My Happiness Project

Beberapa  Minggu ini saya bolak balik  ke  Yogya.  Ada saja yang  saya kerjakan. Terutama untuk Happiness Project  yang sedang saya rintis. Iya, projek bahagia. Saya lakukan pelan-pelan dengan penuh cinta.  Mau ngapain sih di Yogya? Yang jelas, menemui cinta saya.  Iya cinta saya ada di sana.  Pikiran saya tak bisa lepas  pada sosok penuh cinta  yang membuat saya  ada di dunia ini, bapak ibu saya.

Tengah November lalu, saya berlari dengan bahagia di Borobudur Marathon 2018.  Bahkan menjadi virgin half marathon saya.  Senang pastinya. Dapat medali pula. Meski waktu tempuh ya nyarislah kena cut of time (COT), 3 jam 51 menit, 52 detik, dari batasan 4  jam yang ditentukan panitia.

Usai lari saya persiapan balik ke  hotel dan dan  bersiap kembali ke Jakarta,  dengan segera. Karena ini HM saya  yang pertama, proses melemaskan kaki tentu bukan hal  mudah. Hingga kembali ke Jakarta, semuanya cerita bahagia, meski saya sempat kehilangan HP baru di Borobudur Marathon.

Dua minggu berlalu dan saya mendapat informasi kalau bapak jatuh dan tak seorangpun tahu. Berjam-jam lamanya.  Saya tidak tahu penyebabnya apa, tetapi pasti karena sudah sepuh juga. Dan jatuhnya tidak hanya sekali, tetap dua  dan tetap tak diketahui anggota keluarga yang lain, di subuh hari berikutnya.

Sedih? Pasti.  Dan lebih sedih karena saya tahunya dua minggu setelah  bapak  jatuh. Inilah ibu dan bapak saya. Dalam duka  mereka tak mau merepotkan anak-anaknya. Dan ini bukan sekali dua. Sering. Dan saya tahunya setelah terlambat lama. Sering banget jengkel  dibuatnya. Tapi itulah bapak ibu. Dengan kekhasan sifatnya.

Usai mendapat informasi, pasti  saya akan terbang secepat mungkin untuk sampai ke Yogya. Dan melihat  bapak terkuai dengan lemahnya, tentu tersayat-sayat rasa kita. Begitu rapuh dan begitu sepuh.

***

Awal tahun banyak waktu untuk melihat kembali perjalanan kita tentunya. Dan tak terasa ini tahun ke 18 saya di Jakarta. Meski tak jua tahu kampung-kampung belusukan di Jakarta, tapi saya tahu, nadi ini berdenyut bersama.  Akankah  menua bersama ibukota? Atau memulai hidup kembali muda di Yogyakarta? Bukan semata pekerjaan.  Tetapi menemani bapak ibu menua dengan bahagia. Tiap hari saya selalu berpikir tentang hal ini.  Merencanakan ini dan itu. Saya tahu harus di  Yogya suatu saat nanti. Cepat atau lambat. Tetapi beraktivitas tentu harus dipertimbangkan dengan matang.

Entah kenapa denyut nadi makin menguat, dengan segala rencana ini.

Doakan ya………………..

Facebook Comments

Author: emmy

HIdup adalah Pesta. Harus dirayakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *