Skill

……..Then Solved Your Problem

Setiap datang ke acara pernikahan, selalu saya mendaraskan doa untuk pasangan. Sehat, langgeng dan bahagia.  Doa yang tulus. Karena  kita tidak pernah tahu perjalanan apa yang akan mereka temui usai pelaminan dirapikan, lampu pesta dimatikan dan pasangan baru menjalani hari-harinya. Sejak malam pertama hingga malam ke seribu atau dua ribu dan sebagainya. Miriplah dengan cerita “Tetangga Masa  Gitu.” Hanya bedanya, di kehidupan kita tidak ada yang memutarkan menjadi film dan tontonan yang menarik.

Masalah, beradu argumen, ketidaksepahaman, marah,  mungkin menjadi perjalanan yang akan kita temu. Memang, mencintai apa adanya termasuk menerima kekurangan pasangan, tidak semudah jatuh cinta. Merawat dan meruwat hubungan di dalam keluarga, perlu kedewasaan masing-masing pihak.

“Saya tidak bahagia. Saya bertahan karena anak-anak. Kasian anak-anak kalau kami berpisah. Dan ia lalui perjalanan pernikahannya dengan seolah-olah bahagia. Berapa banyak teman perempuan kita yang seperti itu di sekitar kita? Banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk pastinya. Dan mereka memilih diam. Supaya tidak diketahui orang lain. Supaya mertuanya tidak melihat ketidakhamonisan ini. Citra sebagai keluarga bahagia dan “aku baik-baik” saja yang ingin dipertahankan.

Pun ada banyak cerita, kehidupan seks dalam pernikahan yang seolah menjadi kewajiban. Kewajiban istri untuk melayani. Tak melihat bagaimana lelahnya istri seharian mengurus pekerjaan, rumah dan anak. Pun ketika istri tidak dalam kondisi yang mood. “Kebutuhan seks bagi suami adalah yang memuaskan egonya. Dia merasa memberikan cinta dengan seks,” seorang kawan berujar.

“Pengen saya katakan dengan  halus kalau saya capek. Tapi kok tidak tega.  Akhirnya saya mengalah. Saya pikir kasian sekali, mau berhubungan saja kita tidak mau melayani. Nanti kalau dia cari di luar sana bagaimana. Kita juga yang salah,” teman yang lain menanggapi. Kami tertawa. Meski getir sebenarnya. Karena kondisi terpaksa ini sering kali terjadi.  “Menolak sesekali tak apalah. Kalau terlalu sering menolak nanti dia bawaannya emosi.  Ingat saja momen-momen bahagia,” teman yang lain menimpali.

Sudah berulang kali mungkin kita baca buku dan tulisan, kebutuhan suami adalah seks dan kebutuhan istri adalah afeksi.  How to make it balance?  Jujur adalah kunci. Jujur dalam segalanya, termasuk dalam komunikasi tentunya. “Puaskan hatinya dahulu, maka dia juga akan memenuhi kebutuhan istrinya,” tambah  seorang kawan.

Jangan lupa selalu mesra. Menciumnya ketika dia tidur. Dan say thank you untuk kenikmatan berdua yang baru saja dirasakan.

Kok bisa sih menikmati seks kalau dalam kondisi ogah-ogahan? Mengaplikasikan mindful parenting dalam kehidupan sehari-hari sangat membantu. Mendengarkan dengan perhatian, pengendalian emosi diri, tidak menghakimi, adil dan bijaksana serta welas asih adalah kunci. Awalnya mungkin aneh bagi pasangan. Ataupun kita sendiri aneh melakukannya.

“Saya terbantu banyak. Saya lebih bisa menguasai diri dan tahu bagaimana menghadapi situasi,” ujar seorang teman. Kehidupan berkeluarga yang 21 tahun saya jalani pun berubah dan bisa lebih mengerti satu dengan yang lain.

So, nikmatilah hidup. Nikmatilah kehidupan seksmu. Lalu banyak permasalahan akan terselesaikan karenanya. Percayalah. Lalu apa hubungannya dengan seni berkomunikasi? Justrui di situlah koentjinya.

 

 

 

 

 

Facebook Comments

3 thoughts on “……..Then Solved Your Problem”

  1. Aku ada temen nih yg RTnya dingin. Sex bukan kebutuhan lagi sepertinya. Lama2 tambah getir gak harmonis. Akhirnya pergilah mereka ke psikiater. Ternyata tanpa mereka sadari, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing2. Si istri ngurus anak,kerjaan, suami kerja. Sampe mereka berdua jarang piknik/honeymoon berkala. Jd kasus temenku ini ternayata mereka kurang piknik. Piknik jangan bawa anak(titip bentar ke nenek/saudara) . Agendakan honeymoon sesering mungkin. Ga usah lama2. Sabtu minggu ke mana kek yg deket trs cek in. Sesimple itu, tp kadang suami istrri ga sadar ya kan. Dipikir ini kan tanggung jawab harus ttp kerja,dll. Sampe lupa memenuhi hak masing2 untuk pasangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *