Ke Yogya, Jangan Lupa ke Spot Riyadi

Pengen menikmati kopi sambil memandang Yogya dari ketinggian? Ndak tinggi-tinggi amat sih. Tak jauh dari Kawasan Candi Ratu Boko. Begitu naik ke kawasan ini, pandangan pertama pasti akan jumpa dengan Abhyagiri. Ini tempat ngopi cantik. Pemandangannya juga cihuy. Sepadan dengan harganya. Bolehlah kalau ajak pacar atau istri tersayang. Tetapi saya ndak pengen ajak Anda ke sini. Selain karena harus reservasi, ndak asyik ah kalau tempatnya terlalu gampang dicari. Hehhehehhe.

Pastikan begitu mendekati kawasan Boko ini, GPS dinyalakan dengan pencarian Spot Riyadi. Yak….cukup nulis begitu saja, maka GPS akan mengarahkan tempatnya. Naik mobil OK, naik motor apalagi. Tetapi naik sepeda bagi yang suka tantangan dengan tanjakan, silakan. Banyak kok biker yang ke sini. Biasanya pagi atau sore hari. Malam lebih menantang karena ada beberapa jalur yang tidak terlalu terang.

Begitu sudah sampai Spot Riyadi, pesanlah kopi, pisang goreng atau apapun yang ada di sana. Pilihan makanan tidak banyak. Tetapi itu tidak terlalu penting. Jauhkan gadget, dan ngobrollah dengan  teman-teman seperjalananmu. Handphone hanya diperlukan untuk foto-foto. Memotret Yogya dari tempat yang sepi. Kalau bawa anak-anak, ada beberapa tempat foto yang sengaja disediakan. Cukup bayar Rp5000.

Pernah kami ke sini, pesan teh kopi dan beberapa piring gorengan, dengan uang Rp100.000 masih kembali. Ini tidak sebanding dengan Abhyagiri. Kita bisa menghabiskan Rp200.000 – Rp300.000 perorang. Lapar di Spot Riyadi? Tak masalah. Pergilah ke dapur dan tengoklah apa yang dimasak di sana, menu kampung.

Tempat ini mulai terkenal sekitar 2015. Awalnya hanya pekarangan rumah Pak Riyadi di Dusun Dawangsari, Desa Sambirejo Prambanan, Kab Sleman Yogyakarta. Tak jauh sih dari Omah Tetirah. Satu dua fotografer datang untuk mengintip matahari terbit atau tenggelam. Pemandangan ke bawah menarik lagi kalau ada kereta lewat.

Sensasi pagi dan malam berbeda. Taburan lampur dari rumah-rumah penduduk jadi lukisan tersendiri. Fotografer juga biker yang datang kerap menanyakan kopi dan makanan, lama-lama tempat ini dirapikan sedikit demi sedikit.

Pengen kemping tipis-tipis di Spot Riyadi?  Tinggal sewa tenda dan peralatannya. Bisa nampung beberapa tenda. Anak-anak pasti suka.

Bingung jalan ke sana? Klik ini saja: https://goo.gl/maps/2MNLDXWdsrR2

Facebook Comments

Menuju Layanan Kesehatan HIMSS Level 6

Digitalisasi ini akan mengambil peranan penting dalam meningkatkan mutu layanan dan keselamatan yang berorientasi kepada pasien.

 

Saya duduk di meja nomor 14. Tepat di tengah ruangan, di tanggal 14, Februari, bulan penuh cokelat dan bunga—katanya. Bisa jadi ini bukan pilihan yang tepat.

Kiri kanan layar di panggung depan menayangkan bagian tubuh yang terindentifikasi penyakit. Tangan? Kaki? Bukan. Di bagian kepala, di bagian yang sulit terjangkau pisau bedah.

Lapis demi lapis kulit disayat. Setipis irisan bacon? Lebih tipis lagi! Memilah jaringan sehat dan yang sakit. Jaringan? Ya, setipis itu pisau mengiris.

Kepala mengangga. Kamera berpindah ke bagian wajah pasien. Mata terbuka. Mulut bicara. Jari tangan bergerak. Seolah ini percakapan sambil ngopi. Sesantai itu.

Padahal percakapan ini terjadi di ruang operasi, operasi besar. Nyaris sesak napasku.

Lelaki di atas panggung kemudian menjelaskan:

Pasien harus diajak bicara supaya kita tahu tidak ada bagian yang salah dalam proses ini. Terlebih setelah operasi nanti.

Ah, inilah lelaki pemilik tangan yang menyentuh setiap inci dengan presisi. Bisa kau bayangkan andai tangan itu tremor? Terberkatilah tanganmu, tuan.

Ketika tumor, kanker, atau penyakit berhasil diangkat, rasanya baru lega bernapas. Meski hanya sebentar.

Dr. Setyo Widi N., SpBS (K), pemilik tangan presisi tadi, melanjutkan dengan slide dan video lainnya. Operasi dengan tingkat kesulitan yang luar biasa.

Sebenarnya pertahananku hanya 3 menit saja. Sama seperti saat nonton teater atau film. Menit-menit awal yang menentukan, aku akan bertahan atau tidak.

Tayangan demi tayangan tadi membuat aku rasanya pengen makan siang ditunda untuk dua hari ke depan. Bukan sekarang. Pindah, tidak. Pindah, tidak.

Tokek di kepalaku bersuara. Satu, dua, dan tiga. Tiga detik aku membuat keputusan. Mengubah cara berpikirku. Dari tontonan yang mengaduk-aduk perut, lalu aku memutuskan bahwa ini pengetahuan. Pelan-pelan, adukan di perut berdamai.

Dokter Widi bersama Dr. dr. M. Yamin, SpJP (K), FACC, FSCAI dan Dr. Fuad Jindan, SpBTKV, FECTS merupakan dokter-dokter spesialis di Rumah Sakit Eka Hospital. Tiga di antara 180 dokter spesialis yang dimiliki rumah sakit ini yang ada di BSD dan di Pekanbaru ini. April nanti, Eka Hospital akan  dibuka di Bekasi dan Cibubur.

Penampilan Dokter Yamin dan Dokter Jindan tak kalah hebat. Yamin memaparkan bagaimana sakit jantung diatasi dengan operasi yang minim, dan kelainan detak jantung yang dimonitor dengan chip.

Bagian vital di tubuh ini seperti tak beda dengan komputer, jam canggih, atau atau sebut apa pun, yang cukup dimonitor melalui sebuah chip. Dokter Jindan menjelaskan rinci.

Dunia kedokteran Indonesia sudah semaju ini. Kenapa pasien memilih berobat ke luar negeri? Branding dan marketing yang baguslah yang membuat orang berbondong-bondong antre, baik di negeri Jiran, Singapura, hingga Eropa.

Dr. Johny Nurdin, CEO Eka Hospital BSD, menjelaskan hal ini. Branding yang membentuk keyakinan. Berapapun harganya, asal di luar negeri.

Inilah kekuatan brand. Ketika dia menjadi agama, sulit untuk menggoyahnya.

Migrasi Digital

Eka Hospital yang berulang tahun 1 dekade pada Agustus lalu sudah melayani lebih dari 5 juta pasien dan 60.000 tindakan operasi. Per hari tak kurang 1.300 pasien ada di sini.

Kami memiliki impian yang besar dalam satu dekade berikut. Kami berharap dapat lebih dipercaya menangani lebih dari 50.000.000 pasien dan boleh melakukan lebih dari 600.000 tindakan operasi. Artinya, 10 kali lipat dari pelayanan yang telah kita capai selama ini. ~ Randy Mulyadi, Komisaris Utama EKa Hospital

Target yang disampaikan Randy bukan tanpa kerja keras. April nanti, Eka Hospital akan di Bekasi dan Cibubur. Bukan hanya menambah kamar, tetapi peningkatan standar pelayanan yang ada.

One stop shop, setiap rumah sakit dilengkapi dengan SDM dan peralatan medis paling lengkap di daerah masing-masing. One patient one room, bahkan untuk pasien kelas 1, 2, dan 3 juga di emergency.

Dan salah satu ciri khas lain, yaitu integrasi sistem di dalam rumah sakit tersebut, sehingga data-data pasien akan mudah dilihat oleh dokter karena penerapan teknologi informasi sejak tahun 2010 di rumah sakit ini.

Mengejar HIMSS

Langkah kedua yang akan menjadi fondasi dari pengembangan adalah migrasi menuju digital hospital.

Randy menjelaskan, di dalam dunia perumahsakitan, dikenal ada standar HIMSS level yang ditentukan dari level adopsi digital di sebuah rumah sakit, mulai dari level 0, yang semuanya manual dan menggunakan kertas, sampai dengan level tertinggi level 7, 100% dari semua aspek operasional rumah sakit sudah mengadopsi digitalisasi.

Di seluruh Asia Tenggara, hanya ada 6 rumah sakit yang berada di level 6 & 7, yaitu 3 di Singapore dan 3 di Thailand. Dengan migrasi yang akan dilakukan Eka Hospital di quarter ke-2 tahun ini, Eka Hospital akan menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang mencapai HIMSS level 6.

Dulu, di 2008, Eka Hospital adalah pionir dengan menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menggunakan elektronik medical record. Penasaran dengan Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) ini? Pelajari di sini Health IT Value Suite.

Randy meyakini, digitalisasi di dunia kesehatan ini sangat penting. Lebih dari 10 juta USD disiapkan untuk proses ini.

Digitalisasi ini akan mengambil peranan penting dalam meningkatkan mutu layanan dan keselamatan yang berorientasi kepada pasien.

Mulai dari hal-hal yang sederhana yang dapat langsung dirasakan pasien, seperti online booking, proses registrasi, pembayaran yang lebih cepat, sampai ke hal-hal yang lebih kompleks, seperti sistem dapat membantu memverifikasi 5 benar pemberian obat: benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara pemberian, dan benar waktu.

Selain itu, apakah ada interaksi obat yang diberikan dengan obat lain yang tidak diinginkan.

Inilah dunia kesehatan kita di Indonesia. Terus bebenah.

Ke depan, tidak perlu lagi ke luar negeri hanya untuk mengamini bisa sembuh di tangan ahli. Indonesia sudah bergerak ke arah sana. Ahli kita mampu. Kita bisa sembuh di sini, di negeri ini.

Facebook Comments

Dan Lelakipun Kembali

Saya tidak punya gambaran tentang Desa Delima sebelumnya. Ini kunjungan pertama.  Dan saya jatuh cinta dengan semangatnya.  Ada gairah yang sulit diungkapkan  kata-kata.

Debu tebal mengiringi perjalanan kami dari Sei tapa. Tiga puluh menit lamanya. Dari Jambi bisa 3,5 jam.  Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, tepatnya.  Belum terlalu lama menjadi desa mandiri sebetulnya. Pemekaran dari Desa Purwodadi pada tahun 2008. Lalu menjadi desa mandiri pada tahun 2011, dan memiliki kepala desa  pertama kalinya pada tahun 2016.  Suhono,  namanya.

Ketika kami sampai di Desa Delima, Suhono sedang ngariung duduk di lantai bersama beberapa warga. Baju safari coklat khas perangkat desa menempel di badannya. Emblem tertera di saku kanannya. “Ayo masuk, kita ngobrol di dalam,” ajaknya.  Padahal, kami sebetulnya  pengen duduk di lantai saja. Panasnya Jambi terasa mencubiti pipi.

Continue reading “Dan Lelakipun Kembali”

Facebook Comments

Delima, (Kembang) Desa yang Selalu Gelisah

Zuvita bungah.  Terik  matahari siang tak dihiraukannya.  Ia berlari ke depan rombongan kami. Lalu mendadak berhenti. Mengeluarkan handphone  dengan cover lucu, entah gambar kucing atau panda. Coklat muda warnanya. “Cheerrsssss!” teriaknya. Kamipun sigap dengan permintaan wefienya.

Wajah Zuvita memerah.  Mungkin karena matahari  yang makin terik, tetapi saya yakin karena ronanya bahagia.  Kami baru saja diskusi tentang desanya, Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Continue reading “Delima, (Kembang) Desa yang Selalu Gelisah”

Facebook Comments