Memuliakan Sepatu

Ben Simmons, garda Philadelphia 76ers asal Australia, menuliskan Pray for NZ di Nike Hyperdunk 2018 miliknya saat bertanding dengan Sacramento King, Sabtu (16/3) lalu. Itu bentuk penyampaian duka dari sang bintang atas aksi terorisme yang menewaskan puluhan orang yang mengoyak rasa kemanusiaan. Pelaku teror  ditangkap dan  sudah masuk proses pengadilan. Sangat kilat bila dibandingkan dengan pengadilan di Indonesia.

Perdana Menteri (PM) New Zealand (Selandia Baru), Jacinda Ardern, enggan menyebut nama pelaku teror di dua masjid Christchurch dalam setiap pernyataannya. “Dia mendapat banyak hal dari aksi terornya, kecuali satu hal yakni kemasyhuran,  itulah mengapa Anda tidak akan pernah mendengar saya menyebut namanya,” tegas PM Ardern dalam pernyataan emosional saat rapat khusus parlemen New Zealand, seperti dilansir media, Selasa (19/3/2019).

“Saya memohon kepada Anda: ucapkan nama-nama korban yang kehilangan nyawa, bukannya nama pria yang merenggut nama mereka,” tutur PM Ardern dalam rapat yang digelar di Wellington, empat hari usai teror di dua masjid Christchurch menewaskan 50 orang. “Dia seorang teroris. Dia seorang kriminal. Dia seorang ekstremis. Tapi saat saya bicara, dia akan tanpa nama,” tegasnya. Ia memastikan, pemerintah akan memberlakukan kekuatan hukum penuh  terhadap pelaku teror tersebut. Dan ia pun berjanji mereformasi aturan kepemilikan senjata yang berlaku.

Kegeraman Ardern wajar. Yang tak wajar adalah bila kita dengan sengaja membagikan video penembakan tersebut kemana saja. Tak layak memang mempertontonkan video terorisme di New Zealand tersebut. Terlalu brutal. Pelaku terorisme tersebut, seperti memindahkah kekerasan dari game online ke dunia nyata. Apalagi memeperlihatkan pada anak-anak dengan pengantar dan penutup penuh kebencian, hanya menumbuhkan bibit baru kekerasan pada  generasi setelah kita.

Pernyataan duka Ben juga diikuti pemain basket lainnya, meski tidak di sepatunya. Seperti ditunjukkan oleh Steven Adams, pemain dari Oklahoma City Thunder, ia memberikan dukungan dengan menulis tagar #Kiakaha yang bermakna stay strong.

Enes Kanter, pemain tengah Portland Trail Blazers, dalam cuitannya mengatakan: “Kita mungkin berbeda agama, berbeda bahasa, berbeda warna kulit, tetapi kita sama-sama manusia. Terorisme tidak mengenal warna. Terorisme tidak mengenal agama. Terorisme tidak mengenal negara. Dukungan melalui media sosial jamak dilakukan.”

Pray for NZ sebenarnya adalah doa dan penguatan untuk masyarakat yang terluka. Tetapi kenapa harus di sepatu—berdoa kok di sepatu?

Bagi Ben, Steven, Enes, dan banyak atlet lainnya, sepatu wajib dimuliakan. Begitu juga pelari. Meski letaknya paling bawah, terinjak, dan menahan beban tubuh, melintas tempat basah dan kadang kotor, bisa dipastikan sepatu merupakan barang yang paling dimuliakan.

Terkadang, harganya pun paling mahal dibandingkan jersey atau aksesori lain yang menempel di badan. Sepatu menjadi semacam penanda yang membedakan ia dengan pemain lainnya. Tentu di luar kemampuan teknis masing-masing atlet.

Pada sepatulah mereka berterima kasih untuk kaki kokoh. Sepatu merupakan senjata bagi mereka ke medan perang—pertandingan demi pertandingan—yang akan melindungi kaki dari cedera dan menjaga perfomanya. Teknologi canggih pun disematkan di dalam sebuah sepatu untuk kenyamanan pemakainya.

Kaki kokoh yang melenggang tinggi melakukan jump ball, jump shoot, jump pass, lay up, slam dunk dan banyak teknik basket lainya. Mereka tahu, pandangan mata dan sorot kamera, salah satunya, akan tertuju di sepatunya. Komentator akan membahas panjang perfoma sepatunya. Kalau malas baca, dengarkanlah podcast yang membahas basket, ramai mereka membicarakannya. Ini aktivitas baru saya, karena anak memutar podcast basket ini kencang-kencang di rumah. Mau tak mau, saya jadi pendengarnya juga.

Tak hanya di basket, di dunia sepak bola, bintang-bintang lapangan bahkan punya sepatu khusus yang dibuat awalnya hanya untuk dia. Kemudian berkembang menjadi sepatu yang mencantumkan namanya.

Kita kenal Mercurial Superfly yang dikenakan megabintang Cristiano Ronaldo bernama Chapter 5: Cut to Brilliance.  Mercurial ada banyak jenisnya. Dan anak-anak pun akan merengek-rengek minta dibelikan sepatu yang sama meski harganya melangit. Contohnya tidak perlu jauh-jauh. Anak saya akan merengek minta sepatu seperti idolanya. Dulu sepatu sepakbola, kini sepatu basket. Cara brilian menghindari rengekan adalah meminta ia menabung dan membeli kalau sudah cukup uangnya. Ini manjur. Dia akan lupa sepatu idamannya, karena tak sabar menanti uangnya cukup.

Khusus untuk Christiano Ronaldo, ada pula rajutan kalimat: El Sueno Del Nino, yang kalau diterjemahkan menjadi “Mimpi Anak Itu”. Ini permintaan khusus Ronaldo kepada tim desain Nike untuk menggambarkan perasaan sang pemain setelah bergabung dengan Los Galacticos.

Di sepatulah mereka menggambarkan perasaan, entah gembira atau dukanya. Wajar kalau Ben mendaraskan doa di salah satu sepatunya. Menurutnya, itu tempat termulia yang menopang segala kegiatannya; media yang dilihat banyak orang, bahkan diindentikkan dengan diri sang bintang.

Pernyataan di sepatu adalah signature dirinya. Dan kita bebas untuk mengekspresikan rasa.

 

Facebook Comments

Author: emmy

HIdup adalah Pesta. Harus dirayakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *