Terima Kasih, Udin

Jalur irigasi yang nyaris tak berisi air. Jalan lintas yang berdebu. Dan warung-warung kecil yang seakan menyeruak begitu saja dari rumah yang hanya sepetak. Kaki anak-anak berbalut debu dan tanah, usai lelarian di siang yang panas.

Pemandangan ini tak beda jauh dari gambaran dua tahun lalu ketika menyusur jalan yang sama. Rasanya  Serang bergerak lambat dari kebaruan. Dua tahun lalu saya ikut menyusur jalur irigasi itu untuk sampai di sebuah sekolah di Kragilan.  Anak-anak yang gembira  mendapat  meja kursi baru untuk belajar sehari-harinya.  Meja kursi yang baru saja selesai dicat. Greshhhh…..anyar, masih wangi.  Seolah-olah  meja kursi itu barang yang begitu berharga di sekolah dasar tersebut.

Continue reading “Terima Kasih, Udin”

Facebook Comments

Suherman: Selalu ada Waktu untuk Berkarya

Serang Banten yang terik siang itu, menjadi lebih teduh dengan senyuman Herman, Suherman nama lengkapnya. Lelaki 35 tahun itu senang kalau ada tamu berkunjung ke rumah yang sekaligus jadi bengkel kerjanya. Halaman rumah yang cukup luas ia jadikan bengkel kerja untuk membuat cinderamata khas Banten. Kami duduk di kursi kayu yang ia buat. Tembok yang jadi latar belakang di cat hitam dengan tulisan putih “ Masih ada Waktu untuk Berkarya.”

Setiap tamu yang datang berarti rezeki baginya. Entah memesan cinderamata atau ingin tahu lebih jauh tentang Cipta Handycraf yang dikelolanya. Baru dua tahun ia jalani membuat berbagai kerajinan dari kayu ini. Tadinya dia dan saudara-saudaranya bekerja sebagai panglong, membuat kusen rumah. Sekali order tak luput 5-15 juta ia dapatkan. Tetapi tak pasti, setahun hanya berapa kali order. Itu artinya, ia harus menata benar-benar uang yang didapat. Dengan pendapatan segitu, harus dibagi dengan beberapa tenaga yang membantunya. Biasanya nilainya jadi jauh di bawah UMR Serang.

Continue reading “Suherman: Selalu ada Waktu untuk Berkarya”

Facebook Comments

Guru Hebat di Para Games 2018

Anak yang hebat, pasti orang tuanya lebih hebat lagi. Saya lupa kenalan dengannya. Perebutan emas Iran dan Jepang di wheelchair basketball seru sekali. Selisih satu dua angka saja. Ramai sejak babak kedua. Di 10 menit ketiga malah seri dengan 58. Hampir habis rasanya nafas. Teriak dan deg-degan. Begitu juga di babak penghabisan. 68-66. Pakai drama di empat detik terakhir. Padahal, pemain cadangan Iran sudah menyerbu lapangan untuk memberi selamat. Coach Iran juga sudah sujud syukur.

Ketika lapangan sudah steril kembali, detik-detik terakhir dilanjutkan. Tetap Iran juaranya. Siappun yang juara kami gembira sebetulnya. Permainan keras. Partai keras sejak awal hingga akhir. Berkali-kali pemain jatuh dari kursinya. Meski tak ada yang terlontar dari kursi rodanya seperti kemarin ketika Malaysia lawan Indonesia. Pengunci di paha terlepas.

Para pemain Iran dan Jepang ini bagai penari balet yang bergerak dengan speed tinggi membentuk formasi. Mereka memacu kursi rodanya bak Lewis Hamilton atau Kimi Raikkonen di landas pacunya. Sehebat Dani Pedrosa atau Valentino Rossi di musim ini. Selincah dan sekencang itu rasanya dalam putaran kecepatan kursi rodanya.

Continue reading “Guru Hebat di Para Games 2018”

Facebook Comments

Mbrambangi di Para Games 2018

Sejak pagi sudah di GBK. Antri beberapa tiket yang sudah habis di online. Baru memasang gelang, seorang gadis tiba-tiba memeluk. Aku cuma senyum. Dua langkah berjalan, ada anak yang minta gelang tiketku untuk pasang di tangannya. Disangkanya aku ibunya, yang memang hanya berdiri 20 senti dari tempatku. Berlari beberapa anak berkebutuhan khusus dengan gembiranya. Gembira karena hari ini mereka sekolah di luar ruang.

Semua adegan tadi hanya dalam hitungan menit, di depan gerbang 5 GBK. Tahan…tahan….tahan………jangan sampai air matamu tumpah pada langkah-langkah pertama. Saya menasihati diriku sendiri. Berhasil…..meski mbrambangi.

Hari ini sengaja banget ke #paragames2018 setelah weekend lalu kehabisan tiket dan Sabtu nanti sangat sedikit pertandingan yang masih berlangsung. Harus banget pergi.

Continue reading “Mbrambangi di Para Games 2018”

Facebook Comments

Life at Sinar Mas

Namanya Yan Partawidjaja. Yan kependekatan dari Agustian tepatnya. Sejak saya SD (kira-kira sekian kali ganti presiden yang lalu), pembaca berita ini selalu menarik perhatian saya. Suaranya mencuri telinga saya. Khas. Bahkan hingga saat ini. Tidak berubah. Suara emas yang selalu diburu teman-teman kreatif dan produksi untuk mengisi suara video yang digarap oleh Ferdian Harry Setiono. Lebih sering diminta menjadi MC dan moderator. Dan sekarang bertambah: pembaca doa. Entah kenapa kami suka sekali mendengarkan Pak Yan membaca doa. Tidak lebay, tidak berlebihan, tetapi menyentuh hati.

Usianya sudah diangka 60 an saat ini. Tapi bila foto dari muda sampai saat ini dijejer, tak banyak perubahannya. Kecuali kacamata segede gaban di saat muda dan baca berita dulu sudah berganti model dan stylis.

Tanpa melihat wajah, mendengar suara Pak Yan, memori kita akan terpanggil ke masa lalu, zaman TVRI. Setelah melihat wajah, kita diingatkan, tak banyak yang berubah dari penampilan beliau.

Continue reading “Life at Sinar Mas”

Facebook Comments