Hidup Memang untuk Dijalani

November

Diawali dengan tampilan Gun and Roses.  Tepukan tangan yang meriah.  Meski diikuti dengan encok dan betis yang pegal bagi yang nonton.  Usia tak muda lagi.  Tetapi GnR tetap mewakili kemudaan.  Paling tidak kenangan saat muda.

Juga diawali dengan hujan.  Petrichor.  Bau yang khas dari tanah yang pertama basah usai kemarau panjang.

Dua ilmuwan Australia, Isabel Joy Bear dan R.G.Thomas, menciptakan istilah ini.  Petrichor berasal dari kata petra yang berarti batu dalam bahasa Yunani, dan ichor atau darah dewa dalam mitos kuno Yunani. Buat aku sih,  ini bau yang menyenangkan.  Seperti memanggil kenangan kebahagiaan.

Tanah basah juga pipi yang banjir.  Oleh air mata penggemar  Freddy Mercury, dari generasi ke generasi di bioskop juga mewarnai November ini.  Aku yakin,  ini juga tangis kebahagiaan,  karena berhasil memanggil kenangan muda mereka.

Buatku,  November saat ini istimewa.  Aku memperingatinya sebagai tahun berlari.  Satu tahun belajar berlari,  tepatnya. Mengumpulkan langkah demi langkah.  Jangan bicara kilo meter.  Bagiku melangkah dan berkeringat sudah patut  disyukuri.

Mulai race satu demi satu.  Ternyata berlari di antara ribuan orang menimbulkan  keasyikan tersendiri. Belum nyandu,  hanya gembira saja rasanya.

Saya ingat betul,  berapapun larinya,  setalah mandi,  saya akan tertidur lama.  Makan yang banyak.  Dan tidur lagi.  Rasanya lelah dan lapar.  Tetapi lama-lama ternyata mulai biasa. Witing tresno jalaran seko kulino.  Badan menyesuaikan.

Setiap race pasti banyak ceritanya dan selalu berbeda.  Benarkah kata pepatah,  hidup dimulai dari 40. Saya terlambat untuk menyukai  olah raga ini.  Tetapi satu hal yang saya yakini,  tidak pernah ada kata terlambat untuk jatuh cinta.  Termasuk untuk olah raga.

Hemmmm…….. Yuk coba berlari.  Jomblo aja kamu kuat,  mosok lari tidak.

Tips memulai lari:

1. Pastikan niat.  Ini adalah modal.  Bahkan di atas 80 persen segala usaha untuk memulai lari.
2. Jangan pikirkan jersi. Apa saja yang penting nyaman.
3. Sepatu jauh lebih utama dari pada gaya tampilan baju.  Sepatu yang nyaman,  pas dan  enak dipakai adalah koentji.  Sepatu yang nyaman juga menghindari cedera dan tak mudah lelah.
4. Pemanasan.  Lakukanlah.  Biarkan tubuh merasa hangat dan otot cukup lentur.
5. Ada banyak tehnik dan tutorial berlari.  Bisa pelajari di youtube
6. Mulailah lari dengan nyaman.  Tak perlu meniru gaya dan kecepatan orang lain berlari.  Ingat, kita bukan atlet dan bukan juga atlet wannabe. Cari ritme lari yang paling nyaman dengan tubuh kita.  Dipandu dengan smartwatch, memudahkan kita mengatur ritme tubuh,  jantung dan langkah.
7.jangan forsir diri kita.  Ngejar apa sih?  Bayangan juga takkan lari dikejar.
8. Sekilo dua kilo atau berapapun tak masalah.  Rutinkan.  Jarak akan menyesuaikan dengan sendirinya nanti.
9. Usai berlari,  lakukanlah pendinginan.  Ini sangat penting.  Membuat tubuh kita nyaman kembali usai latihan.  Pun menghindari cidera yang tak perlu.
10. Hadiahi dirimu dengan minuman yang menyegarkan.  Bukan bir dingin pastinya.  Meskipun itu sangat menggoda.

Yuk lari,  biar ada kesibukan saat weekend, mblo.  Toh ndak ada jadwal  pacaran juga.

Continue reading “Hidup Memang untuk Dijalani”

Johanes Koto, Penjaga Arboretum yang Setia

Termpat bermain gajah, luasssss banget

“Selamat pagi Bu. Ini saya Johannes Koto yang akan mendampingi tamu besok ke arboretum,” Sebuah pesan masuk,  pagi hari sebelum kami berangkat ke Pekanbaru,  dari Pak Johanes. Saya senang.  Sudah cukup lama tidak masuk ke  arboretum.  Terakhir mungkin 4 tahun lalu mengantarkan Profesor Miyawaki,  bapak pohon dari Jepang pada tahun 2014 lalu.

Miyawaki adalah akademisi sejati.  Di usianya yang 86 tahun,  ia semangat jumpa pohon di berbagai dunia.  Selama di perjalanan mungkin laiknya opa-opa senior,  tampak mengantuk.  Tetapi begitu ketemu anak-anak kecil,  dengan senang hati ia mengajari untuk menanam pohon.  Anak-anak di Perawang,  yang belum bisa bahasa Inggris atau Jepang.  Tetapi ini tak menyurutkan komunikasi diantara mereka.  Anak-anak menirukan yang diajarkan Miyawaki San.

Itu belum seberapa,  dalam perjalanan pulang kami melintas arboretum.  Profesor minta berhenti.  Lalu bergegas turun dari mobil dan masuk ke  kawasan tanaman yang lebih gelap. Tanah tertutup daun-daun, jadi kalau keinjak melesak ke bawah. Miyawaki mendadak muda. Pohon-pohon yang menghalangi wajah diusirnya.  Jalan yang tertutup daun kering dan licin dilaluinya begitu saja. Ia menghampiri tanaman satu persatu, layaknya ketemu teman lama. Mengamati dan bercerita panjang. Ia memperhatikan pohon dengan detailnya. Di dalam hutan edukasi  itu, ia tak peduli serangga mendekatinya. Aku takjub.  Miyawaki yang mendadak bukan lagi opa-opa.

Continue reading “Johanes Koto, Penjaga Arboretum yang Setia”

Mahot oh Mahot

Berjam-jam perjalanan darat dari Pekanbaru ke Perawang kali ini istimewa. Mengunjungi mahot. Saya sempat salah sebut marbot. Tentu artinya lain sekali. Satu di masjid atau mushola dan satu lagi di hutan menjaga gajah.

“Mbak, bukan marbot. Kami ini mahot. Menjaga gajah-gajah di sini,” Tertawalah kami. Salah memang kadang hanya untuk ditertawakan saja. Dan menambah keakraban kami.

Continue reading “Mahot oh Mahot”

Konyal, Markisa Hutan yang Manis

Ini tentang konyal.  Kenalkah kamu apa itu konyal? Saya baru tahu namanya beberapa waktu lalu.  Meski mungkin dulu sudah pernah mencicipi rasanya.

Konyal disebut juga markisa hutan. Di Jawa Barat markisa hutan ini biasa disebut dengan konyal.  Tepatnya saya mengenal nama ini dari mbak Dewi,  begitu saya memanggilnya di WA.  Belum pernah sekalipun bertemu.  Mbak Dewi ini membantu pemasaran dan memfasilitasi pemesanan buah sayur organik dari  Sarongge.

Continue reading “Konyal, Markisa Hutan yang Manis”

Menikmati Danau Toba dari Desa Tongging

Jumat 2 November 2018 kesempatan saya yang kedua untuk melihat Toba. Pasti berbeda sensasinya karena berselang lebih dari 15 tahun. Bareng dengan teman-teman Journalist Mountain Bike (JMTB), mereka mencari turunan yang menantang dengan sepeda downhillnya. Ketika kita memegang rem dalam-dalam ketika melewati turunan, mereka melakukan yang sebaliknya. Beresiko pasti. Olah raga ini perlu kecerdasan tersendiri, gabungan tehnik dan nyali.

Berangkat dini hari karena harus loading belasan sepeda, sampai Kualanamu menikmati soto Medan dan kepala kambing untuk sarapan. Sarapan yang berat untuk kuat sampai Desa Tongging tujuan kami. Beberapa kali berhenti untuk ngopi, bercanda dengan monyet. Dan makan jagung rebus tentunya. Sampai di Desa Tongging sudah waktunya makan malam.

Continue reading “Menikmati Danau Toba dari Desa Tongging”