Peta

Suatu hari Marcopolo – lelaki penjelajah itu – menangis. Air matanya tumpah di tanah. Lelaki perkasa itu menitikkan air mata karena tak ada lagi tempat yang bisa ia jelajahi. Tak ada lagi peta yang bisa direngkuhi.

”Kenapa kau menangis, Marcopolo?” tanya seseorang penduduk.
”Karena tak ada lagi tempat yang bisa aku jelajahi. Tidak ada lagi peta menantang untuk menginjakkan kaki,” ujarnya.
”Begitukah? Lihatlah ke bawah, tempat air matamu tumpah. Air mata itu adalah peta yang bisa kau jelajah. Air mata anak-anak, air mata perempuan, air mata lelaki. Air mata itulah kehidupan yang tidak pernah habis kita jelajahi,” ujar penduduk itu lagi.

Continue reading “Peta”

Titik Nol


Kamu menimbang berat badanmu pagi itu. Memastikan jarumnya mulai di angka nol. Bergeser sedikit saja, kamu akan menggerutu, karena timbangan tak tepat lagi katamu. Kau begitu setia dengan timbanganmu. Tepatnya dengan angka nol, sebelum kau injakkan kaki di sana.

Padahal, tak penting bagiku berapa berat badanmu. Kau yang selalu risau. Buatku, menawan itu tampak dari sorot matamu, ketika kau berucap ”Aku sayang kamu,” setiap menitnya. Mungkin melebihi anjuran minum obat dari dokter yang cukup tiga kali sehari. Menarik itu dari tutur dan sapaan hangatmu. Karena kamu bicara dari kedalaman hatimu.

Continue reading “Titik Nol”

Simbok


“Mbak, maaf kita tidak jadi ketemu. Aku mau pulang, ketemu simbokku,” suara di ujung telepon itu menjawab konfirmasiku untuk janji bertemu sore itu. Aku mengiyakan dan berjanji untuk ketemu usai akhir pekan nanti.

Kembali ke simbok, buat temanku adalah kembali kekehangatan. Kembali menjadi diri sendiri dan kembali menjadi yang selalu menakjudkan di mata sang ibu.

Seorang teman yang lain dengan bangga memajang foto mamaknya di fesbuk. Tulisnya: ”Ini mamak mertuaku. Datang dari ujung Kalimantan. Aku bangga memiliki mamak seperti dia. Sangat anggun.” Ia begitu bangga dengan mamak mertuanya. Mamak yang jauh dari polesan metropolis, tapi begitu anggun dan sophisticated, menurutnya.

Continue reading “Simbok”

Hening


Izinkah aku menulis tentang kesendirian. Mungkin ini adalah saat yang dibenci, juga oleh diriku. Tapi bisa jadi, ini adalah rasa yang paling dicari, oleh mereka yang hidupnya selalu bergemuruh.

Saat sepi menyergap diriku, aku menerimanya dengan terbuka. Aku sadar dengan pilihanku, pilihan untuk merasakan kesendirian. Meski kadang hidupku begitu bergemuruh, dan menolaki kesunyian.

Sendiri, buatku bukan jeda. Ia adalah keheningan panjang yang sangat nyaman. Mungkin ia seperti dinihari, ketika kau dan aku tak bisa memejamkan mata. Ketika kita mendaraskan doa, atau masuk dalam hening di denting waktu. Saat aku melupakan kesendirian, atau justru masukinya.

Continue reading “Hening”

Harapan


Panggung di Jakarta tidak pernah habis cerita. Panggung di sini adalah mall atau pusat perbelanjaan. Dalam gemerlap mandi cahaya, saya bisa menjadi siapa saja.

Di mall pula, sihir dilakukan. Rasionalitas dipojokjauhkan. Masih jelas tergambar ketika sale 70% sandal gambar buaya di Jakarta membuat orang rela antri berjam-jam untuk mendapatkannya. Berjan-jam! Meninggalkan pekerjaaan, meninggalkan anak dan urusan penting lainnya. Makan tidak makan yang penting dapat sandal gambar buaya.

Jadi ingat, dulu saya juga punya dogma yang sama: kalau sale dan tidak beli, rasanya dosa. Kapan lagi kalau bukan sekarang.

Saya belanja, maka saya ada – emo ergo sum. Cocok banget. Aku gitu lho, kalau tidak punya barang bermerk, apa kata dunia. Begitu kata di sudut diri kita.

Continue reading “Harapan”