Bapak yang Tak Pernah Tampak

 

 

Wajahnya galau begitu tahu judul acaranya. Mulutnya manyun. Hatinya tak tenang, sambil menebak-nebak apa yang terjadi sepanjang malam ini—sesekali bertanya kenapa harus ada di acara ini.
Saya sengaja menjauhkan HP dari tangannya. Fokusnya akan hilang, atau sengaja menyembunyikan rasa tak nyamannya di balik cahaya gawai.

Aku tidak tahu tepat atau tidak mengajak dia ke acara Tribut untuk Bapak. “Bapak”? Sebutan yang hilang dari kosakata Bahasa Indonesia-nya.

Mungkin ia juga tak bisa mengeja kata benda atau kata sapa yang satu itu. Ya, dia terputus emosi dengan lelaki yang bisa disebut “bapak”, di sepanjang usianya yang hampir 15 tahun ini.

Anakku..
Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat di namamu…

Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…

Nak..
Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam doanya selalu ada namamu disebutnya?

Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu…

Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..

Bunda hanya ingin kau tahu, nak..
bahwa…
Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..

Anakku…
Jadi di dirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu.

Rasanya aku ingin mengumpat. Begitu meletakkan pantat dan acara dimulai, puisi itu menggema di ruangan yang mendadak sepi. Ingin sekali mengutuk penulisnya.

Mungkin masa kecilmu bahagia punya bapak, mungkin hari-harimu bisa bangga karena ada bapak. Tetapi tahukah kamu, di sampingku ini, ada lelaki kecil yang tak pernah digandeng bapaknya? Bahkan tak pernah lihat wajahnya.

Aku melirik ke samping kanan, wajahnya tampak keras. Matanya bergerak-gerak. Tonjokan kata-kata pembuka ini menusuk relung hatinya.

“Pinjam HP,” katanya.

“Tidak. Cahayanya mengganggu,” jawabku sambil berbisik.

Dia hanya bisa diam. Terlebih tak mungkin tanggannya menjangkau HP yang ada di dalam tasku.

Hampir dua jam ke depan kami akan mendengar kata “bapak” ini disebut. Berapa banyak? Ratusan, lengkap dengan gambar-gambar bahagia dan duka Maman Suherman, sang pengarang buku Bapakku Indonesia, dan Ikhsan Skuter yang melakukan musikalisasi puisi-puisi dalam buku Kang Maman.

Sekali lagi aku tidak tahu, tepat atau tidak mengajak anak yang besar tanpa didampingi bapaknya ke acara ini.

“Aku siapkan tiket untuk kamu dan anakmu, ya,” ujar Kang Maman beberapa hari sebelum pementasan.

Aku gembira, tentu saja. Tetapi anakku? Entahlah. Aku tidak kasih tahu ke dia detail acaranya.

Baru beberapa saat acara berjalan, air mataku sudah tumpah. Sesenggukan yang entahlah. Di sudut-sudut lain, aku mendengar mulut-mulut yang sibuk menahan isaknya. Menyebalkan! Air mata tumpah hanya karena kata-kata?

Buatku, ini bukan sekadar kata-kata. Satu kata “bapak” saja mengantarkan aku pada perjalanan 15-16 tahun ke belakang. Saat aku harus menghapus bayangan lelaki penanam benih di rahim yang kemudian entahlah.

Aku tak ingin bercerita dia yang sudah raib. Hilangnya kata ini dalam hidupku meninggalkan banyak cerita—cerita duka pastinya. Meski kalau aku mengingat ke belakang, ah…….tangisan yang dulu ternyata cemen saja.

Aku ingat, pada tiga tahun usianya, dia berjingkrak di atas sofa: “Aku tak punya bapak…aku tak punya bapak!”

Aku terhenyak. Memeluk dan membisikkan ke telinganya: “Kan ada kakung, ada om, ada banyak saudara yang bisa jagaian dan temani kamu ke mana saja,” ujarku.

Saat itu, aku yang begitu berduka. Apa yang ia ucapkan bisa jadi rekaman dari pembicaraan orang dewasa di sekitarnya. Sementara untuk lelaki kecilku ini, usai jejingkrakannya, ia sudah lupa kata-katanya.

Namun entah kenapa, satu dua tahun kemudian, kata yang sama terucap lagi. Kata-kata yang mengagetkan eyang utinya yang kebetulan melintas di dekat ruang keluarga—ia lalu mengurungkan niatnya belanja. Uti hatinya ikut terluka.

Aku mengajak lelaki kecil itu wisata, supaya banyak waktu untuk kami bercerita. “Ada bunda, ada banyak teman. Semua bisa menjagamu,” ujarku. Dia mengangguk saja.

Itu hanya sekelumit cerita. Tak pernah diajak keliling motor dengan ayahnya? Tidak bermain bola, bahkan saat hujan pun tiba. Tidak ada yang memeluknya ketika petir menggelegar? Aku tidak bisa cerita, karena dia juga menyimpannya dalam diam.

Cerita lelaki kecil yang tak punya ayah ini masih panjang. Dan aku takut ia makin terluka.

“Dia punya self defense mechanism yang baik. Dia tahu betul tidak punya ayah, bisa menerima hal ini dan tahu bagaimana harus menyikapi,” ujar seorang teman ketika kami sama-sama memeriksa bawah sadarnya.

“Selamat malam, anak-anak, buah kasih, jantung hati bapak dan ibu, anugerah terbesar dalam kehidupan bapak dan ibu. Ada yang ingin memeluk anaknya?” ujar Kang Maman dari atas panggung.

“Berdiri, nak,” pintaku.

Pantatnya lengket dengan kursi. “Ndak, ah,” balasnya singkat.

Tetapi aku tetap memeluknya. Meski dia sedikit menggerakkan badannya tanda enggan menerima pelukan di keramaian.

Musikalisasi Ikhsan Skuter membuat malam makin asem saja rasanya. Isakku makin menjadi saat Sumbadra, anak seorang teman, maju ke depan menceritakan tentang ayah yang sudah tiada, sebulan saat ia menginjakkan kaki di Italia.

Setiap tanda yang tertera di badannya, terhubung dengan ayahnya, termasuk tulisan “cabut” di salah satu lengannya. Tulisannya jelek. Tak artistik sebagai tato, tetapi cerita di belakangnya menyentuh kami semua.

“Ini kata yang ditulis bapak ketika sadar dari koma dan ingin semua alat bantu di tubuhnya dicabut,” ujarnya.

“Apa yang ingin kamu bilang untuk ayahmu?” tanya Kang Maman.

Tangis Sumbadra makin kencang. Isaknya menyesakkan dada. “Ayah, aku kangen. Aku kangen. Aku ingin peluk ayah,” ujar Adra.

Ayahnya memang sudah pergi. Makamnya ada di halaman rumah mereka. Setiap saat ia bisa menjenguknya. Fisiknya yang jadi jasad, tetapi kenangannya tetap lekat.

Air mata mengalir sampai pipiku. Pasti lelaki di sebelahku melihat, terlebih ketika beningnya air mata ini tertimpa cahaya.

Ah ya, di sebelah ada Bang Togu Simorangkir, penggerak literasi di Tanah Toba. Rasanya aku tak sempat malu. Air mata ini mendesak tumpah. Bodoh amatlah.

Lelaki kecil di sampingku berusaha tenang, seperti biasanya. Tak ada luapan emosinya yang tertangkap olehku. Padahal mungkin hatinya gusar.

Pentas ini pesta katarsisnya mereka yang punya bapak. Meski tak pernah dipeluk lelaki yang disebut “bapak”, tetapi aku yakin pesta semalam memperkaya batinnya.

Imaji tentang bapak yang tak pernah tampak. Doaku juga untuk ribuan anak di seluruh dunia yang bisu untuk menyebut kata yang satu itu: bapak.

Facebook Comments

Author: emmy

HIdup adalah Pesta. Harus dirayakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *