Pengalaman HM di Borobudur Marathon 2018

Lari itu seperti mengelola kehidupan. Iya bener. Tahu kapan harus bersiap, berlari pelan dan konstan, kadang berjalan dan sesekali  dangdutan. Paling utama dari itu adalah memperhatikan sinyal-sinyal badan. Ini paling penting. Dan pelajaran terbesar dari lari jarak jauh yang saya lakukan.

Ini kali pertama saya berlari half marathon. Yakin sanggup? Dua minggu terakhir yang banyak kegiatan dan hanya sesekali berlari di Ragunan. Yup saya sanggup. Hanya berpikir sederhana. Berlari 10-15 km dan beri bonus untuk berjalan dan pepotoan. Dan ternyata saya sanggup berlari terus hingga km 15. Berhenti sebentar menemani mbak Grace Kartika membeli caping dan foto di Candi Pawon. Itu pun saya sambi ndangdutan dari speaker warga yang diputar menggelegar. Lumayan ngglemesin otot.

“Eh mbak ojo isin kekancan karo aku ya,”kataku ke Mbak Grace usai beli caping. Khawatir aja dia gilo ngeliat tetangga di Yogya ini njoget di tengah jalan. Kami tertawa. Ketemu mbak Grace ini ini seperti menemukan running buddies, karena sepanjang jalan saya berlari sendirian.

Melewati km 15 jauh sebelum COP rasanya prestasi buat kami. Tos kami berdua. Dan ini birthday runnya Mbak Grace.

Kilo meter – kilo meter sesudahnya jadi tantangan karena ada tanjakan yang cihui. Membuat heart rate berlonjakan. Ini yang membuat saya jalan cukup lama. “Kenapa kita mulai lari di usia 17 jalan banyak ini ya mbak,” pertanyaan bodohku yang tak perlu jawaban.

Penanda di jam yang meminta untuk tenang dan berjalan aku patuhi, meski kaki pengen terus berlari. Saya tak mau cidera, apapun bentuknya nanti. Ini yang saya bilang lari itu harus mengenal betul tubuh kita sendiri. Saya bukan pengejar pace, juga tidak mengejar catatan waktu. Mengambil HM untuk mematahkan penasaran saja sebetulnya. Berlari, menikmati dan dapat medali. Hoho hohoho. Itu sesuai prinsip hidup saya: hidup adalah pesta, harus dirayakan.

Prinsip hidup adalah pesta tetap harus dijaga. Pun ketika ikut race seperti Borobudur Marathon ini. Saya menikmati cheering warga dan jejogetan dua kali dengan mereka. Sayang fotonya ilang. Termasuk foto dengan tulisan: ora lari ora rabi, yang ingin saya dedikasikan untuk jomblo-jomblo di luar sana.

Dua kilometer sebelum finish kembali berlari. Lari tipis-tipis, dan kok ndilalahnya kebagian medali. Elok tenan son, utk nyubie seperti saya ini. Saya berlari 3 jam, 51 menit, 52 detik, 8-9 menit sebelum COT. Dan di belakang saya buanyakkkkk yang lewat 4 jam dan tak mendapatkan medali bolong yang jadi incaran runners.

Dan saya tertawa, merayakan pesta 1 tahun berlari dengan half marathon ini. Ternyata saya bisa.

Tahun lalu saya menikmati 10K di bawah gerimis romentis bersama mas Fajar S Pramono.

Menuntaskan penasaran sudah saya lakukan. Besok kembali lari-lari cantik saja.

Terima kasih Pak Budiman Tanuredjo untuk kesempatan menjajal view terbaik di BorMar. Juga tema-teman panitia yang sudah menyiapkan lelarian seru untuk 10 ribu runners dari Indonesia dan 30 negara.

Senangnya ulang tahun lari dirayakan seseru ini. Lelarian itu adalah playon, dengan gembira.

Its really late post.  Sudah nulis dan lupa posting.

#1tahunberlari
#hidupadalahpesta
#borobudurmarathon2018

Facebook Comments

Author: emmy

HIdup adalah Pesta. Harus dirayakan

2 thoughts on “Pengalaman HM di Borobudur Marathon 2018”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *