Terima Kasih, Udin

Jalur irigasi yang nyaris tak berisi air. Jalan lintas yang berdebu. Dan warung-warung kecil yang seakan menyeruak begitu saja dari rumah yang hanya sepetak. Kaki anak-anak berbalut debu dan tanah, usai lelarian di siang yang panas.

Pemandangan ini tak beda jauh dari gambaran dua tahun lalu ketika menyusur jalan yang sama. Rasanya  Serang bergerak lambat dari kebaruan. Dua tahun lalu saya ikut menyusur jalur irigasi itu untuk sampai di sebuah sekolah di Kragilan.  Anak-anak yang gembira  mendapat  meja kursi baru untuk belajar sehari-harinya.  Meja kursi yang baru saja selesai dicat. Greshhhh…..anyar, masih wangi.  Seolah-olah  meja kursi itu barang yang begitu berharga di sekolah dasar tersebut.

Continue reading “Terima Kasih, Udin”