Seblak

Nanar aku menatap kamu. Aneh. Asing. Menyelidik.
Itu adalah saat kita pertama kali bertemu. Merona merah tampakmu. Tajam aku mencium baumu. Kusentuh dan kau liat mengaduh.

Kalau kau perawan diambang matang, tentulah banyak yang ingin menggodaimu. Dan itulah kamu. Tak perlu menunggu mereka menggodamu. Justru kamu yang datang menantang. Menyumbui indra rasa mereka. Ah, kau senang melihat orang bernafsu ingin menyentuhmu. Dan kau akan terbahak, begitu mereka tersedak oleh hawa cintamu.

Continue reading “Seblak”