Terlibas Waktu

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan seorang pengelana dari Jepang. Pengelana? Ya saya menyebutnya begitu. Karena dia mendedikasikan hidupnya untuk berkelana dari satu Negara ke Negara lain. Namanya Shunichiro Hori. Kami lancar bercakap, karena Hori tak seperti orang Jepang pada umumnya yang pendiam. Hori sangat suka bercerita. Bahasa Indonesianya sangat bagus untuk orang yang belajar asing secara otodidak. Bahasa-bahasa slank pun dia kuasai. Rumpies, baper dan banyak lagi kata yang biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Yang menarik dari Hori selain cerita perjalanannya, ia menarget dalam 7-8 ke depan bisa menguasai keahlian sebagai copy writer. Copy Writer di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia. Sangat khusus. Bukan pekerjaannya yang menarik perhatian saya. Tetapi alasan Hori menargetkan diri untuk mengejar pekerjaan tersebut. “Saya ingin melakukan pekerjaan itu sebelum semuanya dikuasai oleh robot atau mesin,” ujarnya ringkas tetapi justru membuat saya termangu.

Continue reading “Terlibas Waktu”

Menjadi Ibu

Kami masih di kota yang sama.  Tapi kesempatan mungkin sembunyi di lubang sempit. Kami jarang jumpa jadinya. Padahal banyak moment harusnya kami bisa sua. Kadang kerepotan masing-masing dan fokus pada apa yang harus dikerjakan tak bisa membuat kami banyak bercakap.

Sore beberapa hari lalu adalah kebetulan. Berada di  tempat dan acara yang sama. Berdiri tanpa ada yang membatasi. Lalu mengalirkan kabar kami masing-masing. Kabar anak-anak tepatnya yang kini membanjiri  komunikasi kami.

Ternyata lama sekali kami tak intens berkomunikasi.   Mungkin sejak 2011.  Pada satu momen dia menemani masa tak menyenangkan yang harus aku lewati. Ciracas. Kamu tahulah apa yang harus kami selesaikan di sana.

Continue reading “Menjadi Ibu”

Kopi Persahabatan

Secangkir kopi pahit tadi sore ditemani tempe kriuk. Satu bungkus kopi diberikan Pak Lukas Christian untuk Mbak Fransisca Ria Susanti. Juria Flores tertulis di bungkusnya. Melirik tulisan Flores, aku yakin ini pasti kopi enak. Lidahku baru mengenal Yellow Caturra, Bajawa dan Manggarai. Dan itu semua juara rasanya.

Karena Juria Flores masih asing bagiku, justru inilah yang membuka obrolan kami tadi. “Saya sudah membagikan kopi persahabatan kepada 4700 orang. 3000 diantaranya saya punya tanda terimanya,” ujar Pak Lukas. Bungkus kecil kopi beragam jenis itulah yang jadi kartu namanya selama dua tahun terakhir ini.

Continue reading “Kopi Persahabatan”