General

Secangkir Pagi

Hari ini saya tidak bisa menikmati lezatnya kopi yang biasanya menyemangati hari. Beberapa hari ini sebetulnya.

Tak bisa menikmati kopi, membuat saya gelisah. Saya jadi memikirkan apa yang salah. Berganti-ganti kopi, roasting dan grinder yang baru. Mencoba jenis ini dan itu tetap saja yang terasa hanya pait, tanpa sensasi bahagia.

Lalu jumpalah saya dengan Pak Prawoto, pakar kopi sekaligus teh. Dari sini, kenangan ngeteh di masa lalu seperti dipanggil kembali.

Amat sangat jarang saya menikmati teh secara khusus tempat yang khusus. Tempat ngeteh. Bukan tempat kopi yang ada teh. Atau tempat apa saja ada termasuk teh. Ini tempat ngeteh sungguhan. Ngeteh serius dengan suasana santai.

Ah ya, betapa sebetulnya ngeteh itu dekat dengan keseharian kita. Dulu, sarapan pagi, pasti ada tehnya. Teh manis hangat. Bahkan teh dikenalkan lebih dulu sejak kanak-kanak. “Jangan kasih kopi untuk anak-anak. Nanti kecanduan.” Begitu dulu sering digumamkan.

“Hampir setiap keluarga mengawalinya harinya dengan segelas teh,” ujar Prawoto. Di luar pulau Jawa, teh hitam mendominasi hari-hari masyarakatnya. Dan di Jawa dengan teh hijau. Hampir seperti itu pembagiannya.

Keluarga saya pun tak beda. Teh menemani bapak mengaduk bubur dan menanak nasi, dagangan uti. Tiap menjelang subuh datang.

Bangun tidur, uti akan menjerang air. Lalu ndekok teh atau membuat seduhan teh. Campuran teh yang wangi dan yang berasa berat. Takarannya 1:1. Hanya bapak ibu yang tahu. Mereka antiteh celup. Tak ada rasa, katanya. Hanya saya yang menghabiskan persediaan teh celup di rumah.

Buat uti, minum teh yang panas legi dan kenthel itu sebagai obat ngelu obat pusing. Entah karena kurang tidur, kecapekan, sakit, kepanasan atau sebab lain. Minum teh yang nasgithel, ngelu atau pusing pun hilang. Begitulah uti menaklukkan rasa tidak nyamannya.

Teh di Jawa atau paling tidak di rumahku begitulah ramuan dan penampakannya. Panas legi dan kenthrl,. Nasgithel.

Ohya, ada periode waktu betapa aku tak suka teh tawar di warung sunda. Teh tanpa rasa. Lebih mirip air putih dengan sedikit warna coklat terang. Tanpa ada rasa teh sama sekali. Ini teh tanpa sensasi buatku. Teh kok tawar. Hidup saja harus manis bukan.

Pelajaran menikmati yang tawar ini aku dapat dari upacara minum teh ala Jepang. Mulai dari mencuci perabotnya, sampai menyiapkan batin untuk menyeduhnya. Membuat putaran di cangkir agar letaknya benar untuk menghormat orang yang akan meminumnya. Seduhan dari daun atau dari bubuknya. Perkenalan rasa pertama di lidahku saat itu seperti langu. Aku tidak tahu bagaimana menerjemahkan rasa tak enak ini. Rasa yang kemudian hilang hanya karena aku menghormati betapa agungnya upacara ini.

Lain lagi dengah teh China. Diminum dengan gelas kecil, dan cepat-cepat di saat panas. Nambah lagi dan lagi. Tawar tentu saja rasanya. Tapi entaj kenapa, setiap minum teh tawar sekarang, ada rasa manis di cecapan terakhir. Mungkin karena sudah biasa.

Teh cina atau jepang ini yang sekarang jadi suguhan utama di kantor. Tak lagi teh manis. Entah dari cina atau jepang, yang jelas teh hijau. Dulunya aku pikir ini penghematan. Kantor tak perlu mengeluarkan banyak dana membeli gula. Dan ternyata saya salah. Ini minum yang lebih sehat. Kita bisa minum bercangkir-cangkir teh dalam pertemuan yang panjang tanpa takut menimpun gula. Resikonya paling bolak balik ke toilet saja. Tak mengapa. Anggap saja detox.

Secara resmi teh hijau ini aku nikmati setiap Senin pagi. Meetingnya panjang. Dua tiga jam. Begitulah Senin selalu aku mulai.

Jadi, apa yang salah ketika aku tak bisa menikmati kopi atau bahkan teh? “Nikmati saja. Mungkin begitulah tuntutan tubuh,” ujar temenku. Bukan indra perasa kita yang berubah. Tapi sensasi bahagia, tenang atau apapun yang kita jumpai dalam secangkir kopi atau teh tenggelam dalam rusuhnya suasana hati.

Jadi, apa rasa secangkir kopi dan tehmu hari ini?

Facebook Comments

3 thoughts on “Secangkir Pagi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *