Skill

Roller Coaster

“Siapkan jumpa pers untuk siang ini. Jam 13. Tentang pajak,” ujar atasanku lewat telpon.  Tepat di jam 9 pagi. Itu artinya  hanya ada waktu beberapa jam untuk persiapan. Dan sepagi itu saya sudah di luar kantor untuk satu kegiatan. Tak ayal, anak magang yang jadi sasaran. Mencari ruang untuk jumpa pers, berkoordinasi materi, konfirmasi kehadiran VIP, kirim undangan ke wartawan, menyiapkan konsumsi, menyiapkan  gudie bag dan banyak printilan lain yang harus dilakukan.

“Yakin mbak bisa? Saya harus bicara dengan siapa?” ujar anak magang getir. Koordinasi di internal, bila tak tepat orang akan selalu  runyam. Beberapa nomor aku berikan setelah telpon terlebih dahulu. Aku biarkan anak magang jumpalitan mengerjakan ini itu. Bergegas kembali ke kantor jelas harus aku lakukan.

Dulu, ketika tidak lagi menjadi wartawan, aku pikir aku terbebas dari berbagai tenggat waktu seperti ini. Tetapi ternyata, deadline sebagai wartawan media cetak jauh lebih teratur dibandingkan kerja di kantor swasta. Kejaran waktu bisa setiap waktu. Bila ada permintaan materi hari ini, itu artinya sudah harus selesai dikerjakan sejak kemarin. Itu candaan kami.

Jumpa pers yang mendadak. Pasti urgent. Dan yang kami dapatkan hanya sekilas informasi. Menganalisa perkembangan berita terakhir terkait pajak, tax amnesty dan hal yang kira-kira urgent untuk segera diwartakan.  Sambil menebak, siapa sajakah VIP yang akan datang.  Siapa akan menyampaikan apa.

“Kita dapat ruangan di lantai 33 ya Mbak. Bisa muat 30 an orang,” ujar Kristi, anak magang. Satu jam pertama ia berhasil menyiapkan ruangan, menata kursinya, menyiapkan sound system, membuat daftar hadir. Draf undangan sudah dibuatnya. Saya tinggal merapikan. Meminta persetujuan atasan lalu mendistribusikan. Sederhana? Kelihatannya. Selebihnya adalah jungkir balik mengirim dan meminta konfirmasi.

Saya beruntung mendapatkan partner in crime untuk urusan analisa media dan mempersiapkan tulisan  yang ajib punya. Jaka namanya. Ia memiliki photographic memory yang luas biasa. Apa yang dilihat atau didengarnya, masuk dalam memori penyimpanannya. Brief dari atasan cukup didengar tanpa harus dicatatnya. Dulu….dulu sekali saya suka bertanya, yakin mas tahu isinya. Sekarang tidak lagi. Ia mendengar, maka ia akan menyimpan dan menganalisa. Tanya saja siapa pemain bulu tangkis  yang tanding pada tahun 70 an. Mas Jaka akan menjawab dengan entengnya, termasuk kekhasan pemain tersebut. Ia menguasai juga ilmu perpustakaan yang memang didalaminya dengan serius. Mungkin ia sedikit dari pustakawan yang funky, ngerock dan tatoan di seluruh tubuh.

Meskipun suka membuat deg-degan karena press rilis dan pointer yang disiapkan kadang mepet dengan waktu, tapi yakinlah, ia akan membereskan pekerjaannya. Rasanya ia menguasai style VIP di kantor  dan dengan mudah menyesuaikan rilis dengan karakter masing-masing. Sederhana dan to the point.

Jam 12 siang. Dan itu artinya semua harus siap. Beberapa redaksi menyatakan akan mengirimkan jurnalisnya. Agak tenanglah hati ini.  VIP pun sudah bisa dipastikan siapa saja yang bisa hadir. Dan masing-masing akan melengkapi  informasi apa saja. Rasanya sesi akrobat sudah bisa diakhiri dan the show must go on. Meski buat saya, sesi deg-degannya justru mendekati klimaks. Duh….berapa banyak wartawan yang akan datang ya. Duh sound systemnya ngadat tidak ya. Apakah press releasnya bermasalah atau tidak. Makanan cukup atau kurang. Benarlah kata orang, devil is in the details.

Pingsankan anak magang tadi? Hahhahahhaha…….jadi anak magang memang berat. Tapi syukur dia baik-baik saja. Meski saya tahu, ini pengalaman yang luar biasa untuknya.

Yang dadakan ini apakah hanya sesekali? Untungnya, ini seringkali. Hehhehehhehe. Jadi pastikan mendapat cover asuransi tambahan untuk jantungan ya. Dan saya menikmati roller coaster seperti ini. Memacu andrenalin lebih kencang lagi.

 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *