Menuju Layanan Kesehatan HIMSS Level 6

Digitalisasi ini akan mengambil peranan penting dalam meningkatkan mutu layanan dan keselamatan yang berorientasi kepada pasien.

 

Saya duduk di meja nomor 14. Tepat di tengah ruangan, di tanggal 14, Februari, bulan penuh cokelat dan bunga—katanya. Bisa jadi ini bukan pilihan yang tepat.

Kiri kanan layar di panggung depan menayangkan bagian tubuh yang terindentifikasi penyakit. Tangan? Kaki? Bukan. Di bagian kepala, di bagian yang sulit terjangkau pisau bedah.

Lapis demi lapis kulit disayat. Setipis irisan bacon? Lebih tipis lagi! Memilah jaringan sehat dan yang sakit. Jaringan? Ya, setipis itu pisau mengiris.

Kepala mengangga. Kamera berpindah ke bagian wajah pasien. Mata terbuka. Mulut bicara. Jari tangan bergerak. Seolah ini percakapan sambil ngopi. Sesantai itu.

Padahal percakapan ini terjadi di ruang operasi, operasi besar. Nyaris sesak napasku.

Lelaki di atas panggung kemudian menjelaskan:

Pasien harus diajak bicara supaya kita tahu tidak ada bagian yang salah dalam proses ini. Terlebih setelah operasi nanti.

Ah, inilah lelaki pemilik tangan yang menyentuh setiap inci dengan presisi. Bisa kau bayangkan andai tangan itu tremor? Terberkatilah tanganmu, tuan.

Ketika tumor, kanker, atau penyakit berhasil diangkat, rasanya baru lega bernapas. Meski hanya sebentar.

Dr. Setyo Widi N., SpBS (K), pemilik tangan presisi tadi, melanjutkan dengan slide dan video lainnya. Operasi dengan tingkat kesulitan yang luar biasa.

Sebenarnya pertahananku hanya 3 menit saja. Sama seperti saat nonton teater atau film. Menit-menit awal yang menentukan, aku akan bertahan atau tidak.

Tayangan demi tayangan tadi membuat aku rasanya pengen makan siang ditunda untuk dua hari ke depan. Bukan sekarang. Pindah, tidak. Pindah, tidak.

Tokek di kepalaku bersuara. Satu, dua, dan tiga. Tiga detik aku membuat keputusan. Mengubah cara berpikirku. Dari tontonan yang mengaduk-aduk perut, lalu aku memutuskan bahwa ini pengetahuan. Pelan-pelan, adukan di perut berdamai.

Dokter Widi bersama Dr. dr. M. Yamin, SpJP (K), FACC, FSCAI dan Dr. Fuad Jindan, SpBTKV, FECTS merupakan dokter-dokter spesialis di Rumah Sakit Eka Hospital. Tiga di antara 180 dokter spesialis yang dimiliki rumah sakit ini yang ada di BSD dan di Pekanbaru ini. April nanti, Eka Hospital akan  dibuka di Bekasi dan Cibubur.

Penampilan Dokter Yamin dan Dokter Jindan tak kalah hebat. Yamin memaparkan bagaimana sakit jantung diatasi dengan operasi yang minim, dan kelainan detak jantung yang dimonitor dengan chip.

Bagian vital di tubuh ini seperti tak beda dengan komputer, jam canggih, atau atau sebut apa pun, yang cukup dimonitor melalui sebuah chip. Dokter Jindan menjelaskan rinci.

Dunia kedokteran Indonesia sudah semaju ini. Kenapa pasien memilih berobat ke luar negeri? Branding dan marketing yang baguslah yang membuat orang berbondong-bondong antre, baik di negeri Jiran, Singapura, hingga Eropa.

Dr. Johny Nurdin, CEO Eka Hospital BSD, menjelaskan hal ini. Branding yang membentuk keyakinan. Berapapun harganya, asal di luar negeri.

Inilah kekuatan brand. Ketika dia menjadi agama, sulit untuk menggoyahnya.

Migrasi Digital

Eka Hospital yang berulang tahun 1 dekade pada Agustus lalu sudah melayani lebih dari 5 juta pasien dan 60.000 tindakan operasi. Per hari tak kurang 1.300 pasien ada di sini.

Kami memiliki impian yang besar dalam satu dekade berikut. Kami berharap dapat lebih dipercaya menangani lebih dari 50.000.000 pasien dan boleh melakukan lebih dari 600.000 tindakan operasi. Artinya, 10 kali lipat dari pelayanan yang telah kita capai selama ini. ~ Randy Mulyadi, Komisaris Utama EKa Hospital

Target yang disampaikan Randy bukan tanpa kerja keras. April nanti, Eka Hospital akan di Bekasi dan Cibubur. Bukan hanya menambah kamar, tetapi peningkatan standar pelayanan yang ada.

One stop shop, setiap rumah sakit dilengkapi dengan SDM dan peralatan medis paling lengkap di daerah masing-masing. One patient one room, bahkan untuk pasien kelas 1, 2, dan 3 juga di emergency.

Dan salah satu ciri khas lain, yaitu integrasi sistem di dalam rumah sakit tersebut, sehingga data-data pasien akan mudah dilihat oleh dokter karena penerapan teknologi informasi sejak tahun 2010 di rumah sakit ini.

Mengejar HIMSS

Langkah kedua yang akan menjadi fondasi dari pengembangan adalah migrasi menuju digital hospital.

Randy menjelaskan, di dalam dunia perumahsakitan, dikenal ada standar HIMSS level yang ditentukan dari level adopsi digital di sebuah rumah sakit, mulai dari level 0, yang semuanya manual dan menggunakan kertas, sampai dengan level tertinggi level 7, 100% dari semua aspek operasional rumah sakit sudah mengadopsi digitalisasi.

Di seluruh Asia Tenggara, hanya ada 6 rumah sakit yang berada di level 6 & 7, yaitu 3 di Singapore dan 3 di Thailand. Dengan migrasi yang akan dilakukan Eka Hospital di quarter ke-2 tahun ini, Eka Hospital akan menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang mencapai HIMSS level 6.

Dulu, di 2008, Eka Hospital adalah pionir dengan menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menggunakan elektronik medical record. Penasaran dengan Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) ini? Pelajari di sini Health IT Value Suite.

Randy meyakini, digitalisasi di dunia kesehatan ini sangat penting. Lebih dari 10 juta USD disiapkan untuk proses ini.

Digitalisasi ini akan mengambil peranan penting dalam meningkatkan mutu layanan dan keselamatan yang berorientasi kepada pasien.

Mulai dari hal-hal yang sederhana yang dapat langsung dirasakan pasien, seperti online booking, proses registrasi, pembayaran yang lebih cepat, sampai ke hal-hal yang lebih kompleks, seperti sistem dapat membantu memverifikasi 5 benar pemberian obat: benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara pemberian, dan benar waktu.

Selain itu, apakah ada interaksi obat yang diberikan dengan obat lain yang tidak diinginkan.

Inilah dunia kesehatan kita di Indonesia. Terus bebenah.

Ke depan, tidak perlu lagi ke luar negeri hanya untuk mengamini bisa sembuh di tangan ahli. Indonesia sudah bergerak ke arah sana. Ahli kita mampu. Kita bisa sembuh di sini, di negeri ini.

Dan Lelakipun Kembali

Saya tidak punya gambaran tentang Desa Delima sebelumnya. Ini kunjungan pertama.  Dan saya jatuh cinta dengan semangatnya.  Ada gairah yang sulit diungkapkan  kata-kata.

Debu tebal mengiringi perjalanan kami dari Sei tapa. Tiga puluh menit lamanya. Dari Jambi bisa 3,5 jam.  Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, tepatnya.  Belum terlalu lama menjadi desa mandiri sebetulnya. Pemekaran dari Desa Purwodadi pada tahun 2008. Lalu menjadi desa mandiri pada tahun 2011, dan memiliki kepala desa  pertama kalinya pada tahun 2016.  Suhono,  namanya.

Ketika kami sampai di Desa Delima, Suhono sedang ngariung duduk di lantai bersama beberapa warga. Baju safari coklat khas perangkat desa menempel di badannya. Emblem tertera di saku kanannya. “Ayo masuk, kita ngobrol di dalam,” ajaknya.  Padahal, kami sebetulnya  pengen duduk di lantai saja. Panasnya Jambi terasa mencubiti pipi.

Continue reading “Dan Lelakipun Kembali”

Delima, (Kembang) Desa yang Selalu Gelisah

Zuvita bungah.  Terik  matahari siang tak dihiraukannya.  Ia berlari ke depan rombongan kami. Lalu mendadak berhenti. Mengeluarkan handphone  dengan cover lucu, entah gambar kucing atau panda. Coklat muda warnanya. “Cheerrsssss!” teriaknya. Kamipun sigap dengan permintaan wefienya.

Wajah Zuvita memerah.  Mungkin karena matahari  yang makin terik, tetapi saya yakin karena ronanya bahagia.  Kami baru saja diskusi tentang desanya, Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Continue reading “Delima, (Kembang) Desa yang Selalu Gelisah”

Langkah Pertama Eka Tjipta Widjaja

Lebih dari 10-13 ribu langkah sejak weekend lalu ketemu weekend saat ini, setiap harinya.. Istimewa? Ndak juga sebetulnya. Yang membuat langkah ini jadi terasa lain karena hanya di satu tempat saja, Rumah Duka Sentosa, RSPAD. Dari lobi, keluar masuk, naik dan turun. Itu saja. Membantu tamu yang melayat, mendengarkan cerita orang-orang tua, kebaktian, menemani teman-teman wartawan, membantu Bu Anie Indrawati membuat kartu ucapan.

10-13 ribu langkah nyaris 8 hingga 10 km perharinya. Kadang dari jam 8 pagi hingga 23. Hari ini 7351 langkahku menghantar Pak #EkaTjiptaWidjajakembali ke fana.

Continue reading “Langkah Pertama Eka Tjipta Widjaja”

Menjangkau Perempuan Indonesia Melek Teknologi

Plaform sosial media sangat beragam. Mau buat ghibah bisa, mau riya apalagi, berbagi informasi, nitip nyimpen dokumentasi, dan pastinya jualan ini dan itu. Belajar sosial media ini makin dikejar makin lari. Jadi pinter-pinternya kita memanfaatkan teknologi untuk kebaikan dan syukur mendatangkan banyak orderan dari barang dan jasa yang kita jual. Jangan mau hanya jadi alat saja untuk nyebar hoax. Uang tak dapat, bijak pun tak nampak.

Senang hari ini punya waktu dengan teman-teman perempuan Hebat yang mempunyai produk beragam. Ada jamu, ada produk fashion nya mbak Tatty Aprilyana dengan @biar.senang, ada kebayanya mbak Titis, ada rendang, kebab kebib, dan banyak lagi. Syukur-syukur belajar bareng Womenwill ini bisa menular ke banyak teman perempuan di seluruh Indonesia.

Continue reading “Menjangkau Perempuan Indonesia Melek Teknologi”