nihil. Tidak ditemukan wartawan yang terttinggal di hotel tadi. Panik kembali melanda. Tidak ada di mana-mana lalu kemana? Sejenak ditunggu sambil terus diupayakan untuk mencari. Telpon tak diangkat. Begitu juga telpon di kamarnya. Satu dua jam berlalu. Tak ketemu. Panik pun makin memuncak. Tetiba panitia melihat wartawan yang dimaksud. Ahhhhhhhh…..leganya. “Maaf, saya kembali ke kamar setelah dari lobi tadi, dan tertidur pulas,” ujarnya. Apapun penjelasannya, kami sudah tenang. Dan wartawan segera diantar menyusul rombongan yang sudah berjalan dari tadi.

Nyaris Ditinggal Pesawat

Mendekati hari-hari terakhir, tenaga sudah terkuras habis. Jalan kaki ini mungkin paling banyak yang pernah kami lakukan akhir-akhir ini. Tinggal satu kali lagi pindah provinsi. Saya lupa tepatnya, apakah untuk melihat semacam Silicon valley atau temppat lain. Tetapi yang jelas kami harus pindah lokasi dengan pesawat terbang. Packing koper tak masalah, karena sudah diinformasikan sebelumnya kami akan keluar hotel jam 4 subuh.

Terkagum-kagum dengan banyaknya bandara di negara ini, dan dibangun dengan serius. Hampir semua bandara besuaarrrr……. Harus fokus untuk sampai dari satu gate ke gate lainnya. Godaan untuk melihat toko-toko, tempat ngopi dan barang yang dipajang lainnya harus dikendalikan sedemikian rupa. Tersesar runyam urusannya.

Aku melihat seorang wartawan kerepotan dengan tas laptop dan bawaan lainnya. Aku menawarkan diri membantu membawakan tas laptopnya. Karena rasanya ia kerepotan. “Tidak apa-apa saya bawakan saja Mas. Biar entengan. Enak jalannya,” ujarku. Ia menjawab tak perlu, masih bisa membawanya sendiri. Padahal aku melihat, jalannya mulai susah. Tapi ia tak bilang apakah sakit atau karena apa. Sesekali ia melangkah dengan meringis. Capek mungkin, tetapi teman-teman lain tidak menunjukkan gejala seperti itu.

Tak apalah kalau ia tak mau menceritakan kenapa jalannya meringis. Tidak setiap orang suka rela berbagi cerita sakitnya. Karena yakin semuanya dalam satu rombongan, berjalanlah kami pelan-pelan ke gate yang dituju. Sambil lirak lirik ke kanan kiri. Rasa-rasanya tiap toko menarik hati untuk didatangi.

Menunggu di gate dan bersiap masuk ke pesawat. Masih tersisa beberapa menit. Tapiiiiiiiii……..lagi-lagi kami kehilangan wartawan. Panik lagi pastinya. Kami tunggu. Karena jelas gate yang harus dituju. Masalahnya adalah, tak mudah bertanya pada orang lokal karena kendala bahasa. Petunjuk ada, tetapi perlu waktu mencerna. Tak tik tuk…… detak waktu. Wartawan sudah mulai masuk ke pesawat. Panggilan terakhir dan sebentar lagi pintu pesawat akan ditutup. Duh……tuhan. Orang kedutaan sudah pucat. Aku pun berkeringat. Kami ambil keputusan, salah satu dari kita harus tinggal. Menunggu wartawan tersebut, karena tak mungkin dia ditinggal tanpa pendamping di negeri orang. Bukan pilihan yang mudah. Beban berat untuk panitia. Serba salah. Menit-menit terakhir. Kami nego dengan kru pesawat. Panggilan demi panggilan. Rasanya detik berlalu super cepat. Belum juga kami melihat tanda-tanda wartawan tersebut muncul. Negosiasi waktu tentu tak bisa menunggu lama. Nyaris saja kami suit untuk siapa yang tinggal mencari dan menemani wartawan.

Dan ndilalahnya saat injury time, dari jauh kami melihat kaos menyala. Kaos yang dipakai wartawan yang kami cari sedari tadi. Ahhhhhhhh……akhirnya. Kami bisa masuk ke pesawat dengan tenang. Basah kuyus baju wartawan tadi oleh keringat. Kami tidak lagi bertenya kenapa bisa telat ke pesawat. Namun ia cerita, tersesat di gate dan susah jalan karena asam uratnya kambuh. Duh…ada-ada saja. Terjawab sudah kenapa sejak kemarin ia meringis kesakitan kalau berjalan. Kami menempuh tiga jam berjalanan udara. Ini perjalanan paling seru. Banyak ketawa dan deg-degannya. Tapi kami suka, karena perjalanan ini membuat kami jadi dekat dan akrab.

Apa cerita perjalananmu yang ajib punya?

Facebook Comments

1 thought on “Petualangan di Negeri Panda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *