Dan Tetaplah Menulis

Ini sekolah saya. Yang membentuk segala kenakalan, kreaktivitas, solidaritas, belajar menulis, memegang komputer, belajar layout, belajar memotret. Belajar integritas. Ini sekolah wartawan saya yang pertama.

1991, wartawan senior dari Kompas Mas Trias Kuncahyono dan Kang Yusran Pare datang ke sekolah. Menjelaskan gagasan untuk mengajak anak-anak beberapa SMA di Yogyakarta belajar menjadi wartawan. SMA Santa Maria, Stella Duce, Dr Britto, SMA 1 dan SMA Bopkri kalau tidak salah. Satu sekolah diwakili beberapa orang.

Gagasan gila. Buat apa mereka membuang halaman yang laku untuk dijual, menjadi iklan, hanya untuk anak-anak yang belum jelas mau ngapain. Nulis saja belum bisa.

Continue reading “Dan Tetaplah Menulis”

Rumah Baru

Bagaimana perasaanmu ketika punya rumah baru? Pasti senang dan punya rencana ini itu untuk menatanya. Tidak hanya rumah, apapun yang baru, pasti membuat kita semangat.

Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang rumah baru yang saya miliki. Sabtu, 24 Februari lalu, Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS Indonesia) mengukuhkan Badan Pengurus Pusat (BPP). Di bawah ketua umumnya Bapak Agung Laksamana. Periode kepengurusan 2017-2020 ini memiliki komposisi wajah-wajah lama dikombinasi dan wajah baru. Dengan komposisi ini, diharapkan semangat kerja dan kampanye #IndonesiaBicaraBaik akan menyebar dengan cepat bagai virus.

Continue reading “Rumah Baru”

Suwe Ora Jamu

Ada dua alasan klasik saya datang ke Bentara Budaya Jakarta. Satu, datang awal supaya tidak kehabisan mie jawa. Kedua, demi sebotol jamu. Sebotol kecil saja. Minuman tradisional yang sudah naik kelas. Bergaya. Sebotol 25 ribu. Kalau di kampung tentu akan dapat berbotol-botol beras kencur atau kunyit asem. Berbotol-botol dan berhari-hari.

Edisi khusus jamu ini dibuat dalam botol yang lumayan gendut. Kira-kira isinya 500 ml. Harganya 85 ribu, khusus untuk hingga Februari saja. Bekas botolnya untuk tempat jus atau tanaman air di meja.

Hanya dua alasan ini? Khususnya memang iya sih. Dua alasan ini lahir karena ada alasan yang lain lagi. Perjalanan Thamrin – BBJ sudah pasti didera macet dan lapar. Jadi kebayangkan, sudah macet, lapar lalu mie jawanya habis. Dan itu sering aku alami. Itu menyedihkan.

Continue reading “Suwe Ora Jamu”

Sepucuk Angpau Merah

Ada tradisi menarik di kantor. Kami berkumpul antarpilar usaha. Setahun 3 kali. Merayakan Natal dan Tahun Baru, Imlek dan Lebaran. Ruangan paling besar di Thamrin bisa menampung 200-300 orang. Di acara inilah bisa bertemu dan kenalan dengan pic dari bisnis lain yang selama ini mgk hanya lewat telpon atau email.

Acaranya selalu menarik. Kadang diisi dengan perkiraan situasi bisnis ke depan, makna toleransi dan berbagi dan kalau pas Imlek diisi salah satunya diisi dengan fengsui. Tak selalu, tetapi tema-temanya selalu menarik.

Baru bulan lalu merayakan Natal dan Tahun Baru, hari ini dekor sudah berganti dengan suasana Imlek. Jangan bayangkan kami hanya datang dan duduk manis. Dekor, catering, nara sumber, tamu, dan printilan kegiatan dikerjakan sendiri. Jadi, bisalah nyambi jadi EO. Saya hanya bantu yang remeh temeh. Tetapi teman-teman lainnya akan mengerjakan sejak sore hingga larut malam.

Continue reading “Sepucuk Angpau Merah”

Menghitung Syukur

Kata itu mempengaruhi alam semesta bekerja. Niatan kita tepatnya.

“Blessed Monday” kata yang biasa  di timeline Senin. Tapi saya sungguh-sungguh meyakininya.

Keluar apartemen dan saya bingung mencari di mana mobil saya. Setelah putar-putar nyari saya baru sadar. Ternyata mobil tertinggal di kantor sejak Minggu lalu. Jadilah  komuter mengantar saya lebih cepat ke kantor. Lupa sesaat ternyata ada manfaatnya.

Turun dari komuter, Abang  sudah menanti. Babang ojek. “Enak Pak motornya” kata saya membuka sapa. “Iya Bu. Karena sejauh pengamatan saya, pengguna ojek itu perempuan. Motor seperti ini cocok. Tidak terlalu tinggi,” jelasnya. Tukang ojek pun bekerja dengan pengamatan dan analisa.

Jadilah kami naik motor berdua. Romantis. Apalagi ditemani gerimis tipis.

Continue reading “Menghitung Syukur”