General

Tidak ada Kebetulan dalam Penciptaan


“Mengapa nasib begitu kejam dan berubah semena-mena? Mengapa orang benar menderita dan orang salah berkuasa? Mengapa begitu banyak orang jahat yang menghancurkan orang-orang tak bersalah? Mengapa dia menyakiti kita?

Begitu banyak tanya yang meledak-ledak dalam pikiran kita terutama ketika ketidaknyamanan, ketidakbahagiaan datang menghampiri. Kita berpikir, kita lah yang paling menderita di dunia ini.

Itu pula yang terjadi ketika menyadari aku harus menjadi orang tua tunggal untuk anakku. Rasanya itulah kiamat bagiku. Bukan lagi pertanyaan siap atau tidak siap. Semua berputar dalam benakku, tentang karir dan pekerjaanku, reaksi lingkungan sosialku dan yang paling mendasar, bagaimana aku harus membesarkan anakku seorang diri.

Belum lagi, kalau dia beranjak besar nanti, bagaimana pula harus mengomunikasikan ketidaklengkapan ayah ibunya ini. Aku tahu jalanku tidak akan mudah. Ketakutan dan rasa marah ini pula yang menggelapkan kejernihan berpikirku, ketika itu.

Tapi, aku memilih kehidupan, dan itulah yang membuatku bertahan. Aku yakin, rasa malu hanya sesaat dan ketakutan dapat dilenyapkan. Tapi aku menyadari betul, saat itulah, segalanya dalam hidupku tidak lagi sama. Aku merasa, saat itu sangat tidak adil untukku, dan lebih-lebih untuk anakku.

Tetapi betulkah nasib berubah semena-mena dan bergerak tak menentu? Sudiarja, SJ melalui bukunya Bayang-bayang (Galang Press, 2003) mengajakku bercakap. ”Benarkah segala kejadian di dunia ini tidak mempunyai arah dan tujuan? Atau alam semesta ini bergerak tak menentu?” tanyanya.

Aku, kamu dan kita pasti akan menggeleng. ”Tuhan sumber segala sesuatu, dan tentu pula ia tujuan dari segala sesuatu,” ia menjawab tanyanya sendiri.

Ia mengajakku untuk tidak membuang waktu dan menyalahkan sang nasib seperti orang dungu yang hanya berterima kasih saat beruntung dan mengumpat ketika dianugerahi kemalangan.

”Semua orang merindukan kebahagiaan. Semua orang mencari kebahagiaan dengan berbagai cara, entah dalam kemasyuran atau melalui kekuasaan. Tetapi adakah ketenangan hati di sana? Kugelengkan kepala. Belum tentu.

Menurutnya, tak cukup kuat kaitan kekayaan, kekuasaan dengan kebahagiaan. Kekayaan tak akan mampu memuaskan ketamakan, kekuasaan tak juga membuat orang mampu menguasai dirinya sendiri.

”Kebahagiaan tidak terletak pada popularitas atau kekayaan, tetapi pada ketulusan hatinya,” ujar Sudiarja menenangkan.

Aku berhenti mengutuki. Terlebih ketika teman-teman dekatku menyemangati. ”Memaafkan dia yang menyakitimu, sama saja dengan memaafkan dirimu sendiri. Membuka jalan lapang ke masa depan. Jalan lapang yang akan meringankan langkahmu,” begitu kira-kira semangat teman-temanku.

Meski begitu, butuh waktu bagiku untuk berdamai dengan diriku sendiri. Di dada ini menggemuruh dengan kemarahan yang kadang masih meledak datang.

Kata-kata Sudiarja kembali mengingatkanku. Aku sudah memilih kehidupan, pro life dan bukan pro choice. Aku memilih dengan akal dan kebebasanku. Dan itulah adalah anugerah tertinggi sebagai manusia.

”Dengan akalmu kamu mengerti semua ini dan dengan kebebasanmu itu kamu bisa mengarahkan atau pun menjauhkan diri dari Sang Kebaikan, menerima atau menolak penyelenggaraan ilahi,” ujarnya.

”Apa itu penyelenggaraan ilahi?”

”Penyelenggaraan merupakan pengetahuan ilahi yang mendahului perbuatanmu. Tidak ada tindakanmu yang tidak diketahui sebelumnya. Tetapi penyelenggaran ini tidak merebut kebebasanmu,” tambahnya.

”Jadi tidak ada yang kebetulan di alam ciptaan, karena semua sudah diatur. Juga tidak ada kesemena-menaan di dalam nasib,” pungkasnya.

Meski indah kata-kata Sudiarja, selalu butuh waktu untuk mencerna dalam pengalaman pribadi kita. Kebahagiaan atau pun kemalangan, bergaris tipis, tergantung bagaimana kita melihatnya. Kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi membantu menyelaraskan pilihan bebas itu tadi.

Kini, aku bisa melihat masa lalu dengan tersenyum. Dulu yang sepertinya bencana besar, kini terlihat kecil untukku. Tidak ada lagi ketakutan sebagai orang tua tunggal. Kami, aku dan anakku menjadi tim yang hebat untuk saling mendukung dan menyemangati. Kami memang berhak untuk bahagia, menghiasai dua hati ini dengan cinta. Dan saya yakin Anda pun setuju, tidak ada yang kebetulan dalam penciptaan.

Emmy Kuswandari, Jakarta

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *