Skill

Tahun kesebelas

Ini tahun ke 11. Ya……rentang waktu yang sama lamanya dengan profesi terdahulu sebagai jurnalis. Tahun dengan keputusan untuk mengakhiri pekerjaan yang dicintai dengan sepenuh hati. Itu dulu.

Ah ya, jurnalis adalah pekerjaan yang benar-benar membuat saya jatuh cinta. Dari tidak tahu bagaimana mengoperasikan komputer, merangkai kata dan bertanya pada nara sumber, lalu semuanya berjalan begitu saja. Meski adakalanya berjam-jam di depan komputer dan hanya nulis nama kota lalu spasi saja. Tapi jurnalis juga yang menghantarkan saja keliling Indonesia. Gaji boleh seadanya, tetapi pengalaman batin saya sangat kaya. Sebutlah nama daerah, dan bisa dipastikan saya memiliki cerita di dalamnya.

Jurnalistik pula yang membuat saya begitu mencintai pasar tradisional dan lokalisasi. Sebatas yang saya bisa jangkau Dan pernah datangi. Di Mimika lalu melanjutkan perjalanan ke Kilo 10. Lokalisasi terbesar di sana. Dasar anak muda. Saya tak punya takut waktu melintas portalnya. Siang yang terik. Perempuan tanpa make up. Dan penjaga yang curiga. Tapi percayalah, sebotol bir dingin pasti mampu mencairkan suasana. Dan bila beruntung, mampu membangun kata menjadi tanya. Lalu mengalir cerita.

Pasar dan lokalisasi buat saya adalah cerita manusia yang sesungguhnya. Ada banyak cerita manusia yang membuat saya begitu mencintai pekerjaan merangkai kata ini. 11 tahun bertahan dengan cambuk “kejamilah dirimu, sebelum kamu dikejami pembacamu.” Seorang mentor yang mengingatkan untuk menjadi manusia pembelajar sampai kapanpun.

Semangat ini pula yang terus dibawa saat memutuskan ganti pekerjaan. Ya………setelah mendefrag isi hati dan otak selama enam bulan. Ya…….enam bulan. Saya tidak mau di pekerjaan baru nanti saya menjelekkan pekerjaan lama. Atau berkeluh kesah sepanjang waktu karena merasa pekerjaan baru bukan cinta saya. Saya hanya ingin bekerja dengan rasa cinta. Karena ini yang akan membuat saya bisa menikmati pekerjaan serasa wisata tiap harinya. Bisa tertawa, sebesar apapun tekanannya.

Jurnalis dan praktisi publik relation. Rasanya dua kotak yang berbeda. Berbeda kemerdekaannya. Berbeda cara kerjanya. Dilayani dan melayani. Kebebasan mencari informasi dan keterbatasan memberi informasi. Kalau mau dicari pembedanya, pasti segunung. Tapi kalau mau menelisik persamaannya, pasti ada juga. Yang pasti, apapun profesimu, nikmati.

Dan ini tahun kesebelas menekuni pekerjaan ini. Ada peluh, ada parfum, ada tekun, ada saatnya tumbang pula. Setiap berkeliling ke kampus, pasti banyak pertanyaan apa enaknya jadi PR, bagaimana bisa menekuni profesi ini sekian lama. Apa yang harus dipelajari. Skill apa saja yang harus dimiliki. Perasaanmu gimana sih? Ninggalin keluarga terus. Bagaimana membagi waktu. Apa nikmatnya. Apa pula tak enaknya. PR kok ngojek. Harus jaim tidak. Dan buanyakkkkk banget tanya lainnya.

In enaknya aku ceritakan aja ya. Cerita dalam canda. Bukankah hidup harus tetap lucu. Apapun pekerjaan kamu. Yekannnnnnnnn

Note: menunggu anak lanang menikmati Wiro Sableng

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *