Lari itu Bicara dengan Diri Sendiri

Saya berlari belum lama. Dan sekolah lari baru sebulan dua bulan ini. Dulu mah lari-lari aja. Bahkan selalu mandi pagi jam berapapun racenya. Jam 3 dini hari mandi, pakai minyak wangi, lipstik dan alis tak lupa. Ini justru jadi target bagaimana finish dengan lipstik dan alis tetap cetar.Buat saya lari itu seperti lahir baru. Dari setapak dua tapak lalu nafas ngap, tak sanggup lari lagi meski baru 100-200 m. Dulu 1 km itu perjuangan. Larinya mungkin sepuluh langkah lalu berhenti ngatur nafas dan kaki yang rasanya berat untuk diajak berlari lagi.Tetapi saya tetap bangun pagi dan bergegas ke Ragunan atau di mana pun bisa berlari. Ketemu satu dua temen komunitas. Makin semangat berlari.Saya ingat betul. Awalnya tak punya jersi lari. Sepatupun hanya casual yang ada. Tak apalah . Saya tak tahu bedanya sepatu enak dan enak sekali buat berlari.Ketika awal race 5 km dapat medali wahhhhhh sukanya sampai ujung negeri. “Ngapain sih ngumpulin medali. Tuh ambil sana punyaku,” kata seorang temen. Tapi bagi newbie, punya medali yang dikumpulkan satu persatu itu, senangnya luar biasa. Setahun ada 18 medali. Bahkan virtual run pun diikuti. Ulang tahun setahun berlari saya rayakan dengan virgin half marathon. Finish? Iya. Meski 8 menit menjelang COT, 3 jam 52 menit, 51 detik. Apalagi dapat tanjakan sumpah serapah sundul langit mulai km 17. Jam di tangan sudah berisik karena heart rate yang berantakan.Itukah kenapa saya bilang seperti lahir baru. Dari ndak bisa lalu bisa dan biasa. Cuma nyesel aja, kenapa tak memulai saat usia masih muda.Makin ke sini, saya tahu. Medali tak buat dikoleksi. Apalagi di rumah saya. Kalau medali dipajang, yang punya rumah harus tidur luar rumah. Jadilah puluhan medali rapi di plastik pembungkusnya masing-masing.”Running formnya yang bener!””Cadencenya dipercepat!””Ball of footnya diperhatikan!””Praktikan ABC drill.”Itu yang saya dengar seminggu 3 kali setiap latihan di @skolari.id. Padahal, kalau sudah lari, teori ini suka buyar sendiri di lapangan.Dan banyak lagi hal-hal dasar yang baru saya pelajari kemudian. Dulu, cukup pemanasan dan pendinginan ala kadarnya. Kadang pendinginannya dengan sebotol minuman dingin, bukan gerakan senam.Sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, lari ini benar-benar pelarian. Ini saat meditatif buat saya. Saat tiap langkah saya bisa berdialog dengan diri saya sendiri.Iya, lari ini bagai bicara dengan badan sendiri. Saat kaki pengen terus berlari, kita harus tanya ke jantung, masih mau ndak diajak ngepot. Saat senyum sudah hilang di wajah, mungkin pertanda lelah.Dulu usia 20, selalu bilang nanti aja olah raganya mulai umur 25 saja. Dan begitulah, tahun-tahun berlalu dengan kelipatannya. Tetapi tenang saja, usia saja tetap 21 kok.Saya bukan atlet wannabe. Bukan pelari mengejar podium. Saya pacer, pelari dengan pace amburadul.Lari itu hanya perlu komitmen. Iyak kayak kamu dan pacarmu gitu. Jangan sampai ditinggal pas sayang-sayangnya.Komitmen buat latihan pastinya. Saya seminggu 2-3 kali. Ndak capek? Pastilah capek. Keringatan pula. Tapi bukankah hanya makan bakso pake sambel dan krupuk saja kita juga keringatan, ndro? Pilih sendiri mutu keringatmu.Latihan itu kudu, saat race itu saat bersuka cita buat saya. Jadi bawaannya senang aja. Pokoknya masuk finish under COT. Punya banyak foto itu untuk mood booster.Lari itu sama kayak merawat anak. Jangan suka dibanding-bandingkan. Dia larinya lebih kenceng, dia kuat lari lama, dia langkahnya gila ya. Bukankah ketika punya anak kita berjanji kepada diri sendiri untuk tidak membandingkan? Semua anak istimewa dengan talentanya.Begitu juga lari. Senyamannya kamu aja. Jangan minder kalau waktumu lebih lama. Jangan ndak pede kalau pace kamu di angka besar.Selalu berduka kalau ada pelari tumbang menjelang finish. Di saat tubuh mulai lelah, dan hasrat mengejar tepuk tangan meriah, memaksa jantung kita bekerja lebih keras. Kalau kita tumbang atau cidera, race akan tetap berjalan dan diikuti ribuan pelari-pelari baru lainnya bermunculan.Seberapa jauh kamu berlari, seberapa cepat kamu melangkah, tetaplah pakai ukuran kita sendiri. Ndak usah jadi atlet wannabe. Apa kata temen-teman saya nanti, ibu rumah tangga, pinter goreng krupuk dapat podium lagi. Saya tidak mimpi seperti itu. Pleaseeee jangan dorong saya untuk dapat podium. Medali saja sudah cukup.Buat saya, lari itu playon. Alon-alon waton kelakon eh playon.Di tahun kedua berlari, lipstik dan alis tetap menjadi koentji. Dan di tahun kedua ini, teman saya lebih banyak lagi.Percaya sama aku deh, capeknya lari itu sebentar saja. Lain dengan capekmu lelarian di bayangan masa lalu yang ndak jelas juntrungnya. Tenan itu.Kamu milih lari bareng aku atau kasih pelukan di garis finish?Model diperagakan oleh mbaknya. Difoto fotografer kondang ibukota (sebelum nantinya dipindah) Bi Dewi Nurcahyani. Ini lari panas-panas di runway Pantai nDepok mBantul.

Facebook Comments

Author: emmy

HIdup adalah Pesta. Harus dirayakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *