Happy being a Single Parent


Tidak mudah menjadi orang tua tunggal. Terlebih kalau penyebab perpisahan sesuatu yang tidak kita duga atau tidak kita inginkan. Tatkala hati dan pikiran masih dirundung kemarahan, kesedihan dan kekalutan, di saat yang sama juga harus menyiapkan diri untuk tetap tegak berdiri dan melanjutkan kehidupan.

Saya tahu, dilema ini tidak mudah dilalui siapa pun yang menjadi orang tua tunggal, entah dia laki-laki atau perempuan. Tak sedikit yang terpuruk dan enggan untuk bangkit lagi. Tapi mentari harus terbit lagi bukan untuk menggantikan pekat malam?

Saya sadar, pasti ada ketakutan menghadapi masalah finansial, kebutuhan komunikasi, siapa yang akan membantu mengasuh anak, bagaimana mengatur waktu dan bertumpuk ketakutan lain terhadap peran baru ini. Persoalan akan sedikit lain, bila memang sejak awal seseorang berniat untuk menjadi orang tua tunggal.

Continue reading “Happy being a Single Parent”

Facebook Comments

Makan is Fun, Baby


Cahaya kecil itu meronta dalam pelukan mamanya. Tangannya sibuk menepis sendok, sambil menyembunyikan mulut di ketiak ibunya. Kakinya pun turut memberontak. Ibunya pun tak kalah akal. Dipegangnya tangan dan dijepit di paha kaki kecil Cahaya agar tidak memberontak saat bubur bayi itu dimasukkan ke mulutnya. Selalu begitu setiap suapan dilakukan. Pemberontakan dan “adu otot” antara mama dan Cahaya. Padahal kalau bubur sudah sampai di mulut, dia akan tenang menelan, dibantu beberapa sendok air putih. Cahaya harus “dipithing” (bahasa Indonesianya apa ya? ) agar mamanya bisa menyuapinya.

Continue reading “Makan is Fun, Baby”

Facebook Comments

Tuhan, Buatkan Ayah untuk Aku ya


Benaeng tiba-tiba melipat tangan di depan dada. Dia berdoa. “Ya Tuhan, buatkan ayah untuk aku ya. Yang bisa antar aku ke sekolah. Yang ganteng ya Tuhan. Cepat buatkan ya Tuhan. Satu saja, untukku,” begitu pintanya. Raut mukanya serius. Tapi usai berdoa, dia tersenyum ke arah saya, lalu bertanya, “Bunda, kapan ya ayah selesai dibuat Tuhan?”

Kejadian itu dua bulan lalu, ketika kami habiskan liburan bersama. Dan hampir setiap hari dia menanyakan kapan ayahnya akan selesai dibuat Tuhan. Tidak mudah bagi saya untuk menjelaskan kenapa dia hanya memiliki bunda dan tidak memiliki ayah. Ayah, seperti dalam pintanya tentu bukan seperti adonan roti yang dibuat sekarang dan beberapa jam lagi akan mengembang.

Continue reading “Tuhan, Buatkan Ayah untuk Aku ya”

Facebook Comments

Temanku Bun……


Dear BuN,
Sapaan yang agak aneh di telinga. Tapi karib kedengarannya. Sekarib celoteh yang selalu keluar dari bibirmu, riang dan renyah. Pasti hangat ya BuN bila berada di dekatmu, karena itulah pancaran auramu.

BuN,
Saat aku menulis surat ini untukmu, aku sedang mendengarkan Still nya Commodores dan Three Times A Ladi nya Lionel Richie. Sambil senyum sendiri membayangkan mata yang tanpa dinding yang kau miliki. Yah, itulah mata kamu, yang akan meleleh menumpahkan limpahan air matamu, bila sedikit saja rasamu terusik. Sedemikian peka dirimu BuN. Tapi aku tahu, itulah kekuatanmu.

Continue reading “Temanku Bun……”

Facebook Comments

Penjara Itu Bernama Sekolah


Bermula dari sekolah percobaan, kini sekolah yang memberikan kebebasan penuh pada anak tersebut menjadi sekolah pembuktian. Awalnya dari ide yang sangat sederhana, bagaimana membuat sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukannya anak-anak yang harus cocok dengan sekolah.

Sekolah yang didirikan Alexander Sutherland Neill di Inggris pada tahun 1921 pun membebaskan anak-anak untuk menentukan apa yang mereka mau. Mereka membuang jauh-jauh ketertiban, arahan, anjuran, pengajaran moral, dan pengajaran agama.

“Kami dianggap berani dengan ide ini, padahal tak dibutuhkan keberanian apa pun,” ujar Neill. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan penuh bahwa anak-anak adalah makluk yang baik dan bukan makhluk jahat. “Kami meyakini sepenuh hati,” tambah Neill. Keyakinan Neill tak pernah surut, sejak sekolah didirikan hingga saat ini.

Continue reading “Penjara Itu Bernama Sekolah”

Facebook Comments