General

Suwe Ora Jamu

 

Ada dua alasan klasik saya datang ke Bentara Budaya Jakarta. Satu, datang awal supaya tidak kehabisan mie jawa. Kedua, demi sebotol jamu. Sebotol kecil saja. Minuman tradisional yang sudah naik kelas. Bergaya. Sebotol 25 ribu. Kalau di kampung tentu akan dapat berbotol-botol beras kencur atau kunyit asem. Berbotol-botol dan berhari-hari.

Edisi khusus jamu ini dibuat dalam botol yang lumayan gendut. Kira-kira isinya 500 ml. Harganya 85 ribu, khusus untuk hingga Februari saja. Bekas botolnya untuk tempat jus atau tanaman air di meja.

Hanya dua alasan ini? Khususnya memang iya sih. Dua alasan ini lahir karena ada alasan yang lain lagi. Perjalanan Thamrin – BBJ sudah pasti didera macet dan lapar. Jadi kebayangkan, sudah macet, lapar lalu mie jawanya habis. Dan itu sering aku alami. Itu menyedihkan.

Anyway, itu hanya alasan sih sebetulnya. Yang tercipta karena terbawa suasana. BBJ tempat yang menyenangkan untuk melewatkan terik siang yang merambat ke senja dan berubah menjadi malam. Bukan semata-mata makanan dan minumannya. Meski tempe mendoan, tape bakar, singkong dan jajan lainnya ok banget juga.

Selalu ada diskusi yang hidup di sini. Tentang apapun. Perjumpaan dengan wartawan, fotografer, peneliti atau siapapun selalu menyenangkan. Kadang hanya berbincang yang tak penting. Tetapi maknanya jadi lebih utama karena bertatap muka.

Meski WA Grup (WAG) ramai dengan lalu lintas komunikasi antaranggotanya, tetapi perjumpaan fisik memang tak tergantikan.

Kadang malah kami larut dalam cerita di bawah Pohon Trembesi sambil menikmati kopi. Lupa dengan agenda budaya yang sedang berjalan di sana.

Hanya satu yang mampu menghentikan cakap kami, saya terutama, bila ada musik berdendang dan ajakan untuk menari diteriakkan.

Menari, menjejakkan energi ke bumi. Lalu menjadi fresh lagi.

Jadi sering-sering yuk ngobrol di bawah Pohon Trembesi di BBJ. Siapa tahu melihat aku menari.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *