Jebakan Google

Menuntut ilmu itu cukup dengan meluruskan niat dan menghilangkan malas. Dan its make my day. Sehari tujuh kali naik ojek Thamrin Manggarai, hari itu. Dekat sih. Tapi kalau lari, lumayan juga. Jam 8 pagi dan berakhir hampir jam 5 sore. Menulis dengan tangan paling banyak sepanjang tahun ini barangkali. Dokumen setebal matras protector. Dan tidak boleh bosan dengan pertanyaan berulang.

Sertifikasi PR sudah lama saya tunggu-tunggu, setelah sebelumnya menjalani akreditasi PR. Wajibkah dua-duanya? Tidak tentu saja. Ini lain dengan sertifikasi guru, yang boleh mengajar bila memenuhi syarat administratif, diantaranya sertifikasi.

Tapi saya niat. Niat sekali. Dengan mengusung 3 bundel portofolio. Keren? Ya ndak juga, karena memang banyak bukti yang harus disertakan. Sertifikasi ini lain dengan akreditasi. Kalau akreditasi, kita diminta untuk presentasi program. Sedangkan sertifikasi, cukup dengan menyertakan berbagai bukti-bukti administratif dan bukti pekerjaan, tergantung jenis atau level sertifikasi yang diambil.

Continue reading “Jebakan Google”

Secangkir Pagi

Hari ini saya tidak bisa menikmati lezatnya kopi yang biasanya menyemangati hari. Beberapa hari ini sebetulnya.

Tak bisa menikmati kopi, membuat saya gelisah. Saya jadi memikirkan apa yang salah. Berganti-ganti kopi, roasting dan grinder yang baru. Mencoba jenis ini dan itu tetap saja yang terasa hanya pait, tanpa sensasi bahagia.

Lalu jumpalah saya dengan Pak Prawoto, pakar kopi sekaligus teh. Dari sini, kenangan ngeteh di masa lalu seperti dipanggil kembali.

Continue reading “Secangkir Pagi”

JOG……….YA

Sebelum warung-warung di Yogya dijajah oleh instanisasi teh dan kopi, warungnya wong cilik ini bukan sekedar melepas lapar dan dahaga. Namun juga untuk mampir nglaras, melepas penat, sambi lesehan dan menikmati nasgithel, minuman panas, legi dan kenthel teh tubruk dengan manis dan kepekatan yang ekstrim sehingga perlu dijog (ditambah air) sebagai pelengkap proses relaksasi.

Inilah panggung teater masyarakat Jogya yang mulai kehilangan substansi ke Jawaannya karena mengalami pergeseran nilai ke arah instanisasi, kapitalisasi dan uniformisasi

Benarkan kota ini mulai kehilangan makna “Jog…..ya?”

Continue reading “JOG……….YA”

Cerita Alis

Aku peringatkan, jangan sesekali kalian mengganggu perempuan yang sedang menggambar alisnya. Ini peringatan serius. Gambaran alis yang sekali jadi, tepat dan sesuai kemauan pemilik wajah akan mempengaruhi suasana hatinya seharian nanti. Aku bilang, jauhi dulu sementara waktu perempuan yang sedang menggambar alisnya.

Menggambar alis ini bukan perkara mudah. Sekali tarik garis salah, bisa berkali-kali gagalnya. Banyak perempuan bilang, menggambar alis dipengaruhi suasana hati. Hati yang riang, sekali tarik garis, aman sudah. Kalau berkali-kali gagal, bisa dipastikan sedang rusuh hatinya. Begitu katanya.

Continue reading “Cerita Alis”

Kisah Juru Bicara

Kamera liputan wartawan sudah tegak di pojokkan. Seorang  berdiri siap mengoperasikan. Satu penanya  memainkan gawainya. Isinya  daftar pertanyaan. Tadinya kami mengabaikan saja  peralatan tersebut.  Mungkin hanya untuk membuat dokumentasi kegiatan. Keberadaannya pun tak mengganggu hilir mudik kami. Dia diam di pojokan. Ini kelas lain dari yang lain.

“Bagaimana tanggup jawab  perusahaan dengan kejadian ini?”  pertanyaan pertama dilontarkan.

“Hemmmm….. Kami menempatkan kepentingan dan keselamatan masyarakat  menjadi prioritas…..bla…..bla..bla….,” seorang menjawab. Pertanyaan kedua, ketika hingga selanjutnya, badan mulai gelisah.  Mata entah melihat kemana saja. Tangan tak berhenti bergerak. Badan kadang miring kiri dan kanan. Suara aaaa…..eee…..ehmmmmm…. mulai sering terdengar.  Berkeringat pastinya.

Continue reading “Kisah Juru Bicara”