Lari itu Bicara dengan Diri Sendiri

Saya berlari belum lama. Dan sekolah lari baru sebulan dua bulan ini. Dulu mah lari-lari aja. Bahkan selalu mandi pagi jam berapapun racenya. Jam 3 dini hari mandi, pakai minyak wangi, lipstik dan alis tak lupa. Ini justru jadi target bagaimana finish dengan lipstik dan alis tetap cetar.Buat saya lari itu seperti lahir baru. Dari setapak dua tapak lalu nafas ngap, tak sanggup lari lagi meski baru 100-200 m. Dulu 1 km itu perjuangan. Larinya mungkin sepuluh langkah lalu berhenti ngatur nafas dan kaki yang rasanya berat untuk diajak berlari lagi.Tetapi saya tetap bangun pagi dan bergegas ke Ragunan atau di mana pun bisa berlari. Ketemu satu dua temen komunitas. Makin semangat berlari.Saya ingat betul. Awalnya tak punya jersi lari. Sepatupun hanya casual yang ada. Tak apalah . Saya tak tahu bedanya sepatu enak dan enak sekali buat berlari.Ketika awal race 5 km dapat medali wahhhhhh sukanya sampai ujung negeri. “Ngapain sih ngumpulin medali. Tuh ambil sana punyaku,” kata seorang temen. Tapi bagi newbie, punya medali yang dikumpulkan satu persatu itu, senangnya luar biasa. Setahun ada 18 medali. Bahkan virtual run pun diikuti. Ulang tahun setahun berlari saya rayakan dengan virgin half marathon. Finish? Iya. Meski 8 menit menjelang COT, 3 jam 52 menit, 51 detik. Apalagi dapat tanjakan sumpah serapah sundul langit mulai km 17. Jam di tangan sudah berisik karena heart rate yang berantakan.Itukah kenapa saya bilang seperti lahir baru. Dari ndak bisa lalu bisa dan biasa. Cuma nyesel aja, kenapa tak memulai saat usia masih muda.Makin ke sini, saya tahu. Medali tak buat dikoleksi. Apalagi di rumah saya. Kalau medali dipajang, yang punya rumah harus tidur luar rumah. Jadilah puluhan medali rapi di plastik pembungkusnya masing-masing.”Running formnya yang bener!””Cadencenya dipercepat!””Ball of footnya diperhatikan!””Praktikan ABC drill.”Itu yang saya dengar seminggu 3 kali setiap latihan di @skolari.id. Padahal, kalau sudah lari, teori ini suka buyar sendiri di lapangan.Dan banyak lagi hal-hal dasar yang baru saya pelajari kemudian. Dulu, cukup pemanasan dan pendinginan ala kadarnya. Kadang pendinginannya dengan sebotol minuman dingin, bukan gerakan senam.Sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, lari ini benar-benar pelarian. Ini saat meditatif buat saya. Saat tiap langkah saya bisa berdialog dengan diri saya sendiri.Iya, lari ini bagai bicara dengan badan sendiri. Saat kaki pengen terus berlari, kita harus tanya ke jantung, masih mau ndak diajak ngepot. Saat senyum sudah hilang di wajah, mungkin pertanda lelah.Dulu usia 20, selalu bilang nanti aja olah raganya mulai umur 25 saja. Dan begitulah, tahun-tahun berlalu dengan kelipatannya. Tetapi tenang saja, usia saja tetap 21 kok.Saya bukan atlet wannabe. Bukan pelari mengejar podium. Saya pacer, pelari dengan pace amburadul.Lari itu hanya perlu komitmen. Iyak kayak kamu dan pacarmu gitu. Jangan sampai ditinggal pas sayang-sayangnya.Komitmen buat latihan pastinya. Saya seminggu 2-3 kali. Ndak capek? Pastilah capek. Keringatan pula. Tapi bukankah hanya makan bakso pake sambel dan krupuk saja kita juga keringatan, ndro? Pilih sendiri mutu keringatmu.Latihan itu kudu, saat race itu saat bersuka cita buat saya. Jadi bawaannya senang aja. Pokoknya masuk finish under COT. Punya banyak foto itu untuk mood booster.Lari itu sama kayak merawat anak. Jangan suka dibanding-bandingkan. Dia larinya lebih kenceng, dia kuat lari lama, dia langkahnya gila ya. Bukankah ketika punya anak kita berjanji kepada diri sendiri untuk tidak membandingkan? Semua anak istimewa dengan talentanya.Begitu juga lari. Senyamannya kamu aja. Jangan minder kalau waktumu lebih lama. Jangan ndak pede kalau pace kamu di angka besar.Selalu berduka kalau ada pelari tumbang menjelang finish. Di saat tubuh mulai lelah, dan hasrat mengejar tepuk tangan meriah, memaksa jantung kita bekerja lebih keras. Kalau kita tumbang atau cidera, race akan tetap berjalan dan diikuti ribuan pelari-pelari baru lainnya bermunculan.Seberapa jauh kamu berlari, seberapa cepat kamu melangkah, tetaplah pakai ukuran kita sendiri. Ndak usah jadi atlet wannabe. Apa kata temen-teman saya nanti, ibu rumah tangga, pinter goreng krupuk dapat podium lagi. Saya tidak mimpi seperti itu. Pleaseeee jangan dorong saya untuk dapat podium. Medali saja sudah cukup.Buat saya, lari itu playon. Alon-alon waton kelakon eh playon.Di tahun kedua berlari, lipstik dan alis tetap menjadi koentji. Dan di tahun kedua ini, teman saya lebih banyak lagi.Percaya sama aku deh, capeknya lari itu sebentar saja. Lain dengan capekmu lelarian di bayangan masa lalu yang ndak jelas juntrungnya. Tenan itu.Kamu milih lari bareng aku atau kasih pelukan di garis finish?Model diperagakan oleh mbaknya. Difoto fotografer kondang ibukota (sebelum nantinya dipindah) Bi Dewi Nurcahyani. Ini lari panas-panas di runway Pantai nDepok mBantul.

Facebook Comments

Tak Semudah Bilang OK Google……

Pemadaman kebakaran ini tak semudah perintah suara di Google Voice Assistant yang tinggal bilang: OK Google turunkan hujan.

Turun dari ketingting, senja sudah hampir lenyap.  Pendamping yang duduk di ujung perahu hanya nampak siluet hitam saja. Semak-semak di kiri kanan jalur air nampak bagai jajaran bayangan hitam. Kami melihat satu dua orang petugas pemadam kebakaran turun  mendekati air. Jangan tanya siapa saja mereka, untuk melihat wajah mereka pun kami tak bisa.

Untung tak lama ketingting sampai. Turun dari kapal, saya mengajak dokter Irma Mariani Sitohang (28) duduk di atas  gulungan selang. Ini jelas pilihan yang lebih bersih dibandingkan beralas rumput yang seharian disiram debu. Satu dua tanya saya lontarkan. Tapi tangan saya tak mau berhenti mengusap celana lapangan. Serbuan nyamuk hutan tak kenal ampun. Digigitnya tak seberapa, tapi sisa panas yang ditinggalkan di permukaan kulit menyebalkan sekali. Sakit, gatal dan panas. Baju lapangan macam apapun, rasanya tak luput dari serbuan nyamuk.

“Pindah ke tenda yuk dok,” ajak saya.

Satu-satunya tempat dengan penerangan di tempat ini. Mungkin sekitar 15 watt lampu hemat energi. Saya memilih duduk dekat lampu. Saya pikir, nyamuk akan malu kalau terlihat di tempat terang. Ternyata salah. Nyamuk mungkin menyingkir, tetapi serangga penyuka cahaya datang mengeroyok muka dan nempel di permukaan baju. Seliweran mereka sangat mengganggu. Dan jumlahnya banyak. Orang lain yang jauh dari cahaya Nampak tenang-tenang saja, melanjutkan obrolan di posko utama pemadam kebakaran di Simpang Tiga, Sei Baung, Sumatera Selatan. Posko yang didirikan oleh mitra Sinar Mas yaitu PT Bumi Mekar Hijau.

“Duh, salah posisi lagi,” ujar saya. Dokter hanya mesem saja. Perempuan 27 tahun ini memang kalem penampilannya. Mungkin terbiasa menghadapi kedaruratan saat sekolah dulu. “Ini juga pengalaman baru buat saya, memeriksa pasukan pemadaman kebakaran di sudut-sudut yang sulit dijangkau dan tidak mungkin mereka tinggalkan pekerjaannya,” ujarnya menceritakan perjalanan hari ini.

Hari itu kami mendatangi tiga posko kecil, tempat pemadam kebakaran beristirahat di malam hari. Pemeriksaan pertama di velbed depan tenda mereka. Karena lokasi pendinginan wilayah yang terbakar tak jauh dari tenda, petugas mau datang untuk diperiksa kesehatannya.

“Saya di sini saja. Jangan dekat-dekat, sudah beberapa hari tak mandi,” ujar Imam yang berbadan gempal. Seragam merahnya sudah bercampur tanah dan debu. Begitu juga Eko dan Rudi. Sudah hampir dua minggu mereka bertugas di tempat ini. Kebakaran semak dan pohon-pohon gelam tak bisa dianggap enteng. Ini lebih karena luasannya.

“Ada banyak air kenapa tidak mandi?” tanya saya.  Tentu saja ini pertanyaan bodoh. Karena di ujung selang tempat mereka mengambil air, yang  kami lihat hanya air coklat, bercampur lumpur. “Kalau dipaksakan mandi, dijamin badan akan merah-merah dan gatalan seketika. Lama-lama jadi luka,” ujar Eko. Mandi tak mandi memang jadi masala. Keringat bercampur air saat bertugas hanya menyemai biang-biang penyakit kulit saja.

“Dok, selain oksigen, kami ditinggali bedak juga ya,” pinta Rudi usai diperiksa dokter Irma.

“Jangan dipakai di muka ya, tidak ada yang naksir juga di sini,” canda Irma.

Rudi, Eko dan Imam, tak mandi berhari-hari sudah biasa saat mereka tengah berjibaku memadamkan api atau melakukan pendinginan di wilayah yang baru saja terbakar. Bayangkan, berhari-hari tak mandi. Sementara panas di lokasi mendekati angka 40 derajat. “Makanya jangan dekat-dekat ya Bu duduknya,” ujar Imam jengah. Ia takut, kami mencium bau badannya. Jangan berharap ada toilet pula. Untuk buang air kecil, mungkin tak ada masalah bagi petugas yang laki-laki semua ini. Tapi buang air besar? Entahlah. Yang jelas, di jemuran darurat belakang tenda, yang ada hanya celana dalam saja yang dicuci. Baju-baju kotor disampirkan saja di tali.

Di tempat kedua, tak mungkin kami meminta petugas pemadam kebakaran mendekati kami yang  berhenti di dekat  tenda. Beberapa asap putih masih nampak dan pendinginan tak mungkin ditinggalkan. Dokter Irma dan dua paramedis yang menghampiri mereka. Bergantian petugas tersebut diperiksa tensi, ditanya kesehatannya dan juga diberikan oksigen portable yang dibawa tim medis kemana pun mereka melakukan pemeriksaan.

Dua tempat ini bisa kami lalui dengan mobil dobel gardan. Jalur sudah dibuka dengan excavator, sekaligus dijadikan sekat bakar. Nah di tempat ketiga, kami harus naik ketingting atau perahu ketek. Kami memilih ketingting karena muat lebih banyak penumpang. Dokter, dua paramedis dan pendamping masuk semua. Meski kami harus berhati-hati menjaga keseimbangan.  Kalau naik perahu ketek, hanya muat tiga penumpang saja.

Irma, Intan dan Putri mencengkeram erat pinggiran perahu. Satu tangan lagi saling berpegangan di antara mereka. Saya yakin mereka tidak takut. Hanya menunggu perahu lebih stabil saja saat melaju lebih kencang.

Tak sampai 30 menit, kami menepi. Naik ke hamparan gelam yang terbakar. Satu meteran tingginya dari permukaan sungai. Lalu melanjutkan jalan kaki, beberapa puluh meter ke dalam sisa-sisa gelam dan semak yang terbakar. Kaki harus hati-hati melangkah karena akar-akar tanaman bisa menjerat langkah kami. Pun permukaan tanah yang tak rata bisa membuat kami terjatuh di sisa-sisa kebakaran.

Kami menjumpai 3 petugas pemadam kebakaran dari PT Bumi Mekar Hijau, mitra  pemasok APP Sinar Mas. Kali ini tak ada lagi tempat yang bisa dipakai untuk meletakkan pantat. Hamparan yang ada basah oleh pendinginan yang dilakukan petugas. Jadilah dokter bercakap dengan mereka sambil berdiri.

Sepanjang perjalanan hari itu, sudah tak banyak petugas yang memakai seragam mereka. Selain karena sudah berminggu-minggu, seragam sudah kotor semua. Tak jarang celana mereka pun sobek tersangkut pohon-pohonan.

“kami minta hujan sajalah. Mau disemprot air tiap hari, kalau tak ada hujan, ndak banyak berarti. Hanya hujan yang mampu menghentikan kebakaran ini,” ujar Imam. Permintaan sederhana. Dengan air hujan pula, tubuh lusuh mereka akan terkuyur air dengan sempurna tanpa takut gatal-gatal.

Kadang kita yang tinggal jauh di kota, abai dengan keberadaan mereka. Hanya nyinyir saja soal kebakaran yang tak kunjung padam. Mereka abai dengan dirinya hanya untuk memastikan bahaya kebakaran tak meluas dan membahayakan orang lain. Dan saya jadi malu pada diri sendiri yang mengeluh karena serangan nyamuk dan serangga hutan yang bertubi. Pemadaman kebakaran ini tak semudah perintah suara di Google Voice Assistant yang tinggal bilang: OK Google turunkan hujan.

 

Facebook Comments

Desa ini Hebat, Larang Warganya Merokok

Tiga jam kami terguncang-guncang dalam perjalanan dari Jambi ke Desa Sungai Keruh, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Tak sempat meluruskan punggung, Kepala Desa Sungai Keruh sudah menyapa kami. “Saya sudah tunggu sejak pagi,” ujar Suwarno sumringah. Kami memang telat dari janji untuk datang sepagi mungkin dari Jambi.

Suwarno semangat untuk segera mengabarkan perkembangan desanya. Pantas ia bangga. Tahun 2018 lalu, desanya menjadi juara tingkat nasional untuk Lomba Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) dan Tanaman Rumah Tangga.

“Meski di desa, kami pastikan bahwa semua rumah tangga di desa ini memiliki jamban sehat. Perlu waktu untuk sosiasilisasi, tetapi hasilnya bisa kita nikmati kini,” ujarnya. Oh ya, pejuang hidup sehat pasti akan bangga juga tinggal di desa ini. Merokok hanya boleh dilakukan di tempat-tempat yang sudah disediakan. Pojok merokok mereka menyebutnya. Di setiap tempat disediakan sudut-sudut untuk merokok ini, termasuk di kantor Suwarno.

Bisa dibayangkan perjuangan untuk menerapkan peraturan ini. Rata-rata transmigran yang sudah masuk generasi ketiga ini adalah petani sawit awalnya. Pendapatan sudah bisa dihitung dengan pasti. Saat-saat panen pastilah mereka memiliki uang yang melimpah. Konsumsi rokok tentu menjadi hal yang jamak. “Justru di sini tantangannya,” ujar Suwarno. Ia melakukan sosialisasi melalui acara kendurian, pengajian dan pertemuan rutin lainnya. “Saya sendiri menjadi contoh. Mau tak mau harus berpisah dengan rokok,” tambahnya.

Untuk menjadi juara PHBS tak mudah. Ada 10 kriteria yang harus dipenuhi: anak-anak yang baru lahir harus mendapatkan ASI ekslusif, menimbang bayi dan balita secara rutin, cuci tangan dengan air bersih, tidak merokok, memiliki jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, makan buah dan sayur, air bersih dan adanya aktivitas fisik.

Agro Wisata

Soal buah dan sayur tak perlu khawatir kini. Warga bisa mengusahakan sendiri di pekarangannya. Predikat juara tak hanya disandang saat ini saja, tetapi sudah sejak 2013, meski baru tingkat kabupaten.  Dari 186 kepala keluarga, hampir rerata warganya petani sawit. Di antara waktu panen sawit, banyak waktu luang yang dimiliki masyarakat. Suwarno tak ingin warganya berpangku tangan saja menunggu panen. Ini menjadi perhatiannya. Ia meyakini setiap orang ingin hidup bahagia dan tak memiliki kekhawatiran  tentang masa depan anak-anaknya.  Ia mengajak warga untuk bercocok lanam di halaman rumahnya. Tanaman sederhana saja, yang mudah dipanen setiap saat. Jadilah cabai, terong, tomat, dan aneka sayuran lainnya mereka tanam. Hasilnya tak hanya untuk konsumsi keluarga tetapi juga bisa dijual.

Saat itu sudah ada  beberapa warga menanam melon. Ini jenis tanaman yang tak mudah untuk dirawat sebetulnya. Tetapi ternyata hasilnya menggembirakan. Panen yang berlimpah membuat warga senang. “Mereka juga selfi-selfi di kebun melon sebelum membeli. Saya melihat ini sebagai peluang,” tambahnya.

Tepat setahun lalu, ia mengajak masyarakat untuk menanam melon lebih banyak lagi. Ia gunakan tanah desa sebagai projek percontohannya.  Di lahan 0,3 hektar, panenan melon berlimpah. Dari berbagai uji coba, tak kurang dari lahan tersebut mampu menghasilnya kurang lebih 45 juta.

Riyanto, adalah petani andalan Suwarno. Ia yang mengajak beberap anak muda untuk berani mencoba. Di lahan yang hanya 0,3 hektar itu, ia terus memikirkan bagaimana bisa efektif hasilnya. Ketika kami datang, dua minggu lagi panen raya akan dilakukan di desa tersebut. Dari  hasil 45 juta pada waktu panen pertama, diperkirakan tak kurang 120  juta bisa dihasilkan nanti, atau naik 167% dari panenan awal.

“Ini panen keempat. Dan hasilnya semakin bagus, ujar Riyanto. Setiap panen, masyarakat sekitar pasti ikut mencicipi melon segar dari tanah desa ini. “Ibarat promo, sekarang kita kasih, lama-lama mereka pasti akan membeli juga karena tahu kualitasnya,” tambah Riyanto.

Kini, hasil melimpah dari kebunnya sudah pasti ada  pembeli. Tak perlu ia jual sampai ke pasar, tetapi pedagang-pedagang akan mengambil sendiri di kebun Sungai Keruh. Riyanto tak sendiri.  Bersama beberapa warga mereka menjadi pionir. Kini, tetangga-tetangganya mengikuti jejaknya. Dari 1600 batang yang ditanam, kini satu lahan saja  sudah bisa ditanami 3600 batang.

Tak hanya melon, di samping kiri kanan atau halaman depan warga pun kini dipenuhi cabai dan sayuran lainnya. Terbaru, mereka mengembangkan lele melalui bioflok. Pasarnya tak perlu dicari.  Serapan lele di desanya pasti mencukupi. Dibandingkan wilayah lain,  Desa Sungai Keruh menghasilkan perputaran ekonomi yang lebih tinggi. Dana desa pun bisa dimanfaatkan maksimal.

Wisata Air

Sebagai kepala desa, Suwarno ingin warganya makmur, badannya sehat dan bisa plesiran. Ia tak ingin warganya darurat kurang piknik. Dulu untuk bisa wisata, warganya perlu jalan jauh ke arah Jambi. Kini tak perlu lagi. Mereka membuat wisata air di desa tersebut, namanya Wahana Tirta Sari. Tiap sore selalu ramai. Terlebih di hari Minggu. Wisata air ini akan dibuka dari pagi hingga sore. Kelengkapan safety pun mereka pikirkan. Sambil menunggu bisa naik perahu-perahu bebek, anak-anak yang lain bisa bermain jungkat-jungkit, perosotan atau jajan di warung-warung yang sudah disediakan. Ibu-ibu pun bisa duduk menunggu di beberapa gazebo yang ada. “Sekarang masih gratis untuk masyarakat. Nanti kalau fasilitasnya lebih lengkap, baru kita tarik dana untuk membantu operasional. Lebaran haji kemarin, tempat ini seperti jadi hadiah untuk warga,” ujar Suwarno.

Perkembangan desanya tak lepas dari peranan perusahaan di ada yang ada di wilayahnya. PT Wirakarya Sakti melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) membantu desa ini berkembang maju dengan pesat. Melalui DMPA, sebetulnya perusahaan ingin mengurangi pembukaan lahan dengan cara bakar dan juga meningkatkan pendapatan masyarakat dengan berbagai program pemberdayaan.

“Dengan berbagai bantuan dari perusahaan, berbagai kegiatan yang kami usahakan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, masyarakat tidak perlu terus menerus membuka lahan dengan cara bakar. Kami berharap, dengan begini potensi kebakaran hutan pun bisa dikurangi,” jelas Suwarno.

Betul juga bila ada yang mengatakan yang berani berpeluh pasti tak mengeluh. Beragam kegiatan desa  berujung pada peningkatan pundi-pundi masyarakatnya. Tepat seperti semboyan Tanjung Jabung Barat: bumi serengkuh dayung serentak tujuan.

Yuk kita jalan-jalan ke Desa Sungai Keruh.

Facebook Comments

Memuliakan Sepatu

Ben Simmons, garda Philadelphia 76ers asal Australia, menuliskan Pray for NZ di Nike Hyperdunk 2018 miliknya saat bertanding dengan Sacramento King, Sabtu (16/3) lalu. Itu bentuk penyampaian duka dari sang bintang atas aksi terorisme yang menewaskan puluhan orang yang mengoyak rasa kemanusiaan. Pelaku teror  ditangkap dan  sudah masuk proses pengadilan. Sangat kilat bila dibandingkan dengan pengadilan di Indonesia.

Perdana Menteri (PM) New Zealand (Selandia Baru), Jacinda Ardern, enggan menyebut nama pelaku teror di dua masjid Christchurch dalam setiap pernyataannya. “Dia mendapat banyak hal dari aksi terornya, kecuali satu hal yakni kemasyhuran,  itulah mengapa Anda tidak akan pernah mendengar saya menyebut namanya,” tegas PM Ardern dalam pernyataan emosional saat rapat khusus parlemen New Zealand, seperti dilansir media, Selasa (19/3/2019).

“Saya memohon kepada Anda: ucapkan nama-nama korban yang kehilangan nyawa, bukannya nama pria yang merenggut nama mereka,” tutur PM Ardern dalam rapat yang digelar di Wellington, empat hari usai teror di dua masjid Christchurch menewaskan 50 orang. “Dia seorang teroris. Dia seorang kriminal. Dia seorang ekstremis. Tapi saat saya bicara, dia akan tanpa nama,” tegasnya. Ia memastikan, pemerintah akan memberlakukan kekuatan hukum penuh  terhadap pelaku teror tersebut. Dan ia pun berjanji mereformasi aturan kepemilikan senjata yang berlaku.

Kegeraman Ardern wajar. Yang tak wajar adalah bila kita dengan sengaja membagikan video penembakan tersebut kemana saja. Tak layak memang mempertontonkan video terorisme di New Zealand tersebut. Terlalu brutal. Pelaku terorisme tersebut, seperti memindahkah kekerasan dari game online ke dunia nyata. Apalagi memeperlihatkan pada anak-anak dengan pengantar dan penutup penuh kebencian, hanya menumbuhkan bibit baru kekerasan pada  generasi setelah kita.

Pernyataan duka Ben juga diikuti pemain basket lainnya, meski tidak di sepatunya. Seperti ditunjukkan oleh Steven Adams, pemain dari Oklahoma City Thunder, ia memberikan dukungan dengan menulis tagar #Kiakaha yang bermakna stay strong.

Enes Kanter, pemain tengah Portland Trail Blazers, dalam cuitannya mengatakan: “Kita mungkin berbeda agama, berbeda bahasa, berbeda warna kulit, tetapi kita sama-sama manusia. Terorisme tidak mengenal warna. Terorisme tidak mengenal agama. Terorisme tidak mengenal negara. Dukungan melalui media sosial jamak dilakukan.”

Pray for NZ sebenarnya adalah doa dan penguatan untuk masyarakat yang terluka. Tetapi kenapa harus di sepatu—berdoa kok di sepatu?

Bagi Ben, Steven, Enes, dan banyak atlet lainnya, sepatu wajib dimuliakan. Begitu juga pelari. Meski letaknya paling bawah, terinjak, dan menahan beban tubuh, melintas tempat basah dan kadang kotor, bisa dipastikan sepatu merupakan barang yang paling dimuliakan.

Terkadang, harganya pun paling mahal dibandingkan jersey atau aksesori lain yang menempel di badan. Sepatu menjadi semacam penanda yang membedakan ia dengan pemain lainnya. Tentu di luar kemampuan teknis masing-masing atlet.

Pada sepatulah mereka berterima kasih untuk kaki kokoh. Sepatu merupakan senjata bagi mereka ke medan perang—pertandingan demi pertandingan—yang akan melindungi kaki dari cedera dan menjaga perfomanya. Teknologi canggih pun disematkan di dalam sebuah sepatu untuk kenyamanan pemakainya.

Kaki kokoh yang melenggang tinggi melakukan jump ball, jump shoot, jump pass, lay up, slam dunk dan banyak teknik basket lainya. Mereka tahu, pandangan mata dan sorot kamera, salah satunya, akan tertuju di sepatunya. Komentator akan membahas panjang perfoma sepatunya. Kalau malas baca, dengarkanlah podcast yang membahas basket, ramai mereka membicarakannya. Ini aktivitas baru saya, karena anak memutar podcast basket ini kencang-kencang di rumah. Mau tak mau, saya jadi pendengarnya juga.

Tak hanya di basket, di dunia sepak bola, bintang-bintang lapangan bahkan punya sepatu khusus yang dibuat awalnya hanya untuk dia. Kemudian berkembang menjadi sepatu yang mencantumkan namanya.

Kita kenal Mercurial Superfly yang dikenakan megabintang Cristiano Ronaldo bernama Chapter 5: Cut to Brilliance.  Mercurial ada banyak jenisnya. Dan anak-anak pun akan merengek-rengek minta dibelikan sepatu yang sama meski harganya melangit. Contohnya tidak perlu jauh-jauh. Anak saya akan merengek minta sepatu seperti idolanya. Dulu sepatu sepakbola, kini sepatu basket. Cara brilian menghindari rengekan adalah meminta ia menabung dan membeli kalau sudah cukup uangnya. Ini manjur. Dia akan lupa sepatu idamannya, karena tak sabar menanti uangnya cukup.

Khusus untuk Christiano Ronaldo, ada pula rajutan kalimat: El Sueno Del Nino, yang kalau diterjemahkan menjadi “Mimpi Anak Itu”. Ini permintaan khusus Ronaldo kepada tim desain Nike untuk menggambarkan perasaan sang pemain setelah bergabung dengan Los Galacticos.

Di sepatulah mereka menggambarkan perasaan, entah gembira atau dukanya. Wajar kalau Ben mendaraskan doa di salah satu sepatunya. Menurutnya, itu tempat termulia yang menopang segala kegiatannya; media yang dilihat banyak orang, bahkan diindentikkan dengan diri sang bintang.

Pernyataan di sepatu adalah signature dirinya. Dan kita bebas untuk mengekspresikan rasa.

 

Facebook Comments

Bapak yang Tak Pernah Tampak

 

 

Wajahnya galau begitu tahu judul acaranya. Mulutnya manyun. Hatinya tak tenang, sambil menebak-nebak apa yang terjadi sepanjang malam ini—sesekali bertanya kenapa harus ada di acara ini.
Saya sengaja menjauhkan HP dari tangannya. Fokusnya akan hilang, atau sengaja menyembunyikan rasa tak nyamannya di balik cahaya gawai.

Aku tidak tahu tepat atau tidak mengajak dia ke acara Tribut untuk Bapak. “Bapak”? Sebutan yang hilang dari kosakata Bahasa Indonesia-nya.

Mungkin ia juga tak bisa mengeja kata benda atau kata sapa yang satu itu. Ya, dia terputus emosi dengan lelaki yang bisa disebut “bapak”, di sepanjang usianya yang hampir 15 tahun ini.

Anakku..
Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat di namamu…

Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…

Nak..
Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam doanya selalu ada namamu disebutnya?

Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu…

Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..

Bunda hanya ingin kau tahu, nak..
bahwa…
Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..

Anakku…
Jadi di dirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu.

Rasanya aku ingin mengumpat. Begitu meletakkan pantat dan acara dimulai, puisi itu menggema di ruangan yang mendadak sepi. Ingin sekali mengutuk penulisnya.

Mungkin masa kecilmu bahagia punya bapak, mungkin hari-harimu bisa bangga karena ada bapak. Tetapi tahukah kamu, di sampingku ini, ada lelaki kecil yang tak pernah digandeng bapaknya? Bahkan tak pernah lihat wajahnya.

Aku melirik ke samping kanan, wajahnya tampak keras. Matanya bergerak-gerak. Tonjokan kata-kata pembuka ini menusuk relung hatinya.

“Pinjam HP,” katanya.

“Tidak. Cahayanya mengganggu,” jawabku sambil berbisik.

Dia hanya bisa diam. Terlebih tak mungkin tanggannya menjangkau HP yang ada di dalam tasku.

Hampir dua jam ke depan kami akan mendengar kata “bapak” ini disebut. Berapa banyak? Ratusan, lengkap dengan gambar-gambar bahagia dan duka Maman Suherman, sang pengarang buku Bapakku Indonesia, dan Ikhsan Skuter yang melakukan musikalisasi puisi-puisi dalam buku Kang Maman.

Sekali lagi aku tidak tahu, tepat atau tidak mengajak anak yang besar tanpa didampingi bapaknya ke acara ini.

“Aku siapkan tiket untuk kamu dan anakmu, ya,” ujar Kang Maman beberapa hari sebelum pementasan.

Aku gembira, tentu saja. Tetapi anakku? Entahlah. Aku tidak kasih tahu ke dia detail acaranya.

Baru beberapa saat acara berjalan, air mataku sudah tumpah. Sesenggukan yang entahlah. Di sudut-sudut lain, aku mendengar mulut-mulut yang sibuk menahan isaknya. Menyebalkan! Air mata tumpah hanya karena kata-kata?

Buatku, ini bukan sekadar kata-kata. Satu kata “bapak” saja mengantarkan aku pada perjalanan 15-16 tahun ke belakang. Saat aku harus menghapus bayangan lelaki penanam benih di rahim yang kemudian entahlah.

Aku tak ingin bercerita dia yang sudah raib. Hilangnya kata ini dalam hidupku meninggalkan banyak cerita—cerita duka pastinya. Meski kalau aku mengingat ke belakang, ah…….tangisan yang dulu ternyata cemen saja.

Aku ingat, pada tiga tahun usianya, dia berjingkrak di atas sofa: “Aku tak punya bapak…aku tak punya bapak!”

Aku terhenyak. Memeluk dan membisikkan ke telinganya: “Kan ada kakung, ada om, ada banyak saudara yang bisa jagaian dan temani kamu ke mana saja,” ujarku.

Saat itu, aku yang begitu berduka. Apa yang ia ucapkan bisa jadi rekaman dari pembicaraan orang dewasa di sekitarnya. Sementara untuk lelaki kecilku ini, usai jejingkrakannya, ia sudah lupa kata-katanya.

Namun entah kenapa, satu dua tahun kemudian, kata yang sama terucap lagi. Kata-kata yang mengagetkan eyang utinya yang kebetulan melintas di dekat ruang keluarga—ia lalu mengurungkan niatnya belanja. Uti hatinya ikut terluka.

Aku mengajak lelaki kecil itu wisata, supaya banyak waktu untuk kami bercerita. “Ada bunda, ada banyak teman. Semua bisa menjagamu,” ujarku. Dia mengangguk saja.

Itu hanya sekelumit cerita. Tak pernah diajak keliling motor dengan ayahnya? Tidak bermain bola, bahkan saat hujan pun tiba. Tidak ada yang memeluknya ketika petir menggelegar? Aku tidak bisa cerita, karena dia juga menyimpannya dalam diam.

Cerita lelaki kecil yang tak punya ayah ini masih panjang. Dan aku takut ia makin terluka.

“Dia punya self defense mechanism yang baik. Dia tahu betul tidak punya ayah, bisa menerima hal ini dan tahu bagaimana harus menyikapi,” ujar seorang teman ketika kami sama-sama memeriksa bawah sadarnya.

“Selamat malam, anak-anak, buah kasih, jantung hati bapak dan ibu, anugerah terbesar dalam kehidupan bapak dan ibu. Ada yang ingin memeluk anaknya?” ujar Kang Maman dari atas panggung.

“Berdiri, nak,” pintaku.

Pantatnya lengket dengan kursi. “Ndak, ah,” balasnya singkat.

Tetapi aku tetap memeluknya. Meski dia sedikit menggerakkan badannya tanda enggan menerima pelukan di keramaian.

Musikalisasi Ikhsan Skuter membuat malam makin asem saja rasanya. Isakku makin menjadi saat Sumbadra, anak seorang teman, maju ke depan menceritakan tentang ayah yang sudah tiada, sebulan saat ia menginjakkan kaki di Italia.

Setiap tanda yang tertera di badannya, terhubung dengan ayahnya, termasuk tulisan “cabut” di salah satu lengannya. Tulisannya jelek. Tak artistik sebagai tato, tetapi cerita di belakangnya menyentuh kami semua.

“Ini kata yang ditulis bapak ketika sadar dari koma dan ingin semua alat bantu di tubuhnya dicabut,” ujarnya.

“Apa yang ingin kamu bilang untuk ayahmu?” tanya Kang Maman.

Tangis Sumbadra makin kencang. Isaknya menyesakkan dada. “Ayah, aku kangen. Aku kangen. Aku ingin peluk ayah,” ujar Adra.

Ayahnya memang sudah pergi. Makamnya ada di halaman rumah mereka. Setiap saat ia bisa menjenguknya. Fisiknya yang jadi jasad, tetapi kenangannya tetap lekat.

Air mata mengalir sampai pipiku. Pasti lelaki di sebelahku melihat, terlebih ketika beningnya air mata ini tertimpa cahaya.

Ah ya, di sebelah ada Bang Togu Simorangkir, penggerak literasi di Tanah Toba. Rasanya aku tak sempat malu. Air mata ini mendesak tumpah. Bodoh amatlah.

Lelaki kecil di sampingku berusaha tenang, seperti biasanya. Tak ada luapan emosinya yang tertangkap olehku. Padahal mungkin hatinya gusar.

Pentas ini pesta katarsisnya mereka yang punya bapak. Meski tak pernah dipeluk lelaki yang disebut “bapak”, tetapi aku yakin pesta semalam memperkaya batinnya.

Imaji tentang bapak yang tak pernah tampak. Doaku juga untuk ribuan anak di seluruh dunia yang bisu untuk menyebut kata yang satu itu: bapak.

Facebook Comments