Beban

“Papa sih genit pakai menolong gadis tadi. Gara-gara papa sih kita jadi telat. Akibatnya kita jadi tidak bisa ketemu Pak Anu yang super penting itu. Kan susah cari waktu lagi. Coba kalau kita langsung jalan, pasti ada orang lain yang menolong dan kita tidak telat,” protes seorang istri. Masih panjang protes yang disampaikannya.

”Aku sudah meninggalkan gadis cantik tadi berjam-jam yang lalu, ketika usai kutolong. Tetapi kenapa kamu masih ”membawa” dia ke sini,” ujar sang suami.

Continue reading “Beban”

Inspeksi

Saya selalu suka akhir pekan. Ini saat my me time, entah di Jakarta atau Yogya. Saat internet nyala sepanjang waktu. Saat saya bisa menyusur jalan dengan kekasih kecilku. Saat saya tak henti main tebak-tebakan atau melakukan hal-hal konyol berdua. Dan saat saya bisa menari sepanjang waktu dengan Bhumyku. Gayanya? Muter-muter seperti pesawat terbang, megal-megol tidak karuan atau dansa a la Bhumy: kaki kecilnya ditumpangkan di atas kaki saya, berpegangan tangan dan jalan seperti robot. Akhir pekan memang selalu lain rasanya.

Saya yakin, di hari kerja, Anda lebih akrab dengan PDA, agenda, jadwal meeting, memeriksa pekerjaan, bertemu dengan ABCDE, balik meeting lagi, kasih instruksi dan lain sebagainya. Bergerak, bergerak, memeriksa, merencakan, evaluasi.

Continue reading “Inspeksi”

Energi

Hidup di Jakarta membuat saya harus flesibel. Menerobos kemacetan dengan ojek atau bergelantungan di Bus Trans Jakarta. Saat paling nyaman tentu di sejuknya taksi ber AC. Tapi apapun saya nikmati. Termasuk keliling Jakarta kota tua dengan ojek sepeda.

Pagi itu saya memutuskan naik taksi. Begitu meletakkan pantat, sopir taksi dengan pet Tino Sidin itu sudah mengeluhkan pendapatnnya yang tidak mencapai target selama puasa ini. Dirinya baru saja sembuh dari sakit selama beberapa waktu. Anak-anaknya merengek baju baru dan kue istimewa di hari raya. ”Saya sih hanya bisa janji, karena pasti tidak akan dapat THR tahun ini,” ujarnya. Perusahaannya menerapkan quota tertentu untuk THR.

Continue reading “Energi”

Kencan Istimewa

Sabtu lalu kencan saya sangat istimewa. Komplit pakai telor dan penuh cinta. Daripada nanti saya ditanya siapa lelaki beruntung itu lebih baik saya sebutkan namanya: Agus Sufriyadi (ada di FB dan link saya). Masih muda, baru 23 tahun. Brondong booooo…..

Agus melebihi lelaki manapun yang pernah saya kenal selama ini. Tingginya proporsional. Hari itu ia memakai celana kain warna hitam dan kaos tiga warna – biru putih dan hitam. Rambutnya rapi. Di telinganya terselip earphone. Keren. Mirip Paspampres.

Continue reading “Kencan Istimewa”