Tim Reaksi Cepat (TRC) Pemadam Kebakaran yang Hebat

Hutan Gelam di Simpang Tiga, Sei Baung, hampir habis terbakar. Menyisakan sisa-sisa batang yang menghitam dan abu pekat sepanjang hamparan. Tidak mudah untuk melangkah untuk menjangkau petugas pemadam kebakaran yang masih bertugas melakukan pendinginan. Asap putih masih tampak di beberapa tempat, itu tandanya titik-titik tersebut perlu disemprot dengan lebih banyak air agar tidak kembali muncul potensi kebakaran. Meski cuaca panas, tetapi dengan angin yang tenang membuat petugas lebih ringan tugasnya. Siang atau malam, saat angin bertiup lebih kencang, mereka meningkatkan kewaspadaan karena api bisa muncul kembali dari panas yang belum benar-benar padam.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Sinar Mas di Palembang sudah siaga sejak berbulan-bulan lalu untuk menghadapi musim kering di tahun ini. Meski terbilang berdurasi pendek, tetapi mereka tidak pernah menganggap ringan setiap potensi kebakaran yang terjadi. Nurdin (35) anggota TRC yang tengah mendinginkan sisa-sisa kebakaran  menjelaskan, dia bersama timnya sudah seminggu lebih berada di Simpang Tiga. Mendirikan posko lebih kecil dari posko utama yang berjarak 4 km an. Sumber air bersih yang tak mudah didapat, membuat ia dan timnya memilih tidak mandi karena membersihkan diri dengan air kotor, hanya membuat badan mereka gatal.

Nurdin adalah bagian kecil dari 49 personel TRC yang berada di Palembang. Mereka masih didukung oleh 1188 Regu Pemadam Kebakaran (RPK) yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi di PT Bumi Mekar Hijau, supplier bahan baku pulp untuk APP Sinar Mas.

Menghadapi musim kering ini, Sinar Mas menyiagakan 128 personel TRC dan lebih dari 3000 Regu Pemadam Kebakaran yang tersertifikasi. Jumlah tesebut tersebar di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Dengan mengoperasikan 11 helikopter water bombing, 1470 fire pump, 52 kamera termal dan cctv, 138 fire truck, 146 mobil patrol, lebih dari 500 pos pantau, 55 speedboat, 9 airboat serta 462 motor patrol, jumlah ini merupakan yang paling besar dimiliki perusahaan di Indonesia.

“Yang paling utama adalah kita mengintegrasikan semua sarana tersebut dengan sistem yang terpadu dan kemampuan personel untuk membaca situasi, melaporkan secara akurat dan juga menyelesaikan setiap kasus kebakaran dengan tepat. Ini adalah kekuatan utama integrated fire management Sinar Mas yang bisa kita andalkan untuk mengatasi kebakaran yang terjadi sepanjang  musim kering 2019 ini,” ujar  Fire Operasional Management Head Sinar Mas Region Palembang Mares Prabadi, Jumat (4/10). TRC dan RPK Sinar Mas, selama ini lebih banyak membantu pemadaman kebakaran di wilayah-wilayah luar konsesi karena secara regulasi diwajibkan untuk memadamkan kebakaran radius 5 km dari batas luar konsesi.

Mares menambahkan, dengan memiliki tim elit seperti TRC, memudahkan mereka untuk menganalisa dan menjangkau daerah-daerah yang sulit ketika terjadi kebakaran.  TRC bersama dengan kru helikopter akan membuat pengukuran dan analisa dari udara untuk kemudian  menentukan apa saja yang perlu segera dikirim ke daerah yang terbakar tersebut. Hasil size up tim ini akan dipadukan dengan citra satelit yang mereka dapatkan, sehingga hasilnya lebih akurat.

“TRC juga bisa diturunkan langsung dari helikopter, lengkap dengan peralatan pemadaman portable dan juga kelengkapan untuk bertahan hidup selama 1-2 hari,” tambah Mares.

Ilmu Pemadam Kebakaran

Meski cukup lama memiliki regu pemadam kebakaran terlatih, kemampuan ini perlu ditingkatkan, termasuk  mengintegrasikan  personel, alat dan sejumlah data tentang kebakaran ke dalam satu sistem.

“Dulu, ada personel, alat, dan data-data yang berserak, tetapi belum terintegrasi, sehingga tidak efektif. Semuanya data perlu disederhanakan sehingga bisa diakses dalam keadaan tanpa sinyal HP sekalipun,” ujar Juan Caamano dari Spatial Information Group yang memberikan banyak masukan agar Integrated Fire Management (IFM) berjalan efektif.

Sistem diturunkan dalam berbagai SOP, dan peta-peta dibuat berdasarkan berbagai data yang ada.  Informasi hot spot atau pun fire spot dan luasan kebakaran dipantau oleh helikopter dan berbagai satelit. Peta-peta aktual ini juga bisa diakses secara offline, sehingga tim yang bertugas jauh dari fire base, bisa mengetahui perkembangannya.

IFM atau manajemen penanggulangan kebakaran terintegrasi di Palembang ini dikendalikan 18 personil dengan berbagai spesialisasi yang mereka miliki. Secara garis besar, terdapat empat pilar utama IFM yaitu persiapan, deteksi dini, respons cepat, serta pencegahan. Berbagai data dipantau secara real time.

“Ilmu tentang fire ini ilmu yang selalu berkembang. Dan di Indonesia tidak banyak yang ahli di bidang ini. Di sini kita perlu berbagi dengan banyak anggota agar terdapat pemahaman yang sama,” tambah Mares.

Tim Elit

Meski memilik 3018 regu pemadam kebakaran yang tersertifikasi, perusahan memikirkan untuk perlu memiliki tim elit yang lebih dengan pemahaman membaca berbagai analisa dan data cuaca hingga dengan akurat termasuk memikirkan langkah pencegahan dan pemadaman.

“RPK diambil dari latar belakang karyawan yang beragam, ada bagian harvesting, plantation dan lainnya. Hanya karyawan di bagian administrasi saja yang tidak dilibatkan. Kemampuan mereka beragam, meski sudah ditraining dan tersertifikasi. Kami ingin ada tim yang khusus hari-harinya diisi dengan kegiatan yang terkait dengan ilmu pemadam kebakaran ini,” tambah Mares. 49 orang TRC yang ada di Palembang ini merupakan bagian dari 128 TRC di seluruh Indonesia. Jumlah ini masih jauh dari ideal sebetulnya, tetapi terobosan ini membawa banyak kemajuan.

Kegiatan TRC tak beda dengan tim elit dari berbagai kesatuan militer. Mereka memulai hari dengan kegiatan fisik seperti olah raga, update informasi terkait kebakaran, simulasi di kelas dan juga praktik di lapangan.

Di depan mess mereka, terdapat berbagai alat simulasi dan berbagai peralatan. Dua mess berjejer sebagai tempat istirahat, di depannya terdapat airboat, staging area dan gudang peralatan. Sisi depan, terdapat ban-ban ukuran besar tempat mereka olah fisik. Samping kiri, ada area cukup luas untuk simulasi lapangan. Di ruang kelas, juga ada meja dari pasir untuk membuat simulasi mini. Sementara di seberangnya, fire base untuk integrated fire management berdiri.  Di sinilah berbagai data diolah, pergerakan TRC dipantau dengan GPS ketika bertugas di lapangan, pergerakan helikopter dimonitor dari berbagai layar pantau. Data cuaca, data satelit, data hotspot dan fire spot, semuanya bisa dilihat real time.

Perjalanan menjadi anggota TRC sendiri tidak mudah. Dipilih dengan syarat ketat dan pelatihan berat. Bayak yang gugur di awal penjaringan. Tidak hanya secara fisik yang harus unggul, tetapi juga kecerdasan untuk memahami setiap materi yang diberikan. “TRC dituntut untuk mampu membaca situasi nyata di lapangan, membuat analisa dan juga mengambil keputusan-keputusan penting di lapangan,” tambah Mares.

Mendampingi TRC selama tiga tahun, Juan memastikan porsi latihan, disiplin, dan evaluasi dari waktu ke waktu. TRC tak boleh cuti sejak beberapa bulan sebelum musim kering hingga awal musim penghujan. Masuk musim penghujan pun, mereka tak diam, tetapi digembleng dengan dengan berbagai training dan menu workshop. Mereka juga mengikuti liga yang dibuat antardistrik. Liga ini bukan sekedar lomba, tetapi jadi ajang antardistrik untuk sharing knowledge dan cara paling efektif untuk membangun kekompakan tim.

“Di Indonesia, TRC pemadam kebakaran Sinar Mas ini harus diakui sebagai yang terbaik. Mereka profesional dan memiliki semangat tinggi,” ujar Juan.  Mares pun mengakui hal yang sama.

Meski begitu, Mares tak lantas berpuas diri. “Tantangan terbesar adalah ilmu fire ini jalan terus. Setiap areal rawan kebakaran berbeda-beda penyebabnya. Ilmu kebakaran ini jarang dimiliki orang. Masih sangat sedikit yang ahli di Indonesia. Orang yang bisa mengerti system fire, community base fire management itu masih sedikit.  Kita membangun terlebih dahulu dan terus melakukan perbaikan,” pungkasnya.

 

Facebook Comments

Ketika Waktu Menjadi Musuh

Hampir mendekati dini hari ketika kami sampai kembali ke Fire Operation Management (FOM) Mitra Sinar Mas di Sei Baung, Sumatera Selatan. Lebih dari enam orang masih berjaga di depan laptop, monitor layar lebar dan juga radio repiter. Evaluasi kegiatan sepanjang hari ini sudah dilakukan beberapa jam lalu. Tetapi bukan berarti pekerjaan berhenti. Di saat malam, kewaspadaan tim FOM justru meningkat. Di saat musim kering saat ini, ditambah angin yang bertiup kencang, potensi kebakaran tetap rawan terjadi.

Di saat helikopter berhenti meraung di udara pukul 17.00, pasukan darat tetap berjibaku memadamkan api ataupun melakukan pendinginan di wilayah yang terbakar. Daerah yang terbakar , materi bakar yang cukup banyak dan kelalaian manusia, jadi bencana besar kalau terjadi kebakaran. Tim pemadaman darat ini baru akan berhenti bekerja pukul 22.00.

Siang tadi kami melintas hutan gelam yang terbakar. Gelam ini sering digunakan masyarakat untuk membuat pondasi rumah karena kekokohan kayunya. Saat kebakaan besar terjadi pada tahun 2015, banyak hutan gelam yang terbakar. Dan kini entah kenapa tahun ini, api singgah lagi.

Berhari-hari terbakar, hutan gelam hanya menyisakan sisa pohon yang tertunduk ke tanah. Sisanya abu dan asap tipis yang masih nampak di beberapa tempat. Mata awam barangkali akan melihat daerah ini sudah aman dari bahaya kebakaran, karena tak ada lagi pohon tegakan. Tetapi di mata fire fighters, masih ada asap berarti tetap berpotensi terjadi api.

Nurdin tandem dengan Iwan, satu memegang nozzle dan satu lagi memegang selang. “Selang harus harus ada yang memegang dan mengawasi karena bisa nyangkut dan susah ditarik diantara pohon-pohon sisa kebakaran,” ujar Hendra dari Regu Pemadam Kebakaran (RPK) Sinar Mas yang mendampingi kami siang itu. Nurdin dan Iwan juga dari pasukan yang sama. Di sudut lain kami juga melihat petugas pemadam kebakaran berdua. Tandem di lapangan ini penting, untuk saling menjaga keselamatan mereka. Pemegang nozzle, bisa jadi tidak melihat ancaman kebakaran di sudut lain karena fokus pada pandangan ke depan. Rekannya yang mengawasi keadaan sekitarnya.

Kelompok kecil petugas ini, akan beristirahat tak jauh dari tempat mereka bertugas. Tenda kecil di bangun.  Beberapa veltbed disiapkan. Jemuran darurat ada di bagian belakang tenda mereka. Kadang tanpa pelita. Bila malam datang, bukan lagi gelap, tetapi pekat. Untuk orang kota barangkali ini saat tepat melihat bulan dan juga bintang di langit saat cuaca cerah. Tetapi buat petugas di lapangan ini, bintang-bintang di langit inilah yang menemani malam mereka.

Incident Command System

Keperluan logistik untuk menyalakan mesin pompa air, makanan tiap pagi, siang dan malam juga tambahan personel ataupun keperluan obat-obatan mereka koordinasikan dengan posko utama yang dibangun beberapa kilometer dari posko kecil mereka.

Di posko utama, radio panggil tak berhenti bersuara. Berisik. Laporan dari berbagai posko-posko kecil untuk mengabarkan kondisi terkini, selalu mereka terima. Jam 6, 10 dan 16 petugas akan mendistribukan makanan dan minuman kepada teman-teman di lapangan. Sebagian didistribusikan dengan kendaraan kalau sudah terhubung dengan jalur darat, tetapi ada pula yang perlu dikirim dengan ketingting dan perahu ketek melalui sungai atau kanal yang ada. Tak melulu makanan dan minuman, tetapi juga pelumas untuk mesin-mesin mereka, peralatan tambahan, juga obat-obatan. Keterlambatan distribusi ini bisa mengacaukan pekerjaan di lapangan. Bila diperlukan pasukan tambahan, harus segera dikomunikasikan. Demikian juga dengan peralatan berat yang digunakan setiap harinya. Exavator untuk membuat jalur sekat bakar, atau kendaraan lain untuk mencuci kanal.

Itu belum seberapa. Peta terbaru dari kebakaran dari waktu ke waktu juga harus tersampaikan kepada tim di lapangan. Supaya mereka tahu, kearah mana saja sekat bakar harus dibuat dan berapa panjang. Begitu juga kru helikopter bisa membasahi lahan agar kepala api tak meluas menyambar-nyambar.

Informasi cuaca, peta kebakaran, pengerahan helikopter, berapa banyak sortie bombing dilakukan hingga akses peta secara offline semuanya dirancang di FOM. Informasi-informasi rumit harus bisa disederhanakan agar mudah dipahami tim pelaksana di lapangan.

Sistem komando insiden (SKI) atau Incident Command System (ICS) merupakan konsep manajemen untuk segala jenis insiden yang terstandar dan dilakukan di lokasi kejadian. ICS ini memberikan ruang bagi berbagai pihak untuk membangun proses perencanaan, Startegi operasional, dan manajemen sumber daya secara terpadu.

“Kita menggunakan ICS sejak 2016. Ini membuat pekerjaan rumit menjadi mudah. Pendekatan ini merupakan pendekatan standar untuk komando, control, koordinasi respon darurat sehingga pekerjaan lapangan mejadi lebih efektif,” ujar Mares Prabadi, Fire Operation Management Head Sinar Mas Region Palembang.

Apa yang paling penting dari ICS? Perencanaan adalah rantai proses yang utama. Perencanaan ini mewujudkan suatu operasi penanganan insiden yang sudah terukur, terpadu, dan terkoordinasi sehingga insiden dapat ditangani secara efektif. Efektif berarti penanganan insiden dapat diselesaikan dengan pemanfaatan sumber daya (personel dan peralatan) berdasarkan fungsi dan waktu yang terukur.

Dalam perencanaan ada prioritas, target, strategi dan juga taktik. Biasa juga disebut POST, priority, objective, strategy dan tactic.  Prioritas terkait dengan pilihan-pilihan utama untuk penanganan insiden dengan memperhitungkan sumber daya, akses dan peralatan. Di dalam tujuan, biasanya digunakan parameter SMART atau specific, measurable, actionoriented, realistic dan timely. Taktik merupakan pengiriman dan pengarahan sumber daya pada suatu insiden dalam rangka untuk menyelesaikan tujuan berdasarkan strategi yang telah disusun.

“Dari size up yang dilakukan tim udara digabungkan dengan data satelit, kita akan tahu luasan kebakaran dan dikordinat mana saja. Dari situ kita bisa membuat perencanaan untuk menerjunkan tim dan peralatan,” papar Mares. Meskipun sudah direncanakan, tetapi tetap saja diperlukan rencana kontijensi untuk menghadapi situasi dinamis di lapangan.

Itulah sebabnya hingga tengah malam mereka masih tetap berkoordinasi memantau situasi lapangan dan memastikan keamanan anggotanya. Di tengah lalu lalang petugas pemadam kebakaran – branwir atau brandweer – di tengah hempasan debu dan terik matahari di siang hari, mereka taat prosedur. Pemadaman kebakaran selalu terburu oleh waktu. Makin lama penyelesaian, hanya akan menyebabkan kebakaran yang lebih luas. Dan itu yang mereka hindari. Setiap upaya pemadaman bukan hal yang murah dilakukan. Ia melibatkan teknologi canggih dan juga pengerahan pasukan yang besar serta biaya yang tak sedikit untuk menggerakan semua itu. “Perencanaan itu teman dan waktu itu musuh,” ujar Mares.

Facebook Comments

Tak Layak Kita Memaki

Hutan lindung gambut (HLG) Londrang sepertinya lebih banyak puing ketimbang pohon tegak berdiri, kini. Dihajar api berhari-hari, pohonpun tak kuat lagi berdiri. Terlebih material bakar banyak dijumpai di hutan lindung gambut tersebut. Bila siang, mendekati daerah tersebut, mungkin kita hanya menjumpai perih di mata.

Kami berjalan di sekat bakar yang dibuat. Jalur ini harusnya aman, karena kebakaran di sisi kanan sudah pada tahap pendinginan. Dari jalur utama, kami masuk beberapa puluh meter. Dan mendadak berhenti karena mendengar bunyi gemeretuk api membakar daun dan dahan. Awalnya hanya terlihat asap, tetapi tak lama kemudian daun-daun yang hijau pun tunduk dengan api yang membesar cepat. Kami segera berbalik arah.

Pengalaman di tengah kebakaran besar seperti ini mengingatkan pada kenangan wedhus gembel Merapi yang seakan mengejar. Padahal jaraknya bisa jadi masih jauh. Besarnya wedhus gembel membuat takut setengah mati. Pun di Londrang ini.  Arah angin tak mudah ditebak. Kami tak ingin terjebak dari kepungan asap dan api.

“Sudah cukup lama kami di sini. Membuat posko utama untuk mengatur petugas pemadam kebakaran,” ujar pimpinan pasukan pemadam kebakaran ketika kami jumpai di posko tak jauh dari HLG Londrang.  Pasukan juga sudah ditambah berkali-kali. Begitu juga dengan peralatan berat dan heli. Hampir 200 orang petugas pemadam kebakaran bertugas silih berganti.

Mereka sibuk berkoordinasi di tenda utama. Pasukan harus dibagi menjadi lebih kecil-kecil lagi, masing- masing tim harus bertanggung jawab memadamkan segera kebakaran di wilayahnya. Bila api membesar, mereka harus minta bantuan segera.

Radio komunikasi tak berhenti melaporkan kondisi dari masing-masing wilayah. Ini jantung mereka. Saat sinyal handphone tak ada, radio panggil menjadi sarana utama. Jangan tanya apa warna seragam mereka lagi. Yang merah tak lagi cerah. Begitu pula oranye. Semua bercampur debu dan tanah.

Berjibaku dengan kebakaran besar seperti saat ini, modalnya tak cukup sekop dan selang saja. Perlu alat berat untuk membuat jalur distribusi pasukan dan peralatan bisa masuk segera. Terlebih di lahan gambut, pembasahan menjadi prioritas utama.

Sebelumnya kami sudah tengok Sungai Batanghari. Sungai yang menjadi nadi di wilayah ini. Penyedotan air perlu dilakukan dengan pompa kapasitas tertentu untuk segera dialirkan ke kanal-kanal yang ada. Petugas pun disiagakan di sini siang dan malam. Bukan baru sekarang saja karena ada kebakaran pembasahan lahan dilakukan. Bila tak ada Sungai Batanghari, bisa dibayangkan betapa makin sulitnya menjinakkan api.

Di lahan gambut, pengaturan air menjadi kunci. Tak  hanya mengalirkan air ke kanal-kanal, tetapi secara rutin kanal pun harus dicuci. Pernah dengar istilah ini? Jangan bayangkan seperti mencuci pakaian.  Mencuci kanal memerlukan alat berat yang mampu mengeruk sedimen kanal kembali ke batasan standar.

Petugas pemadam kebakaran ini tak hanya memerlukan fisik teruji. Kecerdasan membaca situasi dan mengkalkulasi peralatan dan sumber daya manusiapun harus mereka kuasai. Tak layak rasanya kita memaki, bila tahu betapa dekatnya nyawa mereka dengan api.

 

 

Facebook Comments

Mager Berfaedah di Rumah

Jakarta sepekan ini panasnya kayak liat gebetan gandengan sama yang lain. Fanas dan nylekit. Cek aja catatan BMKG atau di layar telpon pintarmu. Notifikasi untuk banyak minum dan berdiam dalam ruangan bermunculan. Terus menjelang weekend ngapain? Paling enak adalah ngadem di salon. Eh tetapi malas ya mau jalan membelah Jakarta? Iseng-iseng DM missmin di @degreensalon, dan trada….mereka bisa melakukan homeservice untuk berbagai treatment. Udah cobain facial, totok wajah dan juga massage.

Mbak Neni dari De Green Salon enak banget pijatannya. Oil massagenya pakai green tea. Ndak lengket di badan dan efek sesudahnya kulit jadi lembut. Green tea oil ini juga banyak dipakai untuk produk kecantikan karena tidak menyebabkan iritasi pada kulit, dengan formula yang berbeda-beda tentunya. Produk dengan green tea biasanya mengandung antioksidan yang lebih kaya (hikksss jadi iri…..dia kaya dan ndak perlu kerja). Eh dah tahu bedanya green tea dan tea tree kan? Yang jelas, tea tree tidak ada hubungan dengan pohon teh sama sekali, zeus.

Tea tree ini masuk tanaman suku jambu-jambuan. Kalau cabe-cabean dan terong-terongan ndak usah ditanya deh. Tea tree oil bisa disebut juga dengan Melaleuca oil, berasal dari daun Melaleuca alternifolia. Tanaman ini masih merupakan keluarga dari Myrtaceac, sering juga disebut dengan tanaman paperbark atau honey myrtle. Banyak tersebar di Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Papua Nugini dan tentu Indonesia. Hati-hati dengan produk mengandung tea tree karena seringkali bisa menyebabkan iritasi. Produk ini seringkali digunakan untuk melawan jerawat, bukan melawan kejahatan.

“Bu, kakinya kenapa keras sekali?” tanya Mbak Neni.
“Ndak papa Mbak. Biasa dipakai lari. Yang penting hatinya tetap lembut,” ujarku.

Kalau pijatan mbak Neni ini enak sekali, ndak usah ditanya untuk totok wajah dan facialnya. Ada aroma wangi dari bahan yang digunakan. Wangi menenangkan. Meski di bagian alis dipijat halus, tetapi tetap saja ada beberapa titik yang atit, mungkin terlalu banyak menatap laptop dibandingkan menatap kamu. Haissss…..menyebalkan ya.

“Cleansing, peeling organic, massage wajah, serum dan masker wajah organic semuanya dari Artistry Amway, Bu,” kata Mbak Neni. Hohohohohoho…..fantas enyak baunya. Waktu dipeeling ada bau anggur dan blackberry. Mereka berdua ini difermentasi aja enak banget apalagi dipakai untuk bahan peeling ya.

Eh layanan ke rumah juga dengan produk serupa? Kata mbak ownernya, Laili, produk-produk untuk layanan homeservice juga pakai Artistry ini. Mahal dong? DM atau telpon aja Mbak Laili, biar dapat diskon. Semua layanan tadi, ndak seberapanya harga makan siang kamu dengan si anu.

Nah weekend ini mau coba lagi layanan lain. Duh terima kasih ya Mbak Neni dan Mbak Laili. Sudah membuat weekend mager jadi berfaedah.

Nah, kamu..kamu…kamu, saat terik matahari, milih diam di rumah atau diam di hatiku?

# #degreensalon

Facebook Comments

Lari itu Bicara dengan Diri Sendiri

Saya berlari belum lama. Dan sekolah lari baru sebulan dua bulan ini. Dulu mah lari-lari aja. Bahkan selalu mandi pagi jam berapapun racenya. Jam 3 dini hari mandi, pakai minyak wangi, lipstik dan alis tak lupa. Ini justru jadi target bagaimana finish dengan lipstik dan alis tetap cetar.Buat saya lari itu seperti lahir baru. Dari setapak dua tapak lalu nafas ngap, tak sanggup lari lagi meski baru 100-200 m. Dulu 1 km itu perjuangan. Larinya mungkin sepuluh langkah lalu berhenti ngatur nafas dan kaki yang rasanya berat untuk diajak berlari lagi.Tetapi saya tetap bangun pagi dan bergegas ke Ragunan atau di mana pun bisa berlari. Ketemu satu dua temen komunitas. Makin semangat berlari.Saya ingat betul. Awalnya tak punya jersi lari. Sepatupun hanya casual yang ada. Tak apalah . Saya tak tahu bedanya sepatu enak dan enak sekali buat berlari.Ketika awal race 5 km dapat medali wahhhhhh sukanya sampai ujung negeri. “Ngapain sih ngumpulin medali. Tuh ambil sana punyaku,” kata seorang temen. Tapi bagi newbie, punya medali yang dikumpulkan satu persatu itu, senangnya luar biasa. Setahun ada 18 medali. Bahkan virtual run pun diikuti. Ulang tahun setahun berlari saya rayakan dengan virgin half marathon. Finish? Iya. Meski 8 menit menjelang COT, 3 jam 52 menit, 51 detik. Apalagi dapat tanjakan sumpah serapah sundul langit mulai km 17. Jam di tangan sudah berisik karena heart rate yang berantakan.Itukah kenapa saya bilang seperti lahir baru. Dari ndak bisa lalu bisa dan biasa. Cuma nyesel aja, kenapa tak memulai saat usia masih muda.Makin ke sini, saya tahu. Medali tak buat dikoleksi. Apalagi di rumah saya. Kalau medali dipajang, yang punya rumah harus tidur luar rumah. Jadilah puluhan medali rapi di plastik pembungkusnya masing-masing.”Running formnya yang bener!””Cadencenya dipercepat!””Ball of footnya diperhatikan!””Praktikan ABC drill.”Itu yang saya dengar seminggu 3 kali setiap latihan di @skolari.id. Padahal, kalau sudah lari, teori ini suka buyar sendiri di lapangan.Dan banyak lagi hal-hal dasar yang baru saya pelajari kemudian. Dulu, cukup pemanasan dan pendinginan ala kadarnya. Kadang pendinginannya dengan sebotol minuman dingin, bukan gerakan senam.Sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, lari ini benar-benar pelarian. Ini saat meditatif buat saya. Saat tiap langkah saya bisa berdialog dengan diri saya sendiri.Iya, lari ini bagai bicara dengan badan sendiri. Saat kaki pengen terus berlari, kita harus tanya ke jantung, masih mau ndak diajak ngepot. Saat senyum sudah hilang di wajah, mungkin pertanda lelah.Dulu usia 20, selalu bilang nanti aja olah raganya mulai umur 25 saja. Dan begitulah, tahun-tahun berlalu dengan kelipatannya. Tetapi tenang saja, usia saja tetap 21 kok.Saya bukan atlet wannabe. Bukan pelari mengejar podium. Saya pacer, pelari dengan pace amburadul.Lari itu hanya perlu komitmen. Iyak kayak kamu dan pacarmu gitu. Jangan sampai ditinggal pas sayang-sayangnya.Komitmen buat latihan pastinya. Saya seminggu 2-3 kali. Ndak capek? Pastilah capek. Keringatan pula. Tapi bukankah hanya makan bakso pake sambel dan krupuk saja kita juga keringatan, ndro? Pilih sendiri mutu keringatmu.Latihan itu kudu, saat race itu saat bersuka cita buat saya. Jadi bawaannya senang aja. Pokoknya masuk finish under COT. Punya banyak foto itu untuk mood booster.Lari itu sama kayak merawat anak. Jangan suka dibanding-bandingkan. Dia larinya lebih kenceng, dia kuat lari lama, dia langkahnya gila ya. Bukankah ketika punya anak kita berjanji kepada diri sendiri untuk tidak membandingkan? Semua anak istimewa dengan talentanya.Begitu juga lari. Senyamannya kamu aja. Jangan minder kalau waktumu lebih lama. Jangan ndak pede kalau pace kamu di angka besar.Selalu berduka kalau ada pelari tumbang menjelang finish. Di saat tubuh mulai lelah, dan hasrat mengejar tepuk tangan meriah, memaksa jantung kita bekerja lebih keras. Kalau kita tumbang atau cidera, race akan tetap berjalan dan diikuti ribuan pelari-pelari baru lainnya bermunculan.Seberapa jauh kamu berlari, seberapa cepat kamu melangkah, tetaplah pakai ukuran kita sendiri. Ndak usah jadi atlet wannabe. Apa kata temen-teman saya nanti, ibu rumah tangga, pinter goreng krupuk dapat podium lagi. Saya tidak mimpi seperti itu. Pleaseeee jangan dorong saya untuk dapat podium. Medali saja sudah cukup.Buat saya, lari itu playon. Alon-alon waton kelakon eh playon.Di tahun kedua berlari, lipstik dan alis tetap menjadi koentji. Dan di tahun kedua ini, teman saya lebih banyak lagi.Percaya sama aku deh, capeknya lari itu sebentar saja. Lain dengan capekmu lelarian di bayangan masa lalu yang ndak jelas juntrungnya. Tenan itu.Kamu milih lari bareng aku atau kasih pelukan di garis finish?Model diperagakan oleh mbaknya. Difoto fotografer kondang ibukota (sebelum nantinya dipindah) Bi Dewi Nurcahyani. Ini lari panas-panas di runway Pantai nDepok mBantul.

Facebook Comments