Skill

Terlibas Waktu

 

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan seorang pengelana dari Jepang. Pengelana? Ya saya menyebutnya begitu. Karena dia mendedikasikan hidupnya untuk berkelana dari satu Negara ke Negara lain. Namanya Shunichiro Hori. Kami lancar bercakap, karena Hori tak seperti orang Jepang pada umumnya yang pendiam. Hori sangat suka bercerita. Bahasa Indonesianya sangat bagus untuk orang yang belajar asing secara otodidak. Bahasa-bahasa slank pun dia kuasai. Rumpies, baper dan banyak lagi kata yang biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Yang menarik dari Hori selain cerita perjalanannya, ia menarget dalam 7-8 ke depan bisa menguasai keahlian sebagai copy writer. Copy Writer di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia. Sangat khusus. Bukan pekerjaannya yang menarik perhatian saya. Tetapi alasan Hori menargetkan diri untuk mengejar pekerjaan tersebut. “Saya ingin melakukan pekerjaan itu sebelum semuanya dikuasai oleh robot atau mesin,” ujarnya ringkas tetapi justru membuat saya termangu.

Ya, dengan keahlian kita masing-masing saat ini kadang kita lengah atau bahkan yakin kalau keahlian yang kita miliki tak bisa dikerjakan orang lain bahkan dilakukan oleh robot. Kita terlena.

Cobalah tengok terminal 4 Bandara Changi yang baru. Bisa dikatakan bandara senyap karena tak ada pengumuman dengan pengeras suara. Begitu masuk bandara kita akan berhadapan dengan komputer, robot dan mesin. Untuk check in, scan passport, memasukkan barang ke bagasi, hingga gate mana yang harus kita tuju untuk masuk ke depan pesawat. Kalau pun ada petugas, paling hanya satu dua, untuk memastikan semua mesin ini berjalan dengan sempurna. Ketinggalan pesawat karena terlena belanja dan kongkow di bandara yang mewah ini, jadi resiko kita sendiri.

Changi adalah salah satu contoh. Mungkin kita masih ragu bahwa analisa hanya dilakukan oleh manusia dan tak mungkin dilakukan oleh mesin. Saya mencermati Beritagar.id. Pemanfaatan teknologi robot yang merambah pada dunia jurnalisme. Situs ini memanfaatkan teknologi computer assisted reporting (pelaporan dengan bantuan komputer) yang berbasis Machine Learning dan Natural Language Processing. Mesin ini bisa belajar sendiri dengan menggunakan kecerdasan buatan yang bekerja berdasarkan kata kunci dan mencari data di internet dari media di Indonesia atau pun di luar negeri. Ia pun dengan canggih akan menggabungkan unsur-unsur kelengkapan berita 5W + 1 H.

Tugas manusianya di mana? Hanya memoles berita yang dihasilkan oleh mesin. Dan tak tanggung-tanggung, dalam sehari bukan hanya puluhan berita dibuat. Seribu berita pun ia sanggup.

Lalu pada bagian manakah dari pekerjaan kita sebagai praktisi humas yang tidak bisa tergantikan oleh mesin? Sentuhan-sentuhan humanis dari setiap komunikasi kita mungkin bisa menjadi pembeda. Tetapi apakah hal ini cukup? Mari berpikir lompatan waktu 5-15 tahun ke depan. Masih eksiskah definisi humas sebagai sebuah profesi?

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *