General, Networking, Skill

Tips Agar Anak Gemar Menulis

Cerita kemiskinan kadang berulang. Berita atau informasi yang dulu kita dengar sekian belas atau sekian puluh tahun yang lalu, tiba-tiba terputar lagi.

“Saya belajar membaca dari sobekan koran, bekas bungkus  makanan yang dibeli ibu,” suara polos  Alfia yang lirih tapi menyambar telinga saya bagai halilintar. Alfia Kirana Maheswari, 10 tahun usianya,  pelajar SDN 1 Dapurno, Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah.

“Lho memang tidak ada buku buat belajar?” Tanya saya. Ia menggeleng lemah. Sobekan Koran yang mengubah jalan  hidup seseorang dulu sering kita dengar. Tetapi mendengar anak belajar membaca dari koran bekas bungkus nasi jagung di tahun 2018 ini sedih rasanya di hati.

Saya  bertemu Alfia di Jakarta. Ini pertama kalinya ia ke Jakarta. Naik pesawat terbang pula.

“Pertama kali naik pesawat terbang. Tidak tahu mesti ngapain. Tadi dibagiin makanan dan minuman, tapi kita balikin lagi, karena usai membagikan makanan ke seluruh pesawat, pramugarinya bilang  yang sudah…….yang sudah….. Ya kami balikin lagi, karena kami pikir diminta untuk dibalikin,” ujar Zainuri, om Alfia yang mendampingi ke Jakarta. Mereka berdua baru pertama kalinya terbang.  Jadilah sepanjang perjalanan Solo – Jakarta mereka tidak makan dan minum apapun.

Alfia seperti Bhumy anak saya, terlambat untuk bisa membaca bahkan ketika masuk ke sekolah dasar. Kalau Bhumy memang saya biarkan bermain-main saja  waktu di TK, dan saya pikir tidak masalah kalau baru belajar membaca saat SD nanti. Ternyata itu menyulitkannya. Ia tidak bisa menangkap  pelajaran dengan sempurna terutama ketika harus membaca. Bhumy punya banyak buku gambar atau buku berwarna untuk ia lihat-lihat berbeda dengan Alfia.

“Waktu kelas 1 dia sering nangis karena tidak bisa membaca. Merasa tertinggal dari teman-temannya. Jadilah ia belajar dari apa saja termasuk kertas  Koran bekas bungkus makanan. Itupun tak sering,”  papar omnya.

Cara  belajar Alfia unik. Ia menyalin semua yang tertulis di kertas koran. Belajar menulis sekaligus belajar membaca. Dan kebiasaan itu ia teruskan tidak hanya menyalin kertas Koran tetapi hampir semua buku pelajarannya.  Itu ia lakukan sampai larut malam.  Ia akan tetap menulis kalau materi yang disalinnya belum selesai. Dengan begitu ia tak perlu belajar  lagi kalau ada ulangan karena hampir semua materi yang pernah ia tulis sudah hafal seluruhnya.

Grobogan sebetulnya tak jauh dari Solo, tetapi cerita tentang kemampuan ekonomi, tentu tiap daearah punya kisahnya. Rata-rata penduduk di sana bertani. Orang  tua Alfia bercerai dan ia diasuh oleh emak, yang tak lain adalah neneknya.

Perkenalan dengan Alfia siang itu mengingatkan pada anak angkat saya Adetia yang sudah berpulang beberapa tahun lalu. Untuk anak umur 10 tahun, perawakannya kecil. Bicara dan senyumnya masih malu-malu. Kepolosan anak-anak adalah kepolosan Alfia. Dan itu tampak di wajah, senyum dan cara bicaranya.

Alfia  ke Jakarta karena menang lomba penulisan Festival Penulis Cilik SiDU (FPCS) 2018. Ini pertama kalinya ia ikut lomba. Info lomba ida dapatkan dari saudaranya yang sekolah di Yogya. Menjadi juara 2 dari lomba menulis yang diikuti dari 6.137 peserta dari seluruh Indonesia. FPCS 2018 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Ayo Menulis Bersama SiDU” yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan anak melalui kebiasaan menulis secara berkelanjutan. Tema lomba kali ini “Harapanku untuk Indonesia di Masa Mendatang.”  Lebih dari 20.000 anak dari berbagai sekolah di Jabodetabek dibekali dengan ketrampilan menulis dan melalui kebiasaan menulis selama 21 hari.

Melalui karya tulisnya, Alfia yang bernama lengkap Alfia Kirana Maheswari (10 tahun), menuangkan harapannya tentang “Indonesia Menjadi Negeri 1000 Pesawat Terbang”. Karya tulisnya tersebut juga tak lepas dari kekagumannya terhadap sosok BJ Habibie, Mantan Presiden Indonesia ketiga yang memiliki beberapa karya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satunya pesawat terbang.

Harapan anak-anak yang tertuang dalam tulisan ini sangat beragam. Dari ribuan karya tulis yang masuk,  ada tiga juara dengan karya tulis paling menarik. Mereka adalah Siti Juneeta Khairunnisa (Solo), Juara I FPCS 2018 dengan judul karya tulis “Indonesia Bebas Sampah Plastik”,  Alfia Kirana Maheswari (Grobogan), Juara II FPCS 2018 dengan judul karya tulis “Indonesia Menjadi Negeri 1000 Pesawat Terbang” dan Bianca Alexandria Situmorang (Jakarta), Juara III FPCS 2018 dengan karya tulis “Tiga Harapanku untuk Indonesia Terinspirasi dari Film Zootopia”.

“Kami sangat senang melihat antusiasme anak-anak dalam berpartisipasi di FPCS tahun ini. Jumlah karya tulis yang masuk tahun ini meningkat sekitar 151% dibanding tahun sebelumnya. Kami berharap FPCS bisa menjadi wadah untuk menumbuhkan minat menulis anak serta mengajarkan mereka untuk berpikir kritis terhadap isu di sekitarnya,” tutur Head of Domestic Cultural Business Unit APP Sinar Mas Santo Yuwana.

Alfia senang. Selain ke Jakarta, ia juga mendapat kesempatan untuk bertemu dan wawancara Andy Noya. “Deg-degan pastinya. Ndak tahu mesti tanya apa,” ujar Alfia.

Oh ya gegara sumpit, Alfia menahan lapar karena ketika disuguhi  makanan Jepang, ia dan om nya tidak tahu bagaimana menggunakan sumpit tersebut buat makan dan tidak memberitahu panitia.  Duh Alfia……..

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *